**Bab 14: Menghadapi Badai Bersama**
Pagi itu, layar ponsel Aluna menyala terang, menampilkan rentetan notifikasi yang tidak biasa dari aplikasi X. Biasanya, ponselnya hanya akan ramai oleh grup chat kelas yang membahas tugas atau jadwal kuliah. Namun hari ini, sebuah tangkapan layar dari akun menfess kampus—*@KampusKitaFess*—dikirimkan oleh seorang temannya lewat WhatsApp dengan pesan singkat: *“Lun, ini bukan lo, kan? Tolong bilang ini bohong.”*
Dengan tangan bergetar, Aluna membuka tangkapan layar tersebut. Jantungnya langsung serasa merosot hingga ke lambung.
*[KKFESS] Spill dong guys, denger-denger ada mahasiswi berprestasi, kesayangan dosen, tapi aslinya ‘liar’ banget di toilet gedung sebelah? Katanya ada bukti rekaman lagi ‘main’. Info inisial dong, beneran gak sih? Serem banget muka polos tapi ternyata suhu.*
Kolom komentar di bawah postingan itu sudah ramai. Ratusan akun saling menebak-nebak, melempar spekulasi liar, bahkan beberapa sudah berani menyebut inisial namanya.
*“Anak Teknik bukan sih? Yang sering menang lomba itu?”*
*“Eh, si A ya? Yang mukanya kalem banget?”*
*“Wah, g*** sih. Di toilet kampus? Gak modal banget, minimal hotel lah.”*
Rasa mual langsung menghantam ulu hati Aluna. Pandangannya mengabur, tertutup oleh lapisan air mata yang siap tumpah kapan saja. Tubuhnya gemetar hebat di atas ka**r kosannya. Dadanya sesak, seolah-olah seluruh oksigen di kamarnya mendadak lenyap. Rendy benar-benar melakukannya. Meskipun postingan itu tidak menyebut namanya secara langsung, tapi petunjuk yang ditulis sangat jelas mengarah padanya. Rendy ingin menghancurkannya secara perlahan.
Insting pertama Aluna saat panik seperti ini adalah melarikan diri. Dia ingin bersembunyi. Dia ingin pergi ke toilet, mengunci pintu rapat-rapat, dan meluapkan seluruh sesak di dadanya di sana, tempat di mana tidak ada satu orang pun yang bisa melihat kerapuhannya.
Namun, sebelum dia sempat beranjak dari ka**r, ponselnya kembali bergetar. Kali ini pangg***n ma**k dari Devian.
Aluna menekan tombol hijau dengan jari yang masih gemetar. "D-Dev..."
"Gue di depan gerbang kosan lo. Keluar sekarang, kita berangkat bareng." Suara Devian terdengar tenang, namun ada nada tegas yang tidak menerima bantahan.
"Gue... gue gak mau ma**k kuliah hari ini, Dev," bisik Aluna dengan suara serak. Air matanya mulai luruh membasahi pipi. "Gue gak bisa. Semua orang pasti udah baca menfess itu. Mereka pasti bakal natap gue aneh-aneh. Gue mau pulang aja..."
"Aluna, dengerin gue." Devian memotong kalimatnya dengan lembut namun mantap. "Kalau lo gak ma**k hari ini, mereka bakal mikir rumor itu bener. Hari ini ada ujian tengah semester. Lo udah belajar berminggu-minggu buat ini. Jangan biarin ba****** kayak Rendy ngerusak masa depan lo."
"Tapi gue takut, Dev! Gue takut banget..." tangis Aluna akhirnya pecah.
"Ada gue. Gue gak akan biarin siapa pun nyentuh atau ngomong sembarangan ke lo. Gue bakal ada di samping lo sepanjang hari. Sekarang, cuci muka lo, pakai baju yang rapi, dan keluar. Kita hadapi ini bareng-bareng."
