**Bab 2: Tab**kan Takdir dan Kemeja Mahal**
Aira tidak tahu bagaimana caranya dia bisa melangkah pergi dari meja terkutuk itu. Kakinya terasa seperti jeli, lemas dan gemetar, tetapi harga dirinya yang tersisa memaksa tubuhnya untuk tetap tegak. Sambil menyambar gelas plastik berisi *iced caramel macchiato* miliknya yang bahkan belum sempat diminum setengah, Aira berbalik dan setengah berlari meninggalkan area *outdoor* kafe tersebut.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah tanpa permisi. Pandangannya langsung buram, tertutup oleh lapisan air hangat yang terus mengalir membasahi pipinya. Dada Aira terasa sesak, seolah-olah ada batu besar yang menghimpit paru-parunya hingga dia kesulitan bernapas.
*Tiga tahun, Reno. Tiga tahun gue nemenin lo dari nol, dan lo buang gue kayak sampah demi Siska?*
Isak tangis Aira lolos begitu saja. Dia tidak peduli lagi pada beberapa pengunjung kafe berdesain interior mewah itu yang mulai menatapnya dengan pandangan heran atau kasihan. Yang ada di pikiran Aira saat ini hanya satu: dia harus segera keluar dari tempat ini, pulang ke kosannya, mengunci diri, dan menangis sampai matanya bengkak.
Aira berjalan cepat-cepat menuju pintu keluar kaca yang membatasi area dalam kafe dengan area parkir, tangannya sibuk menyeka air mata yang terus-menerus turun, membuat pandangannya benar-benar kacau dan tidak fokus.
***
Di sudut lain kafe yang sama, seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan kemeja putih bersih berpotongan pas badan sedang memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Arkan Adiwinata, CEO muda dari Adiwinata Group yang terkenal dengan julukan "Si Es Balok" oleh para karyawannya, sedang berada di ambang batas kesabarannya.
Sejak tiga puluh menit yang lalu, ponselnya tidak berhenti bergetar. Dan pelakunya tidak lain adalah mamanya sendiri, srikandi keluarga Adiwinata yang memiliki hobi baru: menjodohkan Arkan dengan anak-anak sosialita temannya.
"Arkan, pokoknya Mama nggak mau tahu. Malam minggu ini kamu harus luangin waktu buat makan malam sama Clarissa. Dia baru pulang dari London, lulusan *fashion design*, cantik, anggun, cocok banget buat mendampingi kamu!" suara melengking mamanya terdengar sangat jelas dari balik pelantang ponsel.
Arkan menghela napas berat, melangkah lebar menuju pintu keluar kafe dengan langkah gusar. "Ma, Arkan udah bilang berapa kali, Arkan nggak tertarik. Arkan sibuk kerja. Proyek di Surabaya baru aja mulai."
"Kerja terus! Kamu mau nikah sama berkas-berkas kantor? Umur kamu udah dua puluh delapan, Arkan! Temen-temen Mama cucunya udah pada ma**k SD, sedangkan kamu pacar aja nggak punya! Kalau kamu nggak mau milih sendiri, biar Mama yang pilihin. Titik!"
"Ma, *please*—"
"Nggak ada bantahan! Pokoknya—"
*BRUUUKKK!*
"Aaa!"
Suara benturan keras itu terdengar bersamaan dengan pekikan kaget seorang perempuan. Ponsel di genggaman Arkan hampir saja meluncur bebas ke lant** jika dia tidak memiliki refleks yang cepat. Namun, keberuntungan Arkan hanya sampai di situ.
Detik berikutnya, rasa dingin yang pekat langsung merembes di sepanjang dada hingga perutnya. Cairan berwarna cokelat pekat berserta butiran-butiran es batu yang mulai mencair menyebar dengan sangat estetik—namun mengerikan—di atas kemeja putih *custom-t**lored* merek Hugo Boss yang baru dipakainya pagi ini.
Arkan mematung. Matanya menatap ke bawah, ke arah noda cokelat yang perlahan melebar, merusak penampilan sempurnanya tanpa sisa. Aroma manis karamel dan kopi langsung menguar, mengalahkan wangi parfum mahal yang dia kenakan.
