**Bab 3: Tawaran G*** di Atas Meja Kerja**
Aira masih ingat betul bagaimana kelanjutan insiden memalukan di kafe itu dua hari yang lalu. Setelah menumpahkan setengah gelas *iced caramel macchiato* tepat di dada kemeja putih mahal milik cowok jangkung yang tak dikenalnya, Aira langsung panik setengah mati. Di tengah isak tangisnya yang belum reda dan kepalanya yang pening akibat patah hati, dia hanya sempat membungkuk berkali-kali, menggumamkan kata maaf yang tidak jelas, lalu kabur begitu saja seperti pencuri.
Dia bahkan tidak sadar kalau dompet kartu kecilnya terjatuh di dekat kaki cowok itu saat dia sibuk merogoh tisu dari dalam tas.
Dan sekarang, di sinilah Aira berada.
Di dalam sebuah ruangan kantor super luas di lant** tiga puluh gedung pencakar langit kawasan Sudirman. Ruangan itu didominasi warna abu-abu gelap dan putih, sangat minimalis, sangat modern, dan sangat... dingin. Aromanya seperti wangi parfum maskulin mahal bercampur aroma kopi arabika yang baru diseduh.
Aira meremas ujung blus rajutnya yang mulai melar. Jantungnya berdegup kencang, seperti habis lari maraton keliling GBK. Di depannya, di balik sebuah meja kerja kayu jati yang kokoh dan rapi, duduklah si korban tumpahan kopinya dua hari lalu.
Cowok itu kini mengenakan kemeja biru dongker dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, menampilkan jam tangan hitam yang kelihatan sangat mahal. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang, mempertegas dahi dan rahangnya yang kokoh. Visualnya benar-benar tidak ma**k akal. Ganteng, tapi auranya dingin mirip es balok di freezer tukang daging.
"Aira Senja," cowok itu menyebut namanya dengan nada datar, matanya fokus membaca selembar kertas di tangannya. "Dua puluh dua tahun. Mahasiswi tingkat akhir jurusan Desain Komunikasi Visual. *Freelance graphic designer*, dan baru aja diputusin pacarnya setelah tiga tahun pacaran demi cewek lain."
Mata Aira membelalak. Mulutnya setengah terbuka karena syok. "B-Bapak... kok tahu? Bapak dukun ya?"
Cowok itu akhirnya mendongak. Sudut bibirnya terangkat tipis, sangat tipis hingga hampir tidak kelihatan seperti senyuman. Lebih mirip seringai meremehkan.
"Gue Arkan. Dan gue nggak butuh ilmu hitam cuma buat tahu latar belakang cewek ceroboh yang nab**k gue sampai kemeja edisi terbatas gue hancur," jawab Arkan tenang. Dia meletakkan kertas itu ke atas meja, lalu menyatukan jemarinya di depan dada. "Asisten gue, Leo, punya cara sendiri buat dapet informasi."
Aira menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya merinding. Dia menatap dompet kartu miliknya yang kini tergeletak manis di atas meja kerja Arkan. Pantas saja! Di dalam dompet kartu itu memang ada KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) dan beberapa kartu penting lainnya.
"Soal kemeja itu..." Aira mulai mencicit, suaranya menciut setengah oktaf. "Saya beneran minta maaf, Pak. Saya nggak sengaja. Waktu itu pikiran saya lagi kacau banget. Kalau Bapak mau saya ganti rugi... saya bakal ganti. Tapi boleh dicicil nggak? Soalnya tabungan saya lagi menipis buat bayar semesteran."
Arkan tidak langsung menjawab. Dia malah bersandar pada kursi kerjanya yang ergonomis, menatap Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai. Tatapan yang membuat Aira merasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar di pasar loak.
"Gue nggak butuh uang receh lo buat ganti kemeja gue," kata Arkan dingin.
Aira mengembuskan napas lega yang sangat pendek, sebelum kalimat Arkan berikutnya membuat napasnya kembali tercekat di tenggorokan.
"Tapi, gue butuh hal lain dari lo."
"Hah? Maksudnya?" Aira mengerutkan kening, mendadak merasa waspada. Otak kreatifnya yang terlalu sering menonton drama Korea mulai membayangkan hal-hal aneh. Jangan-jangan cowok kaya di depannya ini berniat melakukan hal yang tidak-tidak? Atau mau menjual organ tubuhnya untuk mengganti harga kemeja mahal itu?