Kata-kata Devian seperti sebuah tali penyelamat yang dilemparkan ke tengah pusaran badai yang hampir menenggelamkan Aluna. Cewek itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mengg***. Dia menyeka air matanya, lalu menatap pantulan dirinya di cermin. Dia tidak boleh kalah. Tidak dari Rendy, dan tidak juga dari rumor sampah itu.
***
Begitu mobil Civic hitam milik Devian mema**ki area parkir kampus, atmosfer di sekitar mereka langsung terasa berbeda. Aluna bisa merasakan beberapa pasang mata langsung tertuju ke arah mobil begitu mereka turun.
Beberapa mahasiswi yang sedang berkumpul di koridor lobi langsung berbisik-bisik sambil melirik ke arah Aluna. Pandangan mereka sinis, penuh penilaian, dan seolah-olah Aluna adalah tontonan gratis yang menjijikkan.
Langkah kaki Aluna mendadak terhenti. Tangannya dingin seperti es. Dadanya kembali terasa sempit. Dorongan untuk berbalik arah, berlari sekencang mungkin menuju toilet terdekat dan mengunci diri di sana kembali muncul dengan sangat kuat.
Namun, sebelum Aluna sempat mundur selangkah pun, sebuah tangan yang besar dan hangat menggenggam jemarinya dengan erat.
Aluna menoleh dan mendapati Devian sedang menatapnya. Cowok itu tersenyum tipis, memberikan sorot mata yang penuh keyakinan.
"Jangan lari ke toilet lagi, Lun," bisik Devian, seolah bisa membaca isi kepala Aluna. "Toilet bukan tempat perlindungan lo lagi. Tempat aman lo ada di sini, di samping gue. Tatap lurus ke depan. Anggap mereka semua cuma patung."
Genggaman tangan Devian yang erat dan hangat perlahan-lahan menyalurkan kekuatan ke dalam tubuh Aluna. Rasa dingin di tangannya berangsur-angsur hilang. Aluna mengangguk pelan. Dia menegakkan bahunya, mengangkat dagunya, dan mulai melangkah lagi berdampingan dengan Devian.
Mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruang ujian. Bisik-bisik di sekitar mereka terdengar semakin jelas.
"Eh, itu kan cewek yang di menfess?"
"G***, mukanya masih polos gitu ya. Ternyata beneran main di toilet?"
"Sama cowok di sebelahnya itu bukan sih? Si Devian?"
"Bukan deh katanya, tapi kok mereka lengket banget sekarang?"
Mendengar bisikan-bisikan itu, rahang Devian mengeras. Matanya menatap tajam ke arah sekelompok mahasiswa yang berbisik di dekat mading. Sorot mata Devian yang biasanya sant** kini terlihat begitu mengintimidasi, membuat sekumpulan orang itu langsung bungkam dan pura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.
Tepat di depan pintu ruang ujian, Rendy berdiri bersama beberapa temannya. Di pipi kirinya masih terlihat bekas memar kebiruan akibat pukulan Devian kemarin sore. Begitu melihat Aluna dan Devian berjalan mendekat dengan tangan yang saling bertautan, seringai licik langsung muncul di wajah Rendy.
"Wah, pahlawan kesiangan datang membawa tuan putri," sindir Rendy dengan nada keras, sengaja agar didengar oleh orang-orang di sekitar mereka. "Gimana, Lun? Tidur nyenyak semalem? Atau sibuk nyari tempat 'main' baru?"
Langkah Devian langsung terhenti. Dia melepaskan genggaman tangannya dari Aluna dan maju satu langkah ke depan Rendy. Tubuh Devian yang lebih tinggi membuat Rendy harus sedikit mendongak.
"Gue rasa pukulan gue kemarin kurang keras sampai otak lo masih belum berfungsi dengan bener," desis Devian dengan suara rendah yang sarat akan ancaman.
