**Bab 3: Teror dari Ruang Komisi Disiplin**
Pikiran Aluna bener-bener kacau. Kejadian di toilet Gedung Teknik tadi siang masih membekas jelas di kepalanya. Rasa lega setelah melepaskan semua kepenatan itu cuma bertahan sebentar, sebelum akhirnya digantikan oleh rasa bersalah dan cemas yang luar biasa.
Sekarang, Aluna lagi duduk di salah satu sudut perpustakaan pusat yang sepi. Di depannya, laptop dan beberapa buku tebal diletakkan terbuka, tapi gak ada satu pun kalimat yang ma**k ke otaknya. Jantungnya masih berdegup gak karuan.
Aluna menghela napas panjang. Dia berniat membereskan barang-barangnya dan pulang ke kosan buat tidur. Tapi, saat dia meraba kantong rok span hitamnya, dahi Aluna langsung berkerut.
Kosong.
Aluna mulai panik. Dia meraba kantong kirinya. Nihil. Dengan gerakan cepat dan agak kasar, dia menumpahkan seluruh isi tas ranselnya ke atas meja kayu perpustakaan. Binder, tempat pensil, dompet, lipstik, *power bank*, semuanya berserakan. Namun, benda persegi panjang berbahan plastik tipis dengan foto dirinya yang tersenyum formal itu gak ada di sana.
Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) miliknya hilang.
"Gak, gak, gak... jangan sekarang, please," gumam Aluna, suaranya gemetar.
Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. KTM itu bukan cuma sekadar kartu identitas biasa. Di sana tertulis nama lengkapnya: **Aluna Clarissa**, lengkap dengan NIM, program studi, dan foto wajahnya yang sangat mudah dikenali. Kalau sampai kartu itu jatuh di sekitar Gedung Teknik, atau lebih buruk lagi... di dalam toilet tempat dia 'main sendiri' tadi...
Aluna langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak lebar karena parno yang luar biasa.
*Bagaimana kalau ada yang nemuin?*
*Bagaimana kalau orang itu tahu dia yang ada di dalam bilik toilet tadi?*
Di tengah rasa panik yang hampir membuat Aluna susah bernapas, ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar.
*Bzzzt... Bzzzt...*
Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang gak dikenal. Aluna menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang gemetar perlahan meraih ponsel tersebut. Begitu layar terkunci terbuka, sebuah pesan singkat langsung terpampang di sana.
**+62812-xxxx-xxxx:**
*Kehilangan sesuatu, Aluna?*
*KTM lo aman sama gue.*
*Datang ke Ruang Komisi Disiplin sekarang. Jangan telat, dan datang sendiri. Kalau gak, kartu ini bakal gue serahin langsung ke Dekanat.*
Napas Aluna tercekat. Ponsel di genggamannya hampir saja terjatuh. Kepalanya mendadak pening, dan seluruh badannya lemas seketika.
*Komisi Disiplin?*
Kenapa orang yang memegang KTM-nya menyuruhnya ke sana? Apa orang itu adalah salah satu anggota Komdis? Dan yang paling membuat Aluna merinding adalah kalimat terakhirnya. *Diserahin ke Dekanat.* Itu adalah ancaman nyata yang bisa menghancurkan reputasi akademisnya dalam sekejap.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Aluna membereskan barang-barangnya dengan super cepat, mema**kkannya asal-asalan ke dalam tas, lalu berjalan setengah berlari keluar dari perpustakaan.
***
Sore itu, sekitar pukul empat, koridor gedung rektorat lant** dua sudah sangat sepi. Sebagian besar staf administrasi sudah pulang, dan mahasiswa jarang sekali ada yang berkeliaran di area ini, kecuali mereka yang punya urusan darurat atau... mereka yang sedang bermasalah.
Aluna berdiri di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh. Di bagian atas pintu, terdapat papan nama kuningan bertuliskan **"RUANG KOMISI DISIPLIN"**.
Hawa dingin dari pendingin ruangan di dalam sana seolah menembus celah pintu, membuat bulu kuduk Aluna meremang. Jantungnya berdegup sangat kencang, saking kencangnya sampai terdengar di telinganya sendiri. Dia meremas ujung kemeja putihnya yang basah oleh keringat dingin.
