**Bab 9: Batas yang Mengabur di Balik Hujan**
Jam dinding di koridor gedung Dekanat FISIP sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit malam. Pertemuan panitia magang mahasiswa baru yang super alot baru saja dibubarkan. Satu per satu mahasiswa berjalan gont** keluar dari ruangan, wajah-wajah mereka tampak kuyu dan kehabisan energi.
Aurora menghela napas panjang sambil menyampirkan tas kanvasnya ke bahu. Bahunya terasa sangat pegal setelah duduk hampir empat jam mendengarkan perdebatan tidak berujung tentang divisi perlengkapan.
Langkah kaki Aurora terhenti begitu dia sampai di lobi gedung. Di luar, langit malam seolah tumpah. Hujan deras mengguyur bumi tanpa ampun, menyisakan suara gemuruh yang berisik dan hawa dingin yang langsung menusuk kulit lengannya yang hanya terbalut kaus lengan pendek.
"Aduh, malah badai begini," gumam Aurora cemas.
Dia buru-buru merogoh saku celananya, mengambil ponsel untuk memesan ojek *online*. Jari-jarinya dengan cepat membuka aplikasi transportasi, namun layarnya hanya menampilkan lingkaran berputar tanpa henti dengan tulisan: *Mencari pengemudi...* Taras harga melonjak hampir tiga kali lipat karena hujan deras, tapi masalah utamanya adalah tidak ada satu pun pengemudi yang mau mengambil orderannya di jam selarut ini.
"Mana baterai sisa sepuluh persen lagi," keluh Aurora, menggigit bibir bawahnya cemas. Dia menatap jalanan kampus yang tampak remang-remang di bawah siraman air hujan yang begitu pekat. Jarak pandang bahkan tidak sampai lima meter.
"Belum balik?"
Suara berat yang familier itu membuat Aurora tersentak. Dia menoleh dan mendapati Arga sudah berdiri di sampingnya. Cowok itu mengenakan jaket *hoodie* hitam longgar, dengan satu tangan dima**kkan ke saku celana dan tangan lainnya memegang kunci mobil yang diputar-putar di jarinya.
"Eh, Kak Arga. Belum nih. Nggak dapet ojol dari tadi," jawab Aurora dengan senyum canggung. Dia masih merasa sedikit canggung setelah kejadian di gazebo beberapa hari lalu, saat Arga membantunya menghadapi Rian.
Arga melirik layar ponsel Aurora yang menyala redup, lalu beralih menatap jalanan yang tertutup tirai air hujan. "Gak bakal dapet jam segini. Badai juga."
"Iya sih. Tapi masa gue harus nginep di kampus?" Aurora tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana, walau sebenarnya dia mulai panik.
"Sama gue aja."
Aurora mengerjap. "Hah?"
"Balik sama gue. Kita kan searah, satu kosan kalau lo lupa," kata Arga datar, tapi nadanya tidak terdengar dingin seperti biasanya. "Mobil gue di parkiran samping. Tunggu di sini, gue ambil dulu."
"Eh, nggak usah, Kak! Merepotkan banget. Gue bisa tunggu hujannya agak redaan kok," tolak Aurora sungkan. Dia tidak enak hati terus-menerus merepotkan cowok yang paling populer—sekaligus paling ditakuti karena sikap dinginnya—di fakultas ini.
Arga menghentikan langkahnya yang baru berjalan dua tindak. Dia berbalik, menatap Aurora dengan sebelah alis terangkat. "Hujan kayak gini gak bakal reda sampai subuh. Dan lo mau nunggu di sini sendirian? Di gedung kosong yang mitosnya ada hantu nona Belanda?"
Bulu kuduk Aurora langsung meremang. Dia menatap sekeliling lobi yang memang sudah sepi dan remang-remang. "Kak Arga, jangan nakut-nakutin deh!"
Sebelah sudut bibir Arga terangkat, membentuk senyum tipis yang hampir tidak kentara. "Makanya, buruan ikut. Atau lo mau jalan kaki sendiri menerobos badai?"
