**Bab 7: Saat Dua Topeng Bertemu**
Ponsel di genggaman Aluna terasa sedingin es. Napasnya tercekat di tenggorokan saat membaca kalimat terakhir dari nomor tidak dikenal itu.
*‘Gue tahu lo ada di perpus sekarang. Sendirian. Nyaman banget ya di pojokan? Mau gue samperin sekarang dan kita bicarakan soal masa depan beasiswa lo?’*
Tubuh Aluna langsung kaku. Dia refleks menoleh ke kiri dan ke kanan, menatap celah-celah di antara rak buku tinggi yang mengelilinginya. Suasana perpustakaan lant** tiga yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti labirin hantu yang mencekam. Setiap bayangan yang bergerak di ujung matanya membuat jantung Aluna berdegup dua kali lebih cepat.
Dia ingin lari, tapi kakinya seolah terpaku ke lant**.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar mendarat di bahunya.
"Aah!" Aluna m****ik tertahan, hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lant**. Dia memejamkan mata erat-erat, bersiap menghadapi skenario terburuk.
"Heh, ini gue. Sant**."
Suara bariton yang familier itu membuat Aluna membuka matanya perlahan. Di hadapannya, berdiri Devian dengan jaket denim hitam longgar dan seringai tipis yang biasanya menyebalkan. Namun, entah kenapa, detik ini kehadiran cowok itu terasa seperti penyelamat.
Devian melirik ponsel Aluna yang layarnya masih menyala, menampilkan pesan ancaman tadi. Alis cowok itu bertaut rapat. Ekspresi sant**nya langsung berganti dengan rahang yang mengeras. Tanpa b***bu, Devian menyambar ponsel Aluna, membaca pesannya sekilas, lalu mema**kkannya ke dalam saku jaketnya sendiri.
"Beresin barang-barang lo," perintah Devian pendek. Suaranya rendah, tapi tidak menerima bantahan.
"T-tapi..."
"Gak ada tapi-tapi, Aluna. Beresin sekarang, atau gue gendong lo keluar dari sini dan bikin kita jadi tontonan satu kampus lagi."
Mendengar ancaman itu, Aluna langsung bergerak cepat. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, dia mema**kkan laptop, buku catatan, dan alat tulisnya ke dalam tas ransel. Setelah semuanya beres, Devian langsung meraih pergelangan tangan Aluna dan menariknya keluar dari area perpustakaan.
Selama berjalan melewati koridor kampus menuju tempat parkir, Aluna hanya bisa menunduk. Dia terlalu takut kalau-kalau pengirim pesan misterius itu—atau antek-antek Sarah—sedang mengawasinya dari jauh. Beruntung, Devian berjalan dengan langkah lebar dan tegas, seolah membuat barikade tak kasat mata yang menghalangi siapa pun untuk mendekat.
Mereka sampai di parkiran mobil. Devian membukakan pintu penumpang untuk Aluna, lalu memutari mobil dan ma**k ke kursi kemudi. Tanpa banyak bicara, dia menyalakan mesin dan melesat membelah jalanan sore kota yang mulai padat.
***
Suasana di dalam mobil hening untuk waktu yang c**up lama. Hanya ada suara musik lo-fi bernada rendah dari radio mobil yang menemani mereka. Aluna menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap rintik hujan gerimis yang mulai membasahi jalanan.
"Kita mau ke mana?" tanya Aluna akhirnya, memecah keheningan. Suaranya terdengar lelah.
"Makan," jawab Devian singkat tanpa menoleh dari jalanan. "Lo kelihatan kayak mayat hidup. Muka lo pucat banget."
"Gue gak lapar."
"Gue gak menerima penolakan, Aluna. Kita butuh tempat yang aman buat ngobrol. Tanpa mata-mata, tanpa gosip, dan yang jelas jauh dari jangkauan Sarah."
Mendengar nama Sarah disebut, Aluna hanya bisa menghela napas pasrah. Dia membiarkan Devian membawanya pergi.
Hampir tiga puluh menit berkendara, mobil Devian berbelok ke sebuah area perumahan tua yang sepi dan rindang. Di ujung jalan, terdapat sebuah kafe kecil bergaya rumahan dengan papan nama kayu bertuliskan *“The Hideout”*. Tempat itu dikelilingi pohon-pohon rindang dan tanaman rambat, memberikan kesan terisolasi dari dunia luar yang bising.
Saat mereka ma**k, Aluna langsung merasakan suasana hangat. Aromanya perpaduan antara kopi segar dan roti panggang mentega. Hanya ada dua meja lain yang terisi oleh pengunjung yang tampaknya sibuk dengan laptop masing-masing. Tidak ada mahasiswa dari kampus mereka di sini.
"Sore, Mas Devian. Kayak biasa?" sapa seorang barista ramah di balik meja bar.
Devian mengangguk sambil tersenyum tipis—senyum tulus yang jarang Aluna lihat di kampus. "Iya, Mas. Tapi kali ini kali dua ya. Sama tolong tambah *cinnamon roll*-nya satu porsi."
Devian kemudian menuntun Aluna ke meja paling pojok di dekat jendela yang menghadap ke taman belakang yang basah oleh hujan. Setelah meletakkan tasnya, Devian duduk di hadapan Aluna dan mengeluarkan ponsel gadis itu dari sakunya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Sori, tadi gue lancang ambil ponsel lo," kata Devian. Nadanya terdengar jauh lebih lembut dari biasanya. "Gue cuma gak mau lo makin panik di perpus tadi."
Aluna menggeleng pelan. "Gak apa-apa. Makasih ya... udah bawa gue keluar dari sana."
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Dua cangkir cokelat hangat mengepul dan sepiring *cinnamon roll* beraroma manis yang menggugah selera.
"Minum dulu," suruh Devian, menunjuk cangkir di depan Aluna dengan dagunya.
Aluna menuruti kata-kata itu. Kehangatan cokelat manis itu perlahan menjalar ke tubuhnya, membuat saraf-sarafnya yang tegang sejak tadi siang mulai sedikit rileks. Dia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Devian dengan serius.
"Jadi... gimana sekarang? Sarah bener-bener nekat, Dev. Dia tahu posisi gue di perpus. Dia bahkan ngancem bakal ng***ngin beasiswa gue," ujar Aluna, suaranya mulai bergetar lagi saat mengingat ancaman itu. "Lo tahu sendiri kan, beasiswa itu segalanya buat gue. Kalau sampai dicabut, gue harus keluar dari kampus ini. Ibu gue di kampung..." Aluna menggantung kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan.
Devian mendengarkan dengan saksama. Matanya yang biasanya terlihat acuh tak acuh kini menatap Aluna dengan pandangan yang dalam.
"Sarah gak bakal bisa nyentuh beasiswa lo," kata Devian dengan nada tenang tapi penuh keyakinan. "Dia emang anak donatur utama kampus, tapi bokapnya gak sebodoh itu buat nurutin kemauan anaknya yang kekanak-kanakan cuma karena masalah asmara. Lagipula, yayasan beasiswa lo itu dikelola independen. Sarah cuma gertak sambal buat bikin lo takut dan mundur."
"Tapi gimana kalau dia nekat fitnah gue?" bantah Aluna cemas. "Di kampus ini, orang kaya kayak dia bisa ngelakuin apa aja, Dev. Sedangkan gue? Gue cuma mahasiswi biasa yang gak punya tameng apa-apa."
Devian menghela napas. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu, lalu menatap langit-langit kafe sejenak sebelum kembali menatap Aluna.
"Lo punya gue, Aluna."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Devian, membuat jantung Aluna berdegup kencang karena alasan yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Dia menatap Devian, mencari-cari apakah cowok itu sedang bercanda atau sekadar menggodanya. Namun, ekspresi Devian sangat serius.
"Gue yang mulai permainan ini dengan narik lo jadi pacar settingan gue. Jadi, gue yang bakal tanggung jawab penuh buat ngelindungin lo dari Sarah," lanjut Devian. "Strategi kita sekarang adalah: jangan tunjukin kalau lo takut. Semakin lo kelihatan takut dan ngehindar, Sarah bakal makin ngerasa menang. Kita harus bikin dia percaya kalau hubungan kita ini beneran solid, sampai dia sendiri yang capek dan mundur."
