Kepala Aira rasanya seperti dihantam godam besar. Denyut hebat di pelipisnya membuat dia enggan untuk sekadar membuka mata. Udara di sekitarnya terasa sangat dingin, kontras dengan kulit tubuhnya yang terasa terbakar dan digerogoti rasa ngilu yang luar biasa.
Bau antiseptik yang khas dan tajam perlahan menyengat indra penciumannya. Bunyi *bip-bip* teratur dari sebuah mesin di dekatnya menjadi suara pertama yang memecah keheningan.
Dengan sisa tenaga yang ada, Aira mengerjapkan matanya perlahan. Pandangannya buram, sebelum akhirnya terfokus pada langit-langit ruangan yang serbaputih. Dia mencoba menggerakkan tangan kirinya, namun ada rasa mengganjal di punggung tangannya. Saat melirik, dia melihat selang kecil transparan menempel di sana, mengalirkan cairan bening dari botol infus yang menggantung.
"Gue... di rumah sakit?" bisiknya parau. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir.
Ingatan semalam langsung berputar di kepalanya seperti potongan film rusak. Dia ingat daerah kosannya yang mulai ba****, lalu badai yang mengamuk, dan Arkan yang tiba-tiba datang seperti pahlawan kesiangan untuk menyelamatkannya. Dia juga ingat betapa tubuhnya menggigil hebat di dalam mobil mewah Arkan akibat kelelahan bekerja lembur berhari-hari ditambah guyuran air hujan. Setelah itu, semuanya gelap. Dia pingsan.
"Udah bangun?"
Suara bariton yang dingin namun sarat akan kelelahan itu membuat Aira refleks menoleh.
Di samping ranjangnya, Arkan berdiri. Cowok itu kelihatan jauh dari kata rapi. Rambut hitamnya yang biasa ditata klimis bergaya *undercut* kini tampak acak-acakan. Kemeja putihnya kusut di beberapa bagian, dengan lengan baju yang digulung asal sampai ke siku. Lingkaran hitam samar juga tercetak jelas di bawah matanya yang tajam. Dia kelihatan tidak tidur semalaman.
"Arkan..." suara Aira hampir tidak keluar, hanya berupa bisikan serak.
Tanpa berkata apa-apa, Arkan langsung melangkah mendekat. Secara alami, dia menempelkan punggung tangannya ke dahi Aira, lalu turun ke leher gadis itu. Sentuhan tangannya yang hangat terasa sangat kontras dengan kulit Aira yang masih terasa demam.
"Panasnya udah agak turun dibanding semalam," gumam Arkan, menghela napas lega yang terdengar sangat berat. "Semalam badan lo kayak setrikaan panasnya. Bikin panik orang saja."
Walau nadanya ketus seperti biasa, Aira bisa menangkap gumpalan rasa khawatir di mata cowok itu. Arkan kemudian mengambil segelas air hangat dari meja nakas, membantu Aira untuk duduk sedikit tegak dengan menyelipkan bantal ekstra di belakang punggungnya.
"Minum dulu. Pelan-pelan," perintah Arkan sambil menyodorkan sedotan ke mulut Aira.
Aira menurut. Dia menyesap air hangat itu dengan rakus, membiarkan cairan itu membasahi tenggorokannya yang sempat terasa sangat perih. Setelah merasa lebih baik, dia menyandarkan kepalanya ke bantal.
"Makasih," cicit Aira pelan. Rasa canggung mendadak menyerangnya. Gengsinya yang setinggi langit mulai meronta-ronta. Dia paling tidak suka terlihat lemah dan merepotkan orang lain, terutama di depan pacar settingannya ini. "Gue... merepotkan ya? Sorry banget. Harusnya semalam lo tinggalin gue aja di kosan."
Mendengar ucapan itu, rahang Arkan langsung mengetat. Sorot matanya yang semula melembut kini mendadak menajam, menatap Aira dengan pandangan mengintimidasi.
"Lo g***?" suara Arkan merendah, terdengar begitu dingin dan menuntut. "Ninggalin lo yang udah menggigil kayak gitu di kosan yang hampir keba****an? Kalau semalam gue nggak maksa lo keluar, mungkin lo udah pingsan sendirian di sana tanpa ada yang tahu, Aira. Jangan b***, bisa nggak?"
Aira tersentak. Dia menunduk, memainkan ujung selimut rumah sakit dengan jarinya yang gemetar. "Ya... kan gue nggak tahu kalau bakal se-drop ini. Biasanya gue cuma minum obat warung juga sembuh."
Sebelum Arkan sempat membalas, pintu kamar rawat VIP itu diketuk dari luar. Sosok Rian, asisten pribadi Arkan, melangkah ma**k dengan langkah terburu-buru. Wajah pria paruh baya itu tampak tegang sambil memegang sebuah tablet kerja di tangannya.
"Permisi, Pak Arkan," sapa Rian dengan sopan, lalu mengangguk kecil ke arah Aira. "Maaf mengganggu waktunya, tapi direksi dari perwakilan investor asal Jepang sudah menunggu di ruang rapat utama kantor pusat sejak tiga puluh menit yang lalu. Mereka menanyakan keberadaan Bapak. Jadwal rapat hari ini sangat penting, Pak, membahas investasi proyek ratusan miliar untuk kuartal depan."
Aira langsung menoleh ke arah Arkan dengan mata membelak. Rapat ratusan miliar? Dan Arkan malah ada di sini?
"Batalkan semua rapat hari ini, Rian. Atur ulang jadwalnya," ucap Arkan tegas, sama sekali tidak ragu.
Rian tampak syok. "Tapi, Pak... pihak investor Jepang hanya punya waktu hari ini sebelum kembali ke Tokyo besok pagi. Apa tidak sebaiknya Bapak ke kantor sebentar saja? Saya bisa meminta beberapa staf medis terbaik di sini untuk menjaga Ibu Aira."
"Gue bilang batalkan, ya batalkan, Rian," potong Arkan dengan nada yang tidak menerima bantahan apa pun. "Kalau mereka keberatan dan mau membatalkan kerja samanya, silakan. Kita bisa cari investor lain yang bisa lebih fleksibel. Fokus gue hari ini bukan di kantor."
"Baik, Pak. Saya mengerti. Saya akan segera mengurusnya," sahut Rian pasrah. Dia membungkuk pelan sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar rawat.
Begitu pintu tertutup rapat, Aira langsung meledak. Dia mengabaikan rasa pusing yang kembali mendera kepalanya demi memprotes tindakan g*** cowok di depannya ini.
"Arkan! Lo g***, ya?!" seru Aira tertahan. "Itu rapat penting! Nilainya ratusan miliar! Kenapa lo batalin cuma buat nungguin gue di sini? Gue nggak apa-apa, gue bisa dilepas sendiri di sini. Lo pergi ke kantor sekarang, buruan kejar investornya!"
Arkan tidak langsung menjawab. Dia justru melangkah mendekati ranjang, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga jarak wajah mereka terkikis drastis. Aira bisa mencium aroma parfum maskulin khas Arkan yang bercampur dengan bau obat-obatan. Mata elang Arkan mengunci pandangan Aira, membuat napas gadis itu mendadak tercekat di tenggorokan.
"Dengerin gue baik-baik, Aira," bisik Arkan, suaranya terdengar sangat rendah namun begitu menghunjam langsung ke dada Aira. "Uang ratusan miliar bisa dicari lagi dengan mudah. Tapi kalau sampai terjadi apa-apa sama lo... itu nggak akan pernah ada gantinya. Jadi, diam di sini, dan jangan banyak protes."
*Deg.*
Jantung Aira berdegup kencang seperti baru saja habis berlari maraton. Seluruh bantahan yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguap tanpa bekas. Kata-kata Arkan terdengar begitu tulus, begitu posesif, dan sangat nyata. Tidak ada nada bercanda atau kepura-puraan di sana.
Aira langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela, berusaha menyembunyikan rona merah yang kini pasti sudah menghiasi kedua pipinya yang semula pucat. "Lo... pinter banget ya kalau ngomong," gumamnya pelan, berusaha menutupi rasa gugupnya yang luar biasa.
Tak lama kemudian, seorang perawat ma**k dengan membawa nampan berisi makanan pasien. Semangkuk bubur ayam hangat yang tampak hambar, segelas air putih, dan beberapa butir obat diletakkan di atas meja dorong.
"Mbak Aira, waktunya makan siang dan minum obat ya. Harus dihabiskan biar cepat pulih," ujar suster itu dengan senyum ramah sebelum pamit keluar.
Aira memandangi mangkuk bubur itu dengan helaan napas berat. Selera makannya benar-benar hilang. Lidahnya terasa sangat pahit. Dia mencoba meraih sendok dengan tangan kanannya yang bebas, namun tangannya yang masih lemas malah gemetar hebat hingga sendok itu hampir terjatuh.
Sebelum sendok itu menyentuh lant**, tangan kokoh Arkan sudah lebih dulu menangkapnya.
"Biar gue," kata Arkan pelan. Dia menarik kursi besi di samping ranjang, lalu duduk di sana sambil mengambil alih mangkuk bubur tersebut.
"Nggak usah, Kan. Gue bisa sendiri, cuma agak lemes dikit aja," tolak Aira lembut, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. Disuapi oleh seorang CEO yang terkenal dingin dan kejam di dunia bisnis rasanya benar-benar tidak ma**k akal.
"Aira, jangan keras kepala dulu kenapa, sih?" Arkan menghela napas panjang, tampak gemas dengan tingkah Aira. Dia meniup sesendok bubur hangat itu dengan sangat telaten, memastikan suhunya tidak terlalu panas, sebelum menyodorkannya ke depan bibir Aira. "Buka mulut lo. Aaa..."
Aira mengerucutkan bibirnya. "Gue bukan balita, Arkan."
"Gue nggak peduli. Buruan makan, atau gue panggil dokter buat ganti cairan infus lo pake dosis yang lebih tinggi biar lo nggak bisa banyak omong?" ancam Arkan dengan wajah datar andalannya.
Mendengar ancaman itu, Aira akhirnya menyerah kalah. Dengan enggan, dia membuka mulutnya dan menerima suapan bubur dari Arkan. Rasanya memang hambar, namun entah kenapa, setiap suapan yang diberikan oleh Arkan terasa menghangatkan hatinya yang selama ini dia gembok rapat-rapat.
Arkan menyuapinya dengan sangat sabar. Setiap kali ada sedikit noda makanan di sudut bibir Aira, dengan sangat natural Arkan mengambil tisu dan mengusapnya dengan lembut, tanpa ada ekspresi risih sedikit pun di wajah tampannya. Sikap manis yang begitu kontras dengan reputasi dingin cowok itu sukses membuat pertahanan ego Aira runtuh berkeping-keping.
"Udah... kenyang. Nggak mau lagi," kata Aira setelah buburnya tersisa setengah.
Arkan menatap sisa bubur di mangkuk, lalu menatap Aira dengan dahi berkerut. "Baru setengah, Ra. Sedikit lagi, biar perut lo nggak kosong pas minum obat."
"Pahit banget rasanya, Kan. Sumpah, tenggorokan gue nggak enak banget," keluh Aira tanpa sadar dengan nada manja yang langsung membuatnya merutuki diri sendiri dalam hati. Kenapa dia jadi semanja ini di depan Arkan?
Anehnya, mendengar nada manja Aira, sudut bibir Arkan justru sedikit berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat langka. Senyuman yang membuat ketampanannya naik berkali-kali lipat.
"Ya udah, dua suap lagi. Habis itu lo minum obat, terus tidur," tawar Arkan dengan nada suara yang melunak drastis.
Aira hanya bisa mengangguk pasrah. Dia menerima dua suapan terakhir, lalu meminum obat-obatan yang diberikan disusul dengan segelas air hangat untuk meredakan rasa pahit di lidahnya.
Setelah semua selesai, Arkan merapikan peralatan makan dan menaruhnya kembali ke atas nampan. Dia kemudian membantu Aira untuk kembali berbaring, menarik selimut tebal itu hingga sebatas dada gadis itu agar dia tidak kedinginan.
"Sekarang tidur," kata Arkan lembut.
"Lo... nggak balik ke rumah atau kantor?" tanya Aira pelan. Rasa bersalah kembali merayap di hatinya saat melihat gurat kelelahan yang sangat jelas di wajah Arkan. "Muka lo capek banget, Kan. Pulang aja, istirahat di rumah. Gue udah nggak apa-apa di sini."
Arkan tidak menjawab. Alih-alih pergi, cowok itu justru kembali duduk di kursi samping ranjang Aira. Perlahan tapi pasti, dia meraih tangan kanan Aira yang bebas dari infus. Dia menggenggam jemari mungil Aira, menyatukannya di dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat.
"Gue di sini aja," gumam Arkan pelan, matanya menatap Aira dengan kehangatan yang mendalam. "Tidur, Ra. Gue nggak bakal ke mana-mana."
Genggaman tangan itu terasa begitu kokoh dan protektif, seolah-olah Arkan sedang menyalurkan seluruh kekuatannya untuk menopang tubuh Aira yang sedang rapuh.
Aira memejamkan matanya, namun pikirannya justru berkelana bebas. Di dalam keheningan kamar rawat VIP itu, hanya ada suara detak jam dinding dan embusan napas mereka yang teratur.
Di momen terlemahnya ini, saat tubuhnya didera sakit dan gengsi yang selama ini dia agungkan sudah runtuh tak tersisa, Aira akhirnya tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.
Kebohongan tentang hubungan settingan ini... kesepakatan tertulis di antara mereka... batasan profesional yang selalu dia gaungkan di dalam kepalanya agar tidak melewati batas... semuanya mendadak menguap begitu saja tanpa bekas.
Melihat bagaimana paniknya Arkan semalam, bagaimana cowok itu membuang proyek bernilai ratusan miliar demi menemaninya, dan bagaimana lembutnya sikap cowok dingin itu saat merawatnya... Aira sadar dia sudah kalah telak.
Dia telah jatuh cinta. Jatuh cinta setengah mati pada sosok Arkan Aditama, sang CEO sedingin es yang kini justru menjadi satu-satunya orang yang menghangatkan hatinya.
Aira merasakan air mata hangat perlahan menetes dari sudut matanya, mengalir turun ke pelipisnya. Bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena rasa bahagia sekaligus rasa takut yang luar biasa yang kini bergejolak di dalam dadanya. Dia takut karena rasa ini sudah bukan lagi bagian dari skenario settingan mereka. Rasa ini sudah terlalu nyata untuk diredam.
*Gue beneran jatuh cinta sama lo, Arkan...* batin Aira lirih, sebelum akhirnya rasa kantuk akibat pengaruh obat membawanya tenggelam ke dalam mimpi yang lelap.
Di sampingnya, Arkan yang juga sudah mencapai batas energinya, perlahan memejamkan mata. Kepalanya bersandar di tepi ka**r Aira, namun tangannya sama sekali tidak terlepas. Dia tetap menggenggam erat tangan gadis itu sepanjang siang itu, menjaga tidurnya dalam sunyi yang menenangkan. Gengsi keduanya kini telah kalah telak oleh rasa yang bernama cinta.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!