Layar ponsel itu berkilat di tengah kegelapan kamar, memancarkan cahaya biru yang menusuk pupil mataku yang mulai perih. Pukul 23:54. Enam menit lagi menuju siksaan rutin itu. Aku duduk meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lutut erat-erat hingga persendianku terasa kaku. Di hadapanku, daftar pesan suara dari nomor Maya berderet seperti barisan nisan di pemakaman digital.
Napas kuterengah, pendek dan dangkal. Dadaku terasa seperti dihimpit beton seberat satu ton. Setiap kali suara Maya muncul, seolah-olah tangannya menjangkau keluar dari lubang kubur, menyeretku ma**k ke dalam tanah yang basah dan dingin. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak sanggup mendengar suara sahabatku sendiri berubah menjadi instrumen teror yang membongkar borok orang-orang di sekitarkuβterma**k borokku sendiri.
Jemariku gemetar hebat saat aku menekan lama pada salah satu file *voice note* itu. Opsi "Pilih Semua" muncul. Aku menekannya dengan gerakan mekanis, seolah-olah jiwaku sudah lebih dulu meninggalkan raga. Seluruh pesan itu kini tercentang biru. Tombol bergambar tempat sampah di sudut bawah layar seolah berdenyut, memanggilku untuk mengakhiri keg***an ini.
C**up tekan satu kali, Aluna. Hanya satu sentuhan, dan hantu ini akan lenyap.
"Maafkan aku, Maya," bisikku lirih. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya jatuh, membasahi layar ponsel, menciptakan distorsi pada teks yang kulihat. "Aku tidak sekuat yang kamu kira."
Ujung jempolku hanya berjarak beberapa milimeter dari tombol hapus ketika suara ketukan di pintu mengejutkanku. Tubuhku tersentak hebat, hampir membuat ponsel itu terlempar dari genggaman.
"Aluna? Kamu di dalam?"
Itu suara Elang. Berat, tenang, namun menyimpan nada kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan. Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap pintu kayu kamarku dengan pandangan kosong, mencoba mengatur napas yang kian tidak beraturan. Namun, Elang tidak menyerah. Ia memutar kenop pintuβyang untungnya tidak kukunciβdan ma**k dengan langkah perlahan.
Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya membiarkan cahaya dari lorong menyinari sebagian kecil kamarku. Elang melihatku tersungkur di sudut ka**r, lalu matanya turun ke arah ponsel yang masih menyala di tanganku.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanyanya lembut, hampir berbisik. Ia melangkah mendekat dan duduk di lant**, tepat di samping tempat tidurku, menyamakan level matanya denganku.
"Aku mau menghapusnya, Lang," suaraku pecah. "Aku tidak bisa bernapas. Setiap kali jam dua belas malam datang, aku merasa seperti akan mati. Dia... dia bukan Maya yang aku kenal. Suara itu... suara itu menghancurkan segalanya."
Elang diam sejenak, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak mencoba merebut ponselku. Ia justru menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap langit-langit kamar yang gelap.
"Kamu ingat pameran musik tahun lalu?" tanya Elang tiba-tiba, beralih dari topik yang membuatku sesak.
Aku mengerutkan kening, mencoba menggali ingatan di tengah kabut panik. "Yang mana?"
"Saat biolamu rusak karena tidak sengaja tersenggol penonton di belakang panggung. Kamu menangis di ruang ganti, merasa dunia berakhir karena itu biola kesayangan mendiang ayahmu."
Aku mengangguk pelan. Aku ingat betapa hancurnya aku saat itu. Tapi kemudian, entah bagaimana, biola itu kembali dalam keadaan utuh keesokan harinya. Ada seseorang yang membawanya ke pengrajin instrumen terbaik di kota dan membayarnya dengan harga mahal agar selesai dalam semalam. Aku selalu mengira itu adalah beasiswa dari kampus.
"Itu Maya, Al," ujar Elang pelan. "Dia menjual kamera Leica-nya, satu-satunya benda paling berharga yang dia punya, hanya untuk memperbaiki biola kamu. Dia melarangku memberitahumu karena dia tahu kamu akan merasa bersalah dan menolak bantuannya."
Aku terpaku. Jantungku yang tadinya berdegup kencang karena panik, kini seolah berhenti berdetak karena terkejut. "Kamera... kamera yang selalu dia bawa ke mana-mana itu?"
Elang mengangguk. "Maya punya sejuta cara untuk terlihat menyebalkan dan penuh rahasia, tapi di balik semua kekacauan yang sekarang dia kirimkan lewat pesan suara itu, ada bagian dari dirinya yang sangat mencint**mu. Dia tidak sedang berusaha menghancurkanmu, Aluna. Dia sedang meminta tolong padamu untuk menyelesaikan apa yang tidak sempat dia selesaikan."
Aku menunduk, menatap kembali layar ponselku. Angka digital menunjukkan pukul 23:58. Dua menit lagi. Sentimen yang diceritakan Elang mulai merayap ma**k, berperang dengan rasa takut yang sudah lebih dulu bersarang. Sisi baik Maya yang selama ini tertutup oleh kabut misteri kematiannya mulai nampak kembali, samar namun nyata.
"Kenapa dia tidak mengatakannya langsung padaku saat dia masih hidup?" tanyaku dengan nada getir.
"Mungkin karena dia tahu, dalam dunia yang penuh kepalsuan ini, hanya kamu satu-satunya orang yang akan tetap mendengarkannya bahkan setelah dia tidak lagi punya suara," Elang mengulurkan tangan, menyentuh punggung tanganku dengan lembut. "Jangan hapus itu sekarang. Bukan saat kamu sedang dikuasai ketakutan. Kamu akan menyesal jika suatu saat nanti kamu sudah siap mendengar, tapi dia sudah benar-benar hilang."
Aku menatap jempolku yang masih menggantung di atas tombol hapus. Tanganku tidak lagi gemetar sehebat tadi. Dengan perlahan, aku menggeser jariku menjauh, menekan tombol *back*, dan mematikan layar ponsel.
Hening kembali meraja. Kamar itu terasa lebih luas, seolah-olah tekanan udara di dalamnya sedikit berkurang. Elang tetap di sana, menjagaku dalam diam.
Namun, tepat saat jarum jam dinding berdetak ma**k ke angka dua belas, ponsel di genggamanku bergetar panjang. Sebuah notifikasi muncul. Bukan pesan suara biasa. Kali ini, pesan itu datang dengan lampiran sebuah titik koordinat GPS dan satu baris kalimat pendek yang membuat darahku mendadak dingin.
*Bukan kecelakaan, Aluna. Lihat siapa yang memegang kemudi malam itu.*
Aku menoleh ke arah Elang, dan entah mengapa, sorot matanya yang tenang mendadak terlihat berbeda di bawah cahaya temaram. Ada sesuatu yang ia sembunyikan, sesuatu yang mungkin lebih gelap dari semua pesan suara yang pernah kukirimkan sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Elang, suaranya tetap lembut, namun kali ini aku merasakan firasat aneh yang merayap di tengkukku.
Ponselku bergetar lagi. Pesan suara ke-17 ma**k. Dan durasinya jauh lebih panjang dari biasanyaβsepuluh menit penuh keheningan yang mencekam sebelum suara isakan Maya terdengar.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!