Udara di kawasan Puncak selalu menusuk, tetapi kali ini, dingin yang merayap di tengkukku terasa berbeda. Bukan sekadar suhu udara yang turun, melainkan aura dari bangunan tua di depanku yang seolah menolak kehadiranku. Vila Cendana berdiri kaku di balik pagar besi yang berkarat, persis seperti dalam ingatanku, namun tanpa tawa Maya yang biasanya memecah kesunyian tempat ini.
Aku meremas tali ranselku hingga jemariku memutih. Suara Maya dari *voice note* tadi malam masih terngiang, berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak di kepalaku.
*"Lun, ingat gudang di bawah tangga Vila Cendana? Aku menyimpan sesuatu di sana. Sesuatu yang nggak pernah bisa kukatakan langsung padamu. Maaf, Lun. Maaf karena aku pengecut."*
Langkah kakiku di atas kerikil terdengar sangat nyaring, setidaknya bagi pendengaranku yang terlatih mengenali setiap desibel suara. Sebagai mahasiswa musik, aku selalu peka terhadap ritme, dan saat ini, detak jantungku sedang memainkan tempo *prestissimo*—cepat dan tidak beraturan. Aku benci perasaan ini. Perasaan seperti ada ribuan semut yang merayap di bawah kulitku, gejala kecemasan yang selalu muncul di saat yang paling tidak tepat.
Aku mendorong pintu kayu jati yang besar itu. Bunyi deritnya terdengar seperti rintihan panjang yang menyakitkan telinga. Interior vila tertutup kain-kain putih yang menutupi furnitur, membuat ruangan itu tampak seperti kumpulan hantu yang sedang membeku. Debu menari-nari di bawah celah cahaya matahari yang ma**k lewat jendela-jendela tinggi.
"Maya?" bisikku lirih, meski aku tahu tidak akan ada jawaban.
Aku berjalan menyusuri lorong menuju bagian belakang vila. Setiap langkahku menimbulkan gema yang aneh di langit-langit yang tinggi. Aku berhenti sejenak di depan sebuah foto besar yang masih tergantung di dinding. Kami berlima—aku, Maya, dan tiga teman lainnya—tersenyum lebar di depan teras vila ini musim panas lalu. Wajah Maya terlihat sangat cerah, tetapi sekarang aku baru menyadari ada gurat kesedihan di matanya yang selama ini luput dari perhatianku. Bagaimana bisa aku begitu buta?
Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa bersalah yang kembali menghimpit dada. Fokus, Aluna. Fokus.
Pintu gudang itu berada di bawah tangga melingkar. Pintunya kecil, hampir tersembunyi oleh bayangan tangga. Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel untuk menyalakan senter. Cahaya putihnya menyambar debu-debu tebal yang beterbangan saat aku memutar kenop pintu.
*Ceklek.*
Pintunya tidak terkunci. Bau apek, kayu lembap, dan kapur barus langsung menyerbu indra penciumanku. Aku melangkah ma**k dengan ragu. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan kardus-kardus tua, tumpukan kursi lipat, dan peralatan berkebun yang sudah berkarat.
Aku mulai menggeledah. Tanganku gemetar saat memindahkan satu per satu kotak. Di mana Maya menyembunyikannya? Pikiranku mulai berpacu dengan skenario-skenario buruk. Bagaimana jika ada orang lain yang sudah mengambilnya? Bagaimana jika ini semua hanya bagian dari halusinasiku karena terlalu berduka?
Tiba-tiba, telingaku menangkap sesuatu. Sebuah frekuensi yang tidak asing.
*Kriet...*
Itu bukan suara angin. Itu adalah suara gesekan kayu di atas lant** yang terdengar dari arah pintu ma**k gudang. Aku membeku. Napas kualirkan sepelan mungkin, mencoba menajamkan pendengaranku.
Ada suara langkah kaki. Sangat pelan, hampir menyerupai bisikan, tapi aku tahu itu ada. Seseorang sedang berjalan di koridor luar dengan penuh kehati-hatian. Ritmenya tidak konstan, seolah orang itu sengaja berhenti di setiap langkah untuk memastikan aku tidak mendengarnya.
"Siapa di sana?" tanyaku, suaraku bergetar hebat. Aku benci betapa rapuhnya suaraku terdengar saat ini.
Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang menulikan.
Aku bergegas berbalik menuju pintu, namun sebelum aku sempat mencapainya, sebuah bayangan melintas cepat.
*BAM!*
Pintu gudang itu dibanting dengan kekuatan yang luar biasa dari luar. Aku terlonjak mundur, hampir terjatuh ke tumpukan kursi kayu. Gelap gulita langsung menelan segalanya saat senter ponselku terlepas dari genggaman dan meluncur ke bawah lemari tua.
"Hei! Buka pintunya!" teriakku sambil menggedor-gedor kayu pintu yang kasar.
Aku mendengar suara kunci diputar. *Klik.* Dua kali.
"Buka! Ini nggak lucu! Siapa pun di sana, tolong buka pintunya!"
Aku memukul pintu itu dengan seluruh tenagaku, mengabaikan rasa perih yang mulai menjalar di telapak tanganku. Namun, yang terdengar kemudian justru membuat darahku membeku. Suara langkah kaki itu kembali terdengar, tetapi kali ini menjauh dengan sant**, seolah-olah orang di luar sana baru saja menyelesaikan sebuah tugas sederhana.
Kesunyian kembali datang, lebih pekat dari sebelumnya.
Aku meraba-raba lant** yang dingin dan kotor, mencari ponselku. Napasku mulai pendek-pendek—gejala sesak napas akibat panik mulai menyerang. Ruangan ini terasa semakin menyempit, dinding-dindingnya seolah bergerak maju ingin menghimpitku. Aku memejamkan mata, mencoba mengatur napas seperti yang diajarkan terapisku, namun bayangan Maya yang tergeletak di jalanan basah malam itu terus muncul.
*Jangan sekarang, Aluna. Jangan panik sekarang.*
Tiba-tiba, ponselku yang tergeletak di suatu tempat di bawah lemari bergetar. Cahaya layarnya berkedip-kedip di kegelapan, memantul di debu-debu lant**. Ada notifikasi ma**k.
Dengan tangan gemetar, aku merangkak dan berhasil meraih ponsel itu. Jantungku hampir copot saat melihat jam di layar ponsel.
00:00.
Satu pesan suara baru dari nomor Maya.
Aku menekan tombol *play* dengan jempol yang basah oleh keringat dingin. Di dalam gudang yang gelap dan terkunci itu, suara Maya kembali terdengar, memenuhi ruangan sempit itu dengan bisikan yang terdengar seperti peringatan terakhir.
*"Aluna... kau seharusnya tidak datang ke sana sendirian. Dia tahu kau akan datang. Dia selalu tahu."*
Di balik pintu yang terkunci, aku mendengar suara goresan halus di kayu. Seseorang—atau sesuatu—masih ada di sana, berdiri tepat di balik pintu, mendengarkan suara Maya bersamaku.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!