**Bab 16: Rumah Baru untuk Bersandar**
Tiga bulan itu rupanya berjalan secepat kedipan mata.
Bagi Aluna, tiga bulan terakhir adalah fase paling menakjubkan sekaligus melegakan dalam hidupnya. Setelah hari di mana dia menangis dan menumpahkan segala bebannya di hadapan Papa dan Mama, dunianya perlahan berubah. Ternyata, ketakutan-ketakutan yang selama ini menghantui kepalanya hanyalah monster buatan pikirannya sendiri. Orang tuanya tidak kecewa. Sebaliknya, mereka justru memeluk Aluna begitu erat, meminta maaf karena kurang peka terhadap tekanan yang dirasakan putri mereka.
Di kampus pun, segalanya membaik. Akun *menfess* yang sempat menyebarkan fitnah tentang Aluna sudah ditiadakan setelah Devian turun tangan langsung bersama pihak rektorat untuk melacak IP *address* pelakunya. Ternyata, pelakunya adalah salah satu mahasiswi yang iri dengan prestasi Aluna. Setelah diberikan sanksi akademik yang tegas, tidak ada lagi yang berani mengusik Aluna.
Tapi, dari semua perubahan itu, ada satu hal yang paling krusial.
Aluna tidak pernah lagi berlari ke toilet kampus, mengunci pintunya rapat-rapat, lalu melakukan hal nekat demi menyalurkan rasa cemasnya. Kebiasaan "main sendiri" yang dulu dia jadikan pelarian instan dari tekanan mental, kini benar-benar hilang. Dia tidak membutuhkannya lagi.
Malam ini, angin berembus c**up dingin di area *rooftop* sebuah kafe estetik di kawasan Jakarta Selatan. Tempat ini c**up privat, dengan lampu-lampu *warm white* yang menggantung cantik dan pemandangan lampu kota (*city lights*) yang membentang indah di bawah mereka. Ini adalah tempat yang dulu pernah Devian sebut sebagai tempat kencan impiannya jika dia punya pacar sungguhan.
"Melamun terus. Dipikirin apa sih, hmm?"
Suara berat yang familiar itu membuyarkan lamunan Aluna. Dia menoleh, mendapati Devian baru saja kembali dari kasir setelah memesan makanan tambahan. Cowok itu memakai kaus hitam polos yang dilapisi kemeja flanel longgarβgaya ka**al andalannya yang selalu berhasil membuat Aluna terpana. Rambutnya agak berantakan terkena angin malam, tapi justru itu yang membuatnya kelihatan sepuluh kali lipat lebih tampan.
Devian duduk di hadapan Aluna, lalu menyodorkan secangkir *hot chocolate* dengan hiasan *marshmallow* di atasnya.
"Makasih, Dev," ucap Aluna tulus sambil menerima cangkir hangat itu. Kedua tangannya melingkari cangkir, menyerap kehangatannya.
"Sama-sama, Tuan Putri," goda Devian dengan cengiran khasnya. Dia menopang dagu dengan satu tangan, menatap Aluna lekat-lekat. "Gimana kuis Kimia Fisika tadi siang? Bisa?"
Aluna mengangguk kecil, tersenyum tipis. "Bisa. Dan anehnya, gue gak ngerasa mual atau gemetaran lagi pas ngerjainnya. Padahal dulu, baru liat lembar soalnya aja kepala gue udah mau pecah."
Devian tersenyum lembut. Tatapannya penuh dengan rasa bangga yang tidak ditutup-tutupi. "Kan gue udah bilang, lo itu pinter, Lun. Tanpa harus maksa diri lo sampai batas maksimal pun, lo emang udah hebat. Sekarang lo udah bisa lebih sant**, kan?"
