Suara dentum bas dari pengeras suara raksasa di panggung utama festival kampus malam itu benar-benar membuat dada Aluna bergetar. Lampu sorot warna-warni berputar liar, membelah langit malam yang dipenuhi kepulan asap dari stan makanan dan riuh rendah ribuan mahasiswa.
Aluna berdiri di dekat stan minuman dingin, berusaha sekecil mungkin agar tidak menarik perhatian. Dia mengenakan kaus *oversized* putih polos dan celana jinsβpenampilan paling aman untuk menyamar di tengah keramaian. Namun, usahanya sia-sia ketika sebuah tangan besar tiba-tiba merangkul bahunya dari belakang.
Aroma parfum maskulin yang sangat dia kenali langsung menyeruak. Maskulin, dingin, tapi entah sejak kapan mulai terasa akrab.
"Nyari tempat sembunyi? Kurang pinter lo memilih tempat," bisik Devian tepat di samping telinganya. Suaranya yang agak berat terdengar jelas di tengah kebisingan musik *electronic dance* yang sedang dimainkan DJ di atas panggung.
Aluna berjengit, menoleh cepat dan langsung berhadapan dengan wajah tampan Devian yang hanya berjarak beberapa sentimeter. Malam ini cowok itu terlihat luar biasa menyebalkanβdalam artian, terlalu tampan hingga membuat beberapa mahasiswi yang lewat sengaja melirik genit ke arah mereka. Devian memakai jaket kulit hitam di atas kaus hitam polos, dengan rambut yang ditata sedikit acak-acakan.
"Lepas, Dev. Banyak orang yang liat," bisik Aluna panik, mencoba melepaskan rangkulan tangan Devian dari bahunya.
"Biarin aja. Lagian semua orang juga udah tau kita 'deket'," jawab Devian sant**, malah semakin mempererat rangkulannya. Senyum miringnya yang khas terukir di sudut bibir.
Sebelum Aluna sempat mendebat lagi, suara riuh dari arah panggung utama mendadak beralih fungsi. Musik DJ berhenti, digantikan oleh suara melengking dari MC acara yang sangat heboh.
"Oke, *guys*! Sekarang kita ma**k ke sesi yang paling ditunggu-tunggu malam ini! *Couple Games*! Siapa di antara kalian yang dateng ke sini sama pacar, gebetan, atau... selingkuhan?" teriak sang MC lewat mikrofon, memicu sorakan heboh dari para penonton.
Aluna merasa firasatnya mendadak tidak enak. "Dev, kita pergi dari sini. Sekarang."
"Kenapa? Takut?" tantang Devian, menaikkan sebelah alisnya.
"Bukan takut, tapiβ"
"Nah! Itu dia! Tolong lampu sorotnya diarahkan ke sebelah kanan stan takoyaki! Ya, di sana!" teriak MC lagi.
Detik berikutnya, sebuah cahaya putih yang sangat terang dan menyilaukan langsung menembak tepat ke arah tempat Aluna dan Devian berdiri. Aluna refleks memejamkan mata dan mengangkat satu tangannya untuk menghalau cahaya yang menusuk mata.
"G***! Kita dapet pasangan paling fenomenal se-kampus malam ini! Devian dari Fakultas Teknik dan Aluna dari Fakultas Ekonomi! Ayo, kalian berdua, naik ke panggung sekarang juga!"
Suara sorakan penonton langsung pecah. Nama mereka berdua diteriakkan berulang-ulang oleh ratusan mahasiswa yang berkumpul di depan panggung. Aluna bisa merasakan jantungnya seolah merosot ke perut. Wajahnya seketika pucat pasi. Di tengah kerumunan itu, matanya sempat menangkap sosok Rendy, Wakil Ketua Komdis, yang berdiri tidak jauh dari panggung. Rendy sedang melipat tangan di dada, menatapnya dengan tatapan dingin dan penuh selidik.
*Mati gue,* batin Aluna histeris. Kalau dia naik ke panggung, semua perhatian akan tertuju padanya. Kebohongan tentang hubungan mereka bisa-bisa semakin rumit, atau bahkan terbongkar.
"Gue nggak mau naik, Dev. Gue nggak bisa," bisik Aluna, suaranya mulai bergetar karena panik. Kenangan tentang kejadian di toilet, tentang ancaman kontrak mereka, dan ketakutan akan dikeluarkan dari kampus mendadak berputar di kepalanya seperti film horor.
Devian menyadari perubahan ekspresi Aluna. Napas cewek itu mulai tidak teratur, dan tangannya yang mungil tampak gemetar hebat. Sifat arogan Devian seketika menguap begitu saja. Dia tidak ingin melihat Aluna seperti ini.
