**Bab 8: Pacar Pura-Pura**
"Lepasin."
Satu kata itu terdengar begitu dingin, tajam, dan langsung memotong ketegangan di koridor lant** dua gedung FISIP.
Sebelum Rian sempat bereaksi, sebuah tangan dengan urat-urat yang tercetak jelas langsung mencengkeram pergelangan tangan Rian yang sedang mencengkeram Aurora. Cengkeraman itu begitu kuat hingga membuat Rian meringis dan terpaksa melepaskan tangannya dari Aurora.
Aurora terengah-engah, segera mundur dua langkah sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini memerah. Matanya melebar saat melihat siapa yang berdiri di depannya.
Arga.
Cowok itu berdiri menjulang, menghalangi tubuh Aurora dari Rian. Tatapan mata Arga yang biasanya datar kini terlihat sangat menusuk, langsung mengarah ke manik mata Rian. Jaket himpunan hitam yang dipakainya membuat aura Arga terasa semakin mengintimidasi.
"Lo siapa, an****? Nggak usah ikut campur!" bentak Rian, wajahnya memerah karena emosi dan malu ditonton oleh beberapa mahasiswa di koridor.
Arga sama sekali tidak berkedip. "Gue? Gue orang yang bakal bikin lo ma**k ruang komisi disiplin kalau lo berani nyentuh dia sekali lagi."
"Dia cewek gue! Urusan kita belum selesai, Ra!" teriak Rian, mencoba menggapai Aurora di balik punggung Arga.
Namun, Arga langsung menepis tangan Rian dengan kasar. "Mantan. Dia mantan lo. Dan di kampus ini, dia tanggung jawab gue sebagai panitia magang, sekaligus tetangga kosan gue. Jadi, mending lo pergi sebelum gue panggil satpam untuk seret lo keluar."
Rian mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia menatap Arga dengan benci, lalu beralih ke Aurora yang masih gemetaran di belakang Arga. "Kita belum selesai, Aurora. Awas lo."
Dengan langkah gusar, Rian akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan koridor.
Setelah punggung Rian benar-benar menghilang di balik belokan koridor, keheningan langsung menyelimuti tempat itu. Mahasiswa-mahasiswa yang tadi menonton perlahan mulai membubarkan diri begitu mendapat tatapan tajam dari Arga.
Arga berbalik, menatap Aurora yang masih menunduk sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Arga. Nada suaranya melembut, sangat berbeda dengan saat dia membentak Rian tadi.
Aurora mendongak, matanya sedikit berkaca-kaca karena syok. "Nggak apa-apa. Makasih ya, Kak. Gue... gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo."
Arga menghela napas panjang. Dia meraih pergelangan tangan Aurora dengan sangat hati-hati, memeriksa bekas merah yang ditinggalkan Rian. "G*** ya itu cowok. Kasar banget. Ikut gue."
"Ke mana?"
"Gak usah banyak tanya. Ikut aja." Arga menarik pelan ujung *tote bag* Aurora, menuntun cewek itu menjauh dari koridor yang masih ramai menuju area gazebo belakang fakultas yang biasanya sepi di jam-jam kuliah pagi.
***
Arga kembali dari kantin dengan membawa sebotol teh dingin dan sekantong es batu yang dibungkus sapu tangan. Tanpa bersuara, dia duduk di samping Aurora di dalam gazebo, lalu menempelkan bungkusan es batu itu ke pergelangan tangan Aurora yang memerah.
"Aww!" Aurora meringis pelan karena rasa dingin yang tiba-tiba.
"Tahan bentar. Biar nggak bengkak," kata Arga, matanya fokus menempelkan es tersebut dengan gerakan yang sangat lembut.
Aurora terpaku. Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma parfum Arga—campuran antara wangi maskulin yang segar dan aroma sabun mandi yang menenangkan. Jantung Aurora tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat. Ini pertama kalinya dia melihat sisi Arga yang sangat perhatian, sangat kontras dengan sosok kating galak yang hobi menyiksanya di sekretariat himpunan.
"Itu mantan lo yang bikin lo pindah kosan?" tanya Arga tanpa mengalihkan pandangannya.
Aurora mengangguk pelan. "Iya. Dia posesif banget, Kak. Suka kasar juga kalau emosi. Gue pikir setelah gue ganti nomor dan pindah kos, dia nggak bakal bisa nemuin gue lagi. Ternyata dia nekat nyari ke kampus."
Arga terdiam sejenak. Dia menjauhkan kompresan es batu itu setelah rasa merah di kulit Aurora sedikit mereda. Cowok itu menatap Aurora lurus-lurus.