Rendy sempat tersentak mundur, ketakutan sesaat melintas di matanya, namun dia dengan cepat menguasai diri karena merasa berada di tempat ramai. "Lo gak usah belagu, Dev. Semua orang udah tahu kelakuan cewek lo ini. Video aslinya tinggal sekali klik langsung tersebar ke seluruh grup angkatan. Kita lihat aja siapa yang bakal didepak dari kampus."
"Coba aja kalau lo berani," tantang Devian, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rendy. "Dan gue pastiin, sebelum video itu tersebar ke orang kedua, bokap lo yang anggota dewan itu bakal dapet kiriman berkas ka**s penipuan pajak keluarganya yang selama ini lo tutup-tutupi. Mau taruhan siapa yang hancur duluan, Ren?"
Wajah Rendy mendadak pucat pasi. Dia tidak menyangka Devian akan mengetahui rahasia keluarganya. Rendy menelan ludah dengan susah payah, tidak berani lagi mengeluarkan sepatah kata pun.
Devian mendengus meremehkan, lalu berbalik menatap Aluna dengan tatapan yang langsung melembut. "Yuk ma**k, Lun. Ujiannya mau mulai."
Aluna mengangguk. Dia melangkah melewati Rendy tanpa memandang cowok itu sedikit pun. Saat melewati ambang pintu kelas, Aluna merasa seolah-olah dia baru saja memenangkan satu pertempuran kecil.
Di dalam kelas, suasana tidak jauh berbeda. Teman-teman sekelasnya menatapnya dengan berbagai macam ekspresi—ada yang kasihan, ada yang penasaran, dan ada yang terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka. Namun, Aluna memilih untuk mengabaikan mereka semua.
Dia duduk di kursinya, mengeluarkan alat tulisnya dengan tenang. Di sebelahnya, Devian mengambil tempat duduk yang biasanya kosong. Sebelum pengawas ujian ma**k, Devian meletakkan sebatang cokelat kecil dan sebuah kertas memo berwarna kuning di atas meja Aluna.
Aluna membuka kertas memo itu. Tulisan tangan Devian yang agak berantakan tertera di sana:
*“Fokus ke kertas ujian lo, cantik. Tunjukin ke mereka kalau otak lo gak bisa dikalahin sama rumor murah. Gue ada di sini, jagain lo.”*
Senyum tipis akhirnya terukir di bibir Aluna. Rasa hangat yang menjalar di dadanya membuat segala kecemasan dan ketakutannya menguap begitu saja. Dia melirik ke arah Devian yang sedang pura-pura sibuk membaca modul, dan membisikkan kata, "Makasih," tanpa suara. Devian hanya mengedipkan sebelah matanya sebagai jawaban.
Begitu lembar soal ujian dibagikan, Aluna menarik napas dalam-dalam. Dia tidak lagi memikirkan menfess, tidak lagi memikirkan tatapan sinis orang-orang, dan tidak lagi memikirkan ancaman Rendy. Fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada deretan pertanyaan di depannya. Pena di tangannya mulai menari di atas kertas, menuliskan jawaban-jawaban dengan lancar.
Dua jam berlalu dengan cepat. Ketika bel tanda ujian berakhir berbunyi, Aluna mengumpulkan lembar jawabannya dengan perasaan lega yang luar biasa. Dia berhasil melaluinya. Dia tidak menangis, dia tidak panik, dan yang paling penting, dia tidak melarikan diri ke toilet untuk bersembunyi.
Saat mereka berjalan keluar dari gedung kuliah, angin siang berembus sejuk, menerpa wajah Aluna. Badai di sekelilingnya mungkin belum sepenuhnya mereda, dan rumor itu mungkin masih akan berembus untuk beberapa hari ke depan. Namun, menatap Devian yang berjalan di sampingnya sambil tersenyum lebar, Aluna tahu dia tidak perlu takut lagi. Selama ada Devian di sisinya, badai sebesar apa pun pasti bisa mereka hadapi bersama.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!