Ketahuan 'Main Sendiri' di Toilet Kampus

Bab 5: Debut Pasangan Settingan

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Debut Pasangan Settingan**

Kalau ada kompetisi manusia paling sial sedunia tahun ini, Aluna yakin banget dia bakal menyabet piala juara pertama, lengkap dengan piagam penghargaan dan rumbai-rumbai emasnya.

Bagaimana gak sial? Baru juga kemarin sore dia mengemis ampunan di ruang Komisi Disiplin, sekarang dia sudah harus meratapi nasibnya di pojokan Kantin Pusat. Aluna menatap mangkuk baksonya yang sudah mendingin dengan pandangan kosong. Kuah baksonya bahkan sudah mulai berlemak, persis seperti otaknya yang mendadak membeku sejak menyetujui kesepakatan g*** dengan Devian semalam.

*“Jadi pacar settingan gue, atau ka**s toilet lo kemarin gue bawa ke rapat rektorat dan beasiswa lo dicabut.”*

Suara bariton Devian yang dingin semalam masih terngiang-ngiang jelas di telinga Aluna, berputar-putar seperti kaset rusak yang minta dihancurkan. G***. Devian itu benar-benar i**** berwujud malaikat. Di luar tampan, berprestasi, dan dipuja-puja, tapi aslinya licik setengah mati.

"Gue harus gimana sekarang..." Aluna menggumam frustrasi, mengacak rambutnya frustrasi sampai beberapa helai menutupi wajahnya.

Kantin Pusat siang itu super ramai. Maklum, jam istirahat makan siang adalah kasta tertinggi dalam siklus kehidupan mahasiswa. Suara dentingan sendok beradu dengan piring, tawa berisik anak-anak mapala di pojokan, dan aroma ayam geprek yang menusuk hidung biasanya selalu berhasil menaikkan *mood* Aluna. Tapi siang ini, rasanya tenggorokannya benar-benar tersumbat.

Tiba-tiba, suasana kantin yang tadinya bising luar biasa mendadak sunyi. Sunyi yang aneh. Seperti ada tombol *mute* raksasa yang baru saja ditekan dari langit.

Aluna yang tadinya sibuk menusuk-nusuk bakso dengan garpu langsung mendongak heran. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar saja, hampir semua mata mahasiswa di kantin itu sedang tertuju ke satu arah. Ke arah pintu ma**k kantin.

Di sana, sesosok cowok dengan tinggi hampir 180 sentimeter melangkah ma**k dengan sant**. Dia hanya mengenakan kaos putih polos yang dibalut kemeja flanel hitam-merah yang kancingnya dibiarkan terbuka—pakaian yang sama dengan yang dia pakai semalam—serta celana jins hitam yang pas di kakinya yang jenjang. Rambut hitamnya sedikit berantakan kena angin, tapi justru itu yang membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih s****.

Devian.

Si Presma legendaris yang biasanya anti menginjakkan kaki di kantin umum yang gerah ini, tiba-tiba muncul bagaikan model yang salah tersesat ke pasar tradisional.

Aluna langsung membulatkan matanya. Firasat buruknya mendadak berteriak kencang di dalam kepala. *Jangan bilang kalau dia...*

Pandangan Devian menyapu seisi kantin, sebelum akhirnya terkunci tepat pada manik mata Aluna. Sudut bibir cowok itu terangkat tipis, membentuk seringai misterius yang sukses membuat bulu kuduk Aluna meremang.

Tanpa ragu, Devian melangkah lebar-lebar membelah kerumunan mahasiswa. Semua orang otomatis memberi jalan, berbisik-bisik heboh dengan mata melotot.

"Eh, itu Kak Devian kan? Ngapain dia ke sini?"

"A****, ganteng banget aslinya! Tapi kok dia jalan ke arah meja anak sosiologi itu sih?"

"Siapa tuh cewek? Kok disamperin?"

Aluna menahan napas. Dia buru-buru menundukkan kepala, pura-pura sibuk mengaduk mangkuk baksonya yang sudah mengenaskan, berharap bumi tiba-tiba membelah diri dan menelan tubuhnya bulat-bulat saat itu juga. *Pergi, plis pergi... jangan ke sini...* doa Aluna dalam hati bagai rapalan mantra.

Tapi keberuntungan jelas sedang tidak berpihak padanya.

*Sret.*

Sebuah bayangan tinggi langsung menutupi cahaya lampu di atas meja Aluna. Sebelum Aluna sempat bereaksi, sebuah lengan yang kokoh dan beraroma parfum *mint-cedarwood* yang maskulin tiba-tiba merayap turun, merangkul pundak Aluna dengan sangat erat. Tubuh Aluna ditarik paksa hingga merapat ke dada bidang cowok di sebelahnya.

"Hei. Udah nunggu lama?"

Suara berat dan lembut itu terdengar sangat dekat di telinga Aluna, disusul dengan hembusan napas hangat yang menyapu lehernya.

*Deg!*

Jantung Aluna rasanya mau melompat keluar dari dadanya. Matanya melotot selebar piring soto. Dia mendongak kaku, dan langsung disambut oleh wajah tampan Devian yang jaraknya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Saking dekatnya, Aluna bahkan bisa melihat pantulan dirinya yang tampak sangat panik di bola mata hitam pekat milik Devian.

"K-Kak..." cicit Aluna dengan suara tercekat.

"Kok bengong? Gemes banget sih pacar aku," ucap Devian lagi, kali ini dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh meja-meja di sekitar mereka. Tangannya yang besar bergerak mengacak-acak rambut Aluna dengan lembut, gestur yang sangat manis tapi sukses membuat Aluna ingin pingsan karena malu.

*PRANG!*

Di sudut kantin, terdengar suara sendok jatuh. Keheningan kantin langsung pecah digantikan oleh kasak-kusuk yang luar biasa heboh. Efek domino dari ucapan Devian barusan benar-benar luar biasa.

"G***! PACAR?!"

"Demi apa Devian punya pacar?! Bukannya dia paling anti deket-deket cewek?!"

"Cewek itu siapa sih? Kok biasa banget mukanya? Pelet mana yang dia pake?!"

Aluna bisa merasakan wajahnya memanas hebat. Dia yakin saat ini mukanya sudah semerah tomat matang. Dengan panik, Aluna berbisik dengan gigi rapat, mencoba tidak menggerakkan bibirnya terlalu banyak. "Kak! Ini apa-apaan sih?! Gak usah pakai rangkul-rangkul juga bisa kan?!"

Devian tidak langsung menjawab. Dia malah makin merapatkan tubuh Aluna ke sampingnya, membuat Aluna bisa merasakan detak jantung Devian yang stabil—berbanding terbalik dengan jantung Aluna yang sudah seperti kereta cepat yang remnya blong.

"Akting yang total, Aluna," bisik Devian di sela senyum manisnya yang tampak sangat tulus di mata orang lain. "Lo mau rahasia toilet lo aman, kan? Sekarang senyum. Komuk lo kaku banget kayak kanebo kering."

Aluna menggeram tertahan. Demi Tuhan, kalau saja cowok ini bukan anak donatur terbesar kampus sekaligus pemegang kartu as rahasia paling memalukannya, Aluna pasti sudah menyiramkan kuah bakso dingin ini ke wajah tampannya.

Sambil menahan kedutan di pipinya, Aluna terpaksa menarik sudut bibirnya lebar-lebar. Dia memberikan senyum paling palsu yang pernah dia buat seumur hidupnya. "Oh... iya, Sayang. Enggak kok, aku baru aja mau makan," jawab Aluna dengan nada yang dipaksa manja, meskipun di dalam hati dia rasanya ingin muntah darah.

"Bagus. Gitu dong," puji Devian setengah berbisik, lalu dengan sant** merebut garpu dari tangan Aluna dan menusuk satu bakso kecil. "Suapin."

"Hah?!" Aluna melotot.

"Su-a-pin. Buruan, sebelum penonton kita bubar," perintah Devian lewat tatapan matanya yang tajam dan menuntut.

Dengan tangan yang gemetar hebat karena menahan malu yang luar biasa, Aluna mengarahkan garpu berisi bakso itu ke mulut Devian. Devian menerimanya dengan senyum menawan yang sukses membuat beberapa mahasiswi di meja sebelah m****ik histeris penuh kecemburuan.

Namun, momen "romantis" penuh kepalsuan itu tidak bertahan lama.

Suara ketukan pantofel yang tegas dan cepat tiba-tiba terdengar mendekat. Langkah kaki itu terdengar penuh amarah. Atmosfer di sekitar meja mereka mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam.

