Pagi itu, suasana di ruang Komisi Disiplin (Komdis) terasa begitu sunyi dan dingin. Rendy, sang Wakil Ketua Komdis, duduk bersandar di kursi kerjanya sambil mengetuk-ngetukkan pulpen perak ke permukaan meja kayu yang rapi. Matanya tidak lepas dari layar laptop yang menampilkan beberapa data mahasiswa.
Namun, fokus Rendy sama sekali tidak ada pada angka-angka di layar. Pikirannya melayang pada pemandangan yang dia lihat kemarin sore di area perpustakaan pusat.
Dia melihat Devianβcowok paling bermasalah sekaligus paling populer di kampus iniβberjalan berdampingan dengan Aluna. Dan yang membuat Rendy terkejut adalah cara Devian memperlakukan cewek itu. Devian yang biasanya dingin, ketus, dan acuh tak acuh pada semua orang, tampak begitu protektif di dekat Aluna. Bahkan, Rendy sempat melihat Devian menggandeng tangan Aluna saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Nggak ma**k akal," gumam Rendy pelan.
Aluna adalah mahasiswi teladan. Dia anak beasiswa berprestasi dari Fakultas Ekonomi, tipe mahasiswi yang lurus, rajin, dan selalu menghindari masalah. Sementara Devian? Dia adalah definisi dari kekacauan. Sebagai wakil ketua komdis, Rendy sudah bosan berurusan dengan Devian yang berkali-kali melanggar aturan kampus namun selalu lolos karena pengaruh kekuasaan keluarganya.
Rendy sangat membenci Devian. Baginya, Devian adalah noda di kampus ini yang harus segera disingkirkan. Dan sekarang, Devian tiba-tiba terlihat sangat dekat dengan Aluna.
"Pasti ada yang nggak beres," batin Rendy. Hubungan mereka terlalu mendadak dan tidak alami. Rendy menduga ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka berdua. Sesuatu yang c**up besar hingga bisa membuat seorang Aluna yang penurut mau tunduk di bawah kendali Devian.
Rendy membuka laci mejanya, mengambil sebuah buku catatan kecil berwarna hitam. Di dalamnya, dia mencatat berbagai kejadian ganjil di kampus selama beberapa minggu terakhir. Jari-jarinya berhenti di satu halaman dengan tanggal yang dilingkari tinta merah.
Hari di mana alarm kebakaran di Gedung Teknik berbunyi tanpa alasan yang jelas.
Hari itu, seluruh gedung dievakuasi. Tidak ada kebakaran nyata, melainkan seseorang sengaja menyalakan alarm dari panel darurat di dekat toilet lant** dua. Berdasarkan laporan dari beberapa saksi mata yang dia kumpulkan secara diam-diam, Rendy menemukan satu benang merah yang menarik: Aluna terlihat berlari keluar dari toilet perempuan dengan wajah sangat panik dan pakaian yang sedikit berantakan. Dan hanya selisih beberapa menit setelahnya, Devian terlihat berjalan sant** keluar dari lorong yang sama.
"Toilet Gedung Teknik..." Rendy menyipitkan matanya. "Apa yang kalian berdua lakuin di sana?"
Rendy tersenyum tipis, senyum penuh kemenangan yang tampak dingin. Dia menutup buku catatannya dengan bunyi ketukan yang c**up keras. Sudah saatnya dia mencari tahu sendiri kebenarannya. Jika dia bisa membuktikan bahwa Devian melakukan tindakan melanggar a**sila atau pelanggaran berat di kampus bersama Aluna, dia tidak hanya bisa mendepak Devian, tapi juga menghancurkan reputasi cowok sombong itu untuk selamanya.
***
Sementara itu, di koridor Fakultas Ekonomi yang mulai ramai oleh mahasiswa, Aluna berjalan dengan langkah gont**. Kantung matanya sedikit menghitam karena kurang tidur. Bukan hanya karena tugas makroekonomi semalam yang susahnya minta ampun, tapi juga karena jantungnya yang terus-terusan berdetak tidak keruan setelah kejadian belajar privat di apartemen Devian.
Setiap kali Aluna memejamkan mata, wajah Devian yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya langsung terbayang. Wangi parfum maskulin bercampur kayu manis khas cowok itu seolah masih menempel di indra penciumannya.
"Fokus, Aluna, fokus! Lo ke kampus buat kuliah, bukan buat mikirin cowok rese itu!" gumam Aluna sambil menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri dengan pelan.
Namun, langkah kaki Aluna mendadak terhenti ketika sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya di dekat belokan menuju tangga darurat.
Aluna mendongak. Di hadapannya berdiri Rendy.
