Sejak hari di mana Devian dengan sant**nya merangkul pundak Aluna di Kantin Pusat, hidup Aluna yang tadinya tenang dan damai langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Hidupnya kini terasa seperti berada di dalam wahana *roller coaster* tanpa sabuk pengaman. Horor, bikin mual, dan sewaktu-waktu bisa bikin mati berdiri.
Ke mana pun Aluna melangkah, selalu ada bisik-bisik tetangga yang mengiringinya. Mulai dari koridor gedung fakultas, antrean fotokopi, sampai toilet—tempat yang kini paling dihindarinya—semua orang mendadak jadi komentator kehidupan pribadinya.
Namun, gosip miring dari mahasiswa biasa masih belum ada apa-apanya dibanding teror nyata yang mulai ma**k ke ponselnya sejak kemarin malam.
*‘Lo pikir lo siapa bisa jalan bareng Devian?’*
*‘Gak usah kecentilan jadi cewek. Devian itu cuma kasihan sama lo.’*
*‘Gue tahu lo anak penerima beasiswa penuh. Sekali gue jentikkan jari, beasiswa lo bisa hilang. Jauhi Devian kalau lo masih mau kuliah di sini.’*
Aluna menatap layar ponselnya dengan tangan yang gemetar. Pesan-pesan tanpa nama itu ma**k bertubi-tubi melalui DM akun Instagram samaran dan pesan WhatsApp dari nomor asing. Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan brutal. Ancaman terakhir itu benar-benar menghantam titik terlemahnya. Beasiswa adalah satu-satunya tiket Aluna untuk bisa bertahan di kampus bergengsi ini. Tanpa beasiswa itu, ibunya di kampung tidak akan sanggup membiayai kuliahnya.
"Siapa sih sebenarnya orang ini?" bisik Aluna dengan suara bergetar.
Tebakan Aluna langsung tertuju pada satu nama: Sarah.
Sarah adalah mahasiswi hits dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang terkenal sebagai ketua *cheerleader* sekaligus anak dari salah satu donatur terbesar kampus. Sudah menjadi rahasia umum kalau Sarah terobsesi setengah mati pada Devian. Gadis itu selalu menempel pada Devian di setiap kesempatan, meskipun Devian selalu memperlakukannya seperti angin lalu. Begitu status "pacar settingan" Aluna dan Devian menyebar, Sarah jelas adalah orang pertama yang paling kebakaran jenggot.
Siang itu, karena tidak kuat lagi menahan pandangan-pandangan menusuk di koridor, Aluna memutuskan untuk bersembunyi di perpustakaan pusat lant** tiga. Area ini biasanya sepi, terutama di pojokan dekat rak buku-buku referensi sejarah yang tebal dan berdebu.
Aluna duduk di salah satu meja paling pojok, menyembunyikan wajahnya di balik tumpukan buku tebal. Namun, konsentrasinya benar-benar pecah. Setiap kali ada suara langkah kaki mendekat, pundaknya otomatis menegang. Dia merasa seperti sedang diint** oleh penguntit.
*Ting!*
Ponselnya di atas meja bergetar lagi. Aluna tersentak. Dengan ragu, dia membuka pesan baru yang ma**k. Kali ini, sebuah foto terkirim dari nomor yang sama.
Foto itu memperlihatkan Aluna yang sedang duduk di mejanya saat ini, diambil dari balik rak buku seberang.
*‘Gue tahu lo ada di perpus sekarang. Sendirian. Nyaman banget ya di pojokan? Mau gue samperin sekarang dan kita bicarakan soal masa depan beasiswa lo?’*
Darah Aluna langsung terasa menyusut dari wajahnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Matanya menyusuri sela-sela rak buku yang tinggi, mencari sosok yang mungkin sedang mengawasinya dengan kamera ponsel. Tapi perpustakaan itu begitu sunyi, hanya ada suara dengung AC yang dingin dan beberapa mahasiswa lain yang berjarak c**up jauh darinya.
Rasa takut yang luar biasa mulai merayap naik, mencengkeram dadanya hingga dia merasa sesak napas. Setitik air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya. Aluna meremas ujung kemejanya erat-erat, menahan isakan agar tidak pecah di ruangan yang sunyi ini. Dia merasa sangat sendirian, tidak berdaya, dan terjebak dalam permainan g*** yang bahkan tidak dia inginkan sejak awal.
"Kenapa hidup gue jadi kayak gini..." gumamnya lirih, air matanya akhirnya luruh membasahi pipi. Dia menundukkan kepala sedalam-dalamnya di atas meja, menyembunyikan wajahnya yang kacau.
Tepat di saat Aluna merasa dunianya hampir runtuh, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba menghalangi cahaya lampu di atas mejanya. Sebelum Aluna sempat mendongak, sebuah benda dingin tiba-tiba ditempelkan ke pipinya yang basah.
"Dingin!" Aluna tersentak kaget dan langsung mendongak tegak.
Di hadapannya, berdiri Devian dengan kedua tangan yang dima**kkan ke dalam saku celana jinsnya. Cowok itu menatapnya datar, tapi ada kilat aneh di matanya yang biasanya sedingin es. Di tangan kanannya, dia memegang satu kaleng teh melati dingin yang baru saja dia tempelkan ke pipi Aluna.
"Nangis di perpustakaan itu melanggar peraturan gak tertulis," ucap Devian dengan suara baritonnya yang rendah, terdengar sangat sant** tapi entah kenapa langsung mendominasi suasana. "Berisik. Walaupun lo nangisnya gak pakai suara."
Aluna buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan, merasa malu sekaligus kesal. "Lo ngapain di sini? Dan kenapa bisa tahu gue di sini?"
Devian tidak menjawab. Dia malah menarik kursi di sebelah Aluna, memutarnya berbalik, lalu duduk dengan gaya sant** seraya menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi. Jarak mereka sekarang sangat dekat, membuat Aluna bisa mencium aroma parfum maskulin beraroma *wood* dan *mint* yang menguar dari tubuh cowok itu.
"Gue punya mata di mana-mana," jawab Devian asal. Matanya kemudian tertuju pada ponsel Aluna yang layarnya masih menyala, menampilkan pesan ancaman foto tadi.
Sebelum Aluna sempat menyembunyikan ponselnya, tangan kokoh Devian sudah lebih dulu menyambarnya. Aluna panik dan berusaha merebutnya kembali. "Eh, balikin! Jangan lancang ya!"
Namun, gerakan Devian jauh lebih cepat. Dia menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Aluna dan membaca deretan pesan teks di layarnya. Dalam hitungan detik, rahang tegas Devian mengeras. Tatapan matanya yang tadi sant** mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tajam, seperti pisau yang siap mengoyak siapa saja. Aura di sekitar Devian langsung berubah mencekam, membuat Aluna yang berada di dekatnya refleks menelan ludah.
"Ini udah dari kapan?" tanya Devian, suaranya kini terdengar rendah dan penuh penekanan.
"D-dari kemarin malam," jawab Aluna jujur, mencicit pelan karena terintimidasi oleh perubahan sikap Devian. "Gue gak tahu siapa yang ngirim, tapi dia tahu soal beasiswa gue... dan dia tahu gue ada di sini sekarang."
Devian mengetikkan sesuatu di ponsel Aluna dengan cepat, sebelum akhirnya meletakkan benda tipis itu kembali ke atas meja.
"Lo balas apa ke dia?" tanya Aluna penasaran.
"Gak usah tahu. Yang jelas nomor itu gak bakal bisa hubungi lo lagi," jawab Devian dingin. Dia kemudian menatap Aluna lurus-lurus. "Kenapa lo gak langsung bilang ke gue waktu pesan pertama ma**k?"
"Ya buat apa? Lagian kita kan cuma pacaran settingan! Gue gak mau makin ngerepotin lo, dan gue juga... gue takut, Dev. Kalau beasiswa gue benar-benar dicabut gimana? Gue kuliah di sini taruhannya besar banget buat keluarga gue," ucap Aluna, suaranya kembali bergetar di ujung kalimat. Dia kembali menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca lagi.
