Lant** semen ini terasa sedingin es yang merambat ma**k ke dalam sumsum tulangku. Aku bisa merasakan detak jantungku sendiri, bukan sebagai denyut kehidupan, melainkan sebagai dentuman palu yang menghantam dada dengan ritme yang tidak beraturanβ*staccato* yang kacau. Di sudut penglihatanku yang mulai mengabur, cairan pekat berwarna merah tua mengalir pelan dari balik kemejaku, menciptakan genangan kecil yang berkilau di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip.
Setiap embusan napas adalah siksaan. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk paru-paruku. Di depannya, bayangan hitam itu masih berdiri, menggenggam sesuatu yang berkilat tajam. Aku ingin berteriak, memohon, atau setidaknya menyumpahinya, namun tenggorokanku seolah tersumbat oleh gumpalan rasa takut dan sisa darah.
"Kau seharusnya tidak sejauh ini, Aluna," suara itu terdengar rendah, bergetar antara kebencian dan keputusasaan. "Maya sudah mati. Seharusnya rahasia itu ikut terkubur bersamanya."
Aku memejamkan mata, menunggu hantaman terakhir yang akan mengakhiri segalanya. Pikiranku melayang pada konser biolaku tahun lalu, saat Maya duduk di kursi paling depan, bertepuk tangan paling keras meski permainanku tidak sempurna. *Maafkan aku, Maya. Aku gagal.*
Namun, tepat saat bayangan itu melangkah maju, ponselku yang tergeletak satu meter dariku kembali menyala. Getarannya mendengung di lant** beton yang sunyi. Pukul 00:00. Pesan suara ke-21.
Suara Maya memecah kesunyian, jernih dan tenang melalui speaker ponsel yang sudah retak. *"Aluna, jika kau mendengarkan ini tepat waktu, artinya aku sudah memberikanmu kunci terakhir. Tapi aku tahu kau, Luna. Kau terlalu keras kepala. Kau akan mengejar kebenaran ini sampai ke sarang serigala tanpa membawa senjata."*
Langkah kaki itu terhenti. Bayangan di depanku tampak ragu, bingung mendengar suara dari alam kubur yang kembali menggema di ruangan lembap ini.
Suara Maya berlanjut, kali ini dengan nada yang lebih tegas, hampir seperti perintah. *"Aku sudah mengatur protokol darurat pada pesan ini. Begitu pesan ini terputar hingga detik ke-tiga puluh, koordinat GPS-mu akan otomatis terkirim ke unit kejahatan siber Kepolisian Pusat beserta seluruh rekaman percakapan yang tertangkap mikrofon ponselmu dalam lima menit terakhir. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, Luna. Tidak lagi."*
Hening sejenak. Dunia seakan berhenti berputar.
"Apa?!" Suara pria di hadapanku pecah menjadi pekikan panik. Dia menerjang ke arah ponselku, berniat menghancurkannya, namun terlambat.
Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara yang sangat kukenal sebagai seorang mahasiswa musik. Bukan nada biola, melainkan nada sirene. *Do-Fa-Do-Fa.* Dua nada yang saling mengejar, semakin lama semakin keras, membelah kesunyian malam di pinggiran kota yang terisolasi ini. Cahaya merah dan biru mulai berpendar di balik jendela kotor gudang tua ini, menyapu dinding-dinding berlumut dengan warna yang berdenyut.
"Sial! Ba******!" Pria itu mundur, matanya liar mencari jalan keluar. Dia menatapku sekali lagiβtatapan penuh dendam yang membuat bulu kudukku meremangβsebelum akhirnya berbalik dan berlari menuju pintu belakang, menghilang ke dalam kegelapan lorong.
Aku mencoba menggerakkan tanganku, ingin meraih ponsel itu, namun seluruh kekuatanku seolah menguap. Kepalaku terasa ringan, seolah jiwaku mulai terlepas dari raganya.
"Di sini! Ada korban!"
Suara pintu yang didob**k terdengar seperti ledakan di telingaku. Langkah-langkah sepatu bot yang berat menghentak lant**, menimbulkan resonansi yang menyakitkan di kepalaku. Aku melihat bayangan-bayangan berseragam biru tua ma**k, senjata mereka terhunus, namun fokusku hanya pada satu hal.
Ponsel itu. Layarnya masih menyala.
Seorang petugas medis berlutut di sampingku. Tangannya yang hangat menekan luka di perutku dengan kain kasa. "Tetap terjaga, Dek! Lihat saya! Siapa namamu?"
Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada layar ponsel. Pesan suara Maya masih berjalan, meski suaranya kini hanya berupa bisikan halus di tengah kegaduhan polisi yang mengamankan area.
"Maya..." bisikku parau. Rasanya ada sesuatu yang hangat mengalir di pipiku, bukan darah, melainkan air mata yang akhirnya pecah.
"Ambulans segera datang! Tekanan darahnya turun drastis!" teriak petugas itu kepada rekannya.
Aku merasakan tubuhku diangkat ke atas tandu. Guncangan itu memicu rasa sakit yang luar biasa, membuat kesadaranku timbul tenggelam. Saat mereka membawaku keluar menuju udara malam yang dingin, aku melihat pemandangan terakhir sebelum kegelapan benar-benar menyergap: ponselku diambil oleh seorang detektif berpakaian preman. Dia menatap layar itu dengan dahi berkerut, lalu menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Di dalam ambulans yang mulai melaju, di antara bunyi bip monitor jantung yang semakin melemah, aku masih bisa mendengar sisa pesan Maya yang terngiang di kepalaku. Bukan dari ponsel, tapi dari ingatanku yang paling dalam.
*"Luna, ini belum selesai. Masih ada dua pesan lagi. Yang terakhir... adalah alasan mengapa aku harus pergi. Jangan percaya pada siapa pun, Luna. Bahkan pada orang yang sekarang sedang memegang tanganmu."*
Aku tersentak, mencoba membuka mata, namun kelopak mataku terasa seberat timah. Siapa yang memegang tanganku sekarang? Aku merasakan jemari seseorang menggenggam tanganku dengan erat di dalam ambulans yang berguncang. Genggaman yang seharusnya menenangkan, namun entah mengapa, kini terasa seperti cengkeraman yang dingin.
Kegelapan menyapu segalanya, menyisakan satu pertanyaan yang terus berdenyut di benakku: Siapa yang sebenarnya menyelamatkanku, dan siapa yang baru saja ma**k ke dalam lingkaran permainan Maya ini?
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!