Arkan memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Aira yang tampak ketakutan. "Gue tahu lo lagi ada di posisi paling bawah sekarang. Lo diputusin mantan lo, Reno, yang selingkuh sama temen lo sendiri, Siska. Dan dari info yang Leo dapet, minggu depan sepupu lo nikahan, dan nyokap lo udah sibuk nanyain kapan lo bawa pacar, karena lo terlanjur pamer kalau lo punya pacar yang jauh lebih sukses dari Reno."
Aira rasanya ingin menghilang dari bumi saat itu juga. Bagaimana bisa cowok asing ini tahu sedet**l itu? Oh, si****. Dia ingat sekarang. Kemarin malam, karena terlalu frustrasi dan mabuk kesedihan, dia sempat membuat cuitan panjang lebar di akun Twitter alternatifnya yang lupa dia kunci. Ditambah lagi, dia sempat mengirim pesan suara penuh tangisan ke grup WhatsApp sahabatnya yang mungkin saja bocor karena... entahlah, dunia ini terlalu sempit!
"Bapak memata-mat** saya? Itu ilegal, tahu!" protes Aira dengan wajah memerah menahan malu sekaligus kesal.
"Itu namanya riset sebelum melakukan penawaran bisnis," potong Arkan sant**, sama sekali tidak merasa bersalah. "Dan kebetulan, kita berdua punya masalah yang mirip."
"Mirip gimana?"
Arkan menghela napas pendek, ekspresi wajahnya berubah sedikit gusar saat mengingat ibunya. "Nyokap gue lagi gencar-gencarnya ngejodohin gue sama anak temen-temen sosialitanya. Gue nggak punya waktu buat urusan nggak penting kayak gitu. Gue butuh tameng. Seseorang yang bisa bikin nyokap gue berhenti nyariin gue calon istri."
Aira mulai menangkap arah pembicaraan ini, tapi otaknya masih menolak untuk percaya. "Jangan bilang..."
"Ya," Arkan mengetukkan jarinya di atas meja. "Gue menawarkan kesepakatan. Jadilah pacar gue selama tiga bulan."
Ruangan hening seketika. Aira bersumpah dia bisa mendengar suara detak jarum jam dinding di sudut ruangan yang saking mewahnya tidak bersuara itu.
"Pacaran... settingan?" tanya Aira memastikan, takut pendengarannya bermasalah akibat kurang tidur.
"Tepat. Pacaran settingan. Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan," jelas Arkan dengan nada profesional, seolah-olah dia sedang mempresentasikan proyek pembangunan gedung bernilai miliaran rupiah, bukan mengajak seorang gadis untuk pura-pura pacaran.
Arkan menarik sebuah map kertas tebal dari laci mejanya dan menyodorkannya ke hadapan Aira. "Ini draf kontraknya. Lo bisa baca dulu."
Aira menerima map itu dengan tangan gemetar. Dia membukanya dan membaca poin-poin yang tertulis di sana dengan mata membelalak lebar.
*Pihak Pertama (Arkan Adiwinata) dan Pihak Kedua (Aira Senja) sepakat untuk menjalin hubungan kekasih pura-pura selama jangka waktu 3 (tiga) bulan.*
*Pihak Pertama akan memfasilitasi Pihak Kedua dengan pakaian, transportasi, dan aksesori yang menunjang penampilan selama masa kontrak.*
*Pihak Pertama bersedia hadir sebagai kekasih Pihak Kedua di acara keluarga atau acara sosial yang membutuhkan kehadiran pasangan.*
*Pihak Kedua wajib hadir di setiap acara keluarga Pihak Pertama sebagai kekasih Pihak Pertama.*
*Dilarang keras melibatkan perasaan asli (jatuh cinta) selama masa kontrak berlangsung.*
*Pihak Kedua akan menerima kompensasi bulanan sebesar...*
Aira menghentikan bacaannya saat melihat nominal angka yang tertera di sana. Matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya. Angka nolnya banyak sekali! Itu bahkan c**up untuk membayar sisa uang kuliahnya sampai lulus, membayar sewa kosan setahun penuh, dan masih sisa banyak untuk modal usaha atau beli laptop baru untuk kebutuhan desainnya.
"Ini... nominalnya nggak salah tulis, Pak?" tanya Aira dengan suara bergetar.
"Itu nominal standar buat profesionalisme yang gue tuntut dari lo," jawab Arkan sant**. "Gue butuh lo akting dengan meyakinkan di depan nyokap gue. Dan sebagai bonusnya, gue bakal datang ke pernikahan sepupu lo itu. Gue bakal jadi pacar lo yang paling sempurna di depan mantