Jarum jam dinding di kamarku bergerak dengan suara detak yang terasa seperti hantaman palu di atas landasan besi. *Tik. Tik. Tik.* Setiap detaknya mengikis sisa-sisa kewarasanku yang sudah menipis selama dua puluh dua hari terakhir. Aku duduk meringkuk di atas tempat tidur, memeluk lutut erat-erat. Ponsel di hadapanku tergeletak dengan layar yang masih gelap, namun cahayanya yang sebentar lagi akan memancar seolah sudah membakar kornea mataku.
Pukul 23:58.
Tanganku gemetar saat meraih benda pipih itu. Telapak tanganku berkeringat, membuat permukaannya terasa licin dan tidak nyaman. Selama tiga minggu ini, hidupku bukan lagi milikku. Aku telah diseret melalui lumpur rahasia Mayaβtentang perundungan yang ia simpan rapat, tentang wajah-wajah pengkhianat yang selama ini kami anggap kawan, dan tentang rasa sakit yang akhirnya membawanya ke aspal jalanan malam itu.
Pukul 23:59.
Aku memejamkan mata. Sebagai mahasiswa musik, aku selalu peka terhadap frekuensi. Dan selama ini, suara Maya dalam *voice note* itu memiliki frekuensi yang berat, penuh dengan distorsi kesedihan dan ketakutan. Aku takut jika pesan terakhir ini akan menjadi simfoni yang menghancurkanku sepenuhnya. Aku takut jika setelah ini, tidak ada lagi yang tersisa darinya.
Lalu, getaran itu datang. Sebuah notifikasi tunggal.
Tepat pukul 00:00.
Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen yang terasa tipis memenuhi paru-paruku yang sesak. Jariku menyentuh layar, membuka aplikasi pesan. Di sana, di kolom percakapan yang penuh dengan rekaman suara dari "Maya", muncul satu pesan baru. Pesan kedua puluh tiga. Pesan terakhir.
Aku menekan tombol *play*.
Sunyi sejenak. Hanya ada derau halus yang biasa terdengar jika seseorang merekam di ruangan yang sangat tenang. Lalu, suara itu muncul.
"Aluna..."
Suaranya tidak seperti pesan-pesan sebelumnya. Tidak ada isak tangis yang tertahan, tidak ada nada panik yang memburu. Suara Maya kali ini terdengar jernih, seringan embun yang jatuh di atas daun. Ada sebuah ketenangan yang asing di sana, seolah ia sedang tersenyum saat mengucapkannya.
"Kalau kamu mendengar ini, berarti kamu sudah melewati semuanya. Terima kasih karena sudah mendengarkan, Na. Terima kasih karena tidak memalingkan telinga saat aku menceritakan hal-hal yang mungkin membuatmu tidak bisa tidur."
Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan isak yang mulai mendesak di tenggorokan.
"Aku tahu aku egois," suara Maya berlanjut, diikuti tawa kecil yang sangat aku rindukanβtawa yang biasa ia lepaskan saat kami duduk di kantin kampus sambil berbagi segelas es kopi. "Aku meninggalkan beban ini di pundakmu. Tapi aku hanya ingin seseorang tahu bahwa aku ada. Bahwa apa yang terjadi padaku bukan sekadar angka dalam laporan kecelakaan lalu lintas. Aku punya cerita, dan kamu adalah satu-satunya orang yang bisa aku percayai untuk menyimpannya."
Aku menatap layar ponselku yang mulai buram karena air mata yang menggenang. Bayangan Maya saat terakhir kali kami bertemu terlintasβdia yang memakai syal rajut birunya, melambaikan tangan dengan wajah yang tampak lelah namun berusaha tetap ceria.
"Aluna, dengar baik-baik," nadanya berubah sedikit lebih serius, namun tetap lembut. "Jangan biarkan suara-suara ini memenjarakanmu. Rahasia-rahasia itu... biarlah mereka menjadi bagian dari masa lalu. Aku sudah memaafkan mereka, Na. Bukan karena mereka layak, tapi karena aku ingin kamu bebas. Aku ingin kamu kembali memegang biolamu, kembali mengejar nada-nada yang hilang karena kecemasanmu. Hiduplah untukmu sendiri. Jangan hidup di dalam bayang-bayang kematianku."
Suara hembusan napas panjang terdengar dari rekaman itu. "Pukul dua belas malam setelah ini, tidurlah yang nyenyak. Jangan menunggu notifikasi lagi. Aku sudah tenang sekarang. Aku sayang kamu, Na. Selamat tinggal."
*Klik.*
Pesan itu berakhir. Aku terpaku, membiarkan keheningan kamar menyelimutiku. Untuk pertama kalinya dalam tujuh hari setelah pemakamannya, atau bahkan mungkin jauh sebelum itu, dadaku tidak terasa sesak. Rasanya seolah ada beban ribuan ton yang perlahan-lahan menguap dari pundakku. Maya tidak ingin aku menjadi martir bagi rahasianya. Dia ingin aku bebas.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi di layar ponselku.
Sebuah ikon jam pasir kecil muncul di samping rekaman suara itu. Warnanya merah menyala. Sebelum aku sempat berpikir untuk menyimpannya atau memutarnya kembali, rekaman itu mulai memudar. Angka durasinya terhapus.
"Tunggu!" seruku pelan, jemariku dengan panik mencoba menekan layar.
Tapi terlambat. Seperti pasir yang tertiup angin kencang, satu per satu pesan suara dari Maya mulai menghilang dari daftar percakapan. Pesan ke-22, ke-21, ke-20... semuanya lenyap dalam hitungan detik. Aku menonton dengan napas tertahan saat sejarah tiga minggu terakhir ini dihapus secara otomatis oleh sistem yang entah bagaimana telah dijadwalkan oleh Maya.
Layar itu kini bersih. Kosong. *No messages.*
Seolah-olah komunikasi ghaib ini tidak pernah terjadi. Seolah-olah Maya benar-benar telah membawa semua rahasianya kembali ke liang lahat, hanya menyisakan getaran emosi yang tertinggal di jiwaku.
Aku menyandarkan punggungku ke kepala tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Air mataku mengalir, tapi kali ini bukan karena rasa sakit yang menyayat. Ini adalah pelepasan. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar memenuhi rongga dadaku. Benar kata Maya, aku harus melangkah maju. Besok, aku akan kembali ke kampus. Besok, aku akan menyentuh senar biolaku lagi.
Aku mematikan lampu meja, bersiap untuk tidur yang sesungguhnya. Namun, tepat saat aku hendak memejamkan mata, sensor gerak di lampu teras rumahku yang bisa terpantau dari jendela kamar tiba-tiba menyala.
Cahaya terang itu menembus celah gorden, menyinari lant** kamarku.
Aku mengerutkan kening. Siapa yang bertamu ke rumahku pukul dua belas lewat lima menit? Aku bangkit dengan waspada, rasa cemas yang kukira sudah hilang kini kembali merayap di tengkukku. Dengan tangan gemetar, aku menyibak sedikit gorden jendela.
Di bawah lampu jalan yang remang, seorang pria berdiri di depan gerbang rumahku. Ia tidak bergerak, hanya menatap lurus ke arah jendela kamarku. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop cokelat besar yang terlihat identik dengan yang pernah kulihat di dalam tas Maya sebelum kecelakaan itu terjadi.
Pria itu mendongak, dan saat matanya bertemu dengan mataku, ia meletakkan amplop itu di atas kotak surat, lalu berbalik pergi dengan terburu-buru ke dalam kegelapan malam.
Maya bilang tidak akan ada lagi pesan di pukul dua belas. Tapi sepertinya, dunia nyata punya cara lain untuk mengirimkan pesannya.
Lanjutkan Membaca Bab 23 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!