Berbeda dengan Devian yang selalu memakai pakaian semi-ka**al yang agak berantakan namun tetap terlihat keren, Rendy selalu tampil rapi dan formal. Almamater kampus selalu melekat sempurna di tubuhnya, lengkap dengan pin Komdis di dada kiri yang berkilau tertimpa cahaya lampu koridor. Senyumnya ramah, tapi di mata Aluna, senyum itu selalu terasa seperti pisau yang siap menusuk dari belakang.
"Pagi, Aluna," sapa Rendy ramah. Terlalu ramah untuk ukuran seorang komdis yang biasanya ditakuti mahasiswa.
"Eh... pagi, Kak Rendy," jawab Aluna canggung. Dia refleks memeluk buku tebal di dadanya lebih erat, seolah buku itu bisa menjadi tameng pelindungnya dari tatapan tajam Rendy.
"Baru mau ke kelas? Atau mau ke perpus lagi?" tanya Rendy, matanya menatap Aluna dengan binar menyelidik yang membuat Aluna merasa tidak nyaman.
"Mau ke kelas, Kak. Ada kelas jam delapan," jawab Aluna jujur. Dia ingin segera menyudahi percakapan ini. Instingnya mendadak berteriak bahaya.
Rendy mengangguk-angguk kecil, lalu melangkah selangkah lebih dekat hingga jarak mereka kini c**up dekat. "Gue perhatiin, belakangan ini lo sering bareng sama Devian, ya? Kemarin sore bahkan lo di perpus sama dia sampai malam. Dan gue denger dari anak-anak, lo juga sering pulang bareng dia?"
*Deg.* Jantung Aluna serasa berhenti berdetak sesaat. Dari mana Rendy tahu? Apa Rendy selama ini memata-mat** mereka?
"Ah, itu... cuma kebetulan aja, Kak. Kita lagi ada tugas kelompok yang harus diselesaiin," bohong Aluna. Suaranya terdengar sedikit bergetar, dan dia mati-matian berusaha mengontrol ekspresi wajahnya agar tidak terlihat panik.
Rendy terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat dingin di telinga Aluna. "Tugas kelompok? Setahu gue, anak jurusan Manajemen kayak Devian nggak ada yang satu kelas matkul umum sama anak Akuntansi kayak lo semester ini. Jadi, kelompok apa yang lo maksud, Aluna?"
Keringat dingin mulai keluar di pelipis Aluna. Dia menelan ludah dengan susah payah. Rendy benar-benar pintar. Cowok ini tidak bisa dibohongi dengan alasan klise yang biasa digunakan mahasiswa lain.
"Itu... tugas lintas jurusan, Kak. Kolaborasi untuk mata kuliah pilihan," Aluna mencoba membela diri seadanya, meskipun dia tahu kebohongannya terdengar sangat rapuh.
Rendy tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Aluna dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan yang membuat Aluna merasa sangat tertekan, seolah semua rahasia terbesarnya sudah terbongkar di depan cowok ini.
"Aluna, lo itu anak baik-baik. IPK lo hampir sempurna, lo juga penerima beasiswa prestasi kebanggaan fakultas. Sayang banget kalau reputasi lo yang bersih itu harus rusak cuma karena lo bergaul sama orang yang salah," kata Rendy dengan nada bicara yang lembut, namun sarat akan ancaman terselubung yang sangat nyata.
"Maksud Kak Rendy apa ya?" tanya Aluna, mencoba memberanikan diri meskipun kedua lututnya sudah terasa lemas seperti jeli.
"Devian. Dia itu bukan cowok yang baik buat lo. Dia trouble maker, egois, dan selalu lolos dari aturan karena status keluarganya yang kaya raya. Dan gue..." Rendy menjeda kalimatnya, lalu tersenyum miring. "...gue paling nggak suka kalau ada orang yang mencoba bermain-main dengan aturan di kampus ini. Terma**k Devian. Dan kalau dia melibatkan lo dalam masalahnya, gue nggak akan segan-segan buat bertindak tegas."
"Saya nggak ada urusan apa-apa sama Kak Devian selain masalah kuliah, Kak," tegas Aluna, mencoba memotong spekulasi Rendy yang semakin liar.
"Oh ya? Bagus deh kalau gitu," ujar Rendy sant**. Dia kemudian menepuk pundak Aluna pelanβsebuah gestur yang justru membuat bulu kuduk Aluna meremang seketika. "Gue cuma mau ngingetin aja sebagai sesama mahasiswa. Oh ya, omong-omong soal beberapa minggu lalu... lo inget nggak waktu ada insiden alarm kebakaran bunyi di Gedung Teknik?"
Mendengar kata "Gedung Teknik", seluruh darah di tubuh Aluna rasanya mendadak surut. Wajahnya seketika pucat pasi. Kejadian memalukan di toilet itu... kejadian di mana dia tertangkap basah oleh Devian kembali berputar di otaknya seperti mimpi buruk yang enggan pergi.
"K-kenapa emangnya, Kak?" tanya Aluna terbata-bata, kehilangan kemampuan untuk bersikap tenang.
"Nggak ada apa-apa sih. Gue cuma lagi ngecek laporan keamanan hari itu. Ada saksi yang bilang kalau mereka liat lo lari keluar dari toilet cewek Gedung Teknik dengan muka panik dan berantakan, nggak lama sebelum alarm bunyi. Dan tebak siapa yang keluar dari area yang sama beberapa detik setelah lo?" Rendy menaikkan sebelah alisnya, menanti reaksi Aluna dengan tatapan penuh kemenangan.
Aluna merasa dunianya runtuh seketika. Rendy tahu. Atau setidaknya, Rendy sedang menyusun kepingan-kepingan informasi yang akan menuntunnya pada kebenaran yang mengerikan itu. Jika Rendy sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam toilet hari itu... reputasi Aluna akan hancur lebur. Dia akan dikeluarkan dari kampus, beasiswanya dicabut, dan orang tuanya di kampung akan menanggung malu seumur hidup karena ulahnya.
"Saya... saya nggak tahu apa-apa, Kak. Hari itu saya cuma kebetulan lewat sana karena ada urusan," ucap Aluna dengan suara yang hampir habis. Air mata kecemasan mulai menggenang di sudut matanya, namun dia sekuat tenaga menahannya agar tidak tumpah di depan Rendy.
Rendy tersenyum puas melihat kepanikan yang terpancar jelas di mata Aluna. "Tenang aja, Aluna. Gue nggak menuduh lo kok. Belum. Gue cuma lagi nyari fakta. Sebagai wakil ketua komdis, tugas gue kan emang menjaga ketertiban dan menyelidiki kejanggalan, kan?"
Sebelum Aluna sempat merespons dan tenggelam lebih dalam dalam ketakutannya, sebuah suara berat yang sangat familier terdengar dari arah belakang mereka.
"Ada urusan apa lo sama cewek gue, Ren?"
Aluna refleks menoleh. Devian berjalan ke arah mereka dengan sant**, kedua tangannya dima**kkan ke dalam saku celana jins hitamnya yang robek di bagian lutut. Jaket kulit hitamnya tersampir di satu bahu. Tatapan matanya yang biasanya acuh tak acuh kini tampak sangat tajam, mengunci sosok Rendy dengan intensitas yang mengintimidasi.
Rendy tidak terlihat terkejut sama sekali. Dia justru berbalik dan menyambut kedatangan Devian dengan senyum menantang yang biasa dia tunjukkan pada rival abadinya itu.
"Cewek lo?" Rendy terkekeh sinis, menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. "Sejak kapan seorang Devian yang terkenal pemilih, arogan, dan nggak tersentuh ini punya pacar dari kalangan mahasiswa biasa kayak Aluna? Setahu gue, tipe cewek lo itu model atau minimal anak pejabat yang bisa menunjang gengsi lo."
Devian berhenti tepat di samping Aluna. Tanpa ragu dan tanpa meminta izin, dia langsung merangkul pundak Aluna dengan posesif, menarik tubuh mungil cewek itu agar merapat ke sisi tubuhnya yang tegap. Sentuhan Devian yang tiba-tiba membuat Aluna sedikit terkesiap, namun di sisi lain, dekapan hangat dan protektif itu memberikan rasa aman yang sangat dia butuhkan di tengah kepanikan ini.
"Bukan urusan lo," jawab Devian dingin, suaranya terdengar datar namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Urus aja urusan komdis lo yang nggak penting itu. Jangan pernah berani-berani lo ganggu Aluna lagi."
"Gue nggak ganggu dia, Dev. Gue cuma lagi ngobrol sant** sebagai sesama mahasiswa. Sekaligus nanya-nanya soal beberapa kejadian menarik di kampus belakangan ini. Lo tahu kan, tugas komdis itu menyelidiki hal-hal yang mencurigakan?" balas Rendy dengan nada memprovokasi yang kentara.
"Mencurigakan?" Devian mendengus remeh, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang merendahkan. "Satu-satunya hal yang mencurigakan di sini adalah muka lo yang keliatan terlalu kepo sama urusan orang lain. Pergi sana sebelum gue hilang kesabaran dan bikin muka rapi lo itu jadi berantakan."
Ketegangan di antara keduanya begitu pekat, seolah ada percikan api tak kasat mata yang siap meledak dan membakar koridor itu kapan saja. Beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat mulai melirik ke arah mereka, berbisik-bisik melihat konfrontasi langsung antara dua cowok paling berpengaruh sekaligus bertolak belakang di kampus tersebut.
Rendy menatap tangan Devian yang masih merangkul erat pundak Aluna, lalu pandangannya beralih kembali ke wajah Devian yang tampak mengeras.
"Gue bakal pergi. Tapi inget satu hal, Dev... sepandai-pandainya lo menyembunyikan sesuatu, cepat atau lambat pasti bakal ketahuan juga. Apalagi kalau menyangkut hal yang terjadi di Gedung Teknik beberapa minggu lalu. Gue nggak akan berhenti sampai gue dapet buktinya," ujar Rendy lambat-lambat, memastikan setiap katanya meresap ke dalam pikiran mereka berdua.
Rendy memberikan tatapan penuh arti terakhir yang sangat dingin pada Aluna yang masih gemetar, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah sant**, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara Devian dan Aluna.
Begitu punggung Rendy benar-benar menghilang di belokan koridor, Aluna langsung melepaskan diri dari rangkulan Devian. Seluruh persendiannya terasa lemas. Dia terpaksa bersandar pada dinding koridor yang dingin agar tidak langsung jatuh terduduk di lant**.
"Dev... gimana ini? Rendy... Rendy kayaknya beneran tahu sesuatu," bisik Aluna dengan suara bergetar hebat. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya menetes juga membasahi pipinya yang pucat. Kepanikannya sudah berada di titik maksimal.
Devian menatap Aluna. Ekspresi wajahnya yang tadinya dingin dan keras saat berhadapan dengan Rendy, kini melunak drastis. Ada sorot kecemasan dan rasa bersalah yang jarang dia tunjukkan di matanya saat melihat air mata mengalir di wajah cewek itu.
Devian menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat. Dia mengulurkan tangannya dan mengusap air mata di pipi Aluna dengan ibu jarinya dengan gerakan yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan sikap kasarnya beberapa saat lalu.
"Tenang, Aluna. Ada gue di sini. Rendy nggak bakal bisa macem-macem sama lo," ucap Devian, mencoba menenangkan Aluna dengan suaranya yang kini terdengar lebih hangat dan meyakinkan.
"Tapi dia nanya soal Gedung Teknik, Dev! Dia bilang ada saksi yang liat gue keluar dari toilet hari itu!" isak Aluna, menatap Devian dengan pandangan putus asa yang mendalam. "Kalau dia sampai tahu kebenarannya... kalau dia sampai punya rekaman CCTV atau bukti lain... gue bisa hancur, Dev. Beasiswa gue... masa depan gue... semuanya bakal hilang."
"Dia nggak punya bukti apa-apa," potong Devian tegas, menggenggam kedua pundak Aluna agar cewek itu fokus menatap matanya. "Percaya sama gue, Aluna. Rendy itu cuma gertak lo doang karena dia tahu lo itu gampang panik dan gampang dibaca. Dia sengaja mancing lo biar lo ketakutan dan akhirnya ngaku sendiri di depan dia."
"Tapi gimana kalau dia terus nyari tahu?" tanya Aluna lirih, air matanya masih terus mengalir. "Dia itu wakil ketua komdis, dia punya akses ke mana aja."
Devian menatap lekat-lekat mata Aluna yang basah. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk melindungi cewek ini, dorongan yang bahkan tidak dia mengerti dari mana asalnya. Dia merapatkan tubuhnya, lalu menggenggam jemari Aluna yang dingin dengan erat.
"Selama lo ada di dekat gue, dan selama lo tetep ikutin kata-kata gue, nggak akan ada satu orang pun di kampus ini yang bisa nyentuh lo. Terma**k Rendy," ucap Devian dengan nada penuh penekanan yang mutlak. "Gue yang bakal beresin Rendy. Lo nggak usah mikirin itu lagi, oke? Sekarang ma**k kelas, dan bersikap seolah nggak ada apa-apa yang terjadi."
Aluna menatap genggaman tangan Devian yang hangat dan kokoh. Perlahan, kepanikannya yang meluap-luap mulai sedikit mereda, digantikan oleh rasa hangat yang aneh di dadanya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Aluna tahu bahwa ancaman Rendy bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Rendy seperti an**** pelacak yang tidak akan berhenti sebelum menemukan mangsanya.
Dan sekarang, permainan kucing dan tikus yang berbahaya ini baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!