Jarum jam dinding di kamar kosku berdetak dengan ritme yang terasa seperti hantaman palu di atas memb**n drum. Sebagai mahasiswi musik, aku terbiasa membedah tempo, tetapi malam ini, setiap detiknya terasa c****. Sinkopasi jantungku tidak beraturan. Dinginnya udara AC menyapu tengkukku yang berkeringat, sementara jemariku mencengkeram pinggiran ponsel hingga buku-buku jariku memutih.
Pukul 23:59.
Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menelan segalanya kecuali cahaya biru pucat dari layar ponsel yang menyilaukan. Bau sisa kopi instan yang sudah dingin di atas meja berpadu dengan aroma lavender dari pengharum ruangan yang mulai habisβsebuah kontradiksi antara usaha untuk tetap terjaga dan keinginan untuk tenang.
Tepat saat angka di layar berubah menjadi 00:00, getaran pendek di telapak tanganku membuatku hampir melempar ponsel itu ke lant**. Sebuah notifikasi muncul. Tanpa nama, hanya deretan angka yang sudah kuhapal di luar kepala sebagai milik Maya.
Voice note kesembilan.
Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadaku yang sesak. Jempolku gemetar saat menekan ikon *play*. Suara statis yang tipis memenuhi kesunyian kamar, disusul oleh deru angin yang samarβsuara latar yang selalu menyert** rekaman-rekaman Maya sebelumnya.
"Aluna..."
Suara itu. Suara yang dulu selalu membangunkanku saat aku tertidur di perpustakaan, kini terdengar seperti bisikan dari dasar sumur yang gelap. Ada nada yang berbeda malam ini. Bukan lagi kesedihan yang melankolis, melainkan getaran ketakutan yang akut. Aku bisa mendengar napas Maya yang pendek-pendek, seolah dia baru saja berlari maraton.
"Aluna, kalau kamu dengar ini, berarti aku sudah tidak ada. Aku tahu semua orang bilang itu kecelakaan. Aku tahu polisi bilang aku kehilangan kendali di tikungan jalan layang itu. Tapi mereka salah. Mereka tidak melihat apa yang aku lihat sebelum aku naik ke motor malam itu."
Aku memejamkan mata rapat-rapat, memvisualisasikan Maya berdiri di parkiran kampus pada malam naas itu. Telingaku yang terlatih menangkap suara gemeresik logam di latar belakang rekaman. Suara itu tajam, seperti gesekan kunci atau tang.
"Awalnya aku pikir cuma perasaan paranoidku saja," suara Maya di rekaman itu mulai terisak kecil. "Tapi saat aku sampai di turunan jalan layang, aku merasa ada yang aneh dengan tuas remnya. Kosong, Al. Tidak ada tekanan sama sekali. Aku mencoba memompa remnya berkali-kali, tapi motor itu justru melaju semakin kencang."
Aku merasakan sensasi dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke kepala. Bayangan motor Maya yang menghantam pembatas jalan kembali terputar di benakku, kali ini dengan det**l yang lebih mengerikan.
"Aluna, dengarkan aku baik-baik," volume suara Maya sedikit meninggi, pecah oleh keputusasaan. "Pagi itu, aku sempat melihat seseorang berjongkok di dekat motorku. Aku pikir dia cuma memungut sesuatu yang jatuh. Tapi setelah kejadian rem blong itu, sebelum aku... sebelum aku kehilangan kesadaran, aku teringat sesuatu. Aku melihat sisa potongan kabel rem di aspal parkiran. Potongannya terlalu rapi untuk disebut aus. Seseorang sengaja melakukannya, Al. Seseorang memotong kabel remku."
Ponsel di tanganku terasa seberat bongkahan beton. Kalimat terakhir Maya terus bergema, menghancurkan sisa-sisa kewarasanku malam ini. *Seseorang sengaja melakukannya.*
Selama tujuh hari ini, aku berduka atas sebuah kecelakaan tragis. Aku menyalahkan takdir, menyalahkan hujan, bahkan menyalahkan Maya karena kurang berhati-hati. Namun, kata "kecelakaan" kini menguap, digantikan oleh satu kata yang jauh lebih gelap dan pekat: Pembunuhan.
Tanganku meraba-raba meja, mencari gelas air putih, tapi malah menyenggol buku partitur hingga jatuh berantakan. Aku tidak peduli. Napasku mulai pendek, serangan panik mulai mencengkeram tenggorokanku. Jika rem itu dipotong, berarti kematian Maya bukan sebuah ketidaksengajaan. Berarti ada seseorang di lingkaran kami, seseorang yang mungkin saja menyalamiku di pemakaman kemarin, yang menginginkan Maya mati.
Aku memutar ulang bagian terakhir itu. *Potongannya terlalu rapi.*
Pikiranku berputar liar. Siapa yang memiliki akses ke parkiran motor malam itu? Siapa yang tahu Maya akan pulang larut setelah latihan orkestra? Aku mengingat kembali wajah-wajah di pemakaman. Gery yang menangis tersedu-sedu, Shinta yang terus memegang tanganku, atau mungkin dosen pembimbing kami yang terlihat sangat terpukul. Di balik topeng kesedihan itu, salah satunya mungkin adalah seorang pembunuh.
Tiba-tiba, telingaku menangkap suara lain. Bukan dari ponsel, melainkan dari luar pintu kamarku.
*Krieet...*
Suara engsel pintu kayu di lorong kos yang biasanya jarang terbuka di jam seperti ini. Kemudian, langkah kaki pelan. Sangat pelan, seolah-olah sang pemilik kaki sedang berusaha meniti duri agar tidak menimbulkan bunyi. Langkah itu berhenti tepat di depan pintuku.
Aku terpaku, menahan napas sampai dadaku terasa perih. Cahaya dari celah bawah pintu terhalang oleh bayangan sepasang sepatu. Seseorang sedang berdiri di sana, diam, mungkin mendengarkan suara Maya yang baru saja aku putar.
Apakah dia tahu aku memegang bukti ini? Apakah dia tahu Maya meninggalkan pesan-pesan ini untukku?
Ponsel di tanganku tiba-tiba menyala lagi. Bukan pesan suara baru, melainkan sebuah pesan teks dari nomor yang sama dengan pengirim *voice note* tadiβnomor Maya.
*Jangan keluar kamar, Aluna. Dia masih ada di sana.*
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Jika Maya sudah meninggal, siapa yang mengirimkan pesan teks ini secara *real-time*? Dan siapa "dia" yang dimaksud sedang berdiri di balik pintuku? Aku menatap gagang pintu yang perlahan-lahan mulai bergerak turun dengan sangat hati-hati, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencoba membukanya dari luar.
Aku terperangkap. Di dalam ponselku, Maya baru saja mengonfirmasi pembunuhannya. Dan di depan pintuku, maut mungkin sedang menunggu gilirannya.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!