**Bab 11: Jebakan di Toilet Teknik**
Suasana koridor lant** dua Gedung Teknik sore itu benar-benar sepi. Sebagian besar mahasiswa sudah pulang, dan hanya tersisa beberapa anak lab yang masih berkutat dengan tugas akhir mereka di ujung lorong lain. Cahaya matahari senja yang temaram ma**k melalui celah-celah jendela kaca yang berdebu, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang terkesan suram di atas lant** semen.
Di salah satu sudut yang agak gelap, Rendy bersandar di dinding koridor sambil menatap layar ponselnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman licik yang tampak sangat puas.
Di layar ponsel itu, sebuah video CCTV berputar.
Itu adalah rekaman koridor depan toilet lant** dua Gedung Teknik pada hari kejadian seminggu yang lalu. Rendy harus memutar otak, merayu salah satu staf administrasi bagian keamanan kampus, bahkan sampai merelakan uang jajan satu minggunya melayang demi mendapatkan file rekaman mentah ini. Tapi sekarang, melihat apa yang ada di layar, Rendy merasa semua pengorbanannya sama sekali tidak sia-sia.
Dalam rekaman video beresolusi standar itu, terlihat jelas sosok Aluna yang keluar dari dalam toilet dengan gerakan terburu-buru. Wajah cewek itu tampak sangat merahβbahkan dari kamera jarak jauh pun kepanikannya sangat kentara. Aluna berulang kali membenarkan kerah kausnya, merapikan rambutnya yang agak acak-acakan dengan jemari yang gemetar, dan menoleh ke kanan-kiri seperti buronan yang takut tertangkap basah.
Beberapa detik kemudian, menyusul Devian keluar dari toilet yang sama dengan lagak sant** yang dipaksakan.
Rendy terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar menggema tipis di koridor yang sunyi.
"Kena lo, Aluna," gumam Rendy pelan. matanya menyipit penuh kemenangan. "Alim-alim begini, ternyata lo punya rahasia segede ini. Pantesan aja si Devian belakangan ini nempel terus sama lo kayak perangko. Ternyata ada udang di balik batu."
Rendy tahu betul gosip miring yang sempat beredar di kalangan mahasiswa Teknik tentang suara-suara aneh dari dalam toilet perempuan hari itu. Rumor tentang cewek yang 'main sendiri' di toilet kampus sempat jadi bahan obrolan hangat di grup-grup WhatsApp angkatan, meskipun perlahan meredup karena tidak ada bukti fisik. Tapi sekarang, bukti fisik itu ada di genggaman Rendy.
Rendy tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dia ingin menghancurkan reputasi sok suci Aluna, sekaligus menjatuhkan Devianβcowok yang selama ini selalu menjadi rivalnya dalam segala hal di kampus, mulai dari urusan akademik hingga kepopuleran.
Dengan jempolnya, Rendy membuka aplikasi pesan instan. Dia menggunakan nomor baru yang sengaja dibelinya tadi siang di konter dekat kosan. Sebuah nomor sekali pakai yang tidak akan bisa dilacak balik ke dirinya.
Rendy mulai mengetikkan pesan, meniru gaya bicara Devian yang dingin dan langsung pada intinya.
*To: Aluna*
*Ini gue, Devian. Hp gue yang biasa lowbat dan mati total. Ini gue pinjem hp anak lain. Buruan ke toilet lant** 2 Gedung Teknik sekarang juga. Rahasia kita bocor, ada anak yang curiga. Jangan telat, gue tunggu di dalem.*
Rendy menekan tombol kirim.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai status pesan tersebut berubah menjadi centang dua biru. Aluna sudah membacanya.
Rendy tersenyum puas. Dia tahu persis kelemahan Aluna. Cewek itu sangat penakut dan sangat menjaga reputasinya sebagai mahasiswi teladan di Fakultas Ekonomi. Begitu mendengar kata 'rahasia kita bocor', Aluna pasti akan langsung panik setengah mati dan berlari ke sini tanpa berpikir panjang.
Rendy mema**kkan ponselnya kembali ke saku celana jinsnya. Dia melangkah perlahan menuju pintu toilet perempuan, membukanya sedikit, lalu menyelinap ma**k ke dalam. Dia sengaja tidak menyalakan lampu utama toilet, membiarkan ruangan itu hanya diterangi oleh sisa cahaya sore yang ma**k dari ventilasi udara di bagian atas dinding.
