Detik jam dinding di atas meja belajarku terasa seperti hantaman palu di atas *anvil*. Setiap detaknya bergema di dalam tengkorakku, menciptakan ritme sinkopasi yang berantakan dengan detak jantungku sendiri. Aku meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lutut erat-erat hingga persendianku memutih. Kamar ini gelap, hanya diterangi cahaya pucat dari layar ponsel yang tergeletak di depanku.
Pukul 23.59.
Tanganku gemetar saat meraih benda pipih itu. Dingin permukaannya merambat ke telapak tanganku yang berkeringat. Selama dua puluh satu malam terakhir, aku telah hidup dalam simfoni horor yang dikomposisi oleh Maya dari balik liang lahat. Aku telah mendengar tentang pengkhianatan, tentang wajah-wajah bermuka dua yang selama ini kami anggap teman, dan tentang rasa sakit yang disembunyikan Maya di balik filter Instagram-nya yang ceria.
Tepat saat angka di layar berubah menjadi 00.00, sebuah getaran pendek mengejutkanku. Jantungku mencelos.
*Satu pesan suara baru.*
Aku memejamkan mata sejenak, menghirup udara yang terasa berat seolah oksigen di ruangan ini telah digantikan oleh debu makam. Sebagai mahasiswa musik, aku selalu peka terhadap frekuensi. Namun, frekuensi suara Maya dalam setiap pesan ini tidak pernah benar-benar selaras. Ada distorsi kesedihan yang tak mampu aku saring.
Dengan jari yang masih gemetar, aku menekan tombol *play*.
Hening selama tiga detik pertama. Hanya ada desis halus *white noise* yang membuat bulu kudukku berdiri. Lalu, sebuah tarikan napas panjang terdengar. Itu adalah suara napas yang berat, jenis napas yang diambil seseorang sebelum mereka terjun ke jurang.
"Luna..."
Suara Maya terdengar sangat dekat, seolah dia sedang berbisik tepat di telingaku. Suaranya tidak lagi penuh amarah atau sinisme seperti pesan-pesan sebelumnya. Kali ini, suaranya terdengar... rapuh. Seperti porselen retak yang dipaksa bertahan agar tidak hancur berkeping-keping.
"Luna, ini pesan kedua puluh dua. Aku tahu kau pasti sangat lelah. Maafkan aku."
Aku tersedak oleh isak tanganku sendiri yang kutahan. Kata "maaf" itu terdengar sangat asing setelah semua teror mental yang ia kirimkan padaku selama tiga minggu terakhir.
"Aku minta maaf karena telah menyeretmu ke dalam labirin ini," suara Maya bergetar, ada nada serak yang menandakan dia sedang menangis saat merekamnya. "Aku tahu aku egois. Aku menjadikanmu saksi atas kehancuranku karena aku terlalu pengecut untuk menghadapi mereka sendirian saat aku masih bernapas. Aku meninggalkanmu dengan beban yang seharusnya tidak pernah kau pikul, Luna. Aku membuatmu terjaga setiap malam, membuatmu mempertanyakan kewarasanmu sendiri, dan membuatmu melihat dunia dengan kacamata yang sama gelapnya dengan kacamataku."
Aku merosot dari tempat tidur, terduduk di lant** yang dingin. Air mata mulai mengalir deras, membasahi pipiku. "Kenapa, May? Kenapa harus seperti ini?" bisikku pada kesunyian kamar, meski aku tahu tidak akan ada jawaban langsung.
"Dulu, aku pikir membagikan rahasia ini padamu akan meringankan bebanku," lanjut suara di ponsel itu. "Tapi sekarang, di saat-saat terakhirku sebelum aku menjadwalkan semua pesan ini... aku sadar bahwa aku hanya memindahkan racun itu ke nadimu. Luna, sahabatku yang paling baik... kau adalah satu-satunya orang yang benar-benar mendengarkanku. Bahkan saat aku hanya diam, kau tahu ada nada yang salah dalam suaraku. Itulah kenapa aku memilihmu. Dan itulah kenapa aku paling merasa bersalah padamu."
