Lant** marmer apartemen Raka terasa sedingin es di bawah telapak kakiku yang berkeringat, meski aku mengenakan kaus kaki wol tebal. Di tanganku, benda ituβponsel terkutuk yang membawa suara Maya setiap tengah malamβterasa seberat bongkahan timah. Aku meremasnya begitu kencang sampai sendi-sendi jariku memutih.
"Aluna? Kamu gemetar lagi."
Suara Raka memecah keheningan yang sejak tadi hanya diisi oleh dengung rendah kulkas di sudut ruangan. Ia mendekat, aroma kayu cendana dan sisa-sisa kopi pahit yang selalu identik dengannya menguar, biasanya menenangkan, tapi malam ini entah mengapa terasa menyesakkan. Raka mengulurkan tangan, mencoba menyentuh bahuku, tapi aku refleks berjengit.
"Aku cuma... butuh tempat tenang, Ka. Di kosan, suaranya seolah-olah keluar dari tembok," bisikku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, tipis dan retak seperti piring porselen yang dipaksa menahan beban terlalu berat.
Raka mendesah pelan. Ia menuntunku ke sofa beludru abu-abu miliknya. Sebagai mahasiswa musik, aku selalu peka terhadap ritme; dan ritme napas Raka malam ini terdengar tidak sinkron. Ada jeda yang terlalu panjang sebelum ia bicara, seolah ia sedang menyusun partitur yang rumit di kepalanya agar tidak ada nada yang sumbang.
"Kamu terlalu terobsesi dengan *voice note* itu, Lun. Lihat dirimu, lingkaran hitam di bawah matamu itu bukan lagi soal begadang mengerjakan tugas komposisi. Ini soal delusi," ucap Raka lembut, namun ada ketegasan yang dingin di sana.
"Ini bukan delusi, Ka! Itu suara Maya. Aku tahu frekuensinya, aku tahu caranya mengambil napas di sela kalimat. Itu dia!" Aku menatapnya tajam, mencari dukungan di mata cokelat gelapnya yang biasanya teduh.
Raka tidak membantah. Ia justru menatap ponsel di genggamanku dengan tatapan yang sulit kuartikan. "Sini. Berikan ponselmu padaku."
Aku menarik tanganku menjauh, menyembunyikan ponsel itu di balik punggung. "Untuk apa?"
"Kamu butuh tidur. Satu malam saja, Aluna. Biar aku yang pegang ponselmu. Kita simpan di laci meja kerjaku, dikunci. Kamu tidak akan mendengar denting notifikasi pukul 00:00. Kamu butuh waras untuk ujian minggu depan," Raka melangkah maju, memperkecil jarak di antara kami.
Hening merayap di antara kami. Di luar, suara klakson kendaraan di kejauhan terdengar seperti jeritan yang teredam. Aku merasakan serangan panik itu mulai merayap dari ujung kakiku. Paru-paruku mendadak mengecil.
"Tidak bisa, Raka. Malam ini pesan kesembilan. Maya bilang dia akan menceritakan soal 'pengkhianatan'. Aku harus tahu siapa yang dia maksud," kataku dengan napas yang mulai tersengal.
Raka tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku. Tidak keras, tapi c**up kuat untuk membuatku tidak bisa menghindar. "Dan kalau pengkhianat itu ternyata hanya imajinasinya yang rusak sebelum kecelakaan? Kamu mau menghancurkan dirimu sendiri demi orang mati?"
Wajah Raka berada hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Aku bisa melihat pantulan diriku yang berantakan di bola matanya. Namun, ada sesuatu yang lain. Ada kegelisahan yang ia sembunyikan di balik topeng kepedulian itu. Mengapa ia begitu bersikeras agar aku tidak mendengarkan pesan malam ini?
"Kenapa kamu kelihatan takut kalau aku dengar pesan itu, Ka?" tanyaku, suaraku nyaris tidak terdengar.
Cengkeraman Raka mengendur seketika. Ia menarik tangannya seolah baru saja menyentuh bara api. Ia tertawa pendek, tawa yang terdengar sumbang dan dipaksakan. "Takut? Aku cuma khawatir, Lun. Aku pacarmu. Aku yang paling sering melihatmu menangis dan mengigau belakangan ini."
Ia bangkit berdiri, berjalan menuju dapur kecilnya untuk mengambil air minum. Namun, matanya terus melirik ke arah ponselku yang kini kuletakkan di atas meja kopi. Gerakannya gelisah. Ia menumpahkan sedikit air ke lant**, sesuatu yang jarang dilakukan oleh seorang Raka yang perfeksionis.