Dia menunggu mangsanya datang ke sarang.
***
Sementara itu, di koridor luar Fakultas Ekonomi yang berjarak sekitar lima ratus meter dari Gedung Teknik, Aluna hampir saja menjatuhkan buku tebal yang tengah didekapnya.
Pesan singkat di layar ponselnya membuat seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa berhenti mengalir. Wajahnya yang semula masih sedikit bersemu merah akibat kejadian di panggung festival semalam, kini mendadak berubah pucat pasi seputih kertas.
*Rahasia kita bocor...*
Kata-kata itu terus berputar-putar di kepala Aluna seperti kaset rusak, menciptakan rasa mual yang hebat di ulu hatinya. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga dadanya terasa sakit.
"Nggak... nggak mungkin," bisik Aluna dengan bibir gemetar.
Dia mencoba menghubungi kembali nomor yang mengiriminya pesan tersebut. Namun, pangg***nnya langsung ditolak. Aluna mencoba mengirim pesan balasan.
*Dev? Beneran ini lo? Jangan bercanda, Dev! Siapa yang tahu?*
Satu menit berlalu. Tidak ada balasan.
Aluna semakin panik. Pikirannya langsung melayang ke kejadian memalukan di toilet tempo hariβsaat di mana dia terangsang karena membaca cerita dewasa di ponselnya, memutuskan untuk menuntaskannya sendiri di bilik toilet yang dia pikir aman, namun berakhir dengan Devian yang memergokinya dalam keadaan paling intim dan memalukan.
Jika rahasia itu benar-benar bocor ke anak-anak kampus... Aluna tidak bisa membayangkan bagaimana dia harus menghadapi hari esok. Orang tuanya, dosen-dosennya, teman-temannya... semua reputasi yang dia bangun dengan susah payah akan hancur lebur dalam sekejap.
Tanpa berpikir dua kali, Aluna memeluk erat bukunya, berbalik arah, dan mulai berlari sekencang mungkin menuju Gedung Teknik. Angin sore menerpa wajahnya, menyisakan rasa dingin yang menusuk, namun keringat dingin justru terus bercucuran di pelipisnya.
Napasnya memburu saat dia menaiki anak tangga Gedung Teknik satu per satu. Lorong lant** dua terasa begitu sunyi, sangat kontras dengan gemuruh kepanikan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya. Langkah sepatunya terdengar menggema keras di sepanjang koridor, seolah sedang menghitung mundur detik-detik kehancurannya.
Begitu sampai di depan pintu toilet perempuan lant** dua, Aluna berhenti sejenak. Dia mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan, menormalkan detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.
Pintu toilet itu tertutup rapat. Keadaan di dalamnya tampak gelap dan sunyi.
Aluna menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sangat kering. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia perlahan mendorong pintu kayu tersebut.
*Krieeet...*
Suara engsel pintu yang berkarit terdengar sangat nyaring di kesunyian sore itu. Aluna melangkah ma**k ke dalam area wastafel toilet yang remang-remang. Aroma pembersih lant** yang khas berbaur dengan udara lembap langsung menyambut indra penciumannya.
"Dev...?" panggil Aluna dengan suara berbisik, nyaris tidak terdengar. "Devian, lo di dalam? Ini gue, Aluna."
Sunyi. Tidak ada jawaban sama sekali. Hanya ada suara tetesan air yang jatuh dari keran wastafel yang bocor ke atas permukaan keramik. *Tetes... tetes...*
Aluna melangkah lebih dalam, mendekati deretan bilik toilet yang semuanya tampak tertutup. "Dev, jangan main-main. Ini gak lucu. Siapa yang tahu soalβ"
*B**k!*
Suara pintu utama toilet yang ditutup dengan keras dari belakang membuat Aluna terlonjak kaget. Dia refleks berbalik, dan matanya langsung membelalak lebar demi melihat sosok yang kini berdiri di depan pintu yang baru saja dikunci dari dalam.
Itu bukan Devian.
Rendy berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di daun pintu kayu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Senyum miring yang sangat menyebalkan terukir jelas di wajahnya yang diterangi cahaya temaram.