"Cowok kayak gitu nggak bakal kapok cuma dengan digertak sekali," ujar Arga serius. "Dia tipe yang bakal terus datang selama dia ngerasa lo masih 'kosong' atau bisa ditarik balik."
"Terus gue harus gimana? Gue takut dia nungguin gue di depan gerbang kampus atau malah neror ke kosan," cicit Aurora, kecemasan kembali merayapi hatinya.
Arga menyandarkan punggungnya ke sandaran gazebo, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menerawang sebelum akhirnya kembali menatap Aurora dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gue ada ide."
"Ide apa?"
"Kita pura-pura pacaran."
Aurora hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Matanya membulat sempurna. "Hah?! Lo... lo kesambet s**** kamar sebelah ya, Kak?"
Arga mendengus, menyentil dahi Aurora pelan hingga cewek itu mengaduh. "Dengerin dulu, b***. Ini cara paling efektif buat bikin mantan lo itu mundur teratur. Kalau dia tahu lo udah punya pacar baru—dan pacar lo itu gue—dia nggak bakal berani macem-macem lagi. Cowok kayak gitu cuma berani sama cewek yang kelihatan lemah dan sendirian."
"Tapi... tapi kenapa harus lo?" tanya Aurora, suaranya mendadak cicit. Dadanya bergemuruh hebat. Pura-pura pacaran dengan Arga? Cowok terpopuler sekaligus paling ditakuti di angkatannya? Yang benar saja!
"Karena gue yang paling gampang dijangkau sama lo. Kita tetangga kos, kita sering bareng karena urusan magang. Jadi kalau kita sering kelihatan berdua, orang-orang nggak bakal curiga. Semuanya bakal kelihatan natural," jelas Arga sant**, seolah hal ini bukan masalah besar baginya.
"Tapi nanti lo direpotin..."
"Gue nggak keberatan," potong Arga cepat. Dia menatap Aurora lekat-lekat. "Gue juga males liat muka lo yang kusut dan ketakutan tiap hari gara-gara diteror mantan. Bikin fokus kerjaan magang lo makin kacau aja."
Mendengar alasan terakhir Arga, Aurora cemberut. *Dasar kating menyebalkan, ujung-ujungnya tetep aja mikirin kerjaan,* batin Aurora. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, ada letupan rasa senang yang aneh. Rasa aman yang tiba-tiba menyergapnya membuat Aurora akhirnya mengangguk pelan.
"Ya udah. Tapi cuma di kampus, kan?" tanya Aurora memastikan.
Arga tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang membuat ketampanannya naik berkali-kali lipat. "Di kampus, dan di mana pun kalau ada si br****** itu. Deal?"
Arga mengulurkan tangan kanannya. Aurora menatap telapak tangan lebar itu sejenak sebelum akhirnya menyambutnya. "Deal."
***
Keesokan harinya, rencana itu langsung dimulai. Dan Aurora sama sekali tidak siap dengan seberapa totalitasnya Arga dalam menjalankan peran ini.
Pagi itu, Aurora baru saja turun dari ojek online di depan gerbang fakultas. Baru beberapa langkah dia berjalan menyusuri koridor utama yang ramai oleh mahasiswa yang lalu-lalang, sebuah langkah kaki lebar terdengar mendekatinya dari belakang.
"Ra."
Aurora menoleh dan langsung membeku. Arga berdiri di sana, mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang kancing atasnya dibuka, memperlihatkan kaus hitam di dalamnya. Rambutnya yang biasanya agak berantakan hari ini ditata rapi.
Sebelum Aurora sempat menyapa, Arga tanpa ragu meraih tangan kanan Aurora. Jari-jari panjang cowok itu langsung menyusup di antara jari-jari Aurora, menggenggamnya dengan erat dan hangat.
*Deg!*
Jantung Aurora rasanya mau copot saat itu juga. Dia menatap tangan mereka yang bertautan, lalu menatap wajah Arga dengan panik. "K-Kak? Ini..."
"Sant** aja," bisik Arga, mendekatkan wajahnya ke telinga Aurora hingga embusan napas hangatnya terasa di kulit leher Aurora. "Mantan lo ada di deket mading seberang jalan. Jangan nengok, jalan biasa aja."
Mendengar hal itu, Aurora langsung menegakkan tubuhnya. Dia berusaha keras menyembunyikan kegugupannya, meskipun telapak tangannya kini mulai terasa dingin karena gugup. Genggaman tangan Arga terasa begitu pas dan protektif, memberikan rasa hangat yang menjalar hingga ke dadanya yang berdebar kencang tanpa henti.
