Kalau ada kompetisi untuk menentukan siapa orang paling sial di dunia hari ini, Aira Kirana yakin dia akan menyabet trofi juara pertama, lengkap dengan karangan bunga kematian di lehernya.
Bagaimana tidak? Hari ini, bumi tempatnya berpijak seolah sengaja runtuh, hancur berkeping-keping, lalu melindasnya sampai rata dengan tanah.
Aira menatap dua orang di hadapannya dengan mata membelalak lebar. Jantungnya berdegup begitu kencang, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa syok yang teramat sangat hingga membuatnya hampir kehilangan pasokan oksigen.
Di hadapannya, di atas meja marmer sebuah kafe estetik di Jakarta Selatan, dua tangan saling bertautan dengan mesra. Satu tangan milik Reno, cowok yang sudah menyandang status sebagai pacarnya selama tiga tahun terakhir. Dan satu tangan lagi milik Siska.
Siska. Perempuan dengan tawa cempreng yang sangat Aira kenal. Musuh bebuyutan Aira sejak zaman kuliah, perempuan yang selalu berusaha merebut apa pun yang Aira milikiβmulai dari posisi ketua panitia acara kampus, nilai IPK terbaik, sampai sekarang... pacarnya.
"Ra, maaf ya. Aku rasa hubungan kita sampai di sini aja," ucap Reno tanpa beban. Nada suaranya terdengar begitu sant**, seolah dia baru saja membatalkan janji makan siang, bukan memutuskan hubungan tiga tahun yang mereka bangun dengan susah payah.
Aira tertawa hambar, mengira ini adalah bagian dari lelucon April Mop yang terlambat. "Ren, lo bercanda, kan? Ini nggak lucu sama sekali. Kita baru minggu lalu bahas soal rencana liburan ke Bali!"
Siska menyandarkan kepalanya di bahu Reno dengan manja, sengaja memamerkan cincin emas putih bermata berlian yang melingkar di jari manisnya ke arah Aira.
"Aira, sayang... Reno nggak bercanda," potong Siska dengan nada suara yang dibuat-buat semanis madu, tapi terdengar sangat beracun di telinga Aira. "Kita berdua udah saling menemukan kecocokan yang nggak Reno dapetin dari kamu. Dan... *surprise!* Kami berdua bakal nikah bulan depan. Ini undangannya."
Siska menggeser sebuah kartu undangan berwarna *navy* dengan tinta emas di atas meja. Nama yang tertera di sana tercetak jelas, membakar retina mata Aira: *Reno & Siska*.
Aira merasa kepalanya mendadak kosong. Seluruh tenaganya seperti menguap ke udara. Tiga tahun. Tiga tahun dia bertahan menghadapi sifat Reno yang *toxic*, egois, pelit, dan selalu menuntut ini-itu darinya. Aira bertahan karena berpikir Reno bisa berubah dan karena dia telanjur menyayangi cowok itu. Tapi apa balasannya?
"Ren, lo selingkuh?" tanya Aira, suaranya mulai bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur aduk.
Reno menghela napas panjang, berlagak seolah dia adalah korban di sini. "Jangan sebut ini selingkuh, Ra. Ini takdir. Lagian lo harusnya intropeksi diri. Lo itu terlalu sibuk kerja, kaku, gak asyik. Beda banget sama Siska yang selalu ada buat gue dan selalu bisa manjain gue. Hubungan kita tuh udah hambar dari lama."
"Hambar?" Aira mengulang kata itu dengan nada tidak percaya. "Lo bilang hambar setelah semua yang gue lakuin buat lo? Lo lupa siapa yang bayarin cicilan motor lo pas lo nganggur enam bulan tahun lalu? Lo lupa siapa yang selalu dengerin keluhan lo tiap malam sampai begadang? Dan sekarang lo mutusin gue demi cewek yang dari dulu selalu nyari ribut sama gue?!"
Beberapa pengunjung kafe mulai menoleh ke arah meja mereka. Namun, Reno dan Siska tampaknya sama sekali tidak peduli. Siska justru tersenyum puas, merasa menang telak karena berhasil merebut kepunyaan Aira sekali lagi.
"Sudahlah, Aira. Terima kenyataan aja kalau Reno emang milih aku," sahut Siska dengan nada meremehkan. "Mending kamu bawa pulang undangannya, siapa tahu kamu dapet inspirasi buat cari jodoh baru. Ah, tapi susah ya... umur kamu kan udah mau kepala tiga, masih aja sibuk kerja bagai kuda tapi nggak ada hasilnya."
Darah Aira mendidih sampai ke ubun-ubun. Tangannya yang gemetar perlahan meraih gelas *iced americano* berukuran besar yang masih penuh di hadapannya.
*Crat!*
Tanpa ragu sedikit pun, Aira menyiramkan kopi dingin berwarna hitam pekat itu tepat ke wajah Reno, yang otomatis terciprat hebat ke gaun putih mahal yang dikenakan Siska.
