Suara guntur menggelegar, menggetarkan kaca jendela apartemen yang terasa semakin rapuh dihantam badai. Di luar, langit Jakarta seolah tumpah, menyisakan keremangan yang hanya sesekali diterangi kilat. Aluna meringkuk di sudut sofa, jemarinya yang gemetar mencengkeram ponsel erat-erat. Keringat dingin merembes dari pelipisnya, bukan karena udara panas, melainkan karena denting jam dinding yang menunjukkan pukul 23.58.
Dua menit lagi. Dua menit menuju kebenaran ke-20.
"Minum dulu, Luna. Kamu pucat sekali." Raka menyodorkan secangkir teh chamomile yang masih mengepul. Cowok itu duduk di sampingnya, meletakkan tangan hangatnya di bahu Aluna. "Mungkin malam ini sebaiknya kita tidak usah mendengarkannya. Kamu sedang tidak stabil."
Aluna menggeleng pelan, rambut pendeknya yang acak-acak menutupi matanya yang sembap. "Aku harus, Ka. Maya menungguku. Dia... dia ingin aku tahu."
Raka mendesah, tatapannya terlihat penuh kecemasan yang tulusβatau setidaknya, itulah yang selalu Aluna percayai selama dua tahun mereka menjalin kasih. Raka adalah pelabuhan tenangnya saat serangan panik melanda. Raka adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menghakiminya saat ia mulai mendengar suara-suara Maya di tengah malam.
Tepat pukul 00.00, ponsel di genggaman Aluna bergetar. Sebuah notifikasi muncul. Tanpa menunggu, Aluna menekan tombol putar.
Suara statis terdengar sejenak, diikuti helaan napas berat Maya yang sangat akrab di telinga Aluna. *"Luna... kalau kamu dengar ini, berarti rahasia terakhir sudah semakin dekat. Ingat malam di studio musik kampus? Saat aku bilang aku melihat seseorang menghapus file aransemenmu? Aku bohong kalau aku bilang aku nggak tahu siapa orangnya. Aku tahu, Luna. Aku punya videonya. Orang itu... dia takut kamu lebih sukses darinya. Dia takut kamu pergi ke luar negeri dan meninggalkannya sendirian di sini. Dia bilang dia mencint**mu, tapi cintanya adalah penjara."*
Jantung Aluna seakan berhenti berdetak. Ia melirik Raka. Cowok itu mendadak kaku. Tangannya yang tadinya merangkul bahu Aluna kini terkepal kuat di atas lututnya sendiri.
Suara Maya berlanjut, kali ini dengan nada gemetar yang penuh ketakutan. *"Raka, aku tahu itu kamu. Jangan sakiti Aluna. Kalau sesuatu terjadi padaku, voice note ini akanβ"*
Suara itu terputus oleh suara keras benda jatuh dalam rekaman, diikuti pekikan singkat Maya sebelum sunyi total menyergap.
Keheningan di dalam ruangan itu terasa lebih m****akkan telinga daripada badai di luar. Aluna merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas. "Raka?" bisiknya dengan suara yang nyaris hilang. "Apa maksud Maya?"
Raka tidak bergerak. Ia menunduk, bayangan poni rambutnya menutupi ekspresi wajahnya. "Dia seharusnya diam saja, Luna," suara Raka terdengar rendah, sangat berbeda dengan nada lembut yang biasanya ia gunakan. "Dia selalu ikut campur. Dia ingin memisahkan kita dengan dalih melindungimu."
"Jadi itu benar?" Aluna mundur perlahan, punggungnya menab**k meja kayu. "Kamu yang meretas akunku? Kamu yang menyebarkan rumor tentang kesehatan mentalku di kampus supaya aku tetap bergantung padamu? Dan... Maya..."
Raka mendongak. Kilat yang menyambar di luar menerangi wajahnya sesaat, memperlihatkan sorot mata yang dingin dan asing. "Maya itu parasit. Dia tahu segalanya. Dia mengancam akan memberitahumu, menghancurkan masa depan yang sudah kususun rapi untuk kita berdua."
"Kamu membunuhnya?" Aluna berteriak, suaranya pecah oleh isak tangis yang mulai meledak. "Kamu membunuh sahabatku sendiri!"
"Itu kecelakaan!" Raka bangkit berdiri dengan gerakan cepat, membuat Aluna tersentak. "Aku hanya ingin mengambil ponselnya, tapi dia lari. Di jalanan yang licin itu... dia tidak melihat truknya, Luna. Bukan aku yang mendorongnya!"
Raka melangkah maju, tangannya terjulur seolah ingin menggapai Aluna. "Berikan ponselmu. Kita hapus semuanya. Kita mulai dari awal. Aku melakukan ini karena aku mencint**mu, Aluna! Tidak akan ada yang menjagamu seperti aku!"
