"Makan," jawab Devian singkat, mengakhiri kalimatnya sore itu sebelum akhirnya membawa Aluna ke sebuah kedai ramen hangat di pinggir jalan yang sepi.
Sejak sore yang menegangkan di perpustakaan itu, ritme hidup Aluna berubah drastis. Teror dari nomor tidak dikenal itu membuat tingkat kecemasannya melonjak ke tingkat maksimal. Dan Devian, dengan segala otoritasnya yang menyebalkan tapi anehnya terasa menenangkan, memutuskan secara sepihak bahwa tempat paling aman bagi Aluna untuk belajar adalah apartemennya.
Awalnya Aluna menolak keras. G*** apa? Berdua saja di apartemen cowok paling populer sekaligus paling ditakuti di kampus? Tapi, mengingat tugas kuliah semester tiga yang menumpuk kayak gunung ditambah ancaman teror yang bisa datang kapan saja, Aluna akhirnya menyerah pada logika. Di apartemen Devian yang memiliki sistem keamanan ketat, dia bisa sedikit bernapas lega.
Dan di sinilah dia sekarang. Di apartemen Devian yang luas, beraroma maskulin bercampur kayu manis, duduk lesehan di atas karpet bulu tebal di depan TV. Di sekelilingnya, tumpukan buku makroekonomi dan lembar kerja berserakan seperti kapal pecah.
"Dev, ini rumusnya kok gak ketemu sih hasilnya? Gue udah ngitung tiga kali tetep aja beda sama kunci jawaban," keluh Aluna frustrasi. Dia menjambak rambutnya sendiri pelan, benar-benar pusing.
Devian yang tadinya sibuk dengan laptopnya sendiri di sofa, menurunkan pandangannya. Dia memperhatikan Aluna yang sedang cemberut dengan pensil yang diselipkan di antara bibir dan hidungnyaβkebiasaan aneh cewek itu kalau lagi mikir keras.
Devian mendengus geli. Dia turun dari sofa, ikut duduk lesehan di sebelah Aluna. Jarak mereka sekarang sangat dekat, sampai-sampai lengan mereka yang hanya terhalang kaus tipis saling bersentuhan.
"Mana? Sini gue liat," kata Devian.
Dia menggeser tubuhnya lebih dekat lagi. Aroma parfum *cool water* yang segar bercampur wangi sabun mandi khas Devian langsung menyerbu indra penciuman Aluna. Aluna mendadak kaku. Jantungnya mulai berulah, berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Nih... yang bagian ini," cicit Aluna, menunjuk angka-angka di buku catatannya dengan jari yang sedikit gemetar.
Devian condong ke depan. Tubuhnya yang tegap seolah mengurung Aluna dari samping. Ketika Devian menunjuk baris rumus di kertas, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari pipi Aluna. Aluna bahkan bisa merasakan embusan napas hangat Devian di sekitar leher dan telinganya.
*Aduh, kok mendadak gerah banget ya? Padahal AC apartemennya dingin,* batin Aluna menjerit panik.
"Lo salah ma**kin variabelnya, Aluna. Harusnya lo pake yang dari tabel dua, bukan tabel satu. Nih, liat." Devian mengambil alih pensil dari jemari Aluna. Kulit tangan mereka bergesekan pelan.
*Zapp!*
Aluna merasa seperti tersengat aliran listrik tegangan rendah. Dia refleks menarik tangannya dan menelan ludah dengan susah payah. Fokusnya benar-benar buyar seketika. Alih-alih memperhatikan penjelasan Devian tentang variabel makroekonomi, mata Aluna malah tidak bisa berhenti menatap rahang tegas Devian, bulu matanya yang lentik untuk ukuran seorang cowok, dan bibir tipis kemerahan yang sedang bergerak menjelaskan rumus.
"Paham gak?" tanya Devian tiba-tiba, menoleh menatap Aluna.
Mata mereka langsung bertemu dalam jarak sedekat itu. Jarak yang terlampau minim membuat Aluna bisa melihat pantulan dirinya di manik mata hitam pekat milik Devian. Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara rintik hujan yang mulai mengetuk kaca jendela apartemen lant** lima belas itu.
"A-ah? Iya... paham. Gue paham kok," jawab Aluna gelagapan. Dia langsung memalingkan wajahnya yang kini terasa panas membara. Sumpah, dia pasti sudah merona merah sekarang.
Devian menyipitkan matanya, menatap Aluna dengan curiga. "Muka lo merah. Lo sakit?"
"Enggak! Siapa yang sakit? Enggak kok! Ini... AC lo aja kekecilan, makanya agak panas," elak Aluna asal, sambil mengipasi wajahnya dengan telapak tangan secara berlebihan.
Devian menaikkan sebelah alisnya, ekspresi menyebalkannya kembali muncul. "AC gue suhunya enam belas derajat, Aluna. Lo mau gue set jadi minus biar lo gak kepanasan?"
"Ih, gak usah! Udah, gue mau lanjut ngerjain." Aluna buru-buru menarik kembali bukunya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang makin salah tingkah.
Devian tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menatap Aluna selama beberapa detik dengan tatapan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya berdiri dan berjalan menuju dapur bersih yang berada di sudut ruangan.
Aluna mengembuskan napas lega yang sangat panjang setelah Devian menjauh. Dia menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan kedua tangan. *Sadar, Aluna! Sadar! Jangan baper. Inget, kalian itu cuma pura-pura pacaran biar Sarah dan gengnya gak macem-macem sama lo. Devian itu nolongin lo cuma karena dia kasihan, atau mungkin karena dia emang lagi tanggung jawab aja. Jangan kegeeran!*
Namun, mencoba fokus kembali ke angka-angka di hadapannya sekarang terasa mustahil. Kepalanya masih dipenuhi oleh aroma maskulin Devian dan bagaimana rasanya saat kulit mereka bersentuhan tadi.
Lima menit kemudian, Devian kembali. Dia tidak kembali ke sofanya, melainkan berjongkok di samping Aluna dan meletakkan sebuah cangkir keramik bergambar beruang lucu di atas meja rendah, tepat di sebelah buku catatan Aluna.
Uap hangat mengepul dari cangkir itu, membawa aroma manis cokelat yang sangat pekat dan menenangkan.
"Minum," kata Devian singkat.
Aluna mengerjapkan matanya, menatap cangkir itu lalu beralih ke wajah Devian. "Cokelat hangat?"
"He'eh. Pake marshmallow sedikit di atasnya. Biar otak lo yang konslet itu bisa agak beneran dikit," ujar Devian dengan nada ketus yang biasa, tapi matanya tidak menatap Aluna. Cowok itu malah menatap ke arah TV yang mati, seolah enggan menunjukkan kalau dia sebenarnya peduli.
Aluna menatap cangkir bergambar beruang itu, lalu beralih menatap Devian yang sedang pura-pura cuek. Sudut bibirnya tanpa sadar melengkung membentuk senyuman tipis. Rasa hangat menjalar di dadanya. Devian yang terkenal dingin, ketus, dan ditakuti satu kampus, baru saja membuatkannya secangkir cokelat hangat lengkap dengan marshmallow karena melihatnya stres.
"Makasih ya, Dev," ucap Aluna tulus. Suaranya melembut.
Devian berdeham pelan, seolah salah tingkah sendiri karena kepergok bersikap manis. Dia mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Gak usah lebay. Gue cuma gak mau lo pingsan di apartemen gue karena stres mikirin tugas. Ntar repot urusannya, dikira gue ngapa-ngapain lo."
Aluna terkekeh pelan. "Iya, iya. Dasar cowok gengsian."
Aluna meraih cangkir itu dengan kedua tangannya, menikmati kehangatan menjalar ke telapak tangannya yang dingin akibat AC. Dia menyesap cokelat hangat itu perlahan. Rasanya pas sekali, manis dan menenangkan. Rasa cemas dan ketakutan yang sejak sore menghantuinya karena pesan teror itu perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang begitu pekat di dalam ruangan ini.
Devian tidak kembali ke sofanya. Dia tetap duduk lesehan di karpet, meluruskan kakinya yang panjang sambil bersandar pada pinggiran sofa. Dia memperhatikan Aluna yang sedang menikmati minumannya dengan pipi yang sedikit menggembung.
"Soal pesan yang di perpus tadi..." Devian membuka suara, membuat Aluna menghentikan sesapannya. "...lo gak usah terlalu kepikiran. Gue udah minta anak-anak IT anak buah abang gue buat ngelacak nomornya."
Aluna menurunkan cangkirnya. Tatapannya kembali sendu, menatap gelembung marshmallow yang mulai meleleh di dalam cokelat hangatnya. "Gue cuma takut, Dev. Kalau orang itu beneran tahu soal... kejadian di toilet itu, dan dia nyebarin videonya... beasiswa gue bakal dicabut. Gue gak akan bisa kuliah lagi di sini."
Suara Aluna bergetar di akhir kalimat. Ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah mengecewakan ibunya di kampung yang sudah banting tulang demi membiayai hidupnya di kota ini.
Melihat gurat kecemasan yang begitu jelas di wajah Aluna, dada Devian terasa berdenyut aneh. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk melindungi cewek di hadapannya ini. Dorongan yang melampaui batas dari sekadar kesepakatan "sandiwara pacaran" mereka.
Devian mengulurkan tangannya. Sebelum Aluna menyadarinya, jemari kokoh Devian sudah mendarat di puncak kepala Aluna, mengacak rambut cewek itu dengan sangat pelan dan lembut.
"Gue kan udah bilang, ada gue di sini," ucap Devian dengan suara baritonnya yang kini terdengar sangat dalam dan serius. Tidak ada nada ketus atau main-main lagi di sana. "Gak akan ada yang berani nyentuh lo atau ngerusak beasiswa lo. Selama lo sama gue, lo aman. Paham?"
Aluna terpaku. Sentuhan tangan Devian di kepalanya terasa begitu hangat dan menenangkan, seolah menyalurkan kekuatan besar yang membuat ketakutannya sirna seketika. Dia menatap mata Devian, mencari kebohongan atau tanda-tanda bahwa cowok itu hanya sedang berakting. Tapi yang dia temukan hanyalah ketulusan yang begitu nyata dan dalam.
Batas itu... batas tak kasat mata antara sandiwara yang mereka sepakati dan kenyataan yang sesungguhnya... kini benar-benar mulai runtuh dan mengabur bagi mereka berdua.
"Kenapa lo segitunya nolongin gue, Dev?" tanya Aluna dengan suara hampir berbisik. "Ini... ini kan cuma sandiwara. Lo gak harus sejauh ini."
Devian terdiam. Tangannya perlahan turun dari kepala Aluna, beralih menyelipkan seunt** rambut Aluna yang lepas ke belakang daun telinganya. Sentuhan jarinya di kulit pipi Aluna membuat napas kedua remaja itu tertahan seketika.
Devian memajukan wajahnya sedikit, menatap lekat-lekat ke dalam mata cokelat Aluna yang jernih.
"Lo beneran mikir ini semua cuma sandiwara, Aluna?" tanya Devian dengan nada suara yang berbisik rendah, mengirimkan getaran aneh yang menjalar langsung ke jantung Aluna.
Aluna menahan napasnya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai dia takut Devian bisa mendengarnya di ruangan yang sunyi ini. Dia ingin menjawab, tapi tenggorokannya mendadak sangat kering. Dunianya seolah menyempit, hanya menyisakan dirinya dan Devian di bawah temaram lampu apartemen dan suara hujan yang makin deras di luar sana.
Makin dekat mereka berada, makin salah tingkah pula perasaan yang tumbuh di antara mereka. Dan malam itu, baik Aluna maupun Devian tahu, bahwa batas tipis itu telah resmi hilang.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!