Jarumm jam dinding di kamarku bergerak dengan ritme yang terasa seperti detak jantung yang terpacu. *Tik. Tik. Tik.* Sebagai mahasiswa musik, aku selalu peka terhadap tempo, dan malam ini, tempo dunia seolah melambat secara paksa, memberiku ruang untuk merasa tercekik oleh kesunyian. Aku meringkuk di atas tempat tidur, memeluk lutut erat-erat sementara ponsel di genggamanku terasa sedingin es.
Tepat saat angka digital di layar ponsel beralih menjadi 00:00, getaran pendek mengejutkan ujung jariku. Jantungku mencelos. Sebuah notifikasi pesan suara muncul dari kontak yang seharusnya sudah terkubur di bawah tanah pemakaman San Diego Hills.
*Maya.*
Dengan tangan gemetar, aku menekan tombol *play*. Suara statis tipis mengawali rekaman itu, diikuti oleh helaan napas berat yang sangat kukenali.
"Aluna..." Suara Maya terdengar parau, seolah dia sedang menahan tangis atau baru saja selesai berteriak. "Aku tahu kau pasti bingung. Mungkin kau takut. Tapi tolong, jangan berhenti mendengarkan. Ada bagian dari diriku yang tertinggal di kampus. Sesuatu yang terlalu berat untuk aku bawa pulang ke rumah, tapi terlalu berbahaya jika dibiarkan begitu saja."
Ada jeda panjang. Aku bisa mendengar suara latar berupa gemericik airβmungkin hujan, atau mungkin suara keran yang bocor.
"Loker 402, Al. Di lorong gedung sayap barat yang lama. Kuncinya ada di bawah pot bunga plastik di depan studio piano utama. Cepatlah, sebelum mereka menyadarinya. Jangan percaya pada siapa pun yang bertanya kenapa kau ada di sana."
Pesan suara itu berakhir dengan bunyi klik tajam. Keheningan kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih mengancam. Loker 402. Itu loker lama Maya yang seharusnya sudah dikosongkan oleh pihak kampus sejak semester lalu ketika ia memutuskan pindah ke asrama. Kenapa dia menyebutnya sekarang?
Malam itu, aku tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali aku mencoba tidur, bayangan wajah Maya yang pucat di peti mati berkelebat, kontras dengan suaranya yang barusan terdengar begitu... hidup.
***
Keesokan paginya, kampus terasa berbeda. Aku berjalan menyusuri koridor Fakultas Seni dengan langkah yang terburu-buru, mengabaikan sapaan beberapa teman seangkatan. Pendengaranku yang tajam menangkap setiap bisikan di sekitarkuβgesekan sol sepatu di lant** marmer, denting kunci, hingga tawa rendah di sudut kantinβsemuanya terdengar seperti simfoni yang sumbang di telingaku.
Tanganku berkeringat dingin saat aku membungkuk di depan studio piano utama. Di sana, di bawah pot bunga plastik yang berdebu, jemariku meraba sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah kunci kecil dengan gantungan berbentuk not balok yang sudah kusam. Hatiku berdegup kencang. Maya tidak berbohong.
Aku segera menuju gedung sayap barat. Bagian gedung ini jarang dilewati mahasiswa karena bangunannya yang tua dan sistem pencahayaannya yang sering mati-nyala. Bau apek kayu tua dan besi berkarat menyambutku saat aku mema**ki lorong loker.
Nomor 400... 401... 402.
Langkahku terhenti mendadak. Napas yang tadinya sudah tersengal kini tertahan di tenggorokan.
Loker 402 tidak tertutup. Pintunya yang berwarna abu-abu kusam itu tampak sedikit bengkok, seolah-olah telah dicongkel secara paksa. Di lant**, berserakan beberapa lembar kertas musik yang sobek dan sebuah botol minum plastik yang penyok.
"Nggak mungkin," bisikku lirih. Suaraku bergema di lorong yang sepi.
Aku melangkah maju dan menarik pintu loker itu hingga terbuka sepenuhnya. Kosong. Hanya ada debu yang menari-nari tertimpa cahaya lampu neon yang berkedip. Tidak ada buku harian, tidak ada rahasia, hanya ruang kosong yang terasa dingin.
"Mencari sesuatu, Aluna?"
Suara berat itu membuatku melonjak kaget. Aku berbalik dengan cepat, punggungku menghantam deretan besi loker hingga menimbulkan suara dentang yang m****akkan telinga. Pak Satrio, kepala keamanan kampus yang bertubuh tambun, berdiri beberapa meter dariku dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya datar, namun matanya yang kecil menatapku dengan tajam.
"S-saya... saya cuma mau mengambil barang Maya yang tertinggal, Pak," jawabku terbata. Tanganku yang memegang kunci segera kusembunyikan di balik saku jaket.
Pak Satrio melangkah mendekat, langkah sepatunya terdengar berat dan mendominasi. "Loker-loker di sini sudah dikosongkan pagi tadi atas perintah dekanat. Semua isinya sudah diamankan untuk prosedur pembersihan barang mahasiswa yang sudah tidak aktif."
"Diamankan?" Aku menelan ludah, mencoba meredam getaran di suaraku. "Boleh saya tahu di mana barang-barangnya sekarang? Saya sahabat baiknya, saya bisa menyerahkannya pada keluarganya."
Pak Satrio terdiam sejenak, matanya menyapu wajahku seolah sedang mencari sesuatu. "Barang-barang dari loker ini? Kosong, Aluna. Saat petugas keamanan membukanya tadi pagi, loker ini sudah tidak ada isinya kecuali sampah kertas. Seseorang tampaknya sudah membobolnya lebih dulu tadi malam."
Duniaku terasa berputar. Seseorang sudah membobolnya? Siapa? Apakah orang yang sama yang menyebabkan kecelakaan Maya?
"Pagi tadi pintunya sudah rusak seperti itu," lanjut Pak Satrio sambil menunjuk engsel loker yang bengkok. "Lain kali, jangan berkeliaran di gedung tua ini sendirian. Tidak aman."
Dia berbalik pergi, meninggalkanku dalam kesunyian yang mencekam. Aku merosot ke lant**, menatap ruang kosong di dalam Loker 402. Namun, saat mataku menyapu lant** sekali lagi, aku melihat sesuatu yang terabaikan oleh Pak Satrio.
Di sudut terdalam loker, tertempel sebuah stiker kecil berbentuk bintang yang nyaris lepas. Di balik stiker itu, ada sebuah tulisan tangan kecil dengan tinta merah yang tampak tergesa-gesa: *'Dia melihatmu, Al.'*
Bulu kudukku meremang. Aku merasa seolah-olah ada sepasang mata yang sedang menatapku dari kegelapan lorong. Tepat saat itu, ponselku bergetar lagi. Bukan tengah malam, tapi sebuah pesan teks ma**k dari nomor yang tidak dikenal.
*Isi lokernya sudah ada padaku. Jangan coba-coba mencari tahu lebih jauh jika kau masih ingin mendengar suara Maya sampai habis.*
Aku tersedak napas sendiri. Aku tidak hanya berurusan dengan pesan dari orang mati, tapi juga dengan seseorang yang masih hidup dan sangat berbahaya. Seseorang yang baru saja menyatakan perang di lorong sepi ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!