Suara detak jam dinding di ruang tengah biasanya terdengar seperti metronom yang menenangkan, tetapi malam ini, bunyinya seperti palu yang menghantam paku ke dalam peti mati. Tik. Tik. Tik. Setiap detiknya memicu denyut nyeri di pelipisku. Aku meremas ponsel di saku sweterku, tempat rekaman suara ketigabelas dari Maya tersimpan—sebuah rekaman yang baru saja merobek selaput tipis kewarasanku.
Ibu duduk di sofa beludru cokelat, memunggungi lampu berdiri yang berpendar redup. Ia sedang merajut, sebuah aktivitas yang selalu ia lakukan setiap kali kegelisahan menyergapnya. Benang wol abu-abu itu melilit jemarinya yang kurus, bergerak mekanis, naik-turun, seolah-olah ia sedang mencoba menjahit kembali sesuatu yang telah lama koyak.
"Bu," suaraku keluar lebih parau dari yang kubayangkan. Aku berdeham, mencoba mengusir getaran cemas yang mulai merayap di tenggorokan.
Ibu tidak mendongak. "Belum tidur, Luna? Ini sudah lewat jam satu. Besok ada kelas pagi, kan?"
Aku melangkah maju, kakiku terasa berat seperti diseret melalui lumpur. Tajamnya pendengaranku menangkap suara napas Ibu yang sedikit tersendat—sepersekian detik lebih lambat dari ritme biasanya. Dia menyadari ada yang salah. Dia selalu tahu, tapi dia selalu memilih untuk bersembunyi di balik tumpukan benang wolnya.
"Maya mengirimiku sesuatu," kataku, langsung menusuk ke inti.
Gerakan jarum rajut itu terhenti. Sunyi seketika menguasai ruangan, jenis kesunyian yang mencekik, yang membuat telingaku berdenging pada frekuensi tinggi yang menyakitkan. Ibu perlahan meletakkan rajutannya di pangkuan. Ia masih belum menatapku.
"Maya sudah tidak ada, Aluna. Berhentilah menyiksa dirimu dengan delusi itu," ucapnya dingin, namun ada retakan kecil di ujung kalimatnya.
Aku mengeluarkan ponsel, memutar rekaman itu. Suara Maya terdengar melalui speaker, pecah oleh distorsi statis namun tetap jernih bagi telinga musikku.
*“...Aluna, tanyakan pada Ibumu tentang musim panas sepuluh tahun lalu. Tentang kenapa Ayahmu sering terlambat pulang dengan alasan lembur di kantor pengacara Ibu-ku. Tanyakan padanya, Aluna... kenapa kita punya gelang yang sama, tapi hanya aku yang tidak pernah diizinkan ma**k ke rumahmu.”*
Aku mematikan rekaman itu sebelum suara tangis Maya pecah di akhir audio. Aku menatap punggung Ibu, menunggu ledakan, menunggu penyangkalan, atau setidaknya satu kata bohong yang biasa ia gunakan untuk melindungiku. Namun, bahu Ibu justru merosot. Ia tampak seolah-olah seluruh tulang di tubuhnya baru saja berubah menjadi abu.
"Bu, jawab aku," desakku, langkahku mendekat hingga aku bisa mencium aroma minyak kayu putih dan teh melati yang selalu melekat padanya. "Apa yang dimaksud Maya? Kenapa Ayah sering ke rumah Ibu Maya?"
Ibu perlahan berbalik. Wajahnya yang biasanya tertata rapi kini tampak pucat di bawah cahaya lampu yang temaram. Matanya merah, bukan karena kantuk, melainkan karena beban rahasia yang selama ini ia pikap sendirian. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat asing—campuran antara rasa kasihan dan kebencian yang mendalam.
"Kamu seharusnya tidak pernah mendengarkan pesan-pesan itu, Aluna," bisiknya. Suaranya gemetar. "Maya... anak itu... dia sama seperti ibunya. Penghancur."
