Jarum jam dinding di sudut kamar berdetak dengan ritme yang terasa seperti hantaman palu di kepala Aluna. *Tik. Tok. Tik. Tok.* Setiap detikan adalah pengingat akan kesunyian yang mencekam. Aluna meringkuk di atas tempat tidur, memeluk lututnya erat-erat hingga persendiannya memutih. Kamar itu gelap, hanya menyisakan pendar redup dari lampu jalan yang menerobos celah gorden, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah-olah merayap di dinding.
Sudah tujuh hari sejak tanah merah menutup peti mati Maya. Tujuh hari sejak tawa renyah sahabatnya itu berubah menjadi keheningan abadi di bawah nisan. Namun bagi Aluna, waktu seolah membeku di saat ia mendengar kabar kecelakaan itu. Sebagai mahasiswa jurusan musik, Aluna selalu peka terhadap frekuensi. Dan sekarang, ia merasa frekuensi hidupnya sedang berada di nada rendah yang menyakitkan.
Ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas bantal. Layarnya gelap, namun Aluna tahu sebentar lagi benda itu akan menyala. Ia tidak tahu mengapa, tapi instingnyaβatau mungkin sisa-sisa trauma yang belum terobatiβmembisikkan sesuatu akan terjadi.
11:58.
Napas Aluna mulai memburu. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-parunya. Gejala *anxiety disorder*-nya sedang merangkak naik, mengirimkan gelombang dingin ke ujung jari-jarinya. Ia mencoba teknik pernapasan kotak yang diajarkan terapisnya. Tarik napas empat detik, tahan empat detik, hembuskan empat detik. Namun, suara detak jam itu lebih dominan. *Tik. Tok.*
11:59.
Aluna menelan ludah. Tenggorokannya terasa seperti padang pasir yang kering. Matanya tidak lepas dari layar ponsel. Pikirannya melayang pada Maya. Kecelakaan tunggal itu disebut murni kelalaian. Rem blong, jalanan licin, dan nasib buruk. Tapi Aluna tahu Maya bukan pengemudi yang ceroboh. Maya adalah orang yang paling teliti yang pernah ia kenal.
Tepat saat angka di layar ponsel berubah menjadi 00:00, sebuah getaran panjang mengejutkan Aluna. Ia tersentak, hampir melempar ponselnya ke lant**. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan liar.
Satu notifikasi WhatsApp muncul di layar yang kini menyala terang, menyilaukan matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan.
*Maya: [Voice Note 00:42]*
Dunia seakan berhenti berputar. Aluna membeku. Nama itu. Profil foto itu. Wajah Maya yang tersenyum lebar sambil memegang es krim matcha, foto yang Aluna ambil sendiri musim panas lalu. Bagaimana mungkin?
"Tidak mungkin," bisik Aluna, suaranya parau dan bergetar. "Ponsel Maya kan ada di kantor polisi sebagai barang bukti..."
Ataukah ini perbuatan peretas jahat? Seseorang yang ingin mempermainkan dukanya? Jempol Aluna gemetar di atas layar. Ia ingin menghapus pesan itu, mematikan ponselnya, dan lari ke kamar ibunya. Namun, rasa penasaran yang morbid dan kerinduan yang menyayat hati menariknya ke arah yang berlawanan.
Dengan keberanian yang dipaksakan, ia menyentuh ikon *play*.
Awalnya hanya suara statis. Desis halus yang bagi telinga terlatih Aluna, terdengar seperti suara angin yang melewati celah sempit. Kemudian, sebuah helaan napas. Sangat familiar. Helaan napas yang selalu diambil Maya sebelum dia mulai curhat panjang lebar.
*"Halo, Luna."*
Aluna menutup mulutnya dengan tangan, menahan isakan yang tiba-tiba mendesak keluar. Itu suara Maya. Bukan suara robot, bukan suara editan AI yang kaku. Aluna tahu setiap intonasi, setiap cengkok kecil di ujung kalimat Maya. Frekuensi suara iniβmedium-alto dengan sedikit serak di ujungnyaβadalah milik sahabatnya.
*"Kalau kamu dengar ini, berarti aku sudah nggak ada di sana buat meluk kamu saat kamu panik. Maaf ya, Na. Maaf karena aku harus pergi lewat cara yang berantakan begini."*
Suara di *voice note* itu terdengar tenang, namun ada getaran kesedihan yang terpendam di bawahnya. Aluna bisa mendengar suara latar yang sangat samar; denting piano yang jauh, seolah Maya merekam ini di salah satu ruang latihan kampus mereka yang kedap suara.
*"Jangan takut dulu. Aku nggak jadi hantu yang tiba-tiba nongol di cermin kamu. Aku cuma... aku cuma sudah menyiapkan ini. Ada 23 pesan, Luna. Satu untuk setiap jam yang hilang di hari itu, dan satu untuk kebenaran yang nggak sempat aku katakan."*
Pernapasan Aluna semakin tak beraturan. Matanya membelalak menatap layar ponsel yang masih menampilkan durasi audio yang berjalan.
*"Luna, mereka bilang ini kecelakaan, kan? Mereka bilang aku lalai?"* Suara Maya berubah, menjadi lebih tajam, lebih dingin. *"Jangan percaya. Seseorang ingin aku diam. Seseorang di lingkaran kita, Luna. Seseorang yang mungkin sekarang lagi pura-pura berduka di depan kamu."*
*Deg.*
Aluna merasa seluruh darahnya turun ke kaki. Ia menoleh ke sekeliling kamarnya yang gelap, tiba-tiba merasa tidak aman. Bayangan di dinding yang tadi ia anggap hanya permainan cahaya, kini tampak seperti mata-mata yang mengint**.
*"Aku nggak punya banyak waktu saat merekam ini. Tapi dengarkan baik-baik. Ingat hari saat kita di kafe dan aku menumpahkan kopi ke tasmu? Rahasianya ada di sana, di balik jahitan yang lepas. Cari itu, Luna. Dan tolong... jangan kasih tahu siapa pun soal pesan ini. Terma**k Kak Elang."*
Audio berakhir. Keheningan kembali menyergap, jauh lebih berat dari sebelumnya.
Aluna terduduk kaku. Kak Elang? Kekasih Maya yang selama seminggu ini terus menguatkan Aluna? Mengapa Maya melarangnya memberitahu Elang?
Tiba-tiba, terdengar suara gesekan halus dari luar pintu kamarnya. Sesuatu seperti langkah kaki yang diseret di atas karpet lorong rumahnya yang sepi. Aluna menahan napas, telinganya yang tajam menangkap suara pegangan pintu kamarnya yang perlahan, sangat perlahan, mulai bergerak turun.
Seseorang sedang mencoba ma**k ke kamarnya di tengah malam ini. Dan Aluna baru saja menyadari, bahwa suara Maya mungkin bukan satu-satunya hal yang kembali dari masa lalu untuk mencarinya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!