Saat ia membelakangiku, ponselnya yang tergeletak di konter dapur menyala. Sebuah notifikasi ma**k. Karena pendengaranku yang tajam telah terlatih untuk menangkap det**l terkecil dalam simfoni, aku bisa mendengar getaran halus ponsel itu di atas permukaan granit.
Tanpa sadar, aku menajamkan telinga. Di tengah keheningan apartemen, aku bisa mendengar detak jam dinding yang berdetak sinkron dengan detak jantungku yang kencang.
"Istirahatlah di kamar, Lun. Aku akan di sini, menjaga ponselmu. Aku janji tidak akan menghapus apa pun," ucap Raka tanpa menoleh, suaranya terdengar terlalu berat.
Aku tidak bergerak. Pikiranku berputar cepat. Raka biasanya tidak pernah peduli jika aku terjaga sampai pagi. Dulu, ia bahkan sering menemaniku begadang di studio. Kenapa sekarang ia seolah ingin memisahkan aku dari satu-satunya koneksi yang tersisa dengan Maya?
Aku melirik jam tangan digital di pergelangan tanganku. 23:45. Lima belas menit menuju tengah malam.
"Aku mau ke kamar mandi," kataku sambil menyambar ponselku secepat kilat.
"Aluna, tinggalkan ponselnya!" seru Raka, suaranya naik satu oktav. Ia berbalik dengan gerakan yang terlalu agresif, membuat gelas di tangannya membentur pinggiran meja.
Aku tidak berhenti. Aku berlari kecil menuju kamar mandi tamu dan menguncinya dari dalam. Napas duniaku terasa sesak di ruangan sempit ini. Aku duduk di atas tutup kloset, memeluk lututku, sambil menatap layar ponsel yang masih gelap.
Di luar, aku mendengar langkah kaki Raka mendekat. Ia mengetuk pintu, pelan namun berirama tetap, seperti metronom yang diputar pada tempo lambat. *Tok. Tok. Tok.*
"Lun, buka pintunya. Jangan kekanak-kanakan. Kamu butuh bantuan medis, bukan suara hantu," suaranya terdengar persis di balik daun pintu.
Aku mengabaikannya. Jemariku gemetar saat aku membuka riwayat pesan dari nomor Maya. Aku melihat pesan-pesan sebelumnya, gelombang suara yang tampak seperti grafik detak jantung yang tak teratur.
Tiba-tiba, sebuah pesan teks ma**k ke ponselku. Bukan dari Maya. Bukan dari nomor tanpa nama yang sering menerorku.
Pesan itu datang dari nomor yang tidak kukenal, namun isinya membuat darahku membeku.
*Jangan percaya pada harmoni yang dia mainkan, Aluna. Tanya dia tentang kunci cadangan apartemen Maya yang hilang sebulan sebelum kecelakaan.*
Aku menatap pintu kamar mandi. Bayangan Raka terlihat dari celah bawah pintu, berdiri diam, tidak bergerak. Ketukannya berhenti. Kesunyian yang mengikuti terasa lebih mengerikan daripada teriakan mana pun.
Jam di ponselku berubah menjadi 00:00.
Satu notifikasi muncul di bagian atas layar. *Voice note* baru dari Maya. Panjangnya hanya sepuluh detik.
Dengan tangan yang mati rasa, aku menekan tombol *play*. Aku mendekatkan speaker ke telingaku, menahan napas agar tidak melewatkan satu desah pun.
Suara Maya muncul, tapi kali ini bukan diiringi isak tangis. Ada tawa pahit yang kering, diikuti bisikan yang membuat seluruh bulu kudukku berdiri:
"Aluna... apa kamu sedang bersama Raka sekarang? Hati-hati, Lun. Dia selalu tahu cara mengubah nada sumbang menjadi melodi yang indah, bukan? Tanya dia... siapa yang memberinya izin untuk ma**k ke kamarku malam itu."
Tepat saat suara Maya berakhir, gagang pintu kamar mandi diputar dengan kasar dari luar.
"Aluna, buka pintunya sekarang, atau aku dob**k." Suara Raka tidak lagi lembut. Nada suaranya turun menjadi bariton yang berat, mengancam, dan penuh dengan resonansi yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku tersudut di pojok kamar mandi, memeluk ponselku seolah itu adalah jantungku sendiri, menyadari bahwa pelarian yang kucari justru membawaku langsung ke dalam sarang sang pemangsa.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!