Tanpa menunggu jawaban Aurora lagi, Arga langsung berlari kecil menerobos hujan menuju parkiran samping yang berjarak sekitar dua puluh meter. Aurora hanya bisa melongo, menatap punggung tegap cowok itu yang perlahan mengabur di balik derasnya air hujan.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit sampai sebuah mobil Honda Civic hitam berhenti tepat di depan tangga lobi. Kaca jendela bagian depan diturunkan sedikit, memperlihatkan wajah Arga yang memberi isyarat dengan kepalanya agar Aurora segera ma**k.
Aurora menarik napas dalam-dalam, melindungi tasnya di dada, lalu berlari cepat menuruni anak tangga lobi dan langsung membuka pintu mobil penumpang di sebelah kemudi.
Begitu pintu ditutup, suara gemuruh hujan di luar langsung teredam, digantikan oleh keheningan kabin mobil yang hangat dan harum aroma terapi maskulin bercampur wangi kopi yang menenangkan.
"Dingin?" tanya Arga sambil memutar kenop AC mobilnya untuk menurunkan suhunya agar tidak terlalu menusuk kulit Aurora yang agak basah terkena cipratan air.
"Dikit sih. Tapi aman kok. Makasih banyak ya, Kak," ujar Aurora sambil mengusap-usap telapak tangannya untuk mencari kehangatan.
Arga tidak langsung menjalankan mobilnya. Dia meraih sesuatu dari jok belakang, lalu melemparkannya dengan pelan ke pangkuan Aurora. Itu adalah sebuah jaket rajut berwarna abu-abu yang tebal dan wangi parfum Arga yang sangat khas.
"Pake. Jangan sampai besok lo absen magang gara-gara flu. Gue malas nyari pengganti lo buat urusan dokumen," kata Arga, beralasan dengan nada ketus yang dibuat-buat.
Aurora tersenyum kecil. Dia tahu itu hanya cara Arga untuk menutupi perhatiannya. Dia langsung memakai jaket tersebut. Ukurannya sangat besar di tubuh Aurora, tenggelam hingga menutupi setengah telapak tangannya, tapi rasanya sangat hangat dan nyaman.
"Makasih, Kak," ucap Aurora tulus.
Arga hanya berdehem pelan, lalu mulai menjalankan mobilnya perlahan menembus jalanan kampus yang gelap gulita.
Awalnya, suasana di dalam mobil terasa sangat canggung. Hanya ada suara wiper yang bergerak ritmis menyapu air di kaca depan dan suara instrumen lagu lofi yang diputar pelan dari radio mobil. Aurora hanya menatap ke luar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan yang tampak pudar dan berbayang karena air hujan yang terus mengalir di kaca mobil.
"Lo... emang selalu balik selarut ini kalau ada rapat?" Arga akhirnya membuka suara, memecah keheningan yang sempat merayap di antara mereka.
Aurora menoleh, agak terkejut karena Arga yang memulai obrolan duluan. "Nggak selalu sih, Kak. Kebetulan hari ini aja bahasannya muter-muter. Kak Pandu kalau mimpin rapat emang suka melebar ke mana-mana."
Arga mendengus pelan, tawa kecil tanpa suara keluar dari hidungnya. "Pandu emang gitu. Dari zaman maba sampai sekarang udah mau lulus, kalau ngomong suka gak ada titik komanya. Bikin pusing."
"Iya, bener banget!" Aurora langsung menyahut bersemangat, merasa mendapat teman senasib. "Tadi pas dia bahas anggaran konsumsi sampai setengah jam, gue udah hampir ketiduran sambil megang pulpen. Sumpah, ngantuk banget!"
Arga melirik Aurora sekilas dari sudut matanya, melihat bagaimana wajah cewek di sampingnya itu langsung berubah ekspresif saat bercerita. "Untung lo gak ngorok. Kalau lo ngorok, reputasi divisi acara langsung hancur di depan anak-anak perlengkapan."
"Ih, ya kali gue ngorok di depan umum!" Aurora mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal, meski sebenarnya dia merasa senang karena atmosfer tegang di antara mereka perlahan-lahan mencair.
"Tapi serius deh, Kak. Kak Arga kok mau sih gabung BEM lagi tahun ini? Bukannya tingkat tiga itu lagi sibuk-sibuknya ya?" tanya Aurora penasaran. Di kampus, Arga dikenal sebagai sosok yang sangat aktif tapi juga misterius. Dia tidak banyak bicara, tapi kinerjanya selalu diakui oleh para dosen dan sesama mahasiswa.
Arga menghela napas panjang, menghentikan mobilnya sejenak karena lampu merah di perempatan jalan utama. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran jok, lalu menatap lurus ke depan.
"Awalnya terpaksa karena ditarik sama ketua BEM yang sekarang. Dia sahabat gue dari SMA," jawab Arga jujur. "Tapi lama-lama... ya dijalani aja. Biar gak gabut juga di kosan."
"Gabut? Orang sibuk kayak Kak Arga bisa ngerasa gabut juga ya?" Aurora tertawa renyah.
"Gue juga manusia biasa, Ra. Bukan robot kampus kayak yang dibilang anak-anak," kata Arga dengan nada sant**, namun ada sedikit nada lelah di dalamnya. Dia menoleh ke arah Aurora, menatap cewek itu dengan pandangan yang teduh. "Di kampus, semua orang kayak punya ekspektasi lebih ke gue. Harus kelihatan sempurna, gak boleh salah, harus tegas. Kadang... melelahkan juga."
Aurora tertegun. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar Arga berbicara dengan nada yang begitu terbuka dan rentan. Selama ini, imej Arga di matanya—dan mungkin di mata seluruh mahasiswa FISIP—adalah cowok tangguh yang tak tersentuh, dingin, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan. Namun malam ini, di balik derasnya hujan dan kehangatan mobil ini, Aurora menyadari bahwa Arga hanyalah seorang cowok biasa yang juga butuh ruang untuk melepas lelahnya.
"Gue paham kok," ujar Aurora lembut. Dia menatap Arga dengan mata bulatnya yang jernih. "Pasti capek banget harus terus-terusan pakai 'topeng' kayak gitu. Tapi kalau di kosan... Kak Arga gak perlu kayak gitu lagi, kan?"
Arga menatap Aurora selama beberapa detik saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Dia kembali menjalankan mobilnya, namun kali ini dengan kecepatan yang lebih lambat, seolah ingin memperpanjang waktu perjalanan mereka.
"Iya," kata Arga pelan, nyaris berbisik. "Makanya gue suka di kosan. Sepi. Gak ada yang peduli gue ini siapa. Dan... belakangan ini, ada lo juga yang bikin kosan gak sesunyi biasanya."
Jantung Aurora tiba-tiba melewatkan satu detakan. Pipinya mendadak terasa hangat, beruntung lampu di dalam kabin mobil c**up temaram sehingga Arga tidak bisa melihat rona merah yang mulai menjalar di wajahnya.
"Gue? Emang gue ngapain? Perasaan gue gak pernah ganggu lo deh, Kak. Paling cuma minjem jemuran atau minta tolong benerin keran air waktu itu," kata Aurora, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa kecil yang agak dipaksakan.
Arga terkekeh geli. Suara kekehannya terdengar sangat renyah di telinga Aurora, membuat dadanya kembali berdesir aneh.
"Justru itu. Lo itu berisik, ceroboh, dan sering bikin repot," kata Arga, membuat Aurora membelalakkan matanya pura-pura tersinggung. Namun kalimat Arga berikutnya langsung membuat pertahanan Aurora runtuh. "Tapi anehnya, itu bikin gue ngerasa... nyata. Sama lo, gue gak perlu jadi 'Arga si Wakil Ketua BEM yang disegani'. Gue cuma perlu jadi Arga, tetangga kosan lo yang biasa."
Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil, namun kali ini rasanya sangat berbeda. Keheningan ini terasa begitu hangat, nyaman, dan dipenuhi oleh debaran-debaran halus yang tak kasat mata. Batas-batas yang selama ini memisahkan mereka—sebagai senior dan junior, sebagai orang asing yang kebetulan bertetangga—perlahan-lahan mulai mengabur, larut bersama rintik hujan yang membasahi kaca mobil mereka.
Aurora menunduk, memainkan ujung jaket kebesaran milik Arga yang masih dipakainya. "Gue juga... ngerasa nyaman kalau ada di dekat Kak Arga. Sejak kejadian sama Rian kemarin, gue ngerasa... aman. Makasih ya, Kak, udah selalu ada pas gue butuh bantuan."
Arga melirik Aurora, matanya melembut. "Gak usah dipikirin. Selama ada gue di sebelah kamar lo, cowok kayak dia gak bakal berani macem-macem lagi sama lo."
Mobil akhirnya belok mema**ki gang sempit menuju area rumah kos mereka. Hujan di luar mulai mereda menjadi rintik-rintik kecil, menyisakan aroma tanah basah yang menguar di udara malam.
Arga memarkirkan mobilnya dengan mulus di garasi kosan yang c**up luas. Setelah mesin mobil dimatikan, keheningan kembali terasa nyata di antara mereka. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak untuk membuka pintu mobil.
"Udah redaan dikit," kata Aurora memecah keheningan, matanya menatap ke luar jendela mobil.
"Iya," jawab Arga pelan. Dia melepaskan sabuk pengamannya, lalu berbalik menghadap Aurora sepenuhnya. "Jaketnya bawa aja dulu. Balikin besok-besok juga gak apa-apa."
"Beneran? Gak apa-apa nih?"
"Iya, Aurora." Arga menyebut namanya secara langsung, dan itu sukses membuat perut Aurora serasa diaduk-aduk oleh ribuan kupu-kupu.
"Y-ya udah. Gue duluan ya, Kak," pamit Aurora gugup. Dia buru-buru membuka pintu mobil dan melangkah keluar menuju selasar kosan yang teduh, diikuti oleh Arga yang berjalan sant** di belakangnya setelah mengunci mobil.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor lant** dua yang sepi. Langkah kaki mereka terdengar beriringan, memecah kesunyian malam yang larut. Begitu sampai di depan pintu kamar nomor 203—kamar Aurora—langkah mereka terhenti. Kamar Arga berada tepat di sebelahnya, nomor 204.
Aurora membalikkan badannya, menatap Arga yang berdiri hanya berjarak satu langkah darinya.
"Sekali lagi, makasih buat tumpangannya, jaketnya, dan... obrolannya malam ini, Kak Arga," kata Aurora dengan senyum manis terukir di wajahnya.
Arga menatap Aurora lekat-lekat, menyadari betapa pasnya jaket miliknya melekat di tubuh mungil cewek itu. Perlahan, tangan Arga bergerak naik. Jari-jarinya yang hangat dengan lembut merapikan beberapa helai rambut Aurora yang sedikit basah dan menempel di dahinya.
Sentuhan tiba-tiba itu membuat napas Aurora tertahan di tenggorokan. Matanya melebar, menatap langsung ke dalam manik mata hitam pekat milik Arga yang kini tampak begitu hangat dan penuh arti.
"Sama-sama, Ra," bisik Arga lembut, tangannya perlahan turun kembali ke samping tubuhnya. "Tidur yang nyenyak. Jangan lupa minum air hangat biar gak ma**k angin."
"I-iya, Kak. Lo juga ya."
Arga mengangguk kecil, lalu memutar badannya dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Begitu Arga membuka pintu dan ma**k ke dalam kamarnya, barulah Aurora bisa mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya.
Aurora segera membuka pintu kamarnya sendiri, menutupnya dengan rapat, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu tersebut. Dia memegang dadanya yang berdetak sangat kencang, seolah-olah baru saja berlari maraton sejauh berkilo-kilometer.
Di bawah temaram lampu kamarnya, Aurora menunduk menatap jaket abu-abu yang masih membungkus tubuhnya. Dia mendekatkan kerah jaket itu ke hidungnya, menghirup dalam-dalam aroma parfum bercampur kopi khas Arga yang menenangkan.
Malam ini, di balik tirai hujan yang deras, Aurora tahu bahwa hubungannya dengan cowok di sebelah kamarnya tidak akan pernah sama lagi. Batas yang selama ini dia jaga dengan ketat, kini telah benar-benar mengabur tanpa sisa.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!