"Iya. Ini semua juga berkat lo," kata Aluna, menatap langsung ke dalam manik mata gelap Devian. "Kalau waktu itu lo gak tiba-tiba ma**k ke hidup gue dengan cara yang... yah, agak ajaib dan nyebelin itu, mungkin sekarang gue udah ma**k rumah sakit jiwa."
Devian tertawa pelan. Suara tawanya terdengar begitu renyah di telinga Aluna. "Ajaib ya? Menurut gue sih takdir. Tapi kalau dipikir-pikir, emang nekat banget sih gue dulu. Pake ngancem tahan KTM lo segala."
Mendengar kata 'KTM', Aluna refleks tertawa. "Sumpah, Dev! Dulu gue benci banget sama lo. Tiap liat muka lo di koridor, rasanya gue pengen lempar pake sepatu. Lo bener-bener kayak s**** yang siap ngebongkar rahasia terbesar gue."
"Tapi s**** ini ganteng, kan?" Devian mengedipkan sebelah matanya, membuat pipi Aluna mendadak terasa panas.
"Dih, mulai deh narsisnya!" Aluna mengerucutkan bibirnya, menyembunyikan rona merah di pipinya dengan pura-pura meminum cokelat hangatnya.
Keheningan yang nyaman kembali melingkupi mereka. Namun, ada getaran aneh yang mendadak muncul di udara. Aluna tahu, dan Devian pun tahu. Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi mereka berdua.
Tepat hari ini, kontrak tiga bulan yang mereka sepakati di awal hubungan pura-pura mereka telah habis.
Secara hukum tidak tertulis yang mereka buat dulu, hari ini adalah hari di mana mereka seharusnya kembali menjadi orang asing. Tidak ada lagi jemputan pagi, tidak ada lagi makan siang bareng di kantin teknik, dan tidak ada lagi pangg***n telepon malam-malam hanya untuk mendengarkan satu sama lain bernapas sampai tertidur.
Aluna merasakan dadanya agak sesak memikirkan hal itu. Apakah semua ini harus berakhir sekarang? Di saat dia sudah terbiasa dengan keberadaan Devian? Di saat jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali cowok itu tersenyum padanya?
Devian menghela napas panjang. Dia merogoh saku flanelnya, mengeluarkan sebuah kartu plastik tipis dari sana, lalu meletakkannya di atas meja kayu di antara mereka.
KTM milik Aluna.
Kartu tanda mahasiswa yang dulu menjadi alat "sandera" Devian. Kartu yang memulai segalanya.
"Kontrak kita... resmi habis hari ini, Lun," ujar Devian pelan. Nadanya tidak lagi sant** atau penuh canda seperti biasanya. Kali ini, suaranya terdengar sangat serius, bahkan ada sedikit nada gugup di sana.
Aluna menatap kartu mahasiswa miliknya, lalu beralih menatap wajah Devian. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Iya. Makasih ya, Dev, udah balikin KTM gue. Dan... makasih buat tiga bulan ini. Lo udah banyak banget bantu gue."
Aluna bersiap untuk tersenyum tegar, bersiap untuk mengucapkan salam perpisahan yang layak. Namun, sebelum dia sempat mengatakan apa-apa lagi, Devian tiba-tiba mengikis jarak di antara mereka. Cowok itu meraih tangan Aluna yang bebas, menggenggamnya erat-erat di atas meja.
Tangan Devian sangat hangat, berbanding terbalik dengan tangan Aluna yang mendadak dingin karena cemas.
"Lun, dengerin gue dulu," potong Devian, matanya mengunci pandangan Aluna. "Gue balikin KTM lo bukan karena gue pengen kita selesai."
Aluna mengerjapkan matanya, bingung. "Maksudnya?"
"Gue gak mau memperpanjang kontrak konyol itu lagi," kata Devian lagi. Dia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberanian yang dia miliki. "Gue capek pura-pura. Gue capek harus pasang alasan 'karena kontrak' tiap kali gue pengen meluk lo, tiap kali gue pengen mastiin lo baik-baik saja, atau tiap kali gue cemburu liat lo ngobrol sama cowok lain."
