Jarot jam dinding di kamar kosku terasa seperti dentuman palu yang menghantam paku ke dalam peti mati. Setiap detiknya menyiksa. Aku duduk meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lutut erat-erat hingga buku-buku jariku memutih. Ponsel di hadapanku menyala terang, menampilkan angka 23:59. Napasku memendek, sebuah kebiasaan buruk yang selalu muncul saat serangan kecemasan mulai mengintip dari balik pintu kesadaranku.
Tepat saat angka di layar berganti menjadi 00:00, getaran pendek itu datang. *Zzt.*
Satu notifikasi pesan ma**k dari nomor Maya. Jantungku mencelos. Meski ini sudah malam kelima, rasa mual yang muncul karena ngeri tetap tidak berkurang. Tanganku gemetar saat menekan tombol putar. Keheningan kamar segera robek oleh suara statis tipis, disusul helaan napas yang sangat kukenaliβnapas Maya yang selalu terdengar sedikit terengah karena asma ringannya.
"Aluna..." Suara Maya terdengar parau, seolah dia baru saja selesai menangis atau mungkin kelelahan karena berteriak. "Aku baru saja keluar dari ruangannya. Lorong kampus sudah sepi, tapi aku merasa ada ribuan mata yang menatapku dari balik celah pintu kelas yang terkunci."
Aku menahan napas. Suara gesekan kain terdengar, mungkin Maya sedang merapatkan jaketnya.
"Jangan pernah ma**k ke ruangan itu sendirian, Al. Jangan pernah percaya pada senyum kebapakan yang sering dia berikan di depan kelas. Pak Danu... dia bukan orang yang kita kira. Dia tahu tentang file itu, Al. Dia tahu apa yang mereka lakukan padaku, dan dia membiarkannya karena dia punya kepentingan di sana. Kalau sesuatu terjadi padaku, cari laci bawah di meja kerjanya. Ada sesuatu yang dia sembunyikan di balik tumpukan skripsi mahasiswa. Tolong, Al..."
Rekaman itu berakhir dengan suara pintu yang terbanting keras di latar belakang, membuatku tersentak hingga hampir menjatuhkan ponsel.
Pak Danu? Kaprodi Musik yang selalu memuji teknik pianoku? Pria paruh baya yang selalu terlihat bijaksana dengan kacamata minusnya dan tutur kata yang lembut? Pikiranku berputar hebat. Pak Danu adalah orang yang mengurus beasiswa penuhku. Dia adalah sosok mentor yang selama ini kuanggap sebagai pelindung di kampus ini.
Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali aku menutup mata, aku melihat wajah Pak Danu yang tersenyum, namun perlahan kulit wajahnya mengelupas, menyingkap sesuatu yang gelap dan busuk di bawahnya.
***
Keesokan paginya, lingkungan kampus terasa asing. Suara denting piano dari ruang latihan yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti jeritan yang terputus-putus. Aku berjalan menyusuri koridor menuju ruang dosen dengan langkah yang berat. Tanganku berkeringat dingin, membasahi map tugas yang kupeluk erat di dada.
Aku harus tahu. Aku harus memastikan apakah suara Maya semalam hanyalah manifestasi dari ketakutannya yang berlebihan, ataukah sebuah peringatan nyata.
Pintu kayu jati dengan papan nama "Dr. Danu Atmadja, M.Sn." itu tampak mengintimidasi. Aku mengetuk pelan.
"Ma**k," suara bariton yang akrab itu menyahut.
Pak Danu duduk di balik meja besarnya yang rapi. Aroma kopi hitam dan parfum kayu cendana memenuhi ruangan. Ia mendongak, tersenyum tipis saat melihatku. "Ah, Aluna. Ada apa? Tugas komposisimu ada masalah?"
Aku duduk di kursi di hadapannya, berusaha mengatur napas agar tidak terdengar memburu. "Bukan, Pak. Saya... saya hanya ingin bertanya sesuatu tentang Maya."
Gerakan tangan Pak Danu yang hendak meraih cangkir kopi terhenti sejenak. Hanya sepersekian detik, namun pendengaran tajamku menangkap perubahan ritme napasnya. "Maya? Bukankah semuanya sudah jelas, Aluna? Kecelakaan itu... kita semua berduka. Tapi hidup harus terus berjalan, bukan?"
"Saya merasa ada yang belum selesai, Pak," ujarku, suaraku sedikit bergetar. "Beberapa hari sebelum dia... pergi, Maya tampak sangat ketakutan. Dia menyebut-nyebut soal sebuah file dan... ruangan ini."
Suasana di ruangan itu mendadak berubah. Suara pendingin ruangan yang mendengung seolah naik satu oktav, menciptakan resonansi yang tidak nyaman di telingaku. Pak Danu meletakkan cangkir kopinya dengan dentingan keras yang disengaja ke atas meja. Ia melepas kacamatanya, mengelapnya perlahan dengan kain mikrofiber.
"Aluna," suaranya kini lebih rendah, kehilangan nada hangat yang biasanya ada. "Kamu adalah salah satu mahasiswa terbaik di sini. Beasiswa prestasi yang kamu terima itu sangat kompetitif. Banyak orang di luar sana yang bersedia melakukan apa saja untuk berada di posisimu sekarang."
Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatapku tepat di mata. Tatapannya dingin, setajam pisau bedah. "Kesehatan mentalmu akhir-akhir ini sepertinya sedang tidak stabil. Saya dengar kamu sering berhalusinasi dan bicara sendiri? Itu bisa menjadi catatan buruk bagi komite beasiswa. Mereka tidak ingin menginvestasikan dana pada seseorang yang... katakanlah, secara psikologis tidak mampu menyelesaikan studi."
Jantungku berdegup kencang di tenggorokan. Ini bukan sekadar nasihat. Ini adalah ancaman.
"Saya hanya bertanya, Pak," bisikku.
"Dan saya hanya mengingatkan," potongnya cepat. "Fokuslah pada latihan resitalmu. Jangan biarkan imajinasi liar tentang sahabatmu yang sudah tiada itu menghancurkan masa depanmu. Jika saya mendengar kamu mengungkit-ungkit nama saya lagi dalam spekulasi konyolmu, saya tidak akan segan-segan menandatangani surat pencabutan beasiswamu sore ini juga. Apakah kita saling memahami, Aluna?"
Aku merasa oksigen di ruangan itu mendadak habis. Aku mengangguk kaku, tidak mampu mengeluarkan suara. Tanganku gemetar hebat saat aku berdiri dan bergegas keluar dari ruangannya.
Begitu pintu tertutup, aku bersandar di dinding koridor, berusaha meredam serangan panik yang mulai menyerang. Di saat itulah, telingaku menangkap sesuatu. Karena pintu ruangannya tidak tertutup rapat, aku mendengar suara laci meja yang ditarik dengan kasarβlaci bawah, persis seperti yang dikatakan Maya dalam *voice note*.
Lalu, suara kertas yang diremas dan sebuah geraman rendah yang penuh amarah keluar dari mulut Pak Danu.
"Dasar bocah si****," desisnya pelan, hampir tak terdengar bagi orang biasa, tapi sangat jelas di telingaku.
Aku tersadar sepenuhnya. Pak Danu tidak hanya menyembunyikan sesuatu; dia sedang menjaga sesuatu agar tetap terkubur bersama Maya. Dan sekarang, akulah target berikutnya yang harus dia bungkam.
Saat aku melangkah menjauh, ponsel di saku celanaku bergetar sekali lagi. Bukan tengah malam, tapi sebuah pesan teks ma**k dari nomor yang tidak dikenal.
*Jangan cari tahu apa yang ada di laci itu jika kamu masih ingin melihat matahari besok pagi.*
Aku menoleh ke belakang, lorong itu kosong, namun aku merasa sepasang mata sedang mengint**ku dari balik kegelapan setiap sudut bangunan tua ini. Aku tidak lagi hanya berhadapan dengan hantu Maya, tapi juga monster nyata yang memakai setelan jas rapi.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!