Setelah mengumpulkan keberanian yang tersisa, Aluna mengetuk pintu itu pelan. Tiga kali.
Gak ada jawaban.
Ragu-ragu, Aluna memutar knop pintu yang ternyata gak dikunci. Begitu pintu terbuka, bau pengharum ruangan rasa kopi yang tajam langsung menusuk hidungnya. Ruangan itu c**up luas, dominan warna abu-abu dan putih, dengan meja-meja birokrasi yang rapi. Namun, pandangan Aluna langsung tertuju pada meja besar di sudut ruangan.
Di sana, di balik meja kayu gelap, duduk seorang cowok dengan sant**. Satu kakinya ditumpangkan ke atas lutut kaki yang lain. Dia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku, memperlihatkan jam tangan kulit hitam yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh.
Devian Adiwinata.
Ketua Komisi Disiplin tingkat mahasiswa yang terkenal dingin, kejam, dan gak punya toleransi buat siapa pun yang melanggar aturan kampus. Cowok yang paling dihindari oleh seluruh mahasiswa nakal di universitas ini.
Devian gak langsung menatap Aluna saat cewek itu ma**k. Matanya fokus pada sebuah kartu plastik yang sedang dia putar-putar dengan lihai di sela-sela jarinya yang panjang.
Itu KTM milik Aluna.
"Ma**k. Tutup pintunya," suara Devian terdengar berat dan dingin, memecah kesunyian ruangan yang mencekam itu.
Aluna menuruti perintah itu seperti robot yang kehilangan daya. Dia menutup pintu rapat-rapat, lalu melangkah perlahan mendekati meja Devian. Setiap langkah yang dia ambil terasa sangat berat, seolah kakinya dirant** oleh beton.
"K-Kak Devian..." suara Aluna mencicit, nyaris gak terdengar. Dia meremas kedua tangannya di depan tubuh, berusaha menyembunyikan getaran hebat yang melanda fisiknya.
Devian menghentikan gerakan jarinya. KTM milik Aluna kini diletakkan di atas meja, tepat di bawah telapak tangan cowok itu. Dia mendongak, menatap Aluna dengan sepasang mata elang yang super tajam. Tatapan yang selalu sukses bikin nyali mahasiswa mana pun ciut.
"Aluna Clarissa," Devian menyebut nama lengkap Aluna dengan nada lambat, seolah sedang mengeja sebuah teka-teki menarik. "Mahasiswi berprestasi FISIP. Peraih beasiswa penuh. Calon wisudawan terbaik. Dan... anak kesayangan para dosen."
Setiap kata yang keluar dari mulut Devian terasa seperti sindiran yang menyayat bagi Aluna. Cewek itu cuma bisa menunduk, gak berani menatap langsung ke mata Devian.
"Saya... saya ke sini buat ambil KTM saya, Kak," kata Aluna dengan suara yang diusahakan se-stabil mungkin, meski gagal total karena getarannya masih sangat kentara.
Devian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya. Dia melipat tangan di dada, menatap Aluna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang membuat Aluna merasa te*******.
"Ambil KTM lo?" Devian menaikkan sebelah alisnya. Senyum tipis yang sarat akan ejekan terukir di sudut bibirnya. "Gampang banget lo ngomong gitu. Lo tahu gak, di mana gue nemuin kartu ini?"
Jantung Aluna rasanya mau copot. Ini dia. Pertanyaan yang paling dia takuti.
"D-di... di sekitar Gedung Teknik?" Aluna mencoba menebak, berharap ada keajaiban kalau Devian menemukannya di koridor, bukan di dalam toilet.
Devian terkekeh pelan. Tapi bagi Aluna, suara kekehan itu terdengar seperti suara malaikat pencabut nyawa.
"Jangan pura-pura b***, Aluna," desis Devian, memajukan tubuhnya ke arah meja, membuat jarak di antara mereka terkikis. "Gue nemuin kartu ini di lant** bilik toilet cowok Gedung Teknik. Lant** empat."
*Deg!*
Wajah Aluna langsung pucat pasi. Rasanya semua darah di tubuhnya mendadak surut ke kaki. Dia bener-bener salah ma**k toilet! Dan yang lebih parah, itu adalah toilet cowok!
"Kak, saya... saya bisa jelasin," Aluna mulai panik, air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tadi siang saya bener-bener pusing. Saya panik, terus saya gak fokus lihat logo di pintu toilet. Saya gak sengaja ma**k ke sana, sumpah!"
"Oh, salah ma**k toilet?" Devian mengangguk-angguk, pura-pura percaya. "Oke, anggaplah lo salah ma**k toilet karena panik. Tapi..."
Devian menjeda kalimatnya. Dia mengambil KTM Aluna, lalu mengetuk-ngetukkannya ke meja kayu, menimbulkan suara konstan yang bikin Aluna makin tersiksa.
"...apa salah ma**k toilet cowok juga mengharuskan lo buat mengunci diri di bilik paling ujung, nangis-nangis histeris, terus berakhir... 'main sendiri' di atas kloset?"
*Boom.*
Pertahanan Aluna runtuh seketika. Pertanyaan Devian barusan seperti bom yang meledak tepat di wajahnya. Kamar itu mendadak terasa berputar. Aluna merasa dunianya runtuh saat itu juga.
*Dia tahu.*
*Devian tahu semuanya.*
"K-Kak... tolong..." Aluna gak bisa lagi menahan tangisnya. Air matanya luruh membasahi pipi. Dia gemetar setengah mati, lututnya terasa lemas sampai dia harus berpegangan pada tepi meja Devian agar gak jatuh tersungkur. "Tolong jangan laporin saya... saya mohon..."
Devian menatap air mata Aluna tanpa ekspresi sedikit pun. Matanya yang dingin tetap gak tersentuh oleh tangisan cewek di depannya. Bagi Devian, air mata adalah senjata paling klise yang biasa digunakan mahasiswa untuk lolos dari hukuman.
"Kenapa gue gak boleh laporin lo?" tanya Devian dingin. "Lo tahu kan aturan universitas kita tentang kesusilaan di lingkungan kampus? Tindakan lo tadi siang itu terma**k pelanggaran berat, Aluna. Sanksinya bisa skorsing dua semester, atau bahkan... drop out."
Mendengar kata *drop out*, tangis Aluna makin pecah. Dia membayangkan wajah Mamanya yang penuh tuntutan, wajah Papanya yang selalu menuntut kesempurnaan. Kalau dia dikeluarkan dari kampus dengan alasan memalukan seperti ini, hidupnya bener-bener selesai. Dia lebih baik mati daripada harus menghadapi kemarahan dan kekecewaan keluarganya.
"Saya mohon, Kak Devian... apa aja..." Aluna memohon dengan sangat, suaranya parau karena isakan. "Saya bakal lakuin apa aja, asal Kakak gak laporin kejadian ini ke Dekanat atau ke siapa pun. Tolong, Kak... masa depan saya pertaruhannya."
Devian terdiam sejenak. Dia memperhatikan Aluna yang sedang menangis tergugu di depannya. Penampilan Aluna yang biasanya rapi dan elegan, kini tampak sangat berantakan dan rapuh.
Devian mengetukkan jarinya ke meja sekali lagi, lalu tersenyum misterius.
"Apa aja?" tanya Devian, memastikan dengan nada suara yang terdengar sangat berbahaya di telinga Aluna.
Aluna mengangguk cepat tanpa berpikir panjang. Di kepalanya saat ini, yang terpenting adalah menyelamatkan reputasinya. Dia gak peduli lagi dengan hal lain.
Devian berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap langsung mengintimidasi Aluna yang bertubuh jauh lebih mungil. Dia berjalan memutari meja, lalu berhenti tepat di hadapan Aluna yang masih gemetar.
Devian mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Aluna dengan jari-jarinya yang dingin, lalu mendongakkan wajah cewek itu agar menatap langsung ke matanya yang gelap gulita.
"Inget ucapan lo barusan, Aluna," bisik Devian, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Aluna, mengirimkan sensasi merinding yang aneh ke seluruh tubuh cewek itu. "Mulai hari ini, hidup lo ada di tangan gue."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!