**Bab 12: Tameng Terakhir Devian**
Napas Aluna terengah-engah saat kakinya menapaki anak tangga terakhir menuju lant** dua Gedung Teknik. Koridor itu sangat sepi, menyisakan keheningan yang terasa mencekam. Sinar matahari senja yang mulai meredup menyelinap melalui celah jendela, memantulkan bayangan panjang yang tampak suram di lant** semen yang dingin.
Aluna mencengkeram ponselnya erat-erat. Jemarinya gemetar. Pesan dari Devian beberapa menit lalu benar-benar membuatnya panik.
*To: Aluna*
*Ini gue, Devian. Hp gue yang biasa lowbat dan mati total. Ini gue pinjem hp anak lain. Buruan ke toilet lant** 2 Gedung Teknik sekarang*
"Devian? Lo di mana?" panggil Aluna dengan suara bergetar. Dia melangkah ragu-ragu mendekati area toilet. "Dev, ini gue..."
"Nggak usah panggil-panggil dia. Devian nggak ada di sini."
Suara berat dan sinis itu mengejutkan Aluna. Dia tersentak ke belakang, hampir saja menjatuhkan ponselnya. Dari balik pilar beton dekat wastafel luar toilet, sesosok cowok melangkah keluar dengan senyuman licik yang menghiasi wajahnya.
Rendy.
Aluna merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. "R-Rendy? Ngapain lo di sini? Mana Devian?"
Rendy terkekeh pelan, melangkah maju hingga jarak di antara mereka mengikis. Aluna refleks mundur beberapa langkah sampai punggungnya membentur dinding koridor yang dingin.
"Devian nggak bakal datang, Aluna sayang," ujar Rendy dengan nada meremehkan. Dia mengangkat sebuah ponsel murah berlayar retak yang ada di tangan kirinya. "Nomor baru. Sekali pakai. Gampang banget kan nipu cewek polos kayak lo?"
Wajah Aluna langsung pucat pasi. "Jadi... pesan itu dari lo?"
"Pinter," puji Rendy, tapi kedengarannya sangat menjijikkan di telinga Aluna. "Gue terpaksa bohong biar lo mau ke sini tanpa harus gue seret. Lagipula, kalau gue chat pakai nomor asli gue, lo pasti nggak bakal sudi datang, kan?"
"Lo mau apa sih, Ren? Jangan macem-macem ya! Gue mau balik ke kelas," kata Aluna, berusaha bersuara tegas meskipun lututnya sudah lemas seperti jeli. Dia mencoba melangkah pergi, namun Rendy dengan cepat mengadang jalannya, merentangkan tangan untuk mengunci pergerakan Aluna.
"Buru-buru amat. Kita bahkan belum mulai ngobrol," bisik Rendy, wajahnya mendekat dengan ekspresi yang membuat Aluna merinding. "Gue cuma mau nunjukin sesuatu yang seru banget. Lo pasti tertarik."
Rendy menyalakan layar ponselnya yang satu lagiβponsel pribadinya yang mahal. Dia memutar sebuah video dan mengarahkannya tepat di depan wajah Aluna.
Mata Aluna membelalak sempurna. Seluruh darah di tubuhnya rasanya seperti tersedot habis.
Di layar itu, terlihat rekaman CCTV koridor toilet lant** dua Gedung Teknik seminggu yang lalu. Kualitas gambarnya c**up jelas untuk memperlihatkan sosok Aluna yang keluar dari toilet dengan wajah merah padam, panik, dan terburu-buru merapikan pakaiannya yang berantakan. Tidak lama setelah itu, menyusul Devian yang keluar dari toilet yang sama dengan lagak sant**.
"B-dari mana lo dapet itu...?" bisik Aluna, suaranya nyaris hilang tercekik ketakutan.
"Nggak penting gue dapet dari mana. Yang jelas, tebakan gue selama ini bener," Rendy tersenyum penuh kemenangan, matanya berkilat jahat. "Gosip tentang cewek yang 'main sendiri' di toilet hari itu... ternyata beneran lo, kan? Dan tebak siapa yang nemenin lo di dalem? Devian. Wah, g*** sih. Tampang doang alim, tapi di belakang kelakuan lo berdua lebih liar dari binatang."
"Nggak! Itu nggak bener! Nggak kayak gitu kejadiannya!" tangis Aluna pecah. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Dia menggelengkan kepala dengan histeris. "Hapus, Ren! Gue mohon hapus video itu!"
"Hapus? Enak aja," Rendy tertawa puas, sangat menikmati penderitaan Aluna yang kini mulai menangis tergugu. "Lo tahu berapa banyak duit yang gue keluarin buat nyuap orang IT demi dapet rekaman ini? Video ini berharga banget, Lun. Bisa buat hancurin reputasi lo di kampus, sekalian bikin cowok sok jagoan lo, si Devian itu, didepak dari jabatannya."
Rendy maju satu langkah lagi, memojokkan Aluna hingga cewek itu tidak punya ruang untuk bernapas. "Tapi tenang aja. Gue orangnya baik kok. Gue bisa aja hapus video ini... asal lo mau nurutin apa kata gue. Mulai malam ini, lo harusβ"
*BUGH!*
Satu hantaman keras mendarat tepat di rahang kiri Rendy.
Bunyi benturan fisik itu terdengar begitu mengerikan di koridor yang sepi. Tubuh Rendy langsung terpental ke samping, menab**k deretan loker besi dengan keras sebelum akhirnya tersungkur ke lant** semen. Ponsel di tangannya terlepas dan meluncur beberapa meter.
"Ba*****!" umpat Rendy sambil memegangi rahangnya yang terasa bergeser. Dia mendongak dengan tatapan murka, namun kemarahannya langsung menguap digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa ketika melihat siapa yang berdiri di depannya.
Devian.
Napas Devian memburu cepat, dadanya naik turun dengan kasar. Kedua kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang biasa terlihat dingin dan acuh tak acuh, kini menyala-nyala oleh amarah yang begitu pekat. Tatapan matanya seolah siap membunuh Rendy detik itu juga.
"D-Devian...?" gumam Rendy, mendadak gugup.
Tanpa membuang waktu, Devian melangkah maju. Sebelum Rendy sempat bangkit, Devian mencengkeram kerah jaket Rendy, menarik tubuh cowok itu ke atas dengan kasar, lalu kembali melayangkan satu pukulan telak ke wajahnya.
*BUGH!*
"An**** lo, Rendy!" bentak Devian, suaranya menggelegar memenuhi koridor. Dia kembali memukul Rendy, meluapkan seluruh emosinya yang sudah di ubun-ubun. Rendy sama sekali tidak diberi kesempatan untuk membalas. Dia hanya bisa mengerang kesakitan saat pukulan-pukulan Devian menghujani wajah dan perutnya.
"Dev! Udah, Dev! C**up!" jerit Aluna dari belakang, menutupi mulutnya dengan kedua tangan, ketakutan melihat kebrutalan Devian yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Devian tidak peduli. Dia menjatuhkan Rendy ke lant**, lalu dengan cepat menyambar ponsel Rendy yang tergeletak di dekat wastafel. Dengan jempolnya, Devian membuka ponsel yang ternyata tidak terkunci itu, menemukan video CCTV yang dimaksud, lalu mengirimkannya ke ponselnya sendiri sebelum menghapus file asli beserta semua cadangannya di folder *cloud* dan *trash* ponsel Rendy.
Setelah memastikan tidak ada salinan yang tersisa di sana, Devian melempar ponsel mahal itu ke lant** dan menginjaknya dengan sepatu botnya hingga hancur berkeping-keping.
*KRAK!*
Rendy melotot melihat ponselnya hancur, tapi dia terlalu lemas untuk protes. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar.
Devian kembali mendekati Rendy. Dia berjongkok, mencengkeram kerah baju Rendy lagi, lalu menarik wajah cowok itu hingga jarak mereka sangat dekat.
"Dengerin gue baik-baik, pecundang," bisik Devian, suaranya rendah namun penuh dengan ancaman mematikan yang membuat bulu kuduk Rendy merinding. "Lo bangga banget kan sama posisi lo di Senat Mahasiswa? Lo pikir gue nggak tahu kelakuan busuk lo di belakang? Ka**s penggelapan dana makrab tahun lalu, sama laporan pelecehan verbal ke beberapa maba cewek yang lo tutup-tutupi pakai relasi bokap lo?"
Rendy langsung membelalak panik. Wajahnya yang semula memar kini berubah pucat pasi. "L-lo... dari mana lo tahu..."
"Gue tahu segalanya tentang lo, Rendy," potong Devian dingin. "Gue punya semua buktinya. Sekali aja... sekali aja gue denger ada rumor aneh tentang Aluna beredar di kampus, atau kalau lo berani deketin dia lagi dalam jarak lima meter... gue nggak cuma bakal bikin lo didepak secara tidak hormat dari Senat. Gue bakal pastiin nama lo hancur se-hancur-hancurnya, dan lo bakal didepak dari kampus ini dengan status kriminal. Paham?"
Rendy menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tahu Devian tidak sedang menggertak. Keluarga Devian memiliki pengaruh yang jauh lebih besar di yayasan kampus dibanding keluarganya sendiri.
"P-paham, Dev... paham. Gue nggak bakal ganggu dia lagi," sahut Rendy terbata-bata, ketakutan setengah mati.
Devian menghempaskan tubuh Rendy ke lant** dengan kasar. "Cabut dari muka gue sebelum gue patahin kaki lo."
Tanpa perlu diperintah dua kali, Rendy segera bangkit dengan sisa-sisa tenaganya. Sambil memegangi perut dan wajahnya yang babak belur, dia berlari pincang meninggalkan koridor lant** dua secepat yang dia bisa.
Suasana koridor kembali sunyi. Hanya terdengar suara embusan napas Devian yang perlahan mulai berangsur normal.
Devian berbalik arah, menatap Aluna yang masih berdiri mematung di sudut dinding. Tubuh cewek itu gemetar hebat. Kedua tangannya mendekap dadanya sendiri, dan air matanya mengalir tanpa henti tanpa suara. Dia tampak begitu rapuh, seolah-olah satu sentuhan kecil saja bisa membuatnya hancur berkeping-keping.
Melihat kondisi Aluna, kemarahan di mata Devian langsung padam seolah disiram air dingin. Ekspresi wajahnya melunak, digantikan oleh rasa khawatir yang teramat sangat.
"Aluna..." panggil Devian lembut. Dia melangkah mendekat.
Namun, begitu Devian berada di dekatnya, Aluna langsung merosot ke lant**. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis histeris. Isak tangalnya terdengar begitu pilu di koridor yang sepi itu.
"Maaf... hiks... maafin gue, Dev..." tangis Aluna pecah. Suaranya serak dan tersendat-sendat. "Gara-gara gue... lo jadi kayak gini. Gara-gara kebodohan gue hari itu, lo harus terlibat masalah terus. Lo harus berantem, lo harus ngancem orang... gue... gue emang pembawa sial..."
Hati Devian rasanya seperti dicubit melihat Aluna menyalahkan dirinya sendiri sedalam itu. Dia segera berlutut di depan Aluna, tidak memedulikan celana jeans-nya yang kotor terkena debu lant**.
"Aluna, hey. Lihat gue," kata Devian lembut, mencoba meraih jemari Aluna yang menutupi wajahnya.
Tetapi Aluna menolak, dia tetap menyembunyikan wajahnya yang sembap. "Jangan lihat gue, Dev! Gue malu... gue kotor... harusnya lo nggak usah peduli sama gue. Biarin aja si Rendy sebarin video itu, biar gue aja yang nanggung akibatnya. Jangan rusak reputasi lo cuma buat bela cewek kayak gue..."
"Aluna! C**up!" potong Devian, nadanya sedikit meninggi tapi sama sekali tidak terdengar marah. Dia memaksa menarik tangan Aluna dari wajahnya, lalu menggenggam kedua tangan mungil yang terasa sedingin es itu dengan erat.
"Dengerin gue," ucap Devian, memaksa Aluna untuk menatap langsung ke dalam matanya yang hitam legam. "Ini bukan salah lo. Kejadian di toilet hari itu, jebakan Rendy hari ini... nggak ada satu pun yang salah lo. Lo itu korban, Lun. Paham?"
"Tapi gue udah ngerepotin lo banyak bangetβ"
"Gue nggak merasa direpotin!" tegas Devian. "Gue yang mau di sini. Gue yang milih buat ada di depan lo. Jadi tolong, stop bilang lo pembawa sial atau lo nggak pantes dibela."
Aluna menatap Devian dengan mata yang basah oleh air mata. Detak jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena takut pada Rendy, melainkan karena kehangatan yang mendadak mengalir dari genggaman tangan Devian dan ketulusan yang terpancar dari tatapan mata cowok itu.
Devian menghela napas perlahan. Perlahan, dia mengulurkan tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap air mata yang membasahi pipi Aluna dengan sangat lembut. Sentuhan itu terasa begitu kontras dengan kepalan tangan yang beberapa menit lalu menghajar Rendy tanpa ampun.
"Mulai sekarang, lo nggak usah takut lagi," bisik Devian, suaranya begitu menenangkan, mengusir semua rasa cemas yang sempat menguasai kepala Aluna. "Selama ada gue di sini, nggak akan ada satu orang pun yang bisa nyentuh atau nyakitin lo. Gue yang bakal jadi tameng lo, Aluna. Selamanya."
Mendengar kalimat itu, pertahanan Aluna benar-benar runtuh. Tanpa berpikir panjang lagi, dia memajukan tubuhnya dan langsung memeluk Devian erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang cowok itu.
Devian sempat tersentak kaget dengan tindakan tiba-tiba Aluna. Namun perlahan, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Dia melingkarkan lengan kokohnya di sekeliling tubuh Aluna, mendekap cewek itu dengan erat seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk melindunginya dari kerasnya dunia luar. Di bawah temaram langit senja koridor teknik, Devian resmi menjadi tameng terakhir yang akan selalu berdiri paling depan untuk Aluna.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!