Layar laptop itu adalah satu-satunya sumber cahaya di kamar Aluna, memantulkan pendar biru pucat yang membuat wajahnya tampak kuyu seperti mayat. Jarum jam dinding bergerak malas menuju pukul satu pagi. Detaknya terasa sepuluh kali lebih keras dari biasanya, berdenyut di dalam gendang telinganya seperti martil kecil yang menghantam saraf.
Jari-jari Aluna gemetar saat ia menggulir kolom komentar pada unggahan lama di akun Instagram Maya. Matanya perih, memerah karena kurang tidur, namun ia tidak bisa berhenti. Di sana, di antara ucapan duka cita yang klise dan emoji hati yang hampa, terselip satu akun tanpa foto profil: *@Kaca_Retak00*.
Akun itu tidak mengirimkan bela**ngkawa. Sebaliknya, ia meninggalkan jejak berupa kutipan-kutipan samar yang hanya akan dimengerti oleh seseorang yang menyimpan rahasia busuk.
*“Beberapa melodi memang diciptakan untuk berhenti di tengah jalan. Jangan dipaksa berlanjut, Aluna.”*
Aluna menahan napas. Akun itu menyebut namanya. Bukan di kolom komentar Maya, melainkan dalam pesan langsung (DM) yang ma**k tiga jam yang lalu. Ia menekan pinggiran meja belajarnya hingga buku-buku jarinya memutih. Sebagai mahasiswa jurusan musik, Aluna terbiasa membedah partitur, mencari nada yang sumbang di antara harmoni yang megah. Dan sekarang, instingnya meneriakkan satu hal: orang di balik akun ini mengenal mereka berdua dengan sangat baik.
"Siapa kamu?" bisiknya lirih, suaranya parau karena jarang digunakan bicara seharian ini.
Ia mencoba menelusuri pengikut akun tersebut, namun hasilnya nihil. Nol pengikut, nol diikuti. Sebuah akun cangkang yang diciptakan hanya untuk menjadi hantu. Aluna memejamkan mata, mencoba mengingat kembali suara Maya dari *voice note* ketujuh yang baru saja ia dengar tadi tengah malam. Maya terdengar ketakutan, napasnya tersengal seolah-olah ia sedang berlari dari sesuatu yang tidak terlihat.
*“Al, kalau kamu merasa ada yang mengawasimu… jangan lari ke keramaian. Orang itu ada di sana, di tengah-tengah mereka.”*
Peringatan Maya berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Tiba-tiba, sebuah bunyi menghentikan detak jantung Aluna sejenak.
*Sreeet… sreeet…*
Suara itu sangat tipis, hampir tidak terdengar bagi telinga biasa. Namun bagi Aluna, bunyi itu sejelas gesekan biola yang salah posisi. Suara itu berasal dari luar. Dari balik pintu kamarnya.
Aluna membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan, menciptakan sensasi terbakar yang menyesakkan. Ia mematikan lampu latar laptopnya, membuat kamar itu seketika tenggelam dalam kegelapan total. Hanya ada cahaya remang dari celah bawah pintu yang menyelinap ma**k.
*Sreeet… sreeet… sreek.*
Bunyinya seperti logam yang digoreskan ke permukaan kayu. Berirama, lambat, dan penuh penekanan. Aluna merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Dadanya mulai berdenyut kencang—gejala awal serangan paniknya mulai merayap naik. Ia meremas bantal di pangkuannya, berusaha mengatur napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
*Jangan panik, Aluna. Itu mungkin hanya kucing tetangga. Atau mungkin hanya imajinasimu,* batinnya mencoba menyangkal.
Namun, indra pendengarannya tidak pernah berbohong. Ada seseorang di koridor apartemennya. Seseorang yang berdiri tepat di depan pintunya, melakukan sesuatu yang tidak wajar di tengah malam buta.
Lama-lama, suara gesekan itu berhenti. Digantikan oleh langkah kaki yang menjauh—sangat ringan, seolah-olah orang itu mengenakan alas kaki berbahan kain atau sengaja berjinjit. Aluna menunggu selama sepuluh menit dalam kesunyian yang mencekam. Hanya detak jantungnya yang terdengar seperti genderang perang.
Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Aluna bangkit. Ia menyalakan lampu ponselnya, sinarnya menyapu ruangan yang berantakan dengan kertas-kertas notasi musik yang berserakan. Ia melangkah menuju pintu, setiap langkah terasa seperti berjalan di atas hamparan duri.
Ia menempelkan telinganya ke daun pintu. Hening. Tidak ada suara napas, tidak ada suara langkah.
Aluna memutar kunci dengan sangat pelan, berusaha agar bunyi logamnya tidak berdentang. Saat pintu terbuka sedikit, aroma menyengat langsung menyerang indra penciumannya. Bau yang tajam, kimiawi, dan segar.
Bau cat semprot.
Aluna mendorong pintu lebih lebar dan hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lant**. Di permukaan pintu kayunya yang berwarna cokelat muda, kini terlukis coretan kasar berwarna merah darah. Bukan sebuah kata, melainkan simbol. Sebuah lingkaran besar dengan garis melintang di tengahnya—simbol *mute* atau diam dalam notasi musik yang didistorsi.
Di bawah simbol itu, ada tulisan dengan huruf kapital yang miring dan berantakan:
**SUARA MATI TAK PERLU DIGEMAKAN.**
Lutut Aluna lemas. Ia merosot di ambang pintu, menatap tulisan yang masih basah itu dengan pandangan nanar. Cat merah itu menetes perlahan, menyerupai air mata darah yang jatuh ke lant** koridor yang dingin.
Ini bukan lagi sekadar teror digital. Ancaman ini telah memiliki wujud fisik. Seseorang telah berhasil ma**k ke dalam gedung apartemennya, melewati sistem keamanan yang seharusnya ketat, hanya untuk meninggalkan pesan ini di pintunya.
Pikirannya langsung melayang pada Maya. Apakah ini yang dialami Maya sebelum kecelakaan itu? Apakah Maya juga melihat coretan-coretan ini di dinding kamarnya? Aluna merasa seolah-olah dinding-dinding apartemennya mulai menyempit, menghimpitnya dalam ruang kedap udara.
Tiba-tiba, ponsel di genggamannya bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang retak.
Satu pesan baru dari *@Kaca_Retak00*.
Aluna membukanya dengan jari yang mati rasa. Pesan itu hanya berisi sebuah foto. Foto dirinya sendiri, yang diambil dari sudut gelap koridor apartemen, saat ia baru saja membuka pintu dan menatap coretan merah tersebut dengan wajah pucat pasi. Foto itu diambil hanya beberapa detik yang lalu.
Artinya, orang itu masih ada di sana. Di suatu tempat di kegelapan koridor ini, sedang memperhatikannya gemetar.
Aluna refleks membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia mundur hingga punggungnya menab**k meja belajar, menyebabkan gelas berisi sisa kopi terjatuh dan pecah berkeping-keping. Ia tidak peduli. Matanya terus tertuju pada lubang pengintip di pintu, sementara tangannya mendekap dada yang terasa sesak luar biasa.
Di tengah kesunyian yang mencekam itu, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini bukan pesan teks.
Tepat pukul 02:00 pagi. Sebuah *voice note* baru ma**k. Dari nomor Maya.
Aluna menatap layar ponselnya dengan horor. Ia takut untuk mendengarnya, namun rasa penasaran dan rasa bersalahnya jauh lebih besar daripada ketakutannya. Dengan tangan bergetar, ia menekan tombol *play*.
Suara statis terdengar sejenak, sebelum vokal Maya yang serak muncul di antara desis angin.
*“Aluna… kamu sudah melihatnya, kan? Jangan lihat ke belakang. Kumohon, jangan pernah menoleh ke belakang saat kamu sendirian di kamar.”*
Bulu kuduk Aluna berdiri tegak. Perlahan, dengan gerakan kaku yang menyakitkan, ia melirik ke arah cermin besar yang tergantung di dinding tepat di belakang meja belajarnya—cermin yang kini memantulkan bayangan gelap di sudut kamarnya yang seharusnya kosong.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!