**Bab 13: Konfesi di Bawah Rintik Hujan**
Ponsel di tangan Rendy hampir saja terlepas kalau cowok itu tidak sigap mencengkeramnya. Namun, sebelum Rendy sempat mengucapkan sepatah kata ancaman lagi, sebuah hantaman keras mendarat di rahang kirinya.
*BUGH!*
Rendy tersungkur ke lant** semen koridor yang berdebu. Dia mengerang kesakitan, memegangi pipinya yang langsung memerah.
"Br******!" umpat Rendy, mendongak dengan tatapan penuh amarah.
Di hadapannya, Devian berdiri dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang biasa terlihat sant** kini memancarkan kemarahan yang begitu pekat. Tanpa membuang waktu, Devian langsung menarik pergelangan tangan Aluna yang sudah dingin seperti es.
"Ikut gue," bisik Devian tegas.
Aluna yang otaknya sudah blur karena syok hanya bisa pasrah saat Devian menariknya setengah berlari menuruni anak tangga Gedung Teknik. Di belakang mereka, sayup-sayup terdengar teriakan marah Rendy yang mengancam akan menyebarkan video itu, tapi Devian tidak peduli. Fokusnya saat ini hanya satu: membawa Aluna pergi secepat mungkin dari tempat terkutuk itu.
Tepat saat mereka keluar dari lobi gedung, langit yang sejak sore mendung akhirnya tumpah. Hujan deras langsung mengguyur bumi tanpa ampun. Devian merangkul pundak Aluna, melindunginya dari terpaan air hujan sebisanya, lalu membawa cewek itu berlari menuju mobil Honda Civic hitam miliknya yang terparkir tak jauh dari sana.
*KLIK.*
Pintu mobil tertutup rapat, meredam suara gemuruh hujan di luar menjadi dengungan yang samar.
Suasana di dalam mobil mendadak senyap. Hanya ada suara napas mereka yang terengah-engah dan bunyi wiper yang bekerja keras menyapu air di kaca depan. Aluna duduk di kursi penumpang dengan tubuh gemetaran. Bajunya sedikit basah terkena cipratan air hujan, tapi bukan dingin yang membuatnya menggigil. Rasa takut, malu, dan panik bercampur aduk di dalam dadanya, menyumbat tenggorokannya hingga dia merasa sulit untuk bernapas.
Devian menyalakan *heater* mobil, lalu meraih sekotak tisu di dasbor. Dia mengulurkannya pada Aluna. "Lun, lo nggak apa-apa? Ada yang luka?"
Aluna tidak menjawab. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya luluh, mengalir deras membasahi pipinya. Kedua tangannya meremas ujung roknya begitu kuat sampai kukunya memutih.
Melihat Aluna yang seperti kehilangan jiwanya, hati Devian rasanya seperti diremas. Dia melepaskan sabuk pengamannya, lalu bergeser mendekat ke arah Aluna. "Aluna... maafin gue. Gue telat datang. Sumpah, gue nggak tahu kalau Rendy bakal nekat pakai taktik murahan kayak gituβ"
"Kenapa, Dev?"
Suara Aluna terdengar sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara rintik hujan yang menghantam atap mobil. Dia menoleh perlahan, menatap Devian dengan mata yang sembap dan merah.
"Kenapa hidup gue harus kayak gini?" Aluna mulai terisak. Suaranya naik satu oktav, sarat akan rasa frustrasi yang mendalam. "Gue cuma pengin kuliah dengan tenang! Kenapa... kenapa lo harus mergokin gue hari itu? Dan sekarang... sekarang Rendy punya rekaman itu. Karir gue, masa depan gue, nama baik keluarga gue... semuanya bakal hancur, Dev!"
"Lun, dengerin gue duluβ"
"Gue benci diri gue sendiri!" Aluna memotong ucapan Devian, kini dia menangis histeris. Dia memukul kemudi mobil, lalu memukul dadanya sendiri yang terasa luar biasa sesak. "Gue benci karena gue selemah ini! Dan gue benci karena gue sempat percaya sama lo! Lo sama aja kayak Rendy! Lo cuma manfaatin rahasia gue buat kesenangan lo sendiri, kan? Lo nikmatin kan liat gue ketakutan kayak gini?!"
"Nggak, Aluna! Nggak kayak gitu!" Devian memotong dengan tegas. Dia tidak tahan lagi melihat Aluna menyiksa dirinya sendiri.
Tanpa aba-aba, Devian menarik tubuh Aluna ke dalam dekapannya. Dia memeluk cewek itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajah Aluna di dada bidangnya.
Aluna memberontak. Dia memukul-mukul dada Devian dengan kepalan tangan kecilnya. "Lepasin gue, Dev! Lepas! Gue benci sama lo!"
Namun, Devian tidak melepaskannya. Alih-alih menjauh, dia justru mempererat pelukannya, mengabaikan pukulan Aluna yang perlahan-lahan mulai melemah seiring dengan tenaganya yang terkuras habis oleh tangisan. Devian mengusap bagian belakang kepala Aluna dengan lembut, menyalurkan kehangatan di tengah dinginnya badai di luar.
"Nangis aja, Lun. Keluarin semuanya," bisik Devian lembut di dekat telinga Aluna. "Tapi tolong, jangan pernah berpikir kalau gue sama kayak Rendy. Gue nggak bakal pernah biarin siapapun nyakitin lo. Gue sumpah."
Tangis Aluna pecah sepenuhnya. Dia mencengkeram jaket denim yang dikenakan Devian, menumpahkan segala rasa takut dan hinanya di sana. Bahunya naik turun seiring dengan tangisnya yang semakin kencang. Untuk beberapa menit yang terasa lama, hanya ada suara tangisan Aluna yang memilukan diiringi melodi hujan yang jatuh di luar mobil.
Setelah beberapa saat, tangisan Aluna mulai mereda, menyisakan sesenggukan kecil. Dia masih bersandar di dada Devian, merasa terlalu lelah bahkan hanya untuk menegakkan tubuhnya sendiri. Anehnya, pelukan hangat Devian bener-bener membuatnya merasa aman, seolah semua badai di luar sana tidak akan bisa menyentuhnya selama dia ada di dalam dekapan cowok ini.
Devian melonggarkan pelukannya sedikit, menangkup wajah Aluna dengan kedua tangannya yang hangat. Dia menggunakan ibu jarinya untuk menghapus sisa air mata di pipi cewek itu. Tatapan matanya begitu tulus dan penuh penyesalan.
"Gue minta maaf karena udah bikin lo salah paham selama ini," kata Devian dengan suara rendah yang terdengar sangat jujur. "Gue tahu, cara gue pertama kali ngedeketin lo emang br****** banget. Gue bawa-bawa kejadian di toilet itu seolah gue mau meras lo."
Aluna menatap mata cokelat gelap Devian, mencoba mencari kebohongan di sana, tapi dia tidak menemukan apa-apa selain kesungguhan. "Terus... kenapa lo lakuin itu?" tanyanya dengan suara serak.
Devian menghela napas panjang, tersenyum tipis yang terlihat agak miris. Dia menjauhkan tangannya dari wajah Aluna, lalu menyandarkan punggungnya di jok mobil, menatap lurus ke arah kaca depan yang buram oleh embun.
"Karena gue cowok bodoh yang nggak tahu cara deketin cewek yang dia taksir," aku Devian lirih.
Aluna tertegun. Jantungnya mendadak berdegup kencang, kali ini bukan karena takut, melainkan karena syok mendengar kalimat barusan. "Maksud lo... apa?"
Devian menoleh kembali, menatap Aluna lekat-lekat. "Gue udah merhatiin lo jauh sebelum hari itu, Aluna. Lo cewek yang pinter, fokus sama ambisi lo, dan keliatan nggak tersentuh sama cowok manapun. Jujur, gue selalu pengin ngobrol sama lo, tapi gue minder. Gue cuma cowok yang modal tampang doang tapi akademisnya berantakan, sedangkan lo selalu jadi kesayangan dosen."
Devian menjeda kalimatnya, merapikan anak rambut Aluna yang basah dan menempel di dahinya dengan gerakan yang sangat lembut.
"Hari itu, waktu gue nggak sengaja denger suara lo di toilet... gue bener-bener syok. Tapi setelah lo keluar dengan muka panik kayak gitu, yang ada di pikiran gue bukan mau ngejek lo. Gue cuma... ngerasa lo manusia biasa yang juga punya sisi rapuh. Dan entah kenapa, itu bikin lo keliatan seribu kali lebih nyata di mata gue."
"Tapi lo malah nakut-nakutin gue!" protes Aluna, bibirnya mengerucut kecil tanpa sadar, membuat sisa-sisa tangisnya tadi berganti dengan rasa kesal yang kekanak-kanakan.
Devian terkekeh pelan, merasa gemas melihat reaksi Aluna. "Iya, gue tahu. Itu tindakan paling b*** yang pernah gue lakuin seumur hidup. Gue panik karena lo terus-terusan ngehindar dari gue. Gue takut kalau gue nggak pakai alasan 'rahasia' itu, lo nggak bakal pernah mau noleh atau sekadar ngomong sama gue. Gue cuma pengin punya alasan buat bisa terus ada di deket lo, Lun. Gue pengin ngelindungin lo."
Keheningan kembali merayap di antara mereka. Aluna terpaku. Kata-kata Devian berputar-putar di kepalanya seperti komidi putar. Semua sikap menyebalkan Devian selama iniβmulai dari maksa makan bareng di kantin, selalu jemput dia, sampai selalu pasang badan setiap kali Rendy mengganggunyaβsemuanya tiba-tiba ma**k akal sekarang. Cowok ini bukan sedang memerasnya. Dia sedang menjaganya dengan caranya yang sedikit kikuk dan aneh.
"Gue bener-bener nggak pernah berniat jahat sama lo, Lun," lanjut Devian lagi, suaranya terdengar sangat tulus hingga menusuk langsung ke ulu hati Aluna. "Soal Rendy... lo nggak usah khawatir. Gue bakal urus dia. Video di CCTV itu... gue jamin nggak bakal pernah tersebar. Gue bakal lakuin apapun buat mastiin nama lo tetep bersih. Bahkan kalau gue harus keluar dari kampus ini sekalipun."
Mendengar pengorbanan yang siap dilakukan Devian, pertahanan diri Aluna runtuh sepenuhnya. Dia tidak menyangka ada cowok yang mau bertindak sejauh ini demi dirinya yang penuh dengan kekurangan.
"Devian... lo b*** banget sih," bisik Aluna, air matanya kembali menetes, tapi kali ini karena rasa haru yang membuncah.
"Iya, gue emang b*** kalau itu menyangkut lo," jawab Devian dengan senyum hangatnya yang khas.
Devian kembali menarik Aluna ke dalam pelukannya. Kali ini, Aluna tidak memberontak lagi. Dia menyandarkan kepalanya di dada Devian, mendengarkan detak jantung cowok itu yang berdegup sama kencangnya dengan jantungnya sendiri. Di bawah rintik hujan yang terus membasahi bumi, di dalam mobil yang hangat itu, Aluna akhirnya menemukan tempat paling aman untuk menyembunyikan segala kerapuhannya. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa percaya yang tumbuh perlahan namun pasti pada cowok yang kini mendekapnya dengan begitu protektif.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!