Lant** kayu koridor gedung fakultas musik yang tua ini selalu mengeluarkan derit yang sama setiap kali kupijak—nada *E-flat* yang sumbang dan meresahkan. Biasanya, suara itu terkubur oleh hiruk-pikuk mahasiswa yang berlatih piano atau gesekan biola yang tidak presisi. Namun sore ini, gedung ini terasa seperti peti mati yang kosong. Dingin dan kedap udara.
Tanganku meremas tali tas selempang hingga buku-buku jariku memutih. Di dalam sana, ponselku terasa seperti bom waktu. Pesan suara keempat dari Maya yang kudengar tadi malam masih terngiang, berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak. Suaranya di rekaman itu terdengar rapuh, seolah-olah dia sedang bicara di bawah guyuran hujan.
*“Aluna, ada hal-hal yang tidak pernah aku katakan padamu karena aku takut kamu akan hancur. Tapi diamku justru menghancurkanku pelan-pelan.”*
Aku berhenti di depan pintu ruang latihan perkusi di ujung lorong. Suara dentum simbal yang diredam terdengar dari dalam, ritme yang tidak beraturan, penuh amarah. Aku tahu siapa di dalam sana. Elang.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang mulai memacu cepat—gejala awal serangan panik yang sangat aku kenali. *Satu, dua, tiga... hembuskan.* Aku mendorong pintu itu.
Ruangan itu remang-pelan. Elang berdiri di balik set drum, stik di tangannya bergerak memb*** buta sebelum akhirnya ia berhenti mendadak saat melihat bayanganku di pintu. Ia tidak menyapa. Ia hanya meletakkan stiknya dan meraih handuk hitam untuk menyeka keringat di lehernya. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat cekung, dikelilingi lingkaran hitam yang dalam.
"Untuk apa kamu ke sini, Lun?" suaranya serak, sedingin es yang retak.
"Aku... aku ingin bicara tentang Maya," jawabku pelan. Suaraku gemetar, dan aku membencinya karena itu. "Ada hal-hal yang mulai tidak ma**k akal, Elang. Sejak pemakaman, aku—"
"Tidak ada yang ma**k akal sejak dia pergi, Aluna," potong Elang cepat. Ia melangkah mendekat, auranya terasa begitu menekan hingga aku terpaksa mundur satu langkah. "Dan aku tidak butuh pengingat darimu."
"Bukan itu maksudku. Aku mendapatkan pesan-pesan darinya. Pesan suara terjadwal. Maya mencoba memberitahuku sesuatu tentang apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu. Tentang tekanan yang dia rasakan."
Elang tertawa pendek, sebuah tawa kering tanpa humor yang membuat bulu kudukku berdiri. Ia melemparkan handuknya ke atas simbal dengan kasar. "Tekanan? Kamu baru menyadarinya sekarang? Setelah dia dikubur tujuh hari?"
Aku mengernyit, bingung dengan nada bicaranya yang penuh tuduhan. "Elang, aku sahabatnya. Aku selalu ada untuknya—"
"Selalu ada?" Elang memangkas jarak di antara kami. Ia jauh lebih tinggi dariku, dan sekarang ia berdiri begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma pahit tembakau dan keringat darinya. "Kamu tidak pernah benar-benar ada untuk dia, Aluna. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Terlalu sibuk dengan kecemasanmu, dengan ketakutanmu dilupakan, sampai-sampai Maya harus berperan jadi penopangmu setiap saat."
Kata-katanya menghantam dadaku seperti hantaman palu. "Itu tidak benar. Kami saling mendukung."
"Saling mendukung? Jangan naif!" Elang membentak, suaranya menggema di ruangan kedap suara itu, membuatnya terasa berkali-kali lipat lebih mengancam. "Maya menghubungiku malam sebelum dia tewas. Dia menangis sesenggukan. Tahu apa yang dia katakan? Dia bilang dia lelah. Dia lelah harus selalu menjadi 'yang kuat' untukmu sementara dia sendiri sedang tenggelam dalam lubang hitam yang kamu bahkan tidak sudi melihatnya."
Kepalaku mulai berdenyut. Kilasan memori saat aku menelepon Maya berjam-jam hanya untuk menangisi masalah sepele di kampus muncul ke permukaan, membuat mual menyergap perutku. Apakah aku benar-benar seegois itu?
"Dia depresi, Aluna. Dan penyebab utamanya bukan perundungan digital atau orang asing di internet," Elang menatapku dengan tatapan jijik yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ia menunjuk tepat ke dadaku. "Penyebabnya adalah kamu. Kamu yang selalu menyedot energinya, yang menuntut perhatiannya seolah dunia hanya berputar di sekitarmu. Dia merasa bersalah karena ingin menjauh darimu, dan rasa bersalah itu yang membunuhnya."
"Nggak... nggak mungkin..." aku menggeleng, air mata mulai menggenang. Duniamu terasa berputar. Suara Elang berubah menjadi dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telingaku.
"Dia menulis surat buatku, Aluna. Surat yang tidak sempat dia kirim karena dia keburu tewas," Elang merogoh saku jaketnya, mengeluarkan secarik kertas yang sudah lecek dan penuh lipatan. Ia tidak memberikannya padaku, hanya memeganginya di depan wajahku. "Di sini dia bilang, dia merasa tercekik oleh ketergantunganmu. Dia ingin bebas, tapi dia takut kamu akan hancur kalau dia pergi. Jadi, dia memilih untuk menghilang dengan caranya sendiri."
"Bohong! Maya mencint**ku!" teriakku, suaraku pecah.
Elang mendekatkan wajahnya ke telingaku, membisikkan kata-kata yang terasa seperti sembilu. "Dia mencint**mu, itulah masalahnya. Cinta itu yang membuatnya menderita. Jadi jangan berlagak jadi pahlawan yang ingin mengungkap misteri kematiannya. Kamulah misteri yang ingin dia selesaikan dengan nyawanya sendiri."
Elang berjalan melewatiku, menab**k bahuku hingga aku terhuyung dan jatuh terduduk di lant** kayu yang dingin. Pintu ruang latihan tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan aku sendirian dalam keheningan yang mencekam.
Aku memeluk lututku, gemetar hebat. *Apakah aku penyebabnya? Apakah suara-suara di voice note itu sebenarnya adalah cara Maya untuk menghukumku?*
Tiba-tiba, ponsel di dalam tas bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang retak.
**Pukul 00:00.**
Satu pesan suara baru ma**k. Dari nomor Maya.
Dengan tangan gemetar, aku menekan tombol *play*. Namun, suara yang keluar kali ini bukan lagi suara lembut Maya yang penuh rahasia. Suara itu adalah suara deru angin yang kencang, diikuti oleh suara langkah kaki yang berat di atas kerikil, dan sebuah bisikan laki-laki yang sangat kukenali, namun tak mungkin ada di sana.
*"Dia melihatmu, Aluna. Dan sekarang, dia datang menjemputmu."*
Lampu di ruang latihan tiba-tiba padam, menjatuhkanku ke dalam kegelapan total. Di balik pintu yang tertutup rapat, aku mendengar seseorang sedang memutar kunci dari luar. Aku terjebak.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!