Sunyi menjeda sejenak di antara mereka. Aluna mengira Devian akan mencelanya atau bersikap apatis seperti biasanya. Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan.
Devian menghela napas panjang. Dia mengulurkan tangannya, lalu dengan gerakan yang sangat lembut—sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya yang kaku—dia menangkup dagu Aluna, memaksa gadis itu untuk mendongak menatapnya. Ibu jari Devian bergerak perlahan, mengusap sisa air mata di pipi Aluna. Sentuhan hangat tangan Devian itu seketika mengirimkan sengatan listrik aneh yang membuat jantung Aluna berdegup dua kali lebih cepat.
"Dengerin gue, Aluna," ucap Devian dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh keyakinan. "Selama lo masih berstatus pacar gue—mau itu settingan atau bukan—gak akan ada satu orang pun di kampus ini yang bisa nyentuh lo. Gak ada yang bisa nyentuh beasiswa lo, dan gak ada yang boleh bikin lo nangis kayak begini."
Aluna terpaku. Dia menatap mata hitam pekat milik Devian, mencari kebohongan atau candaan di sana. Tapi yang dia temukan hanyalah keseriusan yang mutlak.
"Tapi... tapi kalau itu Sarah? Dia kan anak donatur..." gumam Aluna pelan, hampir seperti bisikan.
Devian mendengus remeh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang terlihat sangat menawan namun berbahaya. "Mau dia anak donatur, anak rektor, atau anak presiden sekalipun, gue gak peduli. Lo aman sama gue. Paham?"
Entah kenapa, kata-kata yang keluar dari mulut Devian itu memiliki kekuatan magis yang luar biasa. Rasa cemas dan ketakutan yang sejak tadi menghimpit dada Aluna perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di hatinya. Di balik sikap dingin, ketus, dan menyebalkan yang biasa cowok itu tunjukkan, Aluna baru menyadari satu hal.
Devian adalah cowok yang sangat peka. Dan di balik sifat angkuhnya, dia memiliki sisi protektif yang sanggup membuat siapa saja merasa terlindungi sepenuhnya.
"Sekarang, minum ini," perintah Devian sambil menyodorkan kaleng teh melati yang sejak tadi dia bawa. "Muka lo jelek banget kalau habis nangis. Kusut."
Aluna langsung mengerucutkan bibirnya kesal, merusak momen haru yang baru saja tercipta. "Lo itu ya, bisa gak sih gak usah ngeledek sehari aja?" gerutunya sambil merebut kaleng minuman dingin itu dari tangan Devian.
Devian hanya terkekeh pelan—sebuah pemandangan langka yang belum pernah dilihat oleh mahasiswi mana pun di kampus ini. Dia bersandar pada kursinya, memperhatikan Aluna yang sedang meneguk minumannya dengan rakus.
"Habis ini lo ada kelas lagi?" tanya Devian.
"Ada, satu jam lagi. Kelas Pengantar Sosiologi di gedung B," jawab Aluna setelah menyeka bibirnya.
"Bagus. Gue antar," ucap Devian mutlak, tidak menerima bantahan.
"Gak usah, Dev! Nanti makin banyak yang gosip—"
"Biarin aja mereka gosip," potong Devian sant** seraya berdiri dari kursinya. Dia mengulurkan tangan untuk mengambil tas ransel Aluna dan menyampirkannya di satu pundaknya sendiri. "Biar mereka semua tahu, kalau lo itu milik gue. Dan siapa pun yang berani ganggu lo, harus berurusan langsung sama gue."
Aluna terpaku di tempat duduknya, menatap punggung lebar Devian yang kini berjalan mendahuluinya dengan sant**. Jantungnya berdetak liar di dalam dada, kali ini bukan karena rasa takut akan teror, melainkan karena getaran aneh yang mulai menyusup ke dalam hatinya.
*Sial,* batin Aluna sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. *Gue gak boleh baper sama pacar settingan sendiri. Gak boleh!*
Namun, melihat bagaimana Devian menoleh ke belakang dan melemparkan senyum tipis seolah menunggunya, Aluna tahu bahwa membentengi hatinya dari pesona seorang Devian akan menjadi tugas tersulitnya semester ini.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!