Layar ponsel itu masih menyala, membiarkan cahaya biru pucatnya menerpa wajahku yang mungkin sudah sepucat kertas. Suara Maya dari *voice note* kedua tadi masih terngiang, berputar-putar di telingaku seperti melodi disonan yang gagal aku selesaikan di kelas komposisi. Jarum jam di dinding kamarku berdetak, suaranya yang tajam terasa seperti hantaman palu kecil yang menghantam saraf-saraf kepalaku.
Aku mengatur napas, mencoba meredam debaran jantung yang mulai tidak beraturan—gejala yang sangat kukenali sebagai pembuka serangan panik. Satu, dua, tiga... embuskan. Maya sudah tiada. Aku melihat tubuhnya diturunkan ke tanah. Aku mencium bau kembang kamboja yang memuakkan itu. Tapi pesan-pesan ini... mereka terlalu nyata.
Tanganku yang gemetar meraih MacBook perak di atas meja belajar. Itu adalah laptop lama milik Maya yang dipinjamkannya padaku sebulan lalu untuk mengerjakan tugas aransemen musik. Ia bilang baterainya sudah agak drop, tapi prosesornya masih kuat untuk menjalankan perangkat lunak produksi musik yang berat. Seharusnya aku mengembalikannya minggu lalu, tapi kecelakaan itu mengubah segalanya.
"Kamu menyimpan apa di sini, May?" bisikku lirih. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, parau dan penuh ketakutan.
Aku mema**kkan kata sandi yang sudah kuhapal di luar kepala: tanggal lahir pianis favoritnya. Layar utama terbuka, menampilkan *wallpaper* pemandangan danau yang tenang, kontras dengan badai yang berkecamuk di dadaku. Jariku menari di atas *trackpad*, mencari-cari sesuatu yang tidak biasa. Aku bukan ahli teknologi, tapi sebagai mahasiswa musik, ketelitian adalah nafasku. Aku mulai menyisir riwayat peramban, folder-folder tersembunyi, hingga mataku tertumpu pada sebuah ikon kecil di baris aplikasi: sebuah logo berbentuk jam pasir dengan sayap kecil.
*EchoPost.*
Aku mengekliknya. Sebuah dasbor muncul, meminta autentikasi. Beruntung, Maya selalu mengaktifkan fitur "simpan kata sandi". Begitu ma**k, sebuah daftar panjang muncul di hadapanku. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat.
Ada 23 baris pesan suara yang sudah diunggah. Dua di antaranya bertanda "Terkirim", sementara sisanya menunjukkan status "Terjadwal".
"Jadi benar... ini aplikasi pengirim pesan otomatis," gumamku. Napas yang tadi tertahan kini keluar dalam satu hembusan lega yang pendek, namun kelegaan itu hanya bertahan sedetik sebelum digantikan oleh kedinginan yang menusuk tulang.
Aku mulai memeriksa det**l pengaturan pesan tersebut. Mataku menyipit, berusaha membaca deretan angka kecil di kolom "Waktu Penjadwalan". Pikiranku mulai melakukan kalkulasi cepat. Maya meninggal tujuh hari yang lalu, pada hari Selasa malam pukul 23:45. Kecelakaan tunggal. Rem blong di jalan menurun yang licin setelah hujan. Semua orang bilang itu murni kelalaian, sebuah tragedi yang tak terhindarkan.
Namun, angka-angka di layar ini meneriakkan hal yang berbeda.
Pesan-pesan ini—semuanya—dijadwalkan pada hari Minggu sore, dua hari sebelum kecelakaan itu terjadi.
Aku merasakan sensasi dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke tengkuk. Jika ini adalah pesan "seandainya aku mati", maka seharusnya ada syarat pemicu. Tapi tidak ada. Tidak ada tombol *Dead Man's Switch* yang memerlukan konfirmasi harian. Maya secara sadar, pada hari Minggu yang cerah itu, telah mengatur agar 23 pesan suara ini dikirimkan kepadaku setiap tengah malam, tepat mulai tujuh hari setelah kematiannya.
Ia tidak hanya bersiap untuk mati. Ia tahu ia akan mati. Atau lebih buruk lagi... ia merencanakannya.
"Enggak mungkin," aku menggeleng keras, seolah gerakan itu bisa mengusir kenyataan pahit yang mulai merembes ma**k. "Kamu nggak mungkin bunuh diri, May. Kamu baru saja membeli tiket konser yang kita impikan bulan depan. Kamu sedang semangat-semangatnya latihan biola."
Aku menggeser kursor ke arah pesan ketiga yang akan dikirim besok malam. Judul berkasnya hanya sebuah kode: *DS_03_TheLiars.*
Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di pojok kanan atas layar laptop. Bukan dari aplikasi *EchoPost*, melainkan sebuah pesan ma**k dari aplikasi *chat* desktop yang masih aktif.
**Pengguna Tak Dikenal:** *Berhenti menggali, Aluna. Beberapa simfoni lebih baik tetap menjadi sunyi.*
Aku tersentak mundur, kursiku berdecit keras di atas lant** kayu. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku dengan beringas. Bagaimana bisa ada yang tahu aku sedang membuka laptop ini? Pandanganku beralih ke jendela kamar yang tertutup gorden tipis. Di luar sana, kegelapan malam terasa seperti mata raksasa yang sedang mengawasiku.
Aku segera menutup layar laptop dengan kasar, seolah tindakan itu bisa memutus akses dunia luar ke dalam privasiku. Ruangan kembali gelap, hanya menyisakan keremangan dari lampu tidur di sudut. Keheningan yang tadinya menenangkan kini terasa mencekam.
Maya tahu ia akan mati. Dan seseorang di luar sana juga tahu bahwa aku sekarang memegang kunci rahasianya.
Aku memeluk lututku di atas kursi, menyembunyikan wajah di antara lipatan lengan. Di dalam kepalaku, suara Maya dari pesan kedua tadi kembali berputar, seolah sedang mengejek ketidaktahuanku.
*“Aluna, jangan percaya pada harmoni yang terdengar terlalu sempurna...”*
Aku menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada teror orang asing itu. Jika Maya menjadwalkan pesan-pesan ini sebelum kecelakaan, berarti setiap kata yang ia ucapkan dalam rekaman itu adalah sebuah kesaksian dari orang yang sudah melihat ajalnya sendiri.
Aku meraih ponselku yang tergeletak di ka**r, jempolku gemetar di atas layar yang gelap. Besok pukul 00:00, pesan ketiga akan datang. Pesan tentang "Para Pembohong". Dan aku mulai merasa bahwa daftar pembohong itu mungkin mencakup semua orang yang selama ini kukenal, terma**k diriku sendiri yang merasa paling mengenal Maya.
Suara detak jam dinding kini terdengar seperti hitung mundur. Aku tidak punya pilihan. Aku harus mendengarkan semuanya, meskipun itu berarti aku harus menghancurkan seluruh duniaku demi kepingan kebenaran yang ditinggalkan Maya.
Tapi, apakah aku c**up kuat untuk mendengar suara dari liang lahat yang akan menelanjangi semua orang yang kucint**?
Lampu jalan di luar tiba-tiba berkedip dan mati, meninggalkan kamarku dalam kegelapan total. Di tengah kesunyian itu, aku bersumpah mendengar suara bisikan halus di dekat telingaku, persis seperti frekuensi tinggi biola yang sumbang.
"Cari mereka, Aluna."
Aku tersentak, menoleh ke arah tempat tidur yang kosong, namun hanya ada bayang-bayang benda mati yang diam membisu. Keringat dingin mengucur di pelipisku. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan aku sudah merasa kehilangan napas di tengah jalan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!