"Jangan sentuh aku!" Aluna menyambar vas bunga di atas meja dan melemparkannya ke arah Raka. Vas itu pecah di bahu Raka, namun cowok itu seolah tidak merasakan sakit. Obsesi di matanya telah menggantikan sisa-sisa kewarasan.
Aluna berbalik dan berlari menuju pintu balkon, satu-satunya jalan keluar yang tidak terhalang oleh tubuh besar Raka. Ia menerjang pintu kaca itu, membiarkan angin kencang dan hujan membasahi tubuhnya seketika. Di lant** dua puluh satu ini, badai terasa seperti monster yang siap menelan apa saja.
"Aluna, kembali ke dalam! Kamu bisa jatuh!" Raka mengejarnya ke balkon. Langkahnya mantap meski lant** mulai licin oleh air hujan.
Aluna terpojok di pagar pembatas balkon yang dingin. Di bawahnya, lampu-lampu kota terlihat samar di balik tirai hujan yang lebat. "Jangan mendekat, Raka! Atau aku akan teriak!"
"Siapa yang akan mendengarmu dalam badai begini?" Raka menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang membuat Aluna mual. "Berikan ponselnya, Luna. Jangan buat aku melakukan hal yang sama pada kamu seperti yang kulakukan pada Maya."
Raka menerjang. Aluna mencoba menghindar, namun tangannya ditarik dengan kasar. Mereka bergulat di lant** balkon yang basah. Aluna menggunakan sisa-kekuatannya untuk menendang tulang kering Raka, membuat cowok itu mengaduh dan pegangannya melonggar. Aluna mencoba merangkak bangun, namun Raka menjambak rambutnya, menarik kepala Aluna ke belakang hingga ia meringis kesakitan.
"Lepas!" Aluna menyikut perut Raka sekuat tenaga. Saat Raka terbungkuk, Aluna berhasil meraih ponselnya yang tergeletak di dekat kaki meja balkon. Ia bangkit, napasnya memburu, paru-parunya terasa terbakar.
Raka bangkit dengan perlahan, wajahnya kini merah padam oleh amarah yang tak lagi dibendung. "Kamu pikir kamu bisa lari dariku? Setelah semua yang kuberikan untukmu?"
Raka menerjang lagi, kali ini lebih brutal. Ia mendorong Aluna hingga punggung gadis itu menghantam pagar balkon dengan keras. Aluna merasa tulang belakangnya seakan retak. Di tengah kekacauan itu, Raka mencekik lehernya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencoba merebut ponsel yang digenggam erat oleh Aluna.
"Berikan!" bentak Raka.
Aluna terbatuk, wajahnya mulai membiru karena kekurangan oksigen. Namun, di tengah kepanikannya, pendengaran tajamnya menangkap sesuatu. Bukan suara badai, bukan pula suara Raka.
*Klik.*
Suara pintu utama apartemen yang dibuka paksa.
Raka juga mendengarnya. Ia menoleh sesaat ke arah pintu dalam, dan di saat itulah Aluna mengumpulkan seluruh keberaniannya. Dengan sisa tenaga, ia menghantamkan sikunya ke wajah Raka, lalu mendorong tubuh cowok itu menjauh. Raka kehilangan keseimbangan di atas lant** yang licin dan jatuh terjengkang.
Aluna segera berlari menuju pintu balkon untuk ma**k kembali ke dalam, namun tepat saat ia mencapainya, sebuah tangan lain muncul dari kegelapan di dalam apartemen, menariknya ma**k dengan sentakan kasar.
Aluna menjerit, menyangka itu adalah kaki tangan Raka, namun suara yang menyapa indra pendengarannya membuat jantungnya seolah copot.
"Diam, Aluna. Ini aku."
Aluna mendongak, melihat sosok yang berdiri di depannya dengan napas tersengal dan baju yang basah kuyup. Itu adalah seseorang yang selama ini ia anggap sudah menjauh, seseorang yang juga disebut-sebut dalam beberapa voice note Maya sebelumnya sebagai ancaman.
Di belakang mereka, Raka sudah kembali berdiri di ambang pintu balkon dengan tatapan membunuh, memegang sebilah pisau lipat yang entah sejak kapan ada di tangannya.
Aluna terjepit di antara dua orang yang kini tampak sama berbahayanya. Ia menunduk ke arah ponselnya yang masih menyala, menampilkan durasi voice note ke-20 yang baru saja berakhir, tepat sebelum sebuah notifikasi baru muncul di layarβsebuah pesan singkat dari nomor Maya yang seharusnya tidak mungkin ada.
*Lari, Luna. Dia bukan siapa yang kamu kira.*
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!