Jantung Aluna rasanya seperti berhenti berdetak sekian detik. Dia menatap Devian dengan mata membelalak.
"Dev..."
"Aluna," Devian memotong dengan lembut namun tegas. Dia membawa tangan Aluna yang digenggamnya ke depan dadanya, membuat Aluna bisa merasakan detak jantung Devian yang berdegup sangat kencang dan tidak beraturan di balik kaus hitamnya. "Gue sayang sama lo. Beneran sayang. Bukan karena rasa kasihan, bukan karena tanggung jawab kontrak, dan bukan karena apa-apa lagi. Gue jatuh cinta sama lo, Aluna."
Air mata yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk mata Aluna kini perlahan meluncur turun. Tapi kali ini, itu bukan air mata kesedihan atau ketakutan. Itu adalah air mata kelegaan yang luar biasa.
"Gue tahu awal kita emang kacau banget," lanjut Devian dengan senyum tipis yang tulus. "Tapi selama tiga bulan ini, ngeliat lo berjuang, ngeliat lo mulai bisa ketawa lepas, dan nemenin lo di masa-masa sulit lo... itu bikin gue sadar kalau gue pengen terus ada di samping lo. Bukan sebagai penyelamat lo, tapi sebagai cowok yang lo percaya buat berbagi dunia lo."
Devian menatap Aluna dengan pandangan yang begitu teduh dan penuh pemujaan. "Gue gak butuh KTM lo lagi buat nahan lo di samping gue. Sekarang, gue mau nanya langsung sama lo tanpa ada embel-embel ancaman apa pun. Aluna, lo mau gak... jadi pacar gue yang sesungguhnya? Jadi tempat pulang gue, dan ngebiarin gue jadi tempat bersandar lo?"
Tangisan Aluna pecah. Dia menutup mulutnya dengan tangan yang bebas, mencoba meredam isakannya yang bahagia. Kata-kata Devian seperti air sejuk yang menyiram tanah kering di hatinya. Selama ini, dia selalu merasa kesepian, merasa harus menghadapi dunia yang kejam ini sendirian sampai-sampai dia harus menyakiti dirinya sendiri di balik pintu toilet yang sunyi.
Tapi sekarang, di depannya, ada seorang cowok yang menawarkan seluruh dirinya untuk menjadi pelindung Aluna. Cowok yang tahu seluruh rahasia terburuknya, namun tetap menatapnya seolah dia adalah hal paling berharga di dunia ini.
Aluna mengangguk cepat, tidak ragu sedikit pun.
"Mau, Dev. Gue mau," jawab Aluna dengan suara serak namun terdengar sangat jelas.
Senyum lebar langsung terbit di wajah tampan Devian. Tanpa membuang waktu lagi, cowok itu berdiri dari kursinya, melangkah memutari meja, dan langsung menarik Aluna ke dalam pelukannya.
Devian mendekap tubuh Aluna dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di puc** kepala gadis itu. Aluna membalas pelukan itu tak kalah erat. Dia menghirup aroma tubuh Devianβcampuran wangi parfum maskulin, sabun mint, dan sedikit aroma kopiβyang kini menjadi aroma favoritnya di seluruh dunia.
Di bawah naungan langit malam Jakarta yang dipenuhi kerlip lampu kota, Aluna memejamkan matanya dengan damai.
Dia tahu, mulai hari ini, dia tidak perlu lagi melarikan diri dari kenyataan. Dia tidak perlu lagi mengunci diri di balik bilik toilet kampus yang dingin dan sempit hanya untuk mencari ketenangan semu. Karena di sini, di dalam pelukan hangat Devian, Aluna telah menemukan rumah yang sesungguhnya. Tempat bersandar yang nyata, yang akan selalu mendekapnya erat tanpa peduli seberapa hancurnya dia.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!