**Bab 2: Konser Solo dan Kartu yang Hilang**
Dada Aluna rasanya mau meledak. Pesan singkat dari Mamanya barusan bener-bener kayak batu besar yang dijatuhin tepat di atas dadanya. Sesak, sakit, dan bikin dia susah payah buat sekadar menghirup oksigen.
Langkah kakinya yang tadinya anggun dan tenang, perlahan berubah jadi cepat dan terburu-buru. Aluna gak tahu mau ke mana. Dia cuma pengin lari. Lari dari kenyataan kalau dia harus selalu jadi pajangan sempurna buat keluarganya. Lari dari tuntutan IPK 4.0, beasiswa, dan status 'anak berbakti' yang fana ini.
"Gak di sini. Jangan di FISIP," bisik Aluna pada dirinya sendiri, suaranya bergetar parah.
Gedung FISIP terlalu ramai. Semua orang kenal dia. Kalau dia kelihatan nangis atau panik di sini, besoknya pasti langsung jadi bahan gosip di *menfess* kampus. Aluna gak mau itu terjadi. Dia harus cari tempat yang bener-bener sepi, tempat di mana gak ada satu pun orang yang peduli sama keberadaannya.
Pikirannya langsung tertuju pada Gedung Teknik yang terletak di ujung barat kampus. Lebih spesifiknya, lant** empat gedung tersebut. Lant** itu adalah area laboratorium tua yang jarang dipakai, dan toiletnya terkenal sepi karena mahasiswa Teknik lebih sering nongkrong di kantin lant** dasar atau area *basement*.
Setengah berlari, Aluna menyeberangi jembatan penghubung antar fakultas. Keringat dingin mulai keluar di pelipis dan telapak tangannya. Begitu sampai di Gedung Teknik, dia langsung naik tangga darurat menuju lant** empat. Napasnya terengah-engah, bukan cuma karena capek naik tangga, tapi karena serangan cemasnya yang makin menjadi-jadi.
Begitu sampai di lant** empat, koridor memang terasa super sepi. Sunyi. Cuma ada suara angin yang berembus pelan dari jendela yang terbuka.
Aluna melihat papan petunjuk toilet di ujung lorong. Matanya yang sudah agak buram karena genangan air mata gak begitu fokus melihat logo di pintu. Dia cuma butuh ma**k ke dalam bilik secepatnya. Begitu tangannya mendorong pintu kayu toilet yang berat itu, Aluna langsung buru-buru ma**k ke bilik paling ujung yang paling dekat dengan dinding dalam.
*Cklek.*
Pintu bilik terkunci rapat. Aluna menyandarkan punggungnya di pintu toilet, perlahan merosot sampai terduduk di atas kloset duduk yang tertutup. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah begitu saja.
"Gue capek... capek banget," isaknya pelan, menekan dadanya yang masih terasa nyeri.
Namun, menangis ternyata gak c**up untuk meredakan badai di dalam kepalanya. Jantungnya masih berdegup terlalu kencang. Adrenalin dan rasa cemasnya masih menumpuk di ujung saraf, menuntut untuk dilepaskan. Tubuhnya gemetar, dan ada rasa hangat yang aneh perlahan menjalar dari perut bagian bawahnya.
Ini adalah rahasia paling kotor yang dimiliki Aluna. Rahasia yang gak akan pernah dia bagikan ke siapa pun, bahkan ke Clara sekalipun.
Setiap kali level stresnya menyentuh batas maksimal, setiap kali dia merasa jiwanya mau hancur karena tekanan hidup, Aluna punya satu cara instan untuk mendapatkan endorfin. Cara instan untuk menenangkan pikirannya yang berisik.
Dia butuh *release*. Dia butuh pelepasan.
Dengan tangan yang masih gemetar, Aluna meletakkan tas bahunya di atas tangki air kloset. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Jari-jarinya yang lentik perlahan bergerak ke bawah, membuka kancing rok plisketnya yang berwarna krem, lalu menurunkan ritsletingnya perlahan.
Suasana toilet yang sangat sunyi membuat setiap gesekan kain terdengar begitu nyaring di telinganya. Aluna memejamkan mata erat-erat. Dia menyingkirkan sedikit pakaian dalamnya, membiarkan kulit sensitifnya bersentuhan langsung dengan udara dingin toilet.
Begitu jemarinya mulai menyentuh area intimnya, Aluna langsung menggigit bibir bawahnya sendiri untuk menahan suara.
*Ah...*
Satu desahan halus lolos dari celah bibirnya. Rasanya hangat, sensitif, dan sangat intens.
Aluna mulai menggerakkan jarinya dengan ritme yang perlahan tapi pasti. Di dalam kepalanya, dia mencoba menghapus semua bayangan tentang Mamanya, tentang beasiswa, tentang IPK, dan tentang semua beban si**** itu. Dia cuma ingin fokus pada sensasi nikmat yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
"Nghh..." Aluna melenguh pelan. Dia mendongakkan kepala, menempelkan bagian belakang kepalanya ke pintu bilik toilet. matanya sayu, setengah terpejam menikmati 'konser solo' yang sedang dia mainkan sendiri di tempat yang sangat tidak biasa ini.
Detak jantungnya yang tadinya berdegup karena panik, kini berubah frekuensi menjadi degup penuh gairah. Keringat yang membasahi lehernya terasa hangat. Sentuhan jarinya makin cepat, menuntut lebih, membawa Aluna semakin dekat ke puncak pelepasan yang sangat dia butuhkan.
Tubuh Aluna melengkung tegang. Dia menggigit punggung tangannya sendiri agar suara desahannya tidak menggema keluar bilik. Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi dia akan terbebas dari siksaan stres iniβ
*Ehem.*
Sebuah suara dehaman berat tiba-tiba memecah kesunyian toilet.
Suara itu terdengar sangat dekat. Sangat jelas. Dan yang paling mengerikan, suara itu terdengar sangat maskulin. Suara dehaman seorang cowok.
Dan sumbernya... berasal dari bilik tepat di sebelah Aluna.
Jantung Aluna rasanya langsung copot detik itu juga. Gerakan jarinya seketika berhenti total. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, membeku bagaikan es. Efek gairah yang tadi menyelimuti tubuhnya langsung menguap tanpa bekas dalam hitungan milidetik, digantikan oleh rasa takut yang luar biasa hebat.
*Tunggu. Suara cowok?!* batin Aluna histeris. *Gue salah ma**k toilet?! Atau ada cowok yang ma**k toilet cewek?!*
Aluna menahan napasnya, bahkan takut untuk sekadar mengembuskan udara dari hidungnya. Di tengah keheningan yang mencekam itu, dia mendengar suara gesekan kain celana jins dari bilik sebelah, disusul suara geseran sol sepatu di atas lant** keramik.
"Sial, berisik banget," terdengar gumaman pelan, suara bass yang terdengar serak khas orang baru bangun tidur, berasal dari bilik sebelah.
Aluna membelalakkan mata. Matanya melirik ke bawah, ke celah di bawah sekat toilet. Di sana, dia bisa melihat sepasang sepatu *sneakers* hitam berukuran besar milik seorang cowok.
*Mampus! Gue beneran salah ma**k toilet! Ini toilet cowok!* jerit Aluna dalam hati. Kepalanya mendadak pening luar biasa. Mukanya terasa panas karena malu yang teramat sangat.
*Tadi... tadi dia denger gak ya? Dia denger suara gue gak?!* Pikiran-pikiran buruk langsung berputar-putar di otak Aluna.
Dia bener-bener panik setengah mati. Dengan gerakan super pelan yang sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, Aluna buru-buru menarik kembali pakaian dalamnya. Tangannya yang gemetar hebat membuat dia kesulitan membetulkan letak roknya. Ritsleting roknya sempat macet, membuat Aluna hampir menangis frustrasi di tempat.
*Ayo dong, plis, jangan macet sekarang!* ratapnya dalam hati.
Setelah berhasil merapikan pakaiannya dengan asal-asalan, Aluna dengan cepat menyampirkan tas bahunya. Dia tidak berani memakai air untuk memba**h tangannya di dalam bilik karena suara air mengalir pasti akan langsung membongkar keberadaannya. Dia cuma mengusap tangannya dengan tisu basah yang dia ambil terburu-buru dari tasnya.
Aluna harus kabur sekarang juga. Sebelum cowok di bilik sebelah keluar dan melihat wajahnya.
Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Aluna perlahan memutar kunci pintu bilik toiletnya.
*Cklek.*
Suara kunci itu terdengar sangat nyaring di keheningan toilet. Aluna langsung mendorong pintu, keluar dari bilik dengan gerakan cepat. Dia bahkan gak berani menoleh ke arah kaca toilet atau ke arah bilik sebelah. Fokusnya cuma satu: pintu keluar.
Aluna langsung melesat keluar dari toilet itu seperti dikejar s****. Langkah kakinya terdengar bergedub**k di sepanjang koridor lant** empat yang sepi. Dia terus berlari menuruni tangga darurat, tidak peduli dengan rasa pegal di kakinya, tidak peduli dengan rambut hitamnya yang kini agak berantakan.
Dia hanya ingin sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu.
Sementara itu, di dalam toilet...
Pintu bilik sebelah perlahan terbuka. Seorang cowok jangkung berambut hitam acak-acakan keluar sambil menguap lebar. Dia mengenakan jaket denim longgar di atas kaus hitamnya. Matanya yang tajam tampak sayu karena mengantuk. Dia baru saja berniat tidur siang di bilik toilet yang sepi itu setelah semalaman begadang menyelesaikan proyek dosen.
Namun, tidurnya terganggu oleh suara-suara aneh dari bilik sebelah yang sempat dia dengar sayup-sayup sebelum akhirnya dia sengaja berdeham untuk memberi peringatan.
Cowok itu berjalan menuju wastafel untuk mencuci mukanya. Saat dia melangkah melewati bilik tempat Aluna berada tadi, matanya yang tajam menangkap sesuatu yang berkilau di atas lant** keramik abu-abu, tepat di depan pintu bilik tersebut.
Dia menghentikan langkahnya, lalu membungkuk untuk mengambil benda itu.
Itu adalah sebuah kartu plastik tebal dengan gantungan tali *lanyard* berwarna biru khas Universitas Nusa Bangsa. Di kartu itu, tertera foto seorang cewek berambut hitam panjang dengan senyum manis yang sangat anggun dan tampak begitu formal.
Cowok itu membaca tulisan di kartu tersebut dengan suara pelan.
"Aluna Paramitha. FISIP. Ilmu Komunikasi."
Sudut bibir cowok itu tiba-tiba terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan arti. Dia membalikkan kartu itu di tangannya, lalu menatap ke arah pintu keluar toilet yang baru saja dilewati oleh si pemilik kartu dengan tergesa-gesa.
"Jadi... Nona Sempurna dari FISIP itu punya hobi yang c**up menarik, ya?" gumamnya pelan, lalu mema**kkan kartu tanda mahasiswa milik Aluna itu ke dalam saku jaket denimnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!