Tanpa memedulikan sorot lampu dan teriakan penonton, Devian menggenggam jemari Aluna. Hangat dan sangat erat.
"Ikut gue. Jangan liat ke tempat lain. Liat gue aja," ucap Devian dengan nada suara yang sangat tenang, jauh berbeda dari nada ketus atau sant** yang biasa dia gunakan.
Entah sihir apa yang ada dalam kalimat itu, tapi Aluna merasa sebagian dari kepanikannya mereda saat tangannya tenggelam di dalam genggaman Devian. Dengan langkah yang agak limbung, Aluna membiarkan dirinya dituntun oleh Devian menaiki anak tangga panggung.
Begitu mereka berdiri di tengah panggung, suara riuh penonton terdengar bagai dengungan samar di telinga Aluna. Lampu sorot di atas mereka terasa sangat panas.
"Wah, wah, romantis banget ya! Masih pegangan tangan kenceng banget kayak takut kehilangan," goda sang MC, memicu tawa dan sorakan gemas dari penonton. "Oke, *games*-nya simpel banget. Nama permainannya adalah *Eye Contact Challenge*. Aturannya: kalian harus berdiri berhadapan, saling menggenggam kedua tangan, dan menatap mata satu sama lain selama satu menit penuh tanpa berkedip atau mengalihkan pandangan. Pasangan yang paling lama bertahan dan paling dapet *chemistry*-nya, bakal dapet hadiah voucher belanja senilai dua juta rupiah!"
Aluna menelan ludah. *Menatap mata Devian selama satu menit? Di depan semua orang?* Ini adalah mimpi buruk.
"Siap? Mulai dari sekarang!" seru MC memotong lamunan Aluna.
Devian langsung berbalik sepenuhnya, menghadap Aluna. Tanpa ragu, dia meraih kedua tangan Aluna yang dingin dan basah karena keringat dingin. Dia menangkup tangan mungil itu di dalam sepasang tangannya yang besar dan hangat.
Aluna mendongak perlahan, terpaksa menatap mata Devian karena aturan permainan.
Di bawah sorot lampu panggung yang dramatis, mata Devian terlihat sangat berbeda. Tidak ada lagi binar jahil, tidak ada lagi tatapan meremehkan yang biasanya dia tunjukkan di koridor kampus atau di dalam mobil. Kali ini, sepasang mata gelap itu menatapnya dengan begitu tulus, begitu dalam, seolah-olah seluruh dunia di sekitar mereka telah lenyap dan hanya menyisakan Aluna seorang di sana.
"Napas, Lun. Jangan ditahan," bisik Devian sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh mikrofon panggung.
Aluna mengembuskan napasnya yang sempat tertahan. "Gue... gue takut."
"Ada gue di sini. Nggak bakal ada yang bisa nyakitin lo. Rendy, anak-anak Komdis, atau siapa pun. Gue yang bakal urus," kata Devian lagi, suaranya begitu lembut hingga membuat dada Aluna berdesir aneh. Ibu jari Devian bergerak perlahan, mengusap punggung tangan Aluna dengan gerakan menenangkan.
Sentuhan itu mengirimkan sengatan hangat yang menjalar langsung ke jantung Aluna. Jantungnya berdetak kencang, tapi kali ini bukan karena ketakutan atau panik karena panggung. Ini adalah jenis detak jantung yang berbeda. Detak jantung yang membuat wajahnya terasa panas dan merona merah.
Untuk pertama kalinya, Aluna melihat sisi lain dari seorang Devian. Cowok yang selama ini dia anggap sebagai musibah, cowok yang memaksanya ma**k ke dalam kontrak hubungan palsu ini demi menutupi kejadian memalukan di toilet, ternyata memiliki tatapan semanis ini. Tatapan yang membuat Aluna merasa sangat dilindungi dan dihargai.
"Waktu berjalan tiga puluh detik! Dan liat pemirsa, tatapan mata Devian ke Aluna ini bener-bener bukan main-main! Ini sih tatapan penuh cinta!" teriak MC yang mulai terbawa suasana, diikuti oleh teriakan histeris dari para mahasiswi di barisan depan.
Namun, Aluna tidak lagi mendengar suara bising itu. Fokusnya sepenuhnya terkunci pada mata Devian. Di dalam manik mata hitam itu, Aluna bisa melihat bayangan dirinya sendiri. Begitu dekat, begitu nyata.
"Gue nggak lagi akting sekarang, Aluna," gumam Devian pelan, hampir berupa bisikan yang tertelan oleh angin malam. Tatapannya turun sedikit ke bibir tipis Aluna, sebelum kembali mengunci matanya.