Sepanjang jalan melewati koridor menuju kelas, rasanya seperti berjalan di atas karpet merah. Semua mata tertuju pada mereka. Bisik-bisik langsung terdengar bersahut-sahutan seperti tawon.
"Eh, itu Kak Arga kan? Kok gandengan sama anak baru?"
"G***, mereka jadian?!"
"Demi apa? Arga yang sedingin es batu itu akhirnya luluh?"
"Ih, ceweknya siapa sih itu? Anak magang himpunan ya?"
Aurora meremas balik tangan Arga karena merasa sangat tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Seolah peka dengan ketakutan Aurora, Arga mempererat genggamannya, seolah ingin menyalurkan kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Gak usah dengerin mereka. Fokus ke depan aja," ucap Arga pelan tanpa menghentikan langkahnya.
Begitu mereka sampai di depan pintu kelas Aurora, Arga akhirnya melepaskan genggaman tangannya. Kehilangan kehangatan itu secara mendadak membuat Aurora merasa sedikit hampa.
"Nanti siang gue jemput ke kantin ya," kata Arga sambil mengacak rambut Aurora pelan. Tindakan yang sangat manis itu sukses membuat beberapa mahasiswi yang kebetulan lewat di koridor m****ik tertahan.
Wajah Aurora langsung memanas. Dia yakin pipinya sekarang sudah semerah tomat. "I-iya, Kak. Makasih."
Arga tersenyum tipis, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan sant**, meninggalkan Aurora yang harus memegangi dadanya yang berdegup kencang seperti habis lari maraton.
***
Siangnya, gosip tentang hubungan mendadak antara Arga—sang ketua panitia magang yang terkenal kejam—dengan Aurora—anak magang biasa yang sering diomeli—sudah menyebar ke seluruh penjuru fakultas seperti virus.
Saat Aurora baru saja duduk di meja kantin bersama Cia, sahabatnya langsung menggeb**k meja dengan heboh.
"AURORA! LO UTANG PENJELASAN SAMA GUE!" pekik Cia dengan mata melotot.
Aurora yang baru saja mau menyuap siomay-nya langsung terlonjak kaget. "Cia, berisik banget sih! Malu dilihatin orang!"
"Biarin! Gue lebih malu karena tahu sahabat gue sendiri jadian sama megapolitannya FISIP tapi gue tahu dari akun lambe kampus!" Cia menyodorkan ponselnya ke depan wajah Aurora, memperlihatkan foto buram saat Arga menggandeng tangan Aurora di koridor pagi tadi.
Aurora menghela napas pasrah. "Itu... nggak kayak yang lo pikirin, Ci."
"Terus kayak gimana? Lo digandeng erat banget kayak takut ilang gitu! G*** ya, Ra, pantesan tiap malam ada ketukan di kamar kos lo. Ternyata modus ya?!" cecar Cia bertubi-tubi dengan wajah super penasaran.
Sebelum Aurora sempat membantah, sebuah nampan berisi makanan diletakkan di samping mangkuk siomay-nya. Sosok tinggi Arga langsung mengambil tempat duduk tepat di sebelah Aurora.
Suasana kantin yang tadinya bising mendadak agak mereda. Banyak pasang mata yang diam-diam mencuri pandang ke meja mereka.
"Hai," sapa Arga sant** pada Cia, lalu beralih menatap Aurora. "Udah dipesenin minum?"
"Belum, Kak..." jawab Aurora canggung.
"Gue pesenin dulu ya." Arga mengusap puncak kepala Aurora dengan lembut sebelum berdiri untuk memesan minum.
Cia yang menyaksikan interaksi manis itu secara langsung langsung membekap mulutnya sendiri, menahan teriakan histeris agar tidak dicap g*** oleh pengunjung kantin lainnya.
"Ra... demi apa..." bisik Cia dengan mata berbinar-binar. "Itu beneran Kak Arga yang terkenal killer itu? Kok bisa manis banget kayak takaran gula berlebih?!"
Aurora hanya bisa tersenyum kaku sambil menatap punggung Arga di kejauhan. Di satu sisi, dia sangat bersyukur karena Rian tidak terlihat lagi sejak pagi tadi. Namun di sisi lain, Aurora mulai menyadari satu hal yang berbahaya.
Setiap kali Arga menyentuhnya, setiap kali cowok itu menatapnya dengan lembut—meski semua itu hanya pura-pura—jantungnya selalu berdebar di luar kendali. Aurora takut, jika permainan ini berlangsung terlalu lama, dia tidak akan bisa membedakan mana yang pura-pura dan mana yang nyata.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!