Ketahuan 'Main Sendiri' di Toilet Kampus

Bab 4: Kesepakatan G*** Sang Presma

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Kesepakatan G*** Sang Presma**

Langkah kaki Aluna gemetar hebat saat menyusuri koridor lant** dua Gedung Rektorat yang mulai sepi. Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan semburat jingga keabu-abuan di ufuk barat yang malah menambah kesan suram di sekitar koridor. Dinginnya angin sore itu sama sekali gak bisa mengalahkan dinginnya keringat yang terus mengucur di pelipis Aluna.

Di ujung koridor, sebuah pintu kayu jati berwarna cokelat gelap berdiri dengan kokoh. Di atasnya, terdapat papan nama akrilik bertuliskan: **Ruang Komisi Disiplin & Kemahasiswaan**.

Aluna menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Tangannya yang memegang tali tas ranselnya sampai memutih karena digenggam terlalu erat.

*Tok... Tok... Tok...*

"Ma**k."

Suara bariton yang terdengar sangat familierβ€”dan sangat berwibawaβ€”terdengar dari dalam. Jantung Aluna rasanya mau copot saat itu juga. Dia memutar kenop pintu perlahan, lalu mendorongnya.

Begitu pintu terbuka, bau pengharum ruangan rasa kopi langsung menusuk indra penciumannya. Di balik meja kerja besar yang rapi, duduk seorang cowok dengan kemeja flanel hitam-merah yang lengannya digulung sampai siku. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan justru membuatnya terlihat makin menawan.

Devian.

Presiden Mahasiswa sekaligus Ketua Komisi Disiplin Kampus yang paling ditakuti, sekaligus paling dipuja seantero universitas. Cowok yang terkenal dengan otak encer, ketegasannya yang tanpa ampun, dan visualnya yang mirip visual grup idol Korea.

"Tutup pintunya, Aluna. Duduk," ucap Devian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Nada suaranya sant**, tapi entah kenapa terdengar seperti perintah mutlak yang gak bisa dibantah.

Aluna menurut bagai kerbau dicocok hidung. Dia menutup pintu rapat-rapat, lalu melangkah ragu ke arah kursi kosong di depan meja Devian. Dia duduk di ujung kursi, badannya tegang luar biasa.

"K-Kak Devian... pesan tadi..." Aluna membuka suara, tapi suaranya langsung serak di ujung kalimat.

Devian akhirnya mengalihkan pandangannya dari laptop. Dia bersandar pada kursi kerjanya yang empuk, menatap Aluna dengan seulas senyum tipis yang entah kenapa terlihat sangat misteriusβ€”atau bahkan... mematikan.

Tanpa sepatah kata pun, Devian merogoh saku flanelnya. Dia mengeluarkan sebuah kartu plastik tipis berlogo universitas dan meletakkannya di atas meja kayu yang meng***p.

Kartu Tanda Mahasiswa milik Aluna. Foto Aluna yang tersenyum manis di sana seolah sedang mengejek nasib sial pemiliknya saat ini.

"Ini punya lo, kan?" tanya Devian sant**, mengetuk-ngetuk permukaan kartu itu dengan ujung telunjuknya yang lentik.

"I-iya, Kak. Itu punya gue. Makasih banyak udah nemuin. Boleh gue ambil sekarang?" Aluna mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba meraih KTM tersebut.

Namun, sebelum jemari Aluna sempat menyentuhnya, Devian dengan cepat menarik kartu itu kembali dan mema**kkannya ke dalam genggamannya. Dia menatap Aluna lekat-lekat, membuat cewek itu refleks menarik kembali tangannya.

"Gak secepat itu, Aluna Clarissa," ujar Devian, nadanya masih sesant** tadi, tapi matanya berkilat penuh arti. "Gue nemuin kartu ini di tempat yang sangat... menarik. Di lant** toilet paling ujung Gedung Teknik. Tepat di depan bilik nomor tiga."

*Deg!*

Darah di sekujur tubuh Aluna rasanya berhenti mengalir. Wajahnya langsung pucat pasi, kehilangan seluruh warnanya. Dia merasa seperti baru saja disiram air es di tengah kutub utara.

"Kak, gue..."

"Lo tahu gak?" Devian memotong ucapan Aluna, dia memajukan badannya, menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja. Jarak mereka kini terkikis, membuat Aluna bisa mencium aroma parfum *woodsy* maskulin milik Devian yang memabukkan. "Tadi siang gue ada jadwal kontrol fasilitas toilet bareng staf sarpras. Dan pas gue baru mau ma**k toilet cowok yang posisinya sebelahan sama toilet cewek... gue denger sesuatu yang gak biasa."

Air mata Aluna sudah menggenang di pelupisnya. Dia ingin sekali bumi tiba-tiba terbelah dan menelannya hidup-hidup sekarang juga.

"Suaranya lumayan kencang, Al. Padahal koridor lagi sepi," lanjut Devian dengan seringai tipis yang mulai terukir di bibirnya. "Awalnya gue pikir ada yang lagi disiksa atau gimana. Tapi pas gue denger lebih det**l... *ah*, ternyata semacam 'konser solo'. Suara desahan yang lumayan pasrah, gesekan kain, dan... ya, lo tahu lah kelanjutannya apa."

"C**up, Kak... *please*," bisik Aluna, suaranya parau karena menahan tangis. Dia menunduk dalam-dalam, gak sanggup menatap mata Devian. Harga dirinya yang selama ini dia jaga mati-matian sebagai mahasiswi berprestasi dan sopan, kini hancur lebur tanpa sisa di depan Presma mereka.

"Kenapa? Gue baru aja mau memuji suara lo," goda Devian tanpa belas kasihan. "Gue gak nyangka aja. Aluna yang terkenal kalem, pinter, dan selalu dapet IPK nyaris sempurna... ternyata punya hobi yang c**up 'berani' di fasilitas umum kampus."

Satu tetes air mata Aluna akhirnya jatuh, membasahi rok span hitamnya. Bahunya terguncang pelan. Dia benar-benar ketakutan. Jika hal ini sampai menyebar, bukan cuma beasiswanya yang dicabut, tapi dia juga akan dikeluarkan secara tidak hormat dari kampus. Keluarganya di kampung halaman pasti akan sangat malu.

Aluna mengangkat kepalanya, menatap Devian dengan mata yang sudah sembap dan merah. "Gue mohon, Kak Devian... Jangan laporin gue ke Dekanat. Jangan sebarin ini ke siapa-siapa. Gue khilaf... gue bener-bener pusing sama tugas akhir dan... dan gue gak mikir panjang. Gue mohon..."

Aluna bahkan siap bersujud di kaki Devian jika cowok itu memintanya.

Devian terdiam sejenak, memperhatikan wajah frustrasi Aluna dengan saksama. Seringai di wajahnya perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi serius yang sulit dibaca.

"Gue gak bakal laporin lo ke Dekanat," kata Devian akhirnya.

Aluna tersentak. Harapan kecil tiba-tiba muncul di dadanya. "B-beneran, Kak?"

"Tapi, dengan satu syarat," tambah Devian cepat.

Tentu saja. Gak ada yang gratis di dunia ini, apalagi dari seorang Devian yang terkenal sebagai negosiator ulung di kalangan aktivis kampus.

"Syarat apa, Kak? Apa aja... asal rahasia ini tetep aman," ujar Aluna cepat, putus asa membuat dia bersedia melakukan apa pun.

Devian bersandar kembali ke kursinya, melipat kedua tangannya di depan dada. "Gue mau lo jadi pacar gue."

Aluna mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia mendadak merasa fungsi pendengarannya terganggu karena stres berat. "Hah? Apa, Kak?"

"Lo gak salah denger. Gue mau lo pura-pura jadi pacar gue. Selama tiga bulan ke depan," ulang Devian dengan artikulasi yang sangat jelas.

Aluna ternganga. "P-pacar? Tapi... kenapa? Kenapa harus gue? Dan kenapa pacaran pura-pura?"

Devian menghela napas kasar, wajahnya mendadak terlihat sedikit frustrasiβ€”sebuah ekspresi yang jarang sekali ditunjukkan oleh sang Presma yang selalu kelihatan tenang itu.

"Lo tahu Sarah, kan? Anak Ilmu Komunikasi angkatan atas?" tanya Devian.

Aluna mengangguk pelan. Siapa yang gak tahu Sarah? Cewek cantik blasteran yang sangat populer, tapi juga terkenal karena sifat posesifnya yang g***-g***an saat masih pacaran dengan Devian semester lalu. Bahkan setelah mereka putus, rumornya Sarah masih sering meneror siapa pun cewek yang mencoba mendekati Devian.

"Sarah makin g***," keluh Devian, memijat pelipisnya sendiri. "Dia nguntit gue ke mana-mana. Dia nge-hack akun medsos gue, neror temen-temen cewek di UKM gue, bahkan kemarin dia nekat nungguin di depan kosan gue sampai subuh cuma buat minta balikan. Gue bener-bener risih dan terganggu."

"Terus... apa hubungannya sama gue?" tanya Aluna masih bingung.

"Gue butuh tameng. Gue butuh pacar baru yang bisa bikin dia mundur sepenuhnya. Dan pacar baru itu harus orang yang gak bakal bikin gue repot," jelas Devian, matanya kembali menatap Aluna dengan tajam. "Kalau gue milih cewek lain, mereka pasti bakal baper beneran sama gue, atau malah ketakutan pas diteror Sarah. Tapi lo..."

Devian tersenyum licik. "Lo gak punya pilihan buat baper, dan lo juga gak bisa mundur. Lo punya rahasia besar yang gue pegang. Selama tiga bulan, lo harus akting jadi pacar yang bucin banget sama gue di depan umum, terutama di depan Sarah. Sebagai imbalannya, KTM lo aman di tangan lo, dan rahasia 'konser solo' lo di toilet teknik bakal gue bawa sampai mati."

Aluna tertegun. Ini benar-benar kesepakatan g***. Menjadi pacar pura-pura Devian berarti dia harus siap ma**k ke dalam radar permusuhan Sarah yang terkenal nekat. Tapi di sisi lain, menolak tawaran ini sama saja dengan melakukan bunuh diri sosial di kampus.

"Bagaimana?" Devian mencondongkan tubuhnya lagi, menyodorkan KTM Aluna ke tengah meja. "Gampang, kan? Cuma tiga bulan. Akting di depan publik, dan setelah itu kita selesai. Reputasi lo aman, hidup gue juga tenang."

Aluna menatap kartu identitasnya, lalu beralih menatap wajah tampan Devian yang kini terlihat seperti i**** berkedok malaikat. Gak ada pilihan lain. Sudut labirin ini terlalu sempit untuknya melarikan diri.

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Aluna menjangkau KTM-nya dan menariknya perlahan.

"Oke," bisik Aluna, memantapkan hatinya yang hancur berkeping-keping. "Gue setuju. Tiga bulan."

Seringai kemenangan kembali terukir di wajah tampan Devian. Dia mengulurkan tangan kanannya ke arah Aluna.

"Kesepakatan tercapai, Aluna. Mulai besok pagi... panggil gue sayang kalau kita lagi di luar ruangan ini."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca