Jari-jariku gemetar saat menggeser fader pada mixer konsol di hadapanku. Di dalam ruang kontrol studio musik yang kedap suara ini, keheningan terasa begitu padat, seolah-olah udara telah berubah menjadi beton yang siap menghimpit paru-paruku. Jam dinding digital di atas monitor menunjukkan pukul 23.45. Lima belas menit lagi menuju tengah malam. Lima belas menit lagi menuju umpan yang kutebar.
Aku memejamkan mata, membiarkan telingaku menangkap dengung statis dari speaker monitor. Sebagai mahasiswa musik, aku selalu membanggakan pendengaranku yang tajam, tapi malam ini, ketajaman itu terasa seperti kutukan. Setiap derit kursi atau detak jarum jam terdengar seperti ledakan di kepalaku.
"Maya, bantu aku sekali lagi saja," bisikku lirih, nyaris tak terdengar.
Di layar komputer, gelombang suara dari Voice Note ke-19 milik Maya berdenyut dalam warna hijau neon. Aku telah memotong dan menyambung beberapa bagian dari pesan-pesan sebelumnya, menciptakan sebuah narasi palsu yang menyiratkan bahwa aku memiliki bukti fisik tentang apa yang terjadi di malam kecelakaan itu. Aku sudah mengirimkan pesan singkat ke grup pertemanan kami sepuluh menit yang lalu: *Aku tahu siapa yang mengambil ponsel Maya malam itu. Aku tunggu di studio musik jam 12 malam sebelum aku bawa ini ke polisi.*
Keringat dingin mulai membasahi tengkukku. Jantungku berdegup dalam ritme yang berantakan, sebuah simfoni kecemasan yang sudah sangat kukenal. *Inhale, exhale,* Aluna. Tapi udara di ruangan ini terasa basi.
Tiba-tiba, suara *klik* halus tertangkap oleh telingaku. Itu bukan suara dari mixer. Itu suara pintu luar studio yang terbuka.
Aku membeku. Studio musik di lant** tiga ini seharusnya sudah dikunci sejak pukul sembilan malam. Hanya pengurus himpunan dan dosen yang memiliki akses kartu. Dadaku sesak, tanganku mencengkeram pinggiran meja mixer hingga buku-buku jariku memutih.
*Langkah kaki.*
Suaranya berat, namun diusahakan sangat perlahan. Langkah itu bukan jenis langkah seseorang yang sedang bingung, melainkan langkah predator yang tahu persis di mana mangsanya berada. Aku segera mematikan lampu utama ruang kontrol, menyisakan hanya pendar biru dari layar monitor yang remang-remang. Aku bersembunyi di bawah meja kontrol, meringkuk sekecil mungkin.
Pintu ruang kontrol berderit terbuka. Aroma parfum yang sangat familiarβcampuran kayu cendana dan tembakauβmerayap ma**k ke dalam ruangan, menusuk indra penciumanku. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku mengenal aroma ini.
"Aluna?"
Suara itu rendah, tenang, namun ada getaran tajam yang tersembunyi di baliknya. Itu adalah suara yang selama ini memberiku rasa aman, suara yang meyakinkanku bahwa kematian Maya adalah murni kecelakaan.
"Aku tahu kamu di sini," ucapnya lagi. Langkah kakinya mendekat ke arah meja mixer. "Tidak perlu main petak umpet. Mana bukti yang kamu maksud?"
Aku menahan napas, menutup mulut dengan kedua tangan agar isak tangisku tidak lolos. Air mata mulai mengalir, bukan karena takut akan rasa sakit fisik, tapi karena pengkhianatan yang baru saja terkonfirmasi. Di atas meja, ponselku yang terhubung ke speaker besar mulai bergetar.
Pukul 00:00.
Tepat saat itu, suara Maya menggelegar dari speaker studio, memenuhi ruangan dengan volume yang sengaja kubuat maksimal.
*"...aku tahu kamu melihatku malam itu. Kenapa kamu diam saja saat aku butuh bantuan? Kamu lebih sayang pada reputasimu daripada nyawaku, kan?"*
Itu adalah potongan VN ke-12 yang sudah kuedit. Efeknya instan. Aku mendengar suara napas yang memburu di atas sana, disusul dengan suara benda keras yang menghantam meja kontrol dengan kasar.
"Diam! Matikan suaranya, Aluna!" teriaknya, suaranya pecah menjadi raungan frustrasi.
Aku mencoba merangkak keluar dari bawah meja melalui sisi lain, berniat lari menuju pintu. Namun, gerakanku tertangkap oleh pantulan di kaca besar yang memisahkan ruang kontrol dengan ruang rekaman. Sebelum aku sempat mencapai pintu, sebuah tangan kekar menyambar kerah jaket belakangku dan menyentakkanku hingga punggungku menghantam rak peralatan besi dengan keras.
"Argh!" Aku meringis, rasa sakit menjalar dari tulang belikat hingga ke tulang ekor.
Dia berdiri di depanku, wajahnya setengah terbayang dalam kegelapan, namun pendar biru monitor memperlihatkan mata yang merah dan liar. Tak ada lagi keramahan yang biasanya menghiasi wajahnya. Yang ada hanyalah sosok asing yang didorong oleh keputusasaan.
"Berikan ponselnya, Aluna. Berikan padaku sekarang," tuntutnya dengan suara yang bergetar.
"Kenapa, Kak?" tanyaku dengan suara serak, mengabaikan denyut tajam di punggungku. "Kenapa Kakak tega membiarkan Maya mati?"
Dia tertawa pendek, tawa yang terdengar hampa dan mengerikan. "Dia akan menghancurkan segalanya. Beasiswaku, masa depanku... hanya karena satu kesalahan kecil yang dia anggap sebagai skandal besar. Maya itu terlalu idealis, Aluna. Dan kamu... kamu terlalu berisik."
Dia melangkah maju, mencengkeram leherku dengan satu tangan sementara tangan lainnya mencari-cari ponsel di kantong jaketku. Aku meronta, memukul lengannya, namun kekuatannya jauh di atas kekuatanku. Pandanganku mulai berkunang-kunang karena pasokan oksigen yang menipis.
Dalam kepanikan yang memuncak, telingaku menangkap sesuatu yang lain. Sebuah resonansi frekuensi tinggi dari speaker yang masih menyala. Aku teringat sesuatuβmikrofon *condenser* di sudut ruangan masih aktif dan terhubung ke sistem penguat suara dengan *feedback* yang belum diatur.
Dengan sisa tenaga, aku meraih kabel XLR yang menjunt** di dekat kakiku dan menyentakkannya sekuat tenaga, menghubungkannya ke input yang salah pada mixer di belakangku.
*SCREECH!*
Suara *feedback* yang melengking tajam, seperti ribuan jarum yang menusuk gendang telinga, meledak dari seluruh speaker di ruangan itu. Cengkeramannya pada leherku terlepas seketika saat dia menjerit kesakitan, menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Aku jatuh terduduk, terbatuk-batuk mencari udara. Dalam kekacauan suara yang menyiksa itu, aku memaksakan diri untuk berdiri dan berlari keluar menuju lorong yang gelap. Namun, saat aku mencapai pintu keluar, sebuah tangan lain muncul dari kegelapan lorong dan membekap mulutku sebelum aku sempat berteriak.
Bukan dia. Ini orang yang berbeda.
"Jangan berisik kalau mau selamat," bisik sebuah suara asing di telingaku, tepat saat lampu seluruh gedung tiba-tiba padam total, menyisakan kami dalam kegelapan yang mencekam.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!