Resonansi di Pukul Dua Belas

Bab 1: Bab 1 - Menghadiri peringatan tujuh hari kematian Maya

Pengaturan Membaca

Bau melati yang layu beradu dengan aroma asap hio yang tipis, menciptakan atmosfer yang menyesakkan di ruang tamu keluarga Maya. Suara lantunan doa menggema, rendah dan monoton, merayap di sela-sela dinding seolah-olah rumah ini sendiri sedang berbisik dalam duka. Aku duduk di sudut ruangan, meremas pinggiran rok hitamku hingga jemariku memutih. Di depanku, foto Maya dengan bingkai kayu jati tersenyum lebar—jenis senyuman yang biasanya membuatku merasa aman, tapi kini justru terasa seperti ejekan dari dunia lain.

Tujuh hari. Ternyata waktu hanya butuh tujuh hari untuk membuat keberadaan seseorang terasa seperti mitos.

"Aluna, makanlah sedikit. Kamu pucat sekali."

Suara Ibu Maya memecah lamunanku. Wajah wanita itu tampak sepuluh tahun lebih tua; matanya cekung dengan lingkaran hitam yang kontras dengan kulitnya yang pucat. Aku hanya bisa mengangguk kaku, meski tenggorokanku terasa seperti tersumbat gumpalan kapas. Setiap kali aku mencoba menelan, rasanya ada duri yang menggores dinding kerongkonganku.

"Saya... saya ingin ke kamar Maya sebentar, Tante. Boleh?" suaraku serak, nyaris tak terdengar di antara gumam doa para pelayat.

Ibu Maya mengusap bahuku pelan. "Ma**klah. Tante belum sanggup merapikan apa pun di sana."

Aku bangkit, mengabaikan tatapan beberapa kerabat Maya yang mungkin menganggapku aneh karena memisahkan diri di tengah acara peringatan ini. Langkah kakiku terasa berat, seolah lant** kayu koridor menuju kamar Maya berubah menjadi lumpur hisap. Sebagai mahasiswa musik, aku terbiasa memperhatikan resonansi—cara suara memantul dan mengisi ruang. Namun di sini, di rumah ini, resonansi itu telah mati. Yang tersisa hanyalah keheningan yang datar dan hampa.

Pintu kamar itu berdecit pelan saat kudorong. Aroma vanila dan kayu cendana—parfum favorit Maya—langsung menyergap indra penciumanku. Jantungku berdegup kencang, sebuah dentuman tak beraturan yang mulai memicu rasa sesak di dada. Gejala itu datang lagi. Jemariku mulai gemetar, dan aku harus mencengkeram kusen pintu untuk tetap berdiri tegak.

Kamar itu berantakan dengan cara yang sangat khas Maya. Di atas meja belajarnya, beberapa lembar partitur musik berserakan. Ada cangkir kopi yang sudah mengering di dasarnya, meninggalkan jejak lingkaran cokelat yang permanen. Di sudut ruangan, gitar akustik miliknya bersandar lesu, senar-senarnya mungkin sudah mulai sumbang karena tidak disentuh selama seminggu.

Aku melangkah ma**k dan menutup pintu, memutus suara bising dari ruang tamu. Seketika, sunyi menyergapku seperti pelukan dingin.

Aku duduk di tepi tempat tidurnya yang masih berantakan. Seprai biru mudanya masih menyimpan lekukan tubuhnya, seolah-olah jika aku menutup mata c**up lama, aku akan mendengarnya tertawa dan mengomel tentang dosen komposisi kami yang menyebalkan. Namun, ketika aku membuka mata, yang ada hanyalah debu yang menari-nari di bawah cahaya lampu tidur yang redup.

"Kenapa kamu pergi secepat ini, May?" bisikku pada udara kosong.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah, panas dan menyakitkan. Rasa bersalah mulai menggerogoti logikaku. Aku adalah sahabatnya. Aku yang paling mengenalnya. Namun, di malam kecelakaan itu, aku bahkan tidak tahu dia pergi ke mana. Aku terlalu sibuk dengan serangan panikku sendiri sampai-sampai aku mengabaikan satu pangg***n tak terjawab darinya pukul sebelas malam.

Logikaku mengatakan itu murni kecelakaan. Rem yang blong, jalanan licin setelah hujan, dan tiang listrik yang tidak bersalah. Namun, hatiku menolak percaya. Maya adalah pengemudi yang sangat berhati-hati, hampir pada level paranoit.

Aku meraih ponselku dari saku, berniat memutar playlist lagu-lagu klasik yang biasa kami dengarkan untuk menenangkan sarafku yang mulai tegang. Namun, saat layar ponsel menyala, aku menyadari sesuatu yang aneh. Sinyal ponselku penuh, tapi ada perasaan statis yang aneh di udara, seperti distorsi suara sebelum feedback yang m****akkan telinga.

Aku melirik jam di dinding kamar Maya. Jarum pendeknya nyaris menyentuh angka dua belas. Jarum detiknya berdetak—*tik, tik, tik*—setiap detakan terasa seperti hantaman palu di kepalaku.

Pukul 23:59.

Keheningan di kamar itu mendadak terasa berbeda. Bukan lagi hampa, melainkan penuh sesak, seolah-olah molekul udara di sekitarku memadat. Bulu kudukku berdiri. Aku merasa seperti sedang diawasi, bukan oleh manusia, melainkan oleh sesuatu yang tak kasat mata yang keluar dari sela-sela bayangan furnitur.

Tepat saat jarum detik bersatu di angka dua belas, ponselku bergetar hebat. Getarannya begitu kuat hingga hampir terlepas dari genggamanku.

Sebuah notifikasi muncul di layar yang terang.

*Satu Pesan Suara Baru.*

Napas pembukaku tertahan di tenggorokan. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat nama pengirimnya. Namanya tertera jelas di sana, lengkap dengan foto profil kami berdua yang sedang tertawa di kantin kampus setahun yang lalu.

*Maya.*

Tanganku gemetar hebat saat aku menyentuh layar. Ini tidak mungkin. Ponsel Maya ada di tangan polisi sebagai barang bukti, dan dia... dia sudah dikuburkan tujuh hari yang lalu di bawah tanah yang dingin.

Dengan keberanian yang dipaksakan oleh rasa putus asa, aku menekan tombol *play*.

Suara statis yang tipis terdengar selama dua detik pertama, seperti desis angin di lorong kosong. Kemudian, sebuah suara muncul. Suara yang sangat kukenal, namun terdengar lebih berat, seolah-olah dia berbicara dari balik dinding kaca yang tebal.

*"Aluna... kalau kamu dengar ini, berarti aku sudah tidak ada. Jangan menangis, Luna. Simpan air matamu, karena apa yang akan aku katakan... akan membuatmu berharap aku benar-benar mati karena kecelakaan biasa."*

Suara itu terputus. Sunyi kembali meraja, lebih mencekam dari sebelumnya. Di tengah remang kamar, aku menyadari bahwa kehidupan tenang yang kupaksakan selama tujuh hari ini baru saja hancur berkeping-keping. Dan di luar sana, di balik pintu kamar yang tertutup, aku mulai mendengar langkah kaki seseorang yang berhenti tepat di depan kamar Maya.

Seseorang yang tidak ingin aku mendengarkan pesan itu sampai selesai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca