Aroma teh melati hangat dan masakan rumah menguar di ruang makan, tapi entah kenapa, tenggorokan Aluna terasa seperti disumbat batu besar. Dia menatap cangkir teh di depannya yang masih mengepulkan uap tipis. Tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan terasa dingin dan terus gemetar.
Hari ini Aluna memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Setelah melewati badai menfess di kampus yang untungnya berhasil diredam berkat bantuan Devian dan pihak birokrasi yang mulai menyelidiki pelaku penyebaran fitnah, Aluna sadar ada satu hal lagi yang harus dia selesaikan. Sesuatu yang paling dia takuti, bahkan lebih menakutkan daripada pandangan sinis orang-orang di koridor kampus: jujur kepada kedua orang tuanya.
Selama ini, Aluna selalu menjadi "anak kebanggaan". Mahasiswi berprestasi, IPK nyaris sempurna, tidak pernah membangkang, dan selalu terlihat tenang. Namun, di balik topeng sempurna itu, ada jiwa yang sudah lama hancur, kelelahan, dan hampir g*** karena tekanan yang dia pendam sendiri.
"Kak, diminum tehnya. Kok malah bengong?"
Suara lembut Mama memecah keheningan. Wanita paruh baya itu duduk di sebelah Aluna, menatap putrinya dengan tatapan khawatir yang sangat kentara. Di seberang meja, Papa baru saja meletakkan koran digital di tabletnya dan membetulkan letak kacamata bacanya.
"Kamu kelihatan kurus banget, Lun. Kuliahnya sibuk banget, ya? Jangan terlalu diforsir, yang penting kesehatan dijaga," ujar Papa, nadanya terdengar tegas namun ada kehangatan yang terselip di sana.
Mendengar perhatian itu, dada Aluna justru semakin sesak. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantamnya. Mereka begitu menyayanginya, begitu mempercayainya, sementara dia menyembunyikan sisi tergelap dari hidupnya.
Aluna menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang dia miliki. Air mata yang sudah dia tahan sejak dalam perjalanan pulang kini mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Ma... Pa..." Suara Aluna bergetar, nyaris berupa bisikan.
Mama langsung menggeser duduknya lebih dekat. "Kenapa, Sayang? Ada masalah? Cerita sama Mama."
Aluna menunduk, tidak sanggup menatap mata kedua orang tuanya. Setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya, disusul oleh tetesan-tetesan berikutnya. Bahunya mulai berguncang pelan.
"Aluna... Aluna capek banget, Ma, Pa," isaknya pecah.
Mama langsung merangkul pundak Aluna, mengusapnya dengan penuh kasih sayang. "Capek kenapa, Nak? Tugas kuliahnya banyak banget? Atau ada masalah sama temen?"
Aluna menggeleng kuat-kuat. "Bukan cuma itu. Aluna... Aluna ngerasa mau g***. Selama ini Aluna selalu maksain diri buat jadi yang terbaik karena Aluna takut bikin Papa sama Mama kecewa. Aluna takut kalau IPK Aluna turun, kalau Aluna gak menang lomba, Papa sama Mama gak bakal bangga lagi sama Aluna."
Papa menghela napas panjang, raut wajahnya yang biasanya kaku kini melunak, menatap putrinya dengan tatapan sedih. "Kak, kenapa mikir kayak gitu? Papa sama Mama selalu bangga sama kamu, gak peduli berapa nilai kamu."
"Tapi tekanan itu nyata buat Aluna, Pa!" potong Aluna dengan suara serak, meluapkan segala emosi yang selama ini dia kunci rapat di dalam dadanya. "Tiap kali ujian, tiap kali dapet tugas kelompok, dada Aluna sesak. Aluna sering panik sampai gak bisa napas. Aluna *panic attack* hampir tiap minggu di kosan, dan gak ada satu orang pun yang tahu!"
Mama menutup mulutnya dengan tangan, matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak menyangka anak gadisnya yang selalu terlihat ceria dan mandiri ternyata menyimpan penderitaan sebesar itu.
"Dan karena Aluna gak kuat nahan stres itu..." Aluna menjeda kalimatnya, dadanya naik turun dengan cepat. Ini adalah bagian tersulit. Bagian di mana dia harus mengakui mekanisme kopingnya yang tidak sehat. "Aluna cari cara buat rilis stres itu dengan cara yang salah. Aluna... Aluna sering ngunci diri di toilet kampus. Aluna ngelakuin hal-hal yang... yang bikin Aluna ngerasa tenang sesaat, cuma buat lepas dari rasa cemas yang mau ngebunuh Aluna."
Keheningan malam itu terasa begitu pekat setelah Aluna mengucapkan kalimat tersebut. Aluna memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menghadapi amarah, kekecewaan, atau bahkan pengusiran. Dia merasa dirinya sangat kotor dan menjijikkan saat ini.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan Aluna.
Tidak ada bentakan. Tidak ada makian.
Mama justru menarik Aluna ke dalam pelukan yang sangat erat. Isak tangis Mama pecah di ceruk leher Aluna. "Maafin Mama, Kak... Maafin Mama yang gak pernah peka sama kondisi kamu. Mama pikir kamu baik-baik saja karena kamu gak pernah ngeluh..."
Aluna tertegun, air matanya mengalir semakin deras di dalam pelukan hangat ibunya.
Papa bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, lalu duduk di sisi lain Aluna. Pria paruh baya yang biasanya gengsi menunjukkan emosinya itu kini meletakkan tangan besarnya di atas kepala Aluna, mengusapnya dengan lembut. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Papa yang salah," suara Papa terdengar parau. "Papa terlalu sering nuntut kamu ini-itu. Papa lupa kalau anak Papa juga manusia biasa yang bisa capek, yang bisa stres. Maafin Papa ya, Kak."
Mendengar kata maaf dari kedua orang tuanya membuat benteng pertahanan Aluna runtuh sepenuhnya. Beban berat yang selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan ini mengimpit dadanya hingga sulit bernapas, perlahan-lahan mulai terkikis. Dia menangis sejadi-jadinya di pelukan mereka, meluapkan seluruh rasa takut, lelah, dan rasa bersalah yang selama ini menyiksanya.
Setelah tangis Aluna mulai mereda, Papa mengambil beberapa lembar tisu dan menyerahkannya kepada putri sulungnya itu. Mama dengan telaten menghapus sisa-sisa air mata di pipi Aluna.
"Lalu, soal rumor di kampus itu... apa ada hubungannya sama ini?" tanya Papa dengan hati-hati. Devian memang sempat menghubungi Papa Aluna secara singkat kemarin, mengabarkan bahwa Aluna sedang tidak enak badan dan ada sedikit masalah di kampus, tanpa menceritakan det**lnya demi menjaga privasi Aluna.
Aluna mengangguk pelan. "Ada orang yang tahu soal kebiasaan buruk Aluna di toilet, Pa. Dia ambil foto Aluna diem-diem dan sempet gunain itu buat ngancem Aluna. Tapi sekarang... semuanya udah diurus sama pihak kampus. Devian juga banyak bantu Aluna."
Papa mengangguk-angguk, raut wajahnya mengeras sesaat mendengar ada orang yang berani mengancem putrinya, namun dia mencoba tetap tenang demi Aluna. "Bagus kalau sudah ditangani. Orang yang seperti itu memang harus dikasih pelajaran lewat jalur hukum kalau perlu. Tapi yang paling penting sekarang adalah kamu, Kak."
Papa menatap Aluna dengan serius namun teduh. "Kebiasaan kamu itu, cara kamu melampiaskan stres... itu tanda kalau kesehatan mental kamu lagi gak baik-baik saja. Kamu butuh bantuan profesional, Lun. Stres itu gak bisa dihilangkan begitu saja kalau sumber kecemasannya gak disembuhkan."
"Papa benar, Kak," sahut Mama, menggenggam tangan Aluna yang mulai terasa hangat kembali. "Di kampus kamu ada layanan konseling atau psikolog, kan? Mama pernah baca kalau sekarang kampus-kampus besar biasanya punya fasilitas itu untuk mahasiswa."
Aluna terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya, Ma. Ada Lembaga Psikologi Kampus. Mahasiswa bisa konseling gratis di sana."
"Nah, kalau gitu, setelah ini kamu harus coba ke sana, ya?" ujar Mama dengan lembut namun persuasif. "Gak usah malu. Pergi ke psikolog bukan berarti kamu g*** atau aneh. Itu tandanya kamu sayang sama diri kamu sendiri dan pengen sembuh. Kamu harus belajar cara mengelola stres yang lebih sehat, yang gak bakal ngerugiin diri kamu sendiri di kemudian hari."
"Papa juga bakal temenin kalau kamu mau," tambah Papa, memberikan senyum tipis yang sangat menenangkan. "Kita obatin sama-sama. Jangan pernah ngerasa sendirian lagi ya, Kak. Papa sama Mama di sini buat kamu. Apapun yang terjadi."
Mendengar kata-kata itu, Aluna merasa seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mengangkat beban seberat berton-ton dari pundaknya. Udara yang dia hirup kini terasa begitu ringan ma**k ke dalam paru-parunya.
Selama ini, dia mengira bahwa mengungkapkan kebenaran akan menghancurkan hubungannya dengan orang tuanya. Dia mengira dunia akan kiamat jika dia tidak menjadi sosok yang sempurna. Namun ternyata, penerimaan dan kasih sayang tulus dari keluarganya adalah obat terbaik yang selama ini dia butuhkan.
"Makasih, Ma, Pa..." bisik Aluna, senyuman tipis akhirnya terukir di bibirnya yang pucat. "Aluna janji bakal coba ke psikolog kampus minggu depan."
"Nah, gitu dong anak pintar," Mama mengacak rambut Aluna dengan gemas, membuat Aluna terkekeh pelanβsebuah tawa tulus yang sudah sangat lama tidak terdengar dari bibirnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aluna bisa tidur dengan sangat nyenyak di kamar masa kecilnya. Tanpa ada mimpi buruk, tanpa ada rasa cemas yang tiba-tiba datang mencekik di tengah malam. Dia akhirnya tahu, bahwa meskipun jalannya menuju kesembuhan masih panjang, dia tidak akan pernah berjalan sendirian lagi. Aluna telah melepas bebannya, dan dia siap untuk mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!