Aluna menoleh ke arah sumber suara, dan seketika itu juga senyum palsunya langsung luntur.

Di sana, berdiri seorang cewek dengan penampilan super modis yang sangat kontras dengan Aluna. Cewek itu mengenakan *blazer* ka**al berwarna pastel bermerek mahal, rambutnya yang diwarnai *ash brown* ditata dengan *curly* sempurna, dan wajahnya dipoles *makeup* flawless ala *douyin*.

Sarah.

Sang primadona kampus sekaligus anak dari salah satu anggota dewan penyokong dana universitas. Cewek yang sudah bukan rahasia lagi sangat terobsesi pada Devian dan selalu menyingkirkan cewek mana pun yang berani mendekati sang Presma.

Saat ini, wajah cantik Sarah tampak sangat pucat, dengan kedua matanya yang melotot lebar menatap tajam ke arah tangan Devian yang masih bertengger sant** di pundak Aluna. Tatapan matanya penuh dendam dan amarah yang membara, seolah-olah dia siap mencabik-cabik Aluna detik itu juga.

"Devian!" suara Sarah melengking, memecah ketegangan di kantin. Dia melangkah maju hingga berdiri tepat di depan meja mereka, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya sampai buku jarinya memutih. "Ini apa-apaan?! Siapa dia?!"

Devian sama sekali tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, dia justru menatap Sarah dengan pandangan datar dan dingin—sangat berbeda dengan tatapan "hangat" yang dia berikan pada Aluna beberapa detik lalu.

"Lo punya mata, kan, Sar? Lo bisa lihat sendiri gue lagi apa," jawab Devian sant**, nadanya terdengar sangat acuh tak acuh.

"Gak mungkin!" Sarah menunjuk Aluna dengan telunjuknya yang dihiasi *nail art* rumit. "Cewek dekil kayak gini pacar lo?! Dev, lo jangan bercanda! Lo pasti sengaja kan sewa dia buat jauhin gue?!"

Mendengar kata 'dekil', Aluna sebenarnya agak tersinggung. Oke, dia memang cuma pakai kaos oblong kedodoran dan jins longgar, tapi hei, dia mandi dua kali sehari ya! Tapi Aluna memilih diam, dia terlalu takut untuk membuka suara di depan Sarah yang tampak seperti singa betina yang siap menerkam mangsa.

Devian menghela napas pendek. Dia mempererat rangkulannya di pundak Aluna, membuat Aluna terpaksa bersandar di dada cowok itu lagi.

"Dia bukan sewaan, Sarah. Kenalin, Aluna. Pacar gue," ucap Devian tegas, setiap katanya terdengar begitu meyakinkan sampai-sampai Aluna sendiri hampir percaya kalau mereka benar-benar pacaran. "Dan tolong, jaga ucapan lo. Sekali lagi lo sebut pacar gue dekil, gue gak akan segan-segan bawa masalah ini ke komisi disiplin atas tindakan perundungan."

Sarah tersentak mundur. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena amarah dan rasa malu yang luar biasa karena ditolak secara terang-terangan di depan umum. Dia menatap Aluna dengan tatapan yang sangat menyeramkan, penuh dengan dendam yang mendalam.

"Lo..." Sarah menatap Aluna tajam, napasnya memburu. "Gue gak akan tinggal diam. Lo bakal nyesel karena udah berani rebut Devian dari gue!"

Setelah mengucapkan ancaman itu, Sarah berbalik dengan kasar dan melangkah pergi dari kantin dengan menghentakkan kakinya lebar-lebar, meninggalkan kehebohan yang makin menjadi-jadi di belakangnya.

Aluna hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya mendadak lemas. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya di kampus tidak akan pernah tenang lagi. Sandiwara g*** ini baru saja dimulai, dan dia sudah langsung ma**k ke dalam daftar hitam musuh nomor satu sang primadona kampus.

"Kak..." Aluna berbisik dengan suara gemetar, menatap Devian yang sekarang malah tersenyum puas. "Gue... kayaknya gue bakal mati muda."

Devian hanya terkekeh pelan, lalu menepuk-nepuk kepala Aluna dengan sant**. "Tenang aja, Sayang. Selama lo patuh sama gue, gue bakal mastiin lo tetep hidup... setidaknya sampai kontrak kita selesai."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca