Jarum jam dinding di kamar Aluna seolah berhenti berdetak sesaat sebelum kedua jarum itu tumpang tindih di angka dua belas. Aluna duduk meringkuk di atas tempat tidur, memeluk lututnya erat-erat hingga persendiannya memutih. Cahaya dari layar ponselnya adalah satu-satunya sumber cahaya yang membelah kegelapan kamar, memantulkan bayangan pucat di wajahnya yang kian tirus.
Tepat pukul 00:00, getaran pendek di telapak tangannya membuat jantungnya mencelos. Sebuah notifikasi muncul. Tanpa nama, hanya deretan angka yang kini sudah ia hafal di luar kepala. Nomor Maya.
Aluna menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti disumpal kapas kering. Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol putar.
Suara desis angin menjadi pembuka, disusul suara gesekan kain yang familiar. Lalu, suara itu munculβlembut, sedikit serak, seolah Maya sedang berbisik tepat di samping telinga Aluna.
*"Al... kamu masih ingat malam di vila itu, kan? Liburan semester lalu. Dinginnya Puncak, bau pinus yang basah, dan botol-botol vodka yang kita curi dari lemari ayah Satria."*
Aluna memejamkan mata. Ingatan itu datang seperti hantaman ombak yang tiba-tiba. Ia bisa merasakan dinginnya udara pegunungan merayap di kulitnya. Ia ingat tawa mereka yang pecah di teras kayu, kepulan uap dari mulut mereka saat berbicara, dan rasa pahit alkohol yang membakar kerongkongannya. Namun, ada bagian yang kabur. Seperti kaset rusak yang berderit dan melompat-lompat.
*"Malam itu semua orang mabuk, Al. Tapi kamu... kamu yang paling parah,"* suara Maya dalam rekaman itu terjeda sejenak, ada helaan napas panjang yang terdengar berat. *"Kamu bilang kamu ingin melupakan semuanya. Kamu bilang kamu benci menjadi 'si pendengar yang baik' karena telingamu menangkap terlalu banyak kebohongan. Lalu, kamu berdiri di pinggir balkon. Kamu tertawa, tapi matamu... matamu kosong."*
Napas Aluna mulai memburu. Jantungnya berdegup dengan irama yang kacau, persis seperti simfoni yang kehilangan konduktornya. Sebagai mahasiswa musik, ia selalu bisa mengenali ritme, tapi ritme tubuhnya sendiri saat ini menakutkan.
Ia mencoba menggali lebih dalam ke dalam ingatannya. Ia ingat Satria yang berteriak meminta musik dikencangkan. Ia ingat Raka yang tertidur di sofa. Tapi balkon itu? Ia hanya ingat bayangan hitam yang meliuk-liuk di bawah sinar bulan dan rasa pusing yang hebat.
"Apa yang aku lakukan, Maya?" bisik Aluna pada kegelapan kamar, seolah sahabatnya itu bisa menjawab langsung.
Suara Maya di *voice note* berlanjut, volumenya sedikit menurun, lebih intim dan penuh luka. *"Aku menarikmu kembali dari balkon, Al. Kita jatuh ke lant** kayu yang dingin. Dan saat itulah, dalam igauan mabukmu, kamu membisikkan sesuatu yang nggak seharusnya aku dengar. Sesuatu tentang apa yang terjadi di laboratorium musik setahun yang lalu. Sesuatu yang membuatku sadar bahwa selama ini, sahabat terbaikku menyimpan rahasia yang jauh lebih gelap dari semua rahasia yang aku punya."*
Aluna tersentak. Kepalanya mulai berdenyut menyakitkan. Laboratorium musik? Setahun lalu? Potongan-potongan gambar mulai berkelebat: kunci yang berputar, keheningan yang menyesakkan di antara deretan piano, dan aroma parfum maskulin yang tajam yang selalu membuatnya mual.
Ia memegangi kepalanya, mencoba menghentikan pecahan ingatan itu agar tidak melukainya lebih dalam. "Bukan... itu bukan aku," gumamnya tak sadar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Di dalam rekaman, terdengar suara tawa kecil Maya yang getir. *"Malam itu di vila, aku berjanji akan menjagamu, Al. Aku berjanji akan mengunci rahasia itu rapat-rapat. Tapi aku salah. Rahasia itu bukan hanya milikmu, kan? Ada orang lain di vila malam itu yang nggak mabuk. Ada orang lain yang melihat kita di balkon. Ada orang lain yang mendengar bisikanmu."*
Aluna membeku. Tangannya yang memegang ponsel gemetar hebat. Ia mencoba mengingat siapa saja yang ada di sana selain Satria dan Raka. Ada mahluk-mahluk bayangan di sudut memorinya yang tak kunjung jelas wajahnya.
Tiba-tiba, suara di *voice note* itu berubah menjadi tajam, hampir seperti peringatan. *"Coba ingat lagi, Aluna. Siapa yang mengambilkanmu segelas air setelah kamu tenang? Siapa yang mengantarmu ke kamar dan mengunci pintunya dari luar? Kamu pikir kamu pingsan karena alkohol? Tidak, Al. Seseorang ingin kamu bungkam malam itu karena mereka tahu... kamu sudah mulai bicara."*
*Klik.*
Pesan suara itu berakhir.
Keheningan yang menyusul terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah-olah oksigen di kamar itu baru saja disedot keluar. Aluna terengah-engah, tangannya mencengkeram sprei tempat tidur. Pikirannya berputar liar. Jika ia tidak pingsan karena alkohol, lalu karena apa? Dan siapa yang menguncinya?
Tiba-tiba, telinga sensitif Aluna menangkap sebuah bunyi. Bukan dari ponselnya, bukan pula dari luar jendela.
*Kring... kring...*
Suara gesekan logam di balik pintu kamarnya. Seperti seseorang sedang mencoba mema**kkan kunci cadangan ke dalam lubang pintu. Aluna menahan napas, matanya membelalak menatap gagang pintu kamarnya yang mulai bergerak turun perlahan, sangat perlahan, seolah sang tamu tak diundang itu tahu bahwa Aluna sedang mendengarkan dengan penuh ketakutan di dalam sana.
Gagang pintu itu berderit pelan, dan dari celah bawah pintu, sebuah bayangan panjang memotong cahaya lampu lorong yang ma**k ke kamarnya. Seseorang berdiri di sana. Di balik pintu. Menunggu.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!