Aroma sisa-sisa bunga lili yang mulai membusuk di sudut kamar masih menusuk indra penciumanku, bercampur dengan bau debu dan sisa parfum lavender milik Maya yang mulai memudar. Aku menutup pintu kamar itu pelan, membiarkan bunyi klik kunci bergema di gendang telingaku seperti dentuman drum di ruangan hampa. Setiap inci kamar ini adalah museum duka. Poster konser yang mulai menguning di tepinya, jajaran novel yang tertata rapi, dan sebuah piano tegak di sudut ruangan yang kini membisu.
Suara Maya dari *voice note* tadi malam masih terngiang, berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak. *“Di bawah pijakanmu yang goyah, Al, di sana aku menyimpan apa yang tidak bisa kukatakan.”*
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang mulai mengg***. Gejala cemas ini selalu datang di saat yang tidak tepat—keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku, dan dadaku terasa seolah dihimpit beban berton-ton. Sebagai mahasiswa musik, aku terbiasa mendengarkan harmoni, tetapi saat ini, ritme tubuhku sendiri sedang berada dalam disonansi yang kacau.
Aku mulai melangkah kecil, mengetuk-ngetuk lant** kayu m***ni kamar Maya dengan ujung jari kakiku. Aku memejamkan mata, mengandalkan pendengaranku yang tajam untuk mencari perbedaan resonansi. *Tuk. Tuk. Tuk.* Suara yang padat. *Tuk. Tuk. Tok.*
Langkahku terhenti di dekat kaki tempat tidur, tepat di bawah meja rias yang permukaannya sudah tertutup debu tipis. Suaranya berbeda—lebih nyaring, lebih kosong. Ada rongga di bawah sana.
Dengan jemari yang gemetar, aku berlutut. Kusingkirkan karpet bulu abu-abu yang menutupi bagian itu. Di sana, aku melihat salah satu bilah kayu lant** tampak sedikit lebih renggang dibandingkan yang lain. Aku merogoh tas selempangku, mengeluarkan penggaris besi yang sengaja kubawa. Dengan tenaga yang tersisa, aku menyelipkan ujung penggaris ke celah sempit itu dan mengungkitnya.
Kayu itu mengerit, sebuah protes nyaring dalam kesunyian malam. Gigiku mengatup rapat, takut suara itu akan memanggil ibunda Maya yang mungkin sedang terjaga di lant** bawah. Setelah beberapa kali percobaan, bilah kayu itu akhirnya terangkat, memperlihatkan sebuah ruang gelap kecil di baliknya.
Di dalam sana, dibungkus kain beludru hitam yang lembap, terletak sebuah buku harian bersampul kulit tua.
Tanganku bergetar saat meraih buku itu. Rasanya dingin, seolah-olah aku baru saja menyentuh potongan es dari masa lalu. Aku duduk bersandar pada kaki tempat tidur, memeluk lututku, dan perlahan membuka lembar demi lembar.
Awalnya, aku mengharapkan unt**an kata—puisi sedih, keluh kesah tentang tugas kuliah, atau mungkin rahasia tentang pria yang ia sukai. Namun, apa yang kulihat justru membuat seluruh sendiku membeku.
Tidak ada tulisan di sepuluh halaman pertama. Yang ada hanyalah sketsa-sketsa hitam menggunakan tinta pekat yang tampak berantakan namun sangat det**l. Di satu halaman, terdapat gambar seorang wanita yang mulutnya dijahit dengan kawat berduri, matanya melotot lebar penuh ketakutan. Di halaman lain, ada sketsa sesosok bayangan tanpa wajah yang berdiri di belakang seorang gadis yang sangat mirip denganku—aku mengenali syal rajut yang sering kupakai.
"Maya... apa ini?" bisikku lirih, suaraku pecah.
Ini bukan Maya yang kukenal. Maya-ku adalah gadis yang ceria, yang selalu tertawa paling keras saat kami berlatih ansambel di kampus. Maya-ku adalah cahaya. Tapi sketsa-sketsa di tanganku ini menggambarkan kegelapan yang begitu pekat, seolah-olah dia sedang tenggelam di dasar sumur yang paling dalam.
Aku terus membalik halaman dengan napas yang semakin memburu. Sketsanya semakin gelap. Ada gambar tangan-tangan hitam yang muncul dari layar ponsel, mencengkeram leher seseorang hingga tampak membiru. Di bawah gambar itu, ada tulisan tangan yang sangat kecil, hampir tidak terbaca, namun sanggup menyayat hatiku: *Mereka melihatku, tapi mereka tidak memandangku. Mereka mendengarku, tapi tidak ada yang menyimak.*
Lalu, aku sampai pada sebuah halaman yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Itu adalah sketsa sebuah koridor rumah sakit yang sangat kukenali—tempat aku dirawat karena serangan panik hebat tahun lalu. Di tengah koridor itu, ada sesosok pria yang berdiri membelakangi pengamat. Pria itu mengenakan jaket yang sangat familier, jaket dengan logo klub musik yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di lingkaran pertemanan kami.
Di bawah sketsa itu, Maya menuliskan satu kalimat dengan tinta merah yang sudah mengering: *Dia bukan pelindungmu, Aluna. Dia adalah sutradara dari semua kebisingan di kepalamu.*
Cahaya lampu kamar tiba-tiba berkedip. Aku tersentak, hampir menjatuhkan buku itu. Di saat yang sama, ponselku di atas lant** bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan suara ma**k. Pukul 00:00 tepat.
Tanganku yang berkeringat meraih ponsel itu. Aku ragu, namun rasa ingin tahu—dan rasa takut yang sudah terlanjur memuncak—mendorongku untuk menekan tombol *play*.
Suara Maya terdengar lagi, tapi kali ini bukan suara yang tenang seperti sebelumnya. Suaranya parau, terengah-engah, seolah dia sedang berlari menghindari sesuatu.
*"Aluna... kalau kamu sudah memegang buku itu, jangan lihat ke belakang. Aku mohon, jangan pernah menoleh kalau kamu mendengar suara langkah kaki di koridor sekarang. Dia tahu kamu di sana. Dia selalu tahu."*
Bulu kudukku berdiri tegak. Di tengah kesunyian kamar yang mematikan, telingaku yang sensitif menangkap sebuah bunyi dari luar pintu.
*Kriitt...*
Suara lant** kayu di koridor depan kamar Maya mengerit. Seseorang sedang berjalan mendekat, sangat pelan, seolah berusaha menyelaraskan langkahnya dengan detak jantungku yang kian tak beraturan. Dan aku baru sadar, aku lupa mengunci pintu kamar dari dalam setelah tadi membukanya dengan kunci cadangan.
Gagang pintu mulai bergerak turun secara perlahan.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!