"Penghancur apa, Bu? Apa yang mereka hancurkan?" Aku berteriak, mengabaikan sesak di dadaku yang mulai memicu serangan panik. Oksigen seolah menghilang dari ruangan ini.
Ibu berdiri dengan gerakan tiba-tiba, membuat keranjang benangnya terguling. Bola-bola wol berhamburan di lant** seperti rahasia yang tak lagi bisa disembunyikan. Ia mencengkeram bahuku, kuku-kukunya yang pendek menekan kulitku melalui kain sweter.
"Ayahmu tidak pernah benar-benar mencint** rumah ini, Aluna!" suaranya meninggi, pecah menjadi isakan yang tertahan. "Dia menemukan 'rumah' lain di tempat Ibu Maya. Sepuluh tahun aku menelan empedu ini, tersenyum di depan para tetangga seolah keluarga kita adalah potret sempurna, sementara Ayahmu menghabiskan malam-malamnya memuja wanita itu!"
Duniaku serasa berputar. Semua kepingan masa kecilku—Ayah yang jarang pulang, Ibu yang sering menangis di dapur dengan keran air menyala deras untuk meredam suara, dan tatapan aneh Ibu Maya setiap kali melihatku di sekolah—semuanya menyatu menjadi satu harmoni yang mengerikan.
"Jadi... mereka berselingkuh?" tanyaku dengan suara yang nyaris hilang. "Dan Maya tahu?"
Ibu melepaskan cengkeramannya, lalu tertawa pendek yang terdengar sangat pahit. "Maya bukan hanya tahu, Aluna. Maya adalah alasan kenapa Ibu Maya selalu punya cara untuk memeras Ayahmu. Mereka menggunakan hubungan itu untuk memastikan hidup mereka terjamin, sementara kita di sini membusuk dalam kepura-puraan."
Aku mundur selangkah, menab**k meja samping hingga vas bunga kecil di atasnya goyang. Kepalaku berdenyut hebat. Jadi, persahabatan kami selama ini... apakah itu juga bagian dari rencana? Apakah Maya mendekatiku karena dia ingin membalas dendam atas posisi ibunya yang hanya menjadi 'wanita simpanan'?
"Kamu pikir kenapa Maya meninggal, Aluna?" Ibu mendekat lagi, wajahnya kini hanya beberapa inci dari wajahku. Matanya berkilat dengan sesuatu yang menyerupai keg***an. "Kecelakaan itu... itu bukan kelalaian biasa. Ayahmu sudah tidak tahan lagi ditekan oleh mereka. Dia ingin mengakhiri semuanya."
Jantungku serasa berhenti berdetak. "Apa maksud Ibu? Ayah... Ayah yang melakukan itu pada Maya?"
Ibu tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan senyum tipis yang paling menakutkan yang pernah kulihat. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkanku berdiri membeku di tengah ruang tamu yang gelap.
Tepat saat pintu kamar Ibu tertutup dengan dentuman keras, ponsel di tanganku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang retak.
*02:00. Satu pesan suara baru dari: Maya.*
Tanganku gemetar hebat saat aku menekan tombol *play*. Aku tidak tahu apakah aku sanggup mendengar suara dari kubur itu lagi, namun di saat yang sama, aku sadar bahwa aku sudah terlalu jauh ma**k ke dalam labirin ini.
*“Aluna... apakah Ibu sudah mengatakannya padamu? Jangan percaya padanya. Jangan percaya pada siapapun di rumah itu. Karena sekarang, giliranmu yang akan mereka lenyapkan.”*
Aku tersentak saat mendengar suara langkah kaki di lant** atas, di kamar Ayah yang seharusnya kosong karena ia sedang berada di luar kota. Langkah itu berat, perlahan, dan menuju tepat ke arah tangga. Seseorang sedang berada di dalam rumah bersamaku, dan orang itu tidak ingin rahasia ini keluar dari empat dinding ini.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!