Ada jeda c**up lama. Di seberang sana, dalam rekaman itu, aku bisa mendengar suara angin malam yang menderu pelan. Maya pasti merekam ini di balkon kamarnya, tempat terakhir ia berdiri sebelum kecelakaan tragis itu terjadi.
"Maafkan aku karena membuatmu merasa kau gagal menyelamatkanku. Kau tidak gagal, Luna. Akulah yang sudah menyerah jauh sebelum kau menyadarinya. Jangan biarkan suaraku menjadi hantu yang mengikutimu selamanya. Jangan biarkan namaku menjadi alasan kau berhenti mencint** musik. Kau punya pendengaran yang indah, jangan gunakan itu hanya untuk mendengar ratapan orang mati."
Tangisku pecah. Bahuku terguncang hebat. Selama ini, ada sebuah beban raksasa yang menindih dadakuβperasaan bahwa aku adalah sahabat yang buruk, bahwa aku seharusnya bisa mencegah kematiannya, bahwa aku adalah penyebab dia merasa sendirian. Namun, mendengar suara Maya yang membebaskanku dari rasa bersalah itu terasa seperti sebuah katarsis yang menyakitkan sekaligus melegakan. Seolah-olah frekuensi yang selama ini terdistorsi di dalam kepalaku tiba-tiba menemukan harmoni yang murni.
Aku memeluk ponsel itu di dadaku, merasakan getaran suaranya hingga ke tulang rusuk.
"Tinggal satu pesan lagi, Luna," suara Maya kembali tenang, namun ada nada finalitas yang menakutkan di sana. "Pesan terakhir besok malam bukan untukku. Itu untukmu. Dan untuk *dia*. Besok malam, semuanya akan berakhir. Kau akan tahu segalanya, dan setelah itu... tolong hapus aku, Luna. Hapus semua pesan ini. Hiduplah tanpa resonansi dariku lagi."
Klik. Pesan berakhir.
Keheningan yang menyusul setelahnya terasa lebih pekat dari sebelumnya. Aku masih terduduk di lant**, napas duniaku perlahan mulai stabil meskipun sisa-sisa isak masih tertinggal. Aku memaafkannya. Aku memaafkan diriku sendiri. Rasa hangat yang aneh menjalar di dadaku, sebuah pengampunan yang selama ini kupikir mustahil kudapatkan.
Namun, kalimat terakhir Maya berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak. *Besok malam, semuanya akan berakhir. Kau akan tahu segalanya, dan setelah itu... untuk dia.*
Siapa 'dia'?
Tiba-tiba, pendengaranku yang tajam menangkap suara lain. Bukan dari ponsel, bukan dari ingatanku.
*Kriet...*
Suara engsel pintu depan rumahku yang tidak berpelumas berbunyi pelan. Di bawah sana, di lant** satu yang seharusnya kosong karena ibuku sedang dinas luar kota, aku mendengar langkah kaki yang sangat berhati-hati. Langkah kaki yang berusaha keras untuk tidak menimbulkan suara di atas lant** kayu tua.
Darahku mendebu. Katarsis yang baru saja kurasakan menguap seketika, digantikan oleh adrenalin yang dingin dan menusuk. Seseorang berada di dalam rumahku. Seseorang yang mungkin tahu bahwa pesan ke-22 baru saja berakhir, dan pesan ke-23 adalah ancaman terakhir bagi mereka.
Aku mematikan layar ponselku, membuat kamar ini jatuh ke dalam kegelapan total. Dalam sunyi yang mencekam, aku menahan napas, mencoba menangkap frekuensi gerakan di bawah sana.
Langkah kaki itu mulai menaiki tangga. Satu per satu. Perlahan. Teratur. Dan tujuannya hanya satu: kamarku.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!