Lant** kamar yang dingin terasa seperti es yang merambat naik melalui telapak kakiku, tetapi aku tidak beranjak. Aku duduk meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lutut, sementara jarum jam dinding berdetak dengan ritme yang memuakkan. Kamar ini gelap, hanya diterangi oleh pendar biru dari layar ponsel yang tergeletak di atas bantal.
*00:00.*
Getaran pendek itu membuat jantungku mencelos. Sebuah notifikasi muncul. Tanpa nama, hanya deretan angka yang sudah kuhafal di luar kepala. Pesan suara ketujuh. Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen yang terasa tipis mengisi paru-paruku yang sesak. Jemjemiku gemetar saat meraih ponsel itu. Dingin permukaannya seolah menyengat kulitku.
Aku menekan tombol *play*.
Awalnya hanya ada *white noise*βsuara statis yang mendesis lembut seperti gesekan kain. Lalu, napas berat Maya terdengar. Dia tidak berbicara pada mikrofon seperti biasanya. Kali ini, ponsel itu tampaknya disembunyikan di dalam saku atau tas. Suaranya teredam, jauh, tapi aku bisa menangkap getaran ketakutan dalam setiap embusannya.
"Aku tidak bisa terus begini," suara Maya terdengar parau, nyaris berbisik. Dia sedang menangis.
Lalu, sebuah suara lain ma**k. Suara pintu yang tertutup rapat, diikuti ketukan hak sepatu yang beradu dengan lant** marmer. *Tik. Tik. Tik.* Iramanya tegas, dingin, dan penuh otoritas. Langkah kaki itu berhenti, dan keheningan yang mencekam menyelimuti rekaman itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
"Kamu pikir kamu punya pilihan, Maya?"
Aku tersentak. Suara wanita itu. Ada sesuatu yang aneh yang terjadi pada tubuhku saat mendengar frekuensi itu. Bulu kudukku meremang bukan karena takut pada hantu, melainkan karena pengenalan yang instan. Sebagai mahasiswa musik, telingaku dilatih untuk membedakan tekstur suaraβtimbre, resonansi, dan intonasi. Dan suara ini... suara ini memiliki *mezzosopran* yang berat, dengan penekanan tajam pada setiap akhir kalimat.
"Ini salah," isak Maya di dalam rekaman. "Aluna tidak boleh tahu. Dia tidak akan pernah memaafkanku jika dia tahu apa yang kalian lakukan."
"Aluna tidak perlu tahu apa pun, asalkan kamu menutup mulutmu yang cantik itu," balas suara wanita itu. Nada bicaranya tenang, hampir terlalu tenang, seperti air telaga yang menyembunyikan predator di dasarnya. "Jangan bersikap seolah-olah kamu adalah martir di sini. Kamu sudah mengambil bagianmu, bukan? Kamu menikmati fasilitasnya. Kamu menikmati kedekatan itu."
Aku merasakan mual yang hebat menghantam ulu hatiku. Aku mengenal jeda di antara kalimat-kalimat itu. Aku mengenal cara wanita itu menarik napas pendek sebelum memberikan tekanan pada kata 'Aluna'. Itu adalah cara yang sama saat seseorang memanggil namaku di pagi hari untuk s****an, atau saat menegurku karena membiarkan alat musikku berdebu.
"Aku akan mengatakannya pada Aluna," ancam Maya, suaranya naik satu oktav, pecah oleh keputusasaan. "Aku akan membongkar semuanya. Tentang perundungan itu, tentang uangnya, tentang... tentang keterlibatan Anda."
*Plaakk!*
Suara tamparan itu begitu keras hingga aku refleks melempar ponselku ke atas ka**r. Napas Maya tercekat. Keheningan kembali meraja, hanya menyisakan suara isak tangis yang tertahan.
"Coba saja," suara wanita itu merendah, kini menjadi bisikan yang lebih tajam dari sembilu. "Satu kata saja keluar dari mulutmu, dan aku akan memastikan Aluna membencimu lebih dari dia membenci siapa pun di dunia ini. Aku akan menghancurkan citramu di depannya sampai dia merasa jijik pernah menganggapmu sebagai sahabat. Kamu tahu aku bisa melakukannya, Maya. Aku punya segalanya, dan kamu? Kamu hanya gadis yatim piatu yang beruntung bisa mencicipi kemewahan lewat belas kasihan kami."
Suara langkah kaki itu menjauh. Pintu terbuka dan tertutup kembali dengan dentuman halus yang final. Rekaman itu berakhir dengan suara isak tangis Maya yang semakin keras, tersedat-sedat, sebelum akhirnya terputus total.
Ponselku kini gelap, tapi telingaku masih berdenging. Kamar ini mendadak terasa terlalu sempit. Dinding-dindingnya seolah bergerak mendekat, menghimpitku. Aku mencoba mengatur napas, teknik pernapasan yang diajarkan terapisku, tapi paru-paruku terasa seperti diisi oleh air raksa. Berat dan beracun.
"Tidak mungkin," bisikku pada kegelapan. Suaraku sendiri terdengar asing, pecah dan rapuh.
Aku meraih ponsel itu lagi dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Aku memutar kembali rekaman itu. Sepuluh detik terakhir. Aku memejamkan mata, mematikan semua indra lainnya dan hanya fokus pada pendengaranku. Aku mencari det**l kecilβgesekan aksesoris, bunyi gemerincing gelang, atau cara unik wanita itu melafalkan huruf 'R'.
Ada bunyi gemerincing halus di akhir rekaman, tepat sebelum suara langkah kaki menghilang. Itu adalah bunyi logam kecil yang saling berbenturan. Bunyi yang sangat spesifik. Bunyi gelang perak dengan bandul kunci kecil yang selalu dipakai oleh ibuku setiap kali dia pergi keluar rumah.
Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku dengan brutal. Aku merangkak turun dari tempat tidur, kakiku lemas seperti jeli. Aku harus memastikannya. Aku harus tahu bahwa telingaku salah. Mungkin ini hanya trauma yang memanipulasi persepsiku. Mungkin aku hanya sedang berhalusinasi karena kurang tidur.
Aku membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Koridor rumah terasa sangat panjang dan gelap. Di ujung koridor, ada pintu kamar orang tuaku. Di bawah celah pintu itu, cahaya lampu masih menyala tipis.
Aku berjalan berjinjit, menahan napas setiap kali lant** kayu di bawah kakiku sedikit berderit. Sesampainya di depan pintu kamar ibu, aku ragu sejenak. Tanganku melayang di depan gagang pintu.
Tepat saat itu, aku mendengar suara dari dalam. Suara yang sama persis dengan yang ada di rekaman suara Maya tadi.
"Aku sudah bilang, jangan pernah hubungi nomor itu lagi. Biarkan semuanya terkubur bersama dia," suara Ibu terdengar dingin, sedang berbicara di telepon.
Duniaku rasanya runtuh seketika. Aku mundur selangkah, menab**k meja pajangan di koridor. Sebuah vas bunga kecil bergoyang dan jatuh ke atas karpet tebal dengan bunyi tumpul, tapi c**up keras untuk memecah kesunyian malam.
Suara di dalam kamar berhenti seketika. Keheningan yang mengikuti terasa jauh lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Aku terpaku, menatap gagang pintu yang mulai bergerak perlahan ke bawah. Seseorang di dalam sana sedang membukanya.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!