Jantung Aluna rasanya mau copot mendengar kalimat itu. *Nggak lagi akting? Maksudnya apa?*
"Sepuluh... sembilan... delapan..." Penonton mulai menghitung mundur bersama-sama.
Genggaman tangan Devian semakin erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya pada Aluna. Di detik-detik terakhir itu, Aluna menyadari satu hal yang selama ini dia sangkal setengah mati. Perasaan hangat ini, rasa aman ini, dan degupan jantung yang mengg*** ini... semua ini sudah melampaui batas dari apa yang tertulis di dalam kertas kontrak mereka.
Ini bukan lagi sekadar sandiwara.
"Tiga... dua... satu! Selesai!"
Suara bel berbunyi nyaring, disusul oleh tepuk tangan meriah dari seluruh penonton. Namun, baik Devian maupun Aluna tidak langsung melepaskan genggaman tangan mereka. Mereka masih berdiri berdekatan, saling menatap dengan napas yang sedikit memburu, seolah enggan kembali ke dunia nyata.
"Selamat untuk Devian dan Aluna! Kalian berdua bener-bener bikin kita semua baper maksimal malam ini!" seru MC sambil menyerahkan hadiah, yang langsung diterima oleh Devian dengan satu tangan, sementara tangan satunya masih enggan melepas jemari Aluna.
Begitu turun dari panggung, Devian langsung menarik Aluna menjauh dari kerumunan. Dia tidak membiarkan Aluna berinteraksi dengan siapa pun, bahkan mengabaikan beberapa teman satu gengnya yang mencoba memanggilnya. Devian terus melangkah cepat, menuntun Aluna menyusuri lorong-lorong kampus yang sepi di balik gedung rektorat, tempat yang jauh dari hiruk-pikuk festival.
Mereka akhirnya berhenti di area taman belakang kampus yang diterangi oleh lampu taman temaram. Udara malam yang sejuk langsung menerpa wajah mereka yang terasa hangat.
Aluna menyandarkan punggungnya pada pilar semen pembatas taman, berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Dia menatap Devian yang berdiri tepat di hadapannya, menghalangi cahaya lampu taman sehingga wajah cowok itu sebagian tertutup bayangan, membuatnya terlihat semakin misterius.
"Dev... yang tadi di panggung..." Aluna membuka suara, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya terdengar mencicit, sangat pelan.
Devian melangkah satu kaki lebih dekat. Jarak mereka kini sangat minim, hingga Aluna bisa merasakan embusan napas hangat Devian di dahinya.
"Yang mana? Yang gue bilang gue nggak lagi akting?" tanya Devian, suaranya terdengar sangat rendah dan s**** di tengah keheningan malam.
Aluna hanya bisa mengangguk pelan, tidak berani bersuara karena takut suaranya akan bergetar lagi.
Devian menundukkan kepalanya perlahan, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka. Satu tangannya terangkat, menyentuh lembut pipi Aluna, sementara ibu jarinya mengusap bibir bawah cewek itu dengan sangat perlahan. Sentuhan itu membuat tubuh Aluna menegang, namun dia sama sekali tidak berniat untuk menghindar.
"Lo bener-bener nggak tau, atau pura-pura nggak tau, Lun?" bisik Devian, matanya kembali menatap bibir Aluna dengan intensitas yang membuat udara di sekitar mereka terasa semakin panas. "Kontrak itu... cuma alasan bodoh gue supaya bisa terus ada di deket lo."
Aluna melebarkan matanya. Sebelum dia sempat mencerna kalimat itu sepenuhnya, wajah Devian sudah semakin mendekat. Aluna bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh cowok itu. Aroma parfumnya, deru napasnya yang teratur, dan tatapan matanya yang penuh damba membuat akal sehat Aluna perlahan meleleh.
Aluna memejamkan matanya secara perlahan saat merasakan napas Devian menyapu permukaan kulit pipinya, lalu turun ke sudut bibirnya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga rasanya bisa terdengar di keheningan taman ini. Dia mencengkeram erat ujung jaket kulit Devian, menanti apa yang akan terjadi selanjutnya dengan perasaan campur aduk antara takut, gugup, namun sangat menginginkannya.
Wajah Devian miring sedikit, bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter lagi dari bibir Aluna. Sentuhan lembut yang hampir tidak kentara itu membuat seluruh tubuh Aluna meremang. Di detik-detik yang sangat emosional itu, batas di antara mereka benar-benar telah runtuh. Kontrak palsu itu sudah tidak ada artinya lagi bagi mereka berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!