Jarum jam dinding di kamarku seolah bergerak lebih lambat malam ini. Suara detaknyaβ*tik, tok, tik, tok*βterdengar seperti palu yang menghantam paku ke dalam peti mati. Sebagai mahasiswa musik, aku selalu peka terhadap ritme, tetapi ritme malam ini terasa sumbang. Ada frekuensi rendah yang berdengung di telingaku, sejenis disonansi yang membuat tengkukku meremang.
Aku duduk meringkuk di atas tempat tidur, memeluk lutut erat-erat. Cahaya biru dari layar ponsel di genggamanku adalah satu-satunya sumber penerangan, memantulkan bayangan pucat wajahku di kaca jendela yang gelap. Pukul 23.59.
Jantungku berdegup kencang, menciptakan perkusi tak beraturan di dalam dada. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah oksigen di ruangan ini telah habis digantikan oleh aroma bunga kamboja yang imajiner. Aku tahu apa yang akan datang. Aku tahu, tepat saat angka-angka di layar itu berubah menjadi nol-nol, ponsel ini akan bergetar.
*Drrtt.*
Pesan suara kedelapan.
Jariku gemetar saat menyentuh layar. Aku ingin melempar benda pipih itu ke dinding, menghancurkannya hingga berkeping-keping agar suara Maya tidak bisa lagi merangkak keluar. Namun, rasa penasaran yang morbidβkeinginan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat terbaikkuβselalu menang melawan rasa takutku.
Aku menekan tombol *play*.
"Aluna..."
Suara Maya terdengar jernih, terlalu jernih. Ada desis statis di latar belakang yang terdengar seperti ombak jauh, atau mungkin hanya napasnya yang berat. Namun, nada bicaranya berbeda malam ini. Tidak ada kesedihan atau ketakutan seperti di pesan-pesan sebelumnya. Suaranya dingin, datar, dan tajam seperti mata pisau yang baru diasah.
"Kamu ingat malam itu? Malam di studio musik saat kamu memenangkan kompetisi piano solo, sementara aku hanya duduk di kursi penonton paling belakang? Kamu datang padaku dengan wajah penuh simpati, memelukku, dan mengatakan bahwa 'kesempatan berikutnya pasti milikku'. Kamu tampak sangat suci saat itu, Aluna."
Aku membeku. Udara di sekitarku mendadak terasa membeku. Kejadian itu... itu setahun yang lalu. Aku ingat pelukannya. Aku ingat air mataku yang tulus karena aku ingin dia sukses bersamaku.
"Tapi aku tahu apa yang kamu pikirkan," suara Maya di *voice note* itu melanjutkan, kini diikuti oleh tawa kecil yang terdengar kering dan menyakitkan. "Kamu butuh aku tetap berada di bawahmu. Kamu butuh aku menjadi bayanganmu yang malang agar kamu bisa terus merasa sebagai orang baik. Kamu tidak pernah benar-benar mencint**ku sebagai sahabat. Kamu mencint** dirimu sendiri yang terlihat dermawan karena berteman dengan seseorang yang hancur sepertiku."
"Nggak... Maya, nggak begitu," bisikku pada ponsel itu, seolah dia bisa mendengarku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Dadaku sesak, *panic attack* si**** itu mulai mencengkeram leherku lagi.
"Aku menghabiskan sisa hidupku membencimu dalam diam, Aluna. Setiap senyum yang kuberikan adalah racun yang kusimpan di bawah lidah. Dan malam ini, melalui suara ini, aku ingin kamu tahu satu hal..."
Ada jeda panjang dalam rekaman itu. Keheningan yang menyiksa. Aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri yang berpacu liar.
"Aku tidak mati karena kecelakaan itu sendirian. Aku membawa semua rahasiamu, semua kebohonganmu tentang siapa yang sebenarnya menulis komposisi lagu untuk audisi beasiswa itu. Dan sekarang, aku akan memastikan duniamu runtuh perlahan-lahan. Setiap pesan suara yang kukirimkan bukan untuk meminta tolong padamu, Aluna. Ini adalah hukumanmu. Aku menjadwalkan semua ini agar aku bisa menghancurkanmu dari liang lahat."
*Klik.*
Pesan suara berakhir. Sunyi kembali meraja, tetapi kali ini keheningan itu terasa lebih berat, seolah-olah langit-langit kamarku baru saja runtuh menimpaku.
Aku melempar ponselku ke ujung ka**r seolah benda itu baru saja berubah menjadi bara api. Tubuhku gemetar hebat. Pengakuan itu... itu tidak mungkin. Maya-ku yang lembut, Maya yang selalu membagi bekal makan siangnya denganku, Maya yang menangis di bahuku saat ibunya meninggal... dia membenciku? Dia merencanakan semua ini untuk balas dendam?
"Kenapa, May?" suaraku pecah menjadi isakan. "Kenapa kamu tega?"
Selama ini aku merasa bersalah. Aku merasa gagal menjaganya. Aku menganggap setiap pesan suara ini adalah petunjuk untuk mencari pembunuhnya, atau setidaknya mencari keadilan bagi kematiannya. Namun, ternyata aku hanyalah tikus di dalam labirin yang dia bangun sebelum dia pergi. Dia ingin aku tersiksa. Dia ingin aku meragukan setiap kenangan manis yang kami miliki selama sepuluh tahun terakhir.
Tiba-tiba, rasa dikhianati yang teramat sangat menggantikan rasa takutku. Panas menjalar dari ulu hati hingga ke kepala. Aku merasa seperti orang bodoh. Selama tujuh hari ini, aku hampir g*** karena memikirkannya, merusak kesehatanku, mengabaikan kuliahku, hanya untuk mendengarkan seseorang yang terang-terangan ingin menghancurkanku.
Aku meraih ponsel itu kembali dengan gerakan kasar. Jempolku melayang di atas pilihan 'Blokir Nomor'. Napas ditarik pendek-pendek. Jika aku berhenti sekarang, jika aku menghapus nomor ini, teror ini akan berakhir. Aku tidak perlu lagi terjaga setiap tengah malam. Aku tidak perlu lagi mendengarkan racun yang keluar dari mulut orang mati.
Namun, baru saja aku akan menekan tombol itu, sebuah notifikasi baru muncul di layar. Bukan pesan suara, melainkan sebuah pesan teks singkat dari nomor yang sama.
*Baru saja aku mulai bercerita, Aluna. Kamu tidak akan berani berhenti sekarang, karena pesan ke-15 berisi rekaman suara Ayahmu di malam dia menghilang.*
Tanganku lemas. Ponsel itu terjatuh dari genggamanku, mendarat di atas karpet tanpa suara. Rahasia tentang Ayah? Bagaimana Maya bisa tahu?
Aku menatap layar ponsel yang perlahan meredup itu dengan pandangan kosong. Aku terjebak. Maya tidak hanya ingin membalas dendam; dia memegang kendali atas seluruh hidupku, bahkan setelah dia terkubur di bawah tanah.
Di luar, angin malam menderu, mengguncang jendela kamarku seolah-olah ada seseorang yang sedang mencoba ma**k. Atau mungkin, itu hanya Maya yang sedang tertawa di dalam kegelapan. Dan aku tahu, besok malam pukul 00:00, aku akan kembali duduk di sini, menunggu kehancuranku selanjutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!