"Si****..." desis Arkan dengan suara rendah yang terdengar sangat berbahaya.
Di hadapannya, seorang perempuan dengan rambut acak-acakan sedang terduduk di lant** kafe yang dingin. Gelas plastik yang tadinya penuh kini sudah kosong melompong, menggelinding tidak jauh dari kaki mereka. Perempuan itu mendongak, memperlihatkan wajah yang kacau balau—hidung merah, mata sembap yang basah oleh air mata, dan maskara yang agak luntur di sudut matanya.
"A-duh... sorry, sorry banget... gue nggak sengaja," ucap perempuan itu dengan suara serak, khas orang yang sedang menangis sesenggukan. Dia mencoba berdiri sambil memegangi lututnya yang tampak memerah akibat membentur lant**.
Arkan menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarah yang rasanya sudah siap meledak di ubun-ubunnya. Sudahlah kepalanya pusing karena teror perjodohan sang mama, sekarang kemeja mahal kesayangannya malah hancur karena kecerobohan orang asing.
"Nggak sengaja lo bilang?" suara Arkan terdengar sangat dingin, seolah sanggup membekukan udara di sekitar mereka. Dia melangkah maju, menatap perempuan itu dengan tatapan tajam dan mengintimidasi. "Lo punya mata nggak sih? Jalan tuh pakai mata, bukan pakai dengkul! Kafe ini luas, dan lo bisa-bisanya nab**k gue sekencang ini?!"
Aira, yang emosinya memang sudah tidak stabil sejak dikhianati oleh Reno, langsung merasa tersentak mendengar bentakan ketus pria asing di hadapannya. Alih-alih merasa bersalah dan menciut, rasa sedih, kecewa, dan amarahnya yang menumpuk akibat kelakuan Reno tiba-tiba saja tersulut.
Aira mendongak, menatap balik mata tajam pria itu dengan berani, meskipun air mata masih terus mengalir di pipinya.
"Gue kan udah minta maaf! Lo nggak dengar tadi?!" balas Aira, suaranya naik satu oktav. "Gue bener-bener nggak sengaja! Pandangan gue lagi blur, dan gue nggak liat lo jalan dari arah sana!"
Arkan mendengus kasar, tertawa hambar dengan nada meremehkan. "Nggak liat? Alasan klasik. Lo pikir dengan nangis kayak gitu, lo bisa bebas dari tanggung jawab? Lihat kemeja gue!" Arkan menunjuk dadanya yang basah kuyup oleh kopi. "Lo tahu nggak ini kemeja harganya berapa? Gaji lo sebulan aja mungkin nggak akan c**up buat bayar ganti ruginya!"
Kalimat sombong itu bagaikan bensin yang menyiram api di dalam dada Aira. Hari ini dia sudah dihina oleh Reno yang menyebutnya kaku dan tidak asyik, lalu dibandingkan dengan Siska. Dan sekarang, seorang pria asing yang tidak dia kenal tiba-tiba datang dan menghina kemampuan finansialnya?
*Kenapa sih semua cowok di dunia ini br******nya sama rata?!* batin Aira berteriak histeris.
"Oh, jadi lo mau pamer kalau lo kaya raya, hah?!" tantang Aira, melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa puluh sentimeter. Dia mengabaikan tinggi badan pria itu yang jauh menjulang di atasnya. "Heh, cowok sombong! Lo pikir duit bisa beli segalanya? Lo pikir lo doang yang menderita karena kemeja lo kotor?! Gue baru aja diselingkuhin! Pacar yang gue temenin tiga tahun milih nikah sama musuh gue! Hari gue udah hancur sehancur-hancurnya, dan lo... lo cuma peduli sama kemeja si**** lo ini?!"
