Tangan Aluna gemetar saat jempolnya mengambang di atas layar ponsel yang menyala terang di kegelapan kamar. Kamar itu terasa lebih sempit dari biasanya, seolah-olah dinding-dinding bercat putih gading itu perlahan bergerak mendekat, menghimpit napasnya. Di atas nakas, jam digital menunjukkan pukul 23:59.
Satu menit menuju kebenaran lainnya. Atau mungkin, satu menit menuju keruntuhan mentalnya yang berikutnya.
Tepat saat angka berubah menjadi 00:00, sebuah notifikasi muncul. Tanpa nama, hanya deretan angka yang kini sudah Aluna hafal di luar kepala. Nomor Maya. Jantung Aluna berdentum keras, menciptakan ritme tak beraturan yang menyakitkan di dadanya. Dengan napas tertahan, ia menekan tombol putar pada *voice note* berdurasi dua menit empat puluh detik itu.
*“Al... kamu masih dengerin, kan?”*
Suara Maya terdengar parau, jauh lebih rapuh dibandingkan rekaman malam sebelumnya. Ada jeda panjang, hanya suara embusan napas berat yang tertangkap oleh pendengaran tajam Aluna. Sebagai mahasiswa musik, Aluna bisa mendengar frekuensi rendah di latar belakang—suara pendingin ruangan yang mendesis dan samar-samar denting logam yang beradu.
*“Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi, Al... rasanya aneh saat kamu merasa ribuan mata memperhatikanmu, tapi nggak ada satu pun yang benar-benar melihatmu. Aku merasa seperti... aku sedang diawasi. Bukan di dunia nyata, tapi di sini, di dalam benda kecil yang kita pegang setiap hari.”*
Aluna mengerutkan kening. Jemarinya mencengkeram sprei tempat tidur.
*“Ada satu akun, Al. Dia tahu segalanya. Dia tahu apa yang aku makan, jam berapa aku pulang latihan piano, bahkan rahasia yang cuma aku cerit**n ke kamu lewat mimpi. Dia bilang, aku nggak pantas mendapatkan semua ini. Dia bilang, dunia akan lebih tenang tanpa suara berisikku. Aku mencoba lari, tapi di internet... nggak ada tempat buat sembunyi. Tolong, jangan benci aku setelah kamu tahu apa yang mereka katakan tentang aku.”*
Klik. Rekaman berakhir.
Kesunyian yang menyusul setelahnya terasa lebih m****akkan telinga daripada suara Maya. Aluna merasa mual. Ia segera membuka aplikasi Twitter, lalu merambah ke kolom pencarian. Ia mengetikkan nama pengguna Maya, membolak-balik unggahan lama, mencari sesuatu yang mungkin ia lewatkan selama ini.
Sebagai sahabat, Aluna merasa gagal. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari ada predator yang mengint** di balik layar ponsel Maya?
Setelah hampir satu jam menyisir ratusan komentar manis yang memuji kecantikan dan bakat Maya, Aluna menemukan sebuah pola. Di setiap unggahan foto Maya yang memperlihatkan senyum lebarnya, selalu ada satu akun tanpa foto profil dengan nama pengguna *@KacaRetak_00*.
Akun itu tidak pernah memberikan komentar kasar secara langsung. Sebaliknya, ia mengirimkan teka-teki yang mengerikan.
*“Gaun merah yang bagus. Sayang, noda darahnya nanti nggak akan kelihatan,”* tulis akun itu di foto perayaan ulang tahun Maya.
*“Kamu tertawa terlalu keras, Maya. Orang-orang di sekitarmu sebenarnya ingin kamu diam. Permanen,”* tulisnya di unggahan lain.
Aluna merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia mencoba menekan profil akun tersebut, namun akun itu sudah dinonaktifkan. Namun, insting teliti Aluna tidak berhenti di situ. Ia teringat akan kemampuan teknis yang pernah ia pelajari secara otodidak untuk keperluan tugas kuliahnya—melacak jejak digital melalui *cache*.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia membuka laptopnya. Cahaya biru dari layar memantul di kacamata Aluna, memperlihatkan gurat kelelahan yang mendalam. Ia mulai menggali lebih dalam, ma**k ke dalam utas-utas lama yang terkubur. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah tangkapan layar di sebuah forum diskusi anonim.
Di sana, akun *@KacaRetak_00* tidak hanya merundung Maya secara mental. Ia mengunggah foto-foto Maya dari jarak jauh. Foto Maya yang sedang menangis di taman belakang kampus. Foto Maya yang sedang makan sendirian di kantin dengan ekspresi kosong. Dan yang paling mengejutkan—sebuah foto yang diambil dari sudut sempit di koridor fakultas musik, memperlihatkan Maya yang sedang berbicara serius dengan seseorang yang membelakangi kamera.
Aluna memajukan wajahnya ke layar. Postur orang yang berbicara dengan Maya itu terasa sangat familier. Jaket *bomber* berwarna biru tua dengan bordir kecil di lengan kiri.
“Itu... itu kan jaket milik...” Aluna berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan.
Pikirannya berputar liar. Trauma masa lalunya tentang pengkhianatan mulai merayap naik, mencekik logikanya. Jika orang dalam foto itu adalah bagian dari lingkaran pertemanan mereka, artinya perundungan ini bukan dilakukan oleh orang asing. Ini adalah serangan dari dalam.
Tiba-tiba, ponsel Aluna bergetar lagi. Bukan sebuah *voice note*. Bukan juga pesan dari nomor Maya.
Sebuah pesan ma**k dari sebuah akun anonim di Instagram. Aluna membukanya dengan jantung yang seolah ingin melompat keluar dari rusuknya. Hanya ada satu baris kalimat yang dikirimkan bersama sebuah foto yang baru saja diambil beberapa detik yang lalu.
Foto itu menampilkan jendela kamar Aluna yang tertutup gorden, diambil dari bawah pohon besar di seberang rumahnya.
*“Berhenti menggali, Aluna. Suara orang mati seharusnya tetap terkubur, atau kamu akan dipaksa untuk ikut diam bersamanya.”*
Aluna tersentak mundur hingga punggungnya menghantam sandaran kursi. Ia segera mematikan lampu kamar, jatuh terduduk di lant** dalam kegelapan yang total. Napasnya memburu, pendek-pendek, tanda serangan paniknya mulai datang. Di bawah kegelapan itu, ia menyadari satu hal yang mengerikan: Suara Maya bukan sekadar warisan misteri, melainkan umpan yang sedang menyeretnya menuju lubang kematian yang sama.
Siapa pun yang meneror Maya, kini sedang memperhatikannya dari balik kegelapan malam. Dan orang itu, jauh lebih dekat daripada yang pernah Aluna bayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!