Aluna mengerutkan kening. "Tapi kenapa harus serumit ini, sih? Kenapa lo gak langsung bilang aja ke Sarah kalau lo gak tertarik sama dia? Kenapa lo harus pakai cara pacaran settingan sama gue buat ngehindari dia? Lo kan bisa milih cewek lain yang selevel sama dia biar dia langsung mundur."
Devian terkekeh, tapi kali ini terdengar seperti kekehan yang getir. Dia mengaduk-aduk cokelat hangatnya yang mulai mendingin tanpa berniat meminumnya.
"Karena kalau gue pacaran sama cewek dari kalangan yang sama, urusannya bakal makin panjang," jawab Devian pelan. "Bokap gue... dia pejabat publik. Anggota dewan yang ambisius banget."
Aluna tertegun. Dia tahu Devian adalah anak orang kaya raya, tapi dia tidak tahu kalau ayah Devian adalah seorang pejabat publik.
"Bokap gue selalu pengen ngatur hidup gue," Devian melanjutkan, suaranya kini terdengar sangat lelah, sangat berbeda dari sosok Devian yang sombong dan berisik di kampus. "Dari kecil, gue harus jadi anak yang sempurna di depan kamera media. Harus ma**k sekolah terbaik, dapet nilai terbaik, dan nantinya... harus ma**k ke dunia politik buat ngelanjutin dinasti dia. Bahkan soal pacar, bokap udah punya daftar cewek-cewek anak rekan politiknya yang 'pantas' buat gue. Salah satunya ya Sarah itu."
Aluna mendengarkan dengan saksama, menahan napasnya agar tidak mengganggu cerita Devian.
"Gue muak, Aluna," bisik Devian, matanya menatap lurus ke dalam mata Aluna. "Gue sengaja bikin b**nding diri gue di kampus sebagai cowok bad boy yang suka bolos, suka bikin masalah, dan gak bisa diatur. Itu satu-satunya cara gue buat berontak. Dan taktik pacaran sama lo? Itu cara terbaik buat bikin bokap gue dan kolega-koleganya—terma**k bapaknya Sarah—pusing tujuh keliling. Mereka gak bisa maksa gue tunangan sama Sarah kalau gue udah punya pacar yang, yah... menurut standar mereka, bukan dari kalangan mereka."
Mendengar penjelasan itu, Aluna mendadak merasa dadanya sesak. Dia menatap cowok di depannya dengan pandangan yang benar-benar baru.
Selama ini, Aluna selalu menganggap Devian sebagai cowok kaya yang manja, yang bertingkah seenaknya di kampus hanya karena punya uang dan kekuasaan. Dia pikir hidup Devian sangat mudah dan tanpa beban. Ternyata, di balik semua kemewahan dan sikap menyebalkan itu, Devian sedang memikul beban ekspektasi yang luar biasa berat.
"Jadi..." Aluna berbicara dengan sangat hati-hati. "Semua kelakuan lo di kampus itu... cuma akting?"
Devian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat begitu rapuh di wajah tampannya. "Bisa dibilang gitu. Di kampus, gue harus pakai topeng cowok berengsek yang gak peduli sama apa pun biar gak ada yang bisa ngatur gue. Tapi di sini, sekarang... gue cuma Devian yang capek sama semua tuntutan itu."
Aluna terdiam. Kata-kata Devian menghantamnya dengan keras. Dia merasakan dorongan empati yang kuat, karena di satu sisi, dia merasa sangat terhubung dengan apa yang dirasakan cowok itu.
"Lucu ya," gumam Aluna, membuat Devian mendongak menatapnya.
"Apanya yang lucu?"
"Ternyata kita berdua sama aja," kata Aluna dengan senyum kecut. "Kita sama-sama tukang akting yang pakai topeng di kampus."
Devian menaikkan satu alisnya, tertarik. "Maksud lo?"
"Lo pakai topeng cowok berengsek biar gak diatur sama bokap lo. Sedangkan gue? Gue pakai topeng 'mahasiswi beasiswa yang sempurna' yang selalu tersenyum, selalu dapet IPK empat koma, dan gak pernah punya masalah. Gue gak boleh kelihatan lemah sedikit pun di depan orang lain, karena kalau gue kelihatan rapuh, orang-orang bakal dengan mudah ngejatuhin gue. Gue harus selalu kelihatan kuat demi ibu gue di kampung."
Aluna menatap cangkir cokelatnya yang tinggal setengah. "Tapi aslinya? Gue ketakutan setengah mati setiap hari. Gue takut nilai gue turun, gue takut beasiswa gue dicabut, dan sekarang... gue takut banget sama teror dari Sarah. Gue aslinya cuma cewek penakut yang rapuh banget, Dev."
Keheningan kembali menyelimuti meja mereka. Namun, kali ini keheningan itu tidak terasa canggung atau menegangkan. Keheningan itu terasa begitu hangat dan menenangkan. Di sudut kafe yang terpencil ini, di bawah rintik hujan sore hari, dua orang yang selama ini selalu menyembunyikan diri di balik topeng masing-masing akhirnya saling menunjukkan wajah asli mereka yang penuh luka dan ketakutan.
Devian menatap Aluna dengan tatapan yang belum pernah dia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya. Sebuah tatapan penuh penghargaan dan... kelembutan.
"Berarti mulai sekarang, lo gak perlu akting lagi kalau lagi sama gue," kata Devian pelan, namun terdengar sangat tulus di telinga Aluna. "Di depan gue, lo gak perlu jadi anak beasiswa yang sempurna dan kuat. Lo boleh takut, lo boleh ngeluh, lo boleh marah."
Aluna mendongak, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar kalimat itu. Dia tidak menyangka bahwa kata-kata paling menenangkan yang dia dengar selama kuliah di kampus ini justru datang dari cowok yang paling ingin dia hindari sebelumnya.
"Dan sebagai gantinya," lanjut Devian dengan senyum tipis yang tulus, "gue juga gak perlu akting jadi cowok berengsek kalau lagi sama lo. Gimana? Adil kan?"
Aluna tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak mereka terlibat dalam hubungan palsu ini, Aluna merasakan sebuah ketenangan yang nyata di dekat Devian. Beban berat yang selama ini dia pikul sendirian di pundaknya rasanya sedikit lebih ringan karena kini ada orang lain yang berbagi beban yang sama dengannya.
"Oke, adil," jawab Aluna pelan, menyetujui kesepakatan tak tertulis itu.
Devian mengangguk puas, lalu menyodorkan piring berisi *cinnamon roll* ke hadapan Aluna. "Nah, sekarang karena kita udah sepakat buat lepas topeng, cepet makan ini. Gue gak mau pacar pura-pura gue pingsan gara-gara kurang gizi. Nanti reputasi gue sebagai pelindung lo bisa hancur."
Aluna mendengus geli, tapi dia tetap mengambil garpu dan memotong kue manis itu. Saat menyuapkan potongan pertama ke dalam mulutnya, rasa manis dan hangat langsung menyebar, membuat perasaannya jauh lebih baik.
Sambil menikmati makanan dan minuman mereka, obrolan mengalir begitu saja. Tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi perdebatan sengit yang melelahkan. Mereka mengobrol tentang banyak hal—mulai dari hobi Devian yang ternyata suka mendengarkan musik piringan hitam klasik, ketakutan Aluna pada kucing oranye, hingga lelucon-lelucon konyol tentang dosen-dosen killer di kampus mereka.
Di luar, hujan semakin deras mengguyur kota, seolah ingin mengisolasi mereka berdua di dalam kehangatan kafe kecil itu dari dunia luar yang kejam. Dan untuk beberapa jam yang berharga itu, baik Devian maupun Aluna, melupakan sejenak bahwa besok mereka harus kembali ke kampus dan mengenakan topeng mereka lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!