Ketahuan 'Main Sendiri' di Toilet Kampus

Bab 1: Si Nona Sempurna yang Butuh Healing

Pengaturan Membaca

**Bab 1: Si Nona Sempurna yang Butuh Healing**

"Aluna, beneran deh, lo itu sebenernya manusia apa bukan, sih?"

Clara menyenggol bahu Aluna dengan gemas, membuat cewek berambut hitam panjang sepinggang itu tersenyum tipis. Mereka baru saja keluar dari ruang aula setelah pengumuman penerima beasiswa prestasi tingkat universitas dibacakan.

"Gue manusia, Clara. Masa lo kira gue keponakan Siri?" canda Aluna, berusaha terdengar seringan mungkin.

"Ya habisnya! IPK empat koma nol berturut-turut selama tiga semester, aktif di organisasi, jadi kesayangan Dekan, dan barusan nama lo disebut sebagai peraih beasiswa penuh dari yayasan luar negeri. G***, lo itu *literally* definisi cewek sempurna tanpa celah!" Clara menggeleng-gelengkan kepalanya kagum. "Cowok-cowok di kampus ini kayaknya minder duluan deh kalau mau ngedeketin lo."

Aluna hanya membalasnya dengan tawa kecil yang terdengar anggun. Tawa yang sudah sangat terlatih. Tawa yang selalu ia tunjukkan di depan semua orang agar mereka percaya bahwa hidupnya sangat baik-baik saja.

"Gue duluan ke ruang dosen ya, Ra. Ada berkas yang harus gue tanda tangan sama Prof. Hendra," pamit Aluna sambil merapikan tas bahu kulitnya yang selalu rapi.

"Oke, Nona Sempurna! Jangan lupa makan siang, ya!" teriak Clara sambil melambaikan tangan.

Aluna membalas lambaian tangan itu. Namun, begitu tubuhnya berbalik dan berjalan menjauh dari keramaian koridor Gedung FISIP, senyum manis di wajahnya langsung lenyap tanpa bekas. Sudut bibirnya mendatar, dan tatapan matanya yang tadi berbinar mendadak meredup, menyiratkan kelelahan yang teramat sangat.

Aluna merogoh saku rok plisketnya, mengambil ponsel yang sejak tadi bergetar tanpa henti. Ada satu pesan WhatsApp dari nomor yang paling ia takuti di dunia ini.

**Mama:**

*Aluna, Mama baru dapat kabar kamu lolos beasiswa lagi. Bagus. Pertahankan itu sampai lulus. Ingat, Papa kamu lagi drop belakangan ini. Biaya pengobatan jalan terus, dan adikmu mau ma**k SMA favorit tahun depan. Jangan sampai kamu bikin malu keluarga dengan nilai yang turun sedikit pun. Mama andalkan kamu.*

Dada Aluna mendadak terasa sesak, seolah-olah ada batu besar yang diletakkan di atas rusuknya secara paksa. Napasnya memburu. Ujung jemarinya mulai mendingin dan bergetar hebat. Ini dia. Serangan cemas itu datang lagi.

Setiap kali ekspektasi orang tuanya datang menghimpit, atau setiap kali ia dituntut untuk selalu menjadi nomor satu, tubuh Aluna selalu merespons dengan cara yang mengerikan. Jantungnya berdegup kencang seperti habis lari maraton, keringat dingin membasahi tengkuknya, dan kepalanya mulai berdenyut nyeri.

Dia butuh pelarian. Dia butuh *healing*. Tapi bukan *healing* versi mahasiswa kaya yang bisa langsung liburan ke Bali atau sekadar nongkrong cantik di kafe mahal menghabiskan ratusan ribu rupiah. Aluna tidak punya uang untuk itu, dan dia juga tidak punya waktu luang untuk bersenang-senang.

Aluna melirik jam tangan analognya. Masih ada waktu satu jam sebelum kelas berikutnya dimulai. Dengan langkah yang agak goyah namun terburu-buru, ia memutar arah. Aluna tidak berjalan menuju ruang dosen, melainkan melangkah menjauh dari wilayah FISIP, menyeberangi taman tengah, menuju ke area belakang kampus yang jarang dijamah orang: Gedung Fakultas Teknik.

Gedung Teknik terkenal dengan suasananya yang bising oleh suara mesin di lant** dasar, tetapi ada satu tempat yang sangat sepi, bahkan bisa dibilang mati. Lant** empat. Lant** teratas dari gedung tua tersebut yang kini hanya digunakan sebagai gudang penyimpanan meja kursi rusak dan ruang arsip berdebu.

Aluna menaiki anak tangga satu demi satu dengan napas yang semakin tidak beraturan. Begitu sampai di lant** empat, sunyi langsung menyambutnya. Koridor panjang itu tampak temaram karena beberapa lampu neonnya sudah mati dan belum diganti.

Langkah kaki Aluna bergema pelan di atas lant** tegel abu-abu saat ia berjalan menuju toilet wanita yang terletak di ujung koridor, tepat di sebelah tangga darurat. Toilet ini sudah lama diabaikan oleh para mahasiswi Teknik yang mayoritas lebih memilih menggunakan toilet di lant** satu atau dua yang lebih bersih dan terang.

*Cklek.*

Aluna mendorong pintu kayu toilet yang berat. Aroma karbol murah bercampur debu langsung menusuk indra penciumannya. Ia melangkah ma**k, lalu mengunci pintu utama toilet dari dalam menggunakan grendel besi yang sudah agak berkarat.

Di dalam toilet itu ada tiga bilik. Aluna berjalan melewati bilik pertama dan kedua yang pintunya dibbiarkan terbuka setengah. Ia memilih bilik paling ujungβ€”bilik ketiga yang berbatasan langsung dengan tembok luar gedung.

Ia ma**k ke dalam bilik sempit itu, mengunci pintunya rapat-rapat, lalu menyandarkan punggungnya di pintu kayu tersebut. Aluna memejamkan mata erat-erat, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.

"Tenang, Aluna... tenang..." bisiknya pada diri sendiri. Namun, bayangan pesan dari ibunya, tatapan menuntut dari para dosen, dan senyum palsu yang harus ia pasang setiap hari terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak.

Ia merasa seperti balon yang ditiup terus-menerus dan kini berada di ambang batas sebelum meledak berkeping-keping.

Satu-satunya cara agar ia tidak g*** adalah dengan melepaskan semua ketegangan ini. Dan bagi Aluna, pelepasan itu bukan lewat tangisan, melainkan lewat rasa nikmat yang ia ciptakan sendiri. Sebuah rahasia kecil yang sangat kontras dengan citra "anak baik-baik" yang selama ini melekat pada dirinya.

Dengan tangan yang masih gemetar karena sisa kecemasan, Aluna meletakkan tasnya di atas tangki air kloset duduk. Ia perlahan merapikan rok plisketnya ke atas paha, lalu menyentuh kancing celana dalam tipisnya.

Suasana di luar sangat sunyi. Hanya ada suara desau angin yang menyusup lewat ventilasi kecil di atas kepalanya. Sunyi ini adalah kemewahan bagi Aluna. Di tempat ini, tidak ada yang menuntutnya menjadi nomor satu. Di tempat ini, dia tidak perlu menjadi Aluna si mahasiswi teladan ber-IPK sempurna.

Aluna mendudukkan dirinya di atas penutup kloset yang tertutup rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan mulai menyentuh dirinya sendiri.

Sentuhan pertama di kulit sensitifnya langsung mengirimkan sengatan hangat yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Aluna menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan desahan yang hampir saja lolos dari tenggorokannya. Ia tahu, sekecil apa pun suara di toilet ini bisa bergema ke luar, jadi dia harus sangat berhati-hati.

Dengan mata terpejam, Aluna mematikan semua beban pikirannya. Ia membuang jauh-jauh bayangan tentang tugas kuliah, beasiswa, dan ekspektasi orang tuanya. Ia membiarkan pikirannya dipenuhi oleh fantasi liar yang tidak pernah berani ia wujudkan di dunia nyata. Sentuhan jemarinya bergerak semakin cepat, ritmis, dan menuntut.

Sensasi panas yang menyenangkan mulai merayapi perut bagian bawahnya. Napas Aluna semakin pendek dan memburu. Keringat tipis mulai muncul di kening dan lehernya, bukan karena cemas seperti tadi, melainkan karena gairah yang perlahan-lahan membakar tubuhnya.

*Ah... sedikit lagi...* batin Aluna, menengadahkan kepalanya hingga menyentuh pintu kayu di belakangnya.

Setiap gesekan yang ia buat terasa seperti pelepasan dari belenggu yang mengikatnya selama berbulan-bulan. Ketegangan di pundaknya perlahan-lahan mengendur seiring dengan debaran jantungnya yang kini berubah menjadi debaran kenikmatan yang memabukkan. Tubuh Aluna menegang, bersiap menyambut puncak pelepasan yang sudah berada di ujung jari.

Namun, tepat di saat Aluna berada di ambang batas kenikmatannya, sebuah suara tiba-tiba memecah kesunyian lant** empat.

*Krieeet... cklek.*

Suara pintu utama toilet di luar yang tadi dikuncinya berderit terbuka secara paksa, disusul oleh suara langkah kaki sepatu ka**al yang berat.

Jantung Aluna seketika serasa berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya menegang kaku, bukan karena or*****, melainkan karena rasa terkejut dan ketakutan yang luar biasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga kepala.

*Ada orang ma**k? Tapi kan pintu depannya tadi sudah gue kunci?!* teriak Aluna dalam hati dengan panik yang luar biasa.

Langkah kaki itu terdengar sant**, namun mantap, melintasi lant** toilet yang basah menuju ke arah bilik-bilik.

"Halo? Ada orang di dalam?"

Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan sangat maskulin terdengar bergema di dalam ruangan toilet wanita tersebut. Suara yang sangat familiar di telinga Aluna, yang seketika membuat darahnya berdesir dingin.

Aluna menahan napasnya rapat-rapat, menutup mulutnya dengan kedua tangan, sementara matanya menatap pintu bilik toiletnya dengan horor yang luar biasa. Di balik celah bawah pintu kayu itu, ia bisa melihat sepasang sepatu kets hitam milik seorang laki-laki yang kini berhenti tepat di depan bilik toilet tempatnya berada.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca