Jarum jam dinding di kamar Aluna berdetak dengan ritme yang terasa seperti hantaman palu di atas anvil. *Tik. Tik. Tik.* Setiap detiknya seolah memangkas oksigen di ruangan itu. Aluna duduk meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya erat-erat hingga persendiannya memutih. Di depannya, layar ponsel menyala redup, menampilkan antarmuka aplikasi pesan yang selama empat hari terakhir telah menjadi altar pemujaan sekaligus ruang interogasinya.
Pukul 23.59.
Aluna memejamkan mata, mencoba mengatur napasnya yang mulai pendek-pendek. Sebagai mahasiswi jurusan musik, pendengarannya selalu lebih peka dari orang biasa. Ia bisa mendengar dengung pelan dari lampu meja, gesekan kain sprainya yang kasar, hingga detak jantungnya sendiri yang berpacu tak beraturan. Ia merasa seperti senar biola yang ditarik terlalu kencang; satu putaran lagi, dan ia akan putus.
Tepat saat angka di ponsel berganti menjadi 00:00, sebuah notifikasi muncul. Suara denting kecil itu merobek kesunyian kamar. Tubuh Aluna tersentak. Tangannya gemetar saat ia meraih ponsel tersebut.
*Voice note* keempat. Durasinya lebih panjang dari kemarin: 3 menit 12 detik.
Aluna menelan ludah yang terasa menyumbat di tenggorokan. Dengan jari yang dingin, ia menekan tombol *play*.
Suara desis statis terdengar selama beberapa detik pertama, kemudian suara helaan napas yang sangat ia kenali memenuhi rungu. Suara Maya. Tapi kali ini, tidak ada keceriaan atau nada lembut yang biasanya menghiasi percakapan mereka. Suara itu terdengar berat, serak, dan penuh dengan getaran yang tak bisa Aluna definisikan.
"Aluna..." Suara Maya terdengar jauh, seolah ia bicara sambil membelakangi ponsel. "Kamu ingat malam penganugerahan Solois Terbaik di kampus bulan lalu? Malam saat semua orang berdiri dan bertepuk tangan untukmu selama hampir dua menit?"
Aluna memejamkan mata. Ia ingat. Ia ingat rasa silau lampu panggung dan betapa bangganya ia saat memeluk Maya di belakang panggung setelah acara usai. Maya telah memeluknya begitu erat, membisikkan kata-kata selamat yang tulus. Atau begitulah pikir Aluna saat itu.
"Aku berdiri di sana, Lun. Di baris depan," Maya melanjutkan. Ada tawa kecil yang terdengar ganjil—pahit dan tajam. "Aku ikut bertepuk tangan sampai telapak tanganku merah. Aku tersenyum sampai pipiku kaku. Tapi tahukah kamu apa yang sebenarnya kupikirkan saat kamu mengangkat trofi itu tinggi-tinggi?"
Aluna menahan napas. Ruangan itu mendadak terasa membeku.
"Aku ingin trofi itu hancur di tanganmu. Aku ingin senar biolamu putus tepat di nada tinggi terakhir. Aku ingin kamu tersandung di depan semua orang."
Suara Maya di rekaman itu mulai terisak, tapi bukan isak kesedihan. Itu adalah isak amarah yang tertahan. "Kamu selalu menjadi matahari, Lun. Dan aku? Aku hanya debu yang menempel di sepatumu. Kamu bilang kita ini setara, tapi kenyataannya, kamu selalu menikmati momen ketika kamu berada di atasku. Kamu suka saat aku memujimu, bukan? Kamu butuh aku agar kamu merasa hebat."
"Enggak, Maya... enggak begitu," bisik Aluna lirih, seolah-olah sahabatnya itu ada di sana, bisa mendengarnya. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya.
"Kamu selalu bertanya kenapa aku jarang latihan piano lagi sejak semester lalu," suara Maya kembali menguat, kini terdengar lebih dingin. "Itu karena setiap kali aku menyentuh tuts, aku mendengar suara tepuk tangan mereka untukmu. Aku benci bakatmu. Aku benci betapa mudahnya semua orang mencint**mu. Dan yang paling kubenci adalah caramu menatapku dengan tatapan kasihan itu setiap kali aku gagal dalam audisi."
Aluna melepaskan ponselnya ke atas ka**r seolah benda itu baru saja berubah menjadi bara api. Dadanya sesak. Ia merasa dunianya—dunia yang ia bangun bersama Maya sebagai 'sahabat sejati'—mulai runtuh, retak demi retak. Kenangan-kenangan manis yang mereka lalui selama tiga tahun terakhir mendadak terdistorsi menjadi rangkaian kepura-puraan yang mengerikan.
"Mungkin benar apa yang mereka katakan di forum itu, Lun," suara Maya di rekaman mulai melambat, nadanya berubah menjadi bisikan yang menghantui. "Bahwa kamu sebenarnya tahu aku menderita, tapi kamu membiarkannya agar kamu tetap terlihat bersinar. Kamu egois, Aluna. Sangat egois."
*Klik.*
Pesan suara itu berakhir.
Keheningan yang menyusul terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata tajam Maya tadi. Aluna merasa mual. Ia meremas kepalanya, mencoba mengusir gema suara Maya yang terus berputar di kepalanya. Selama ini, ia menganggap Maya adalah pelabuhan amannya, tempat ia bersandar saat kecemasannya kambuh. Namun, ternyata pelabuhan itu penuh dengan ranjau yang sengaja dipasang untuk menghancurkannya.
*Siapa sebenarnya yang kucint** selama ini?* batin Aluna histeris. *Apakah semua tawa itu palsu? Apakah setiap pelukan itu adalah bentuk kebencian yang dibungkus rapi?*
Tiba-tiba, pendengaran tajam Aluna menangkap sesuatu.
Di tengah kesunyian malam yang mencekam, terdengar suara langkah kaki pelan dari koridor di luar kamar apartemennya. *Srek... srek...* Suara itu bukan langkah kaki biasa; itu adalah suara gesekan kain yang ditarik di atas lant** kayu.
Aluna membeku. Napasnya tertahan di kerongkongan. Langkah itu berhenti tepat di depan pintunya.
Lalu, sebuah suara denting notifikasi lain muncul di ponselnya. Bukan dari nomor Maya. Itu adalah pesan teks dari nomor asing yang hanya berisi satu kalimat:
*“Bagaimana rasanya mendengar kejujuran dari liang lahat, Aluna? Masih merasa paling suci?”*
Aluna menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, ia melihat sebuah bayangan gelap menghalangi cahaya lampu koridor. Seseorang sedang berdiri di sana, tepat di balik pintu, mendengarkan tangisannya.
Jantung Aluna berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia tidak lagi hanya menghadapi hantu dari masa lalu melalui rekaman suara Maya; seseorang yang nyata, seseorang yang berbahaya, baru saja mengetuk pintu realitasnya. Dan orang itu tahu persis apa yang baru saja ia dengar.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!