"Aaaaa!!! Baju gue!" jerit Siska histeris, langsung berdiri sambil mengibas-ngibaskan gaunnya yang kini bernoda cokelat kotor.
"Aira! Apa-apaan sih lo! G*** ya?!" bentak Reno, sibuk mengusap wajahnya yang basah kuyup dengan tisu.
Aira berdiri, menatap kedua manusia paling menjijikkan di hidupnya itu dengan pandangan dingin. Rasa sakit hatinya kini tertutup oleh amarah yang membara.
"Itu bayaran buat kopi gratis dan tiga tahun waktu gue yang kebuang sia-sia karena cowok br****** kayak lo," desis Aira tajam. "Nikmatin sisa hidup lo sama cewek sampah ini, Ren. Gue harap lo berdua dapet karma yang setimpal."
Setelah mengucapkan kalimat dramatis ituβyang sebenarnya dia contek dari drama Korea kesukaannyaβAira menyambar tas kerjanya dan melangkah lebar meninggalkan kafe. Dia tidak menoleh ke belakang lagi, mengabaikan teriakan histeris Siska dan tatapan penuh gosip dari pengunjung kafe lainnya.
Namun, begitu kakinya melangkah keluar dari pintu kafe, pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mengalir deras membasahi pipinya. Aira berjalan cepat menyusuri trotoar, tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang yang berpapasan dengannya.
Dia merasa begitu bodoh. Begitu hancur. Mengapa takdir begitu kejam padanya?
Aira memutuskan untuk memesan taksi *online* untuk pulang ke apartemen studionya. Di dalam mobil, dia hanya bisa memandang ke luar jendela, membiarkan air matanya terus mengalir sambil meratapi nasibnya yang malang. Maskara anti-air yang dia gunakan bahkan tidak mampu membendung badai emosinya hari ini. Wajahnya pasti sudah kacau mirip hantu riri.
Begitu sampai di apartemennya yang sepi, Aira langsung melempar tasnya ke sembarang arah dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ka**r. Dia menangis sekencang-kencangnya, menumpahkan segala rasa sesak yang menghimpit dadanya. Tiga tahunnya berakhir tragis hanya dalam hitungan menit.
Di tengah-tengah isak tangisnya yang masih meracau mengutuk nama Reno, ponsel di dalam tasnya tiba-tiba berdering nyaring.
Aira mengabaikannya. Ponsel itu terus berdering untuk kedua kalinya, lalu ketiga kalinya. Dengan kesal, Aira merangkak ke lant**, merogoh tasnya, dan melihat layar ponsel yang menyala.
Nama 'Ibu' tertera di sana.
Aira memejamkan mata erat-erat, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar seperti orang yang habis menangis histeris. Dia berdeham beberapa kali sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo, Ibu?" sapa Aira, mencoba menggunakan nada suara yang seceria mungkin, meski terdengar sangat dipaksakan.
"Halo, Aira! Kamu lagi di mana? Kok berisik banget suaranya kayak di dalam gua?" suara cempreng khas ibunya langsung menyapa telinga, penuh energi yang kontras dengan kondisi jiwa Aira saat ini.
"Lagi di kamar, Bu. Baru pulang kerja, makanya agak capek," dusta Aira halus.
"Oh, syukur deh kalau udah pulang. Gini, Ra, Ibu mau ngingetin. Minggu depan kan Tante Lastri mau ngadain syukuran rumah baru sekalian arisan keluarga besar di Bogor. Kamu harus dateng, ya! Nggak ada alasan sibuk kerja!"
Aira memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Aira usahain ya, Bu. Kerjaaan kantor lagi numpuk banget belakangan ini..."
"Nggak ada usahain-usahain! Kamu wajib dateng, Aira Kirana!" potong Ibunya dengan nada mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Dan yang paling penting... jangan lupa bawa Reno. Ibu mau pamerin calon mantu ganteng Ibu ke Tante Lastri yang sombong itu. Biar dia nggak usah pamer-pamer lagi soal menantunya yang PNS itu."
Mendengar nama Reno disebut, dada Aira kembali terasa nyeri seperti dihantam godam besar. Air matanya hampir kembali menetes. Bagaimana dia harus menjelaskan pada ibunya kalau 'calon mantu ganteng' itu baru saja mencampakkannya demi musuh bebuyutannya dan akan menikah bulan depan?
"Bu... soal Reno..." Aira menggantung kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan.
"Kenapa sama Reno? Kalian nggak berantem, kan? Duh, Ra, umur kamu itu udah dua puluh enam tahun. Jangan kekanak-kanakan lagi. Pokoknya bawa Reno!"
"Aira... Aira udah putus sama Reno, Bu," bisik Aira akhirnya, pasrah dengan apa pun reaksi ibunya nanti.
Hening sejenak di seberang telepon.
"Apa?! Putus?!" teriak Ibunya histeris, membuat Aira refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. "Aira, kamu bercanda ya? Tiga tahun pacaran terus putus gitu aja?! Ya ampun, kepalaku langsung pusing, tensi darahku pasti naik ini!"
"Maaf, Bu... tapi Reno selingkuh," jelas Aira dengan suara parau, mencoba mencari pembelaan.
Namun, alih-alih bersimpati, ibunya justru mendesah frustrasi. "Duh, makanya kamu itu jadi cewek jangan terlalu cuek! Tapi ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur. Yang jelas, Ibu nggak mau tahu, minggu depan kamu harus tetep bawa calon pacar ke acara Tante Lastri!"
"Hah?! Bu, yang bener aja! Aira baru putus lima menit yang lalu, masa minggu depan udah harus bawa pacar baru? Memangnya pacar bisa dipesen lewat ojek *online*?!" protes Aira, merasa tuntutan ibunya sangat tidak ma**k akal.
"Ibu nggak mau tahu, Aira! Kalau kamu dateng sendirian, Tante Lastri pasti bakal ngejek kamu lagi. Ibu nggak mau harga diri Ibu jatuh! Lagipula, kalau kamu nggak bawa calon minggu depan, terpaksa Ibu bakal jodohin kamu sama anaknya Bu Widya, tetangga sebelah rumah kita!"
Mata Aira membelalak horor. "Anaknya Bu Widya? Siapa? Mas Doni?!"
"Iya, Doni! Dia kan mapan, kerjanya di bank."
"Tapi Bu! Mas Doni itu aneh banget! Dia punya hobi melihara ular piton di kamarnya, terus koleksi batu akik semistar yang katanya ada isinya! Terakhir kali Aira ketemu, dia ngajak Aira ngobrol tapi matanya nggak berkedip sama sekali! Aira nggak mau, Bu!" cerocos Aira panik setengah mati. Membayangkan harus bersanding di pelaminan dengan Doni yang misterius dan hobi mengobrol dengan ular membuat bulu kuduknya merinding ngeri.
"Makanya! Kalau kamu nggak mau dijodohin sama Doni dan ularnya itu, buktikan minggu depan kamu bawa calon pacar yang normal, ganteng, dan mapan ke acara Tante Lastri! Titik, nggak pakai tapi-tapi!"
Panik. Otak Aira yang sudah lelah kini benar-benar kehilangan kemampuan berpikir logisnya. Desakan ibunya dan bayangan menyeramkan tentang Doni membuat insting bertahan hidupnya mengambil alih.
"Ada kok, Bu!" seru Aira tiba-tiba, suaranya naik satu oktav.
"Apanya yang ada?" tanya ibunya curiga.
"Pacar! Aira udah punya pacar baru! Dia... dia jauh lebih ganteng, lebih kaya, dan lebih sukses daripada Reno! Pokoknya Reno mah nggak ada apa-apanya dibanding pacar baru Aira!" dusta Aira dengan sangat lancar, meskipun di dalam hatinya dia ingin sekali menampar mulutnya sendiri yang terlalu cepat bicara.
"Oh ya? Kamu nggak lagi bohong kan buat bohongin Ibu?" tanya Ibunya dengan nada menyelidik, tapi terdengar mulai tertarik.
"Nggak! Ngapain Aira bohong? Pokoknya minggu depan Aira bakal bawa dia ke Bogor!" ujar Aira mantap, mengabaikan fakta bahwa pacar yang dia maksud saat ini masih berbentuk gaib alias belum ada di dunia nyata.
"Bagus! Awas ya kalau bohong, langsung Ibu nikahkan kamu sama Doni minggu depannya lagi! Ibu tunggu di Bogor minggu depan, ya. Bye, sayang!"
*Klik.*
Sambungan telepon terputus.
Aira perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Dia menatap langit-langit kamar apartemennya dengan pandangan kosong. Kamar itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah-olah sedang menertawakan kebodohannya.
"G***... gue bener-bener g***," gumam Aira prustrasi.
Dia menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Bagaimana bisa dia berbohong sejauh itu? Di mana dia harus mencari sosok laki-laki ganteng, mapan, dan mau diajak berpura-pura menjadi pacarnya dalam waktu kurang dari tujuh hari?
Di sela-sela kepanikan yang nyaris membuatnya g***, sebuah pemikiran konyol tiba-tiba melintas di kepalanya. Pacaran settingan.
Aira sering membaca kiasan seperti itu di novel-novel romantis atau drama-drama komedi yang sering dia tonton. Tapi, apakah hal seperti itu benar-benar ada di dunia nyata? Dan kalaupun ada, siapa pria waras yang mau terlibat dalam skenario g*** ini bersamanya?
Aira menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya yang kacau di cermin meja rias. "Hari ini resmi jadi hari terburuk sepanjang sejarah hidup gue. Dan kalau gue nggak nemu pacar sewaan dalam waktu seminggu... hidup gue bener-bener tamat."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!