Arkan mengerutkan keningnya, benar-benar dibuat heran sekaligus syok oleh reaksi perempuan di depannya. *Ini cewek g*** atau gimana? Kenapa dia malah curhat soal diselingkuhin pacarnya di tengah-tengah perdebatan soal kemeja?*
"Heh, cewek aneh," sahut Arkan, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pose angkuh. "Gue nggak peduli hubungan lo mau hancur, mau lo diselingkuhin sama satu kelurahan sekalipun, itu bukan urusan gue! Yang jadi urusan gue sekarang adalah lo udah ngerusak penampilan gue. Gue ada *meeting* penting setelah ini, dan lo malah bikin gue keliatan kayak orang habis kecemplung parit kopi!"
"Ya terus gue harus apa?! Mau gue jilat ini kopi dari kemeja lo, biar bersih lagi?! Hah?!" teriak Aira frustrasi. Air matanya semakin deras mengalir, bercampur dengan rasa lelah yang teramat sangat. Dia merasa dunia benar-benar tidak adil hari ini.
Beberapa pengunjung kafe kini terang-terangan menonton pertengkaran mereka bagaikan menonton drama Korea gratis. Kasir kafe bahkan tampak ragu-ragu untuk mendekat guna melerai, takut terkena semprot hawa dingin yang dipancarkan oleh Arkan.
Arkan memejamkan matanya sejenak, mengembuskan napas lewat hidung untuk menenangkan diri. Dia adalah Arkan Adiwinata, seorang pebisnis kelas kakap yang selalu mengedepankan logika. Berdebat dengan perempuan yang sedang tidak stabil secara emosional di tempat umum seperti ini jelas-jelas merusak reputasinya.
"Gue nggak butuh drama lo," ucap Arkan, suaranya kembali datar dan dingin. Dia merogoh saku celananya, mengambil sebuah kartu nama berlapis emas tipis dari dompet kulitnya, lalu menyodorkannya ke depan wajah Aira. "Hubungi asisten gue. Lo harus bayar ganti rugi buat kemeja ini. Gue nggak mau tahu, lo harus bayar lunas."
Aira menatap kartu nama di tangan pria itu dengan pandangan benci. Alih-alih menerima kartu itu, Aira justru merogoh tas selempangnya dengan kasar. Dia membuka dompetnya, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan yang ada di sana—totalnya sekitar tiga ratus ribu rupiah—lalu meremas uang-uang kertas itu hingga berbentuk bulatan.
Dengan gerakan cepat, Aira melempar gumpalan uang kertas itu tepat ke arah dada Arkan yang basah.
"Nih! Ambil duit ini buat biaya *laundry* kemeja mahal lo yang paling berharga sedunia itu! Kurang? Anggap aja itu DP-nya! Gue nggak butuh kartu nama lo, dan gue nggak sudi berhubungan sama cowok sombong kayak lo!" teriak Aira dengan napas memburu.
Setelah melampiaskan seluruh emosinya, Aira berbalik dengan cepat. Dia berlari sekencang mungkin menembus pintu kaca kafe, meninggalkan area tersebut tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia membiarkan air matanya mengalir bebas di bawah terik matahari Jakarta, merasa sangat hancur namun setidaknya lega bisa berteriak pada seseorang.
Sementara itu, di dalam kafe, Arkan mematung di tempatnya berdiri. Dia menatap beberapa lembar uang kertas kusut yang kini jatuh berserakan di atas lant**, tepat di dekat sepatunya.
Rahang Arkan mengeras. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. Seumur hidupnya, belum pernah ada satu orang pun yang berani memperlakukannya sekasar ini, apalagi melemparkan uang kusut ke wajahnya.
"Kurang ajar..." gumam Arkan, matanya menatap tajam ke arah pintu keluar tempat perempuan asing itu menghilang.
Detik itu juga, ponsel di saku celana Arkan kembali bergetar. Layarnya menampilkan nama asisten pribadinya, mementahkan semua kekesalannya yang belum tersalurkan sepenuhnya. Arkan menggeram rendah, memungut ponselnya dengan kasar.
"Halo! Siapkan kemeja ganti sekarang juga di mobil. Dan satu lagi..." Arkan menjeda kalimatnya, matanya menyipit mengingat wajah kacau perempuan tadi. "...cari tahu siapa cewek g*** yang baru aja keluar dari kafe ini."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!