"Hai, Aluna. Nyari siapa? Devian?" tanya Rendy dengan nada suara yang sengaja dibuat ramah, namun terdengar sangat memuakkan di telinga Aluna.
Aluna mundur satu langkah sampai pinggulnya membentur tepian wastafel marmer yang dingin. Kepanikannya naik dua kali lipat. "R-Rendy? Ngapain lo di sini? Mana Devian? Dan... kenapa lo ngunci pintunya?!"
Rendy terkekeh pelan, melangkah maju beberapa senti dengan gaya yang sangat sant**, seolah dia adalah penguasa tempat itu. "Devian gak bakal dateng, Al. Karena dari awal, yang nge-chat lo itu bukan dia. Tapi gue."
Rendy mengeluarkan ponselnya dari saku, lalu menggoyang-goyangkannya di udara dengan ekspresi mengejek.
"Lo... lo bohongin gue?" suara Aluna bergetar hebat. Rasa takut kini bercampur dengan kemarahan yang membuncah. "Kurang kerjaan banget sih lo! Minggir, gue mau keluar!"
Aluna mencoba melangkah maju untuk meraih gagang pintu, namun dengan cepat Rendy menggeser tubuhnya, menghalangi jalan Aluna. Postur tubuh Rendy yang jauh lebih tinggi dan tegap membuat Aluna langsung merasa terintimidasi.
"Buru-buru amat, Aluna yang manis," bisik Rendy, nadanya terdengar sangat licik. "Kita bahkan belum mulai ngobrolin soal 'rahasia' lo yang sangat menarik itu."
"Gak ada rahasia apa-apa! Lo cuma asal tebak dan bikin jebakan murahan kayak gini!" teriak Aluna, mencoba menutupi kegugupannya dengan kemarahan. Dia mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rendy tidak terpengaruh oleh amarah Aluna. Dia justru tersenyum semakin lebar, seolah sedang menikmati reaksi ketakutan cewek di depannya.
"Oh, ya? Masih mau mengelak?" Rendy mengutak-atik ponselnya sebentar, lalu memutar layar ponsel itu tepat di depan wajah Aluna. "Gue rasa rekaman CCTV hari Selasa lalu jam dua siang ini bisa bikin lo inget semuanya."
Mata Aluna terpaku pada layar ponsel Rendy. Di sana, dia melihat dirinya sendiri sedang keluar dari toilet ini dengan penampilan yang sangat berantakan dan ekspresi wajah yang sangat bersalah. Lalu, muncul sosok Devian di belakangnya.
Seluruh persendian Aluna rasanya mendadak lemas. Dia harus berpegangan pada tepi wastafel agar tidak jatuh terduduk di atas lant** toilet yang dingin.
"G*** ya, Al," Rendy berbisik lagi, kini melangkah semakin dekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa satu meter. "Aluna yang terkenal sebagai mahasiswi teladan, anak emas Dekan, cewek paling alim se-angkatan... ternyata punya hobi yang liar banget di toilet Teknik. Dan yang lebih g*** lagi, lo mainnya sama musuh bebuyutan gue, Devian. Kira-kira apa ya yang lo berdua lakuin di dalem bilik itu sampai muka lo merah padam kayak gitu?"
"Rendy, stop... please, stop..." air mata mulai menggenang di pelupis mata Aluna. Dia benar-benar merasa tersudut. Dunianya rasanya runtuh saat itu juga.
"Kenapa harus stop? Padahal permainannya baru mau dimulai," Rendy menatap Aluna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang membuat Aluna merasa sangat kotor dan te*******. "Gue punya video ini, Al. Dan gue bisa aja dengan mudah nyebarin video ini ke grup angkatan, atau bahkan ngirim langsung ke nomor dosen pembimbing lo. Bayangin gimana reaksi mereka kalau tahu kelakuan asli lo di belakang layar."
"Jangan, Ren... gue mohon, jangan," isak Aluna akhirnya pecah. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pada cowok berengsek di hadapannya. "Gue bakal lakuin apa aja, asal lo hapus video itu. Tolong jangan sebarin..."
Rendy tersenyum puas, merasa di atas angin karena mangsanya kini benar-benar sudah bertekuk lutut di bawah kendalinya. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Aluna, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk cewek itu meremang ngeri.
"Apa aja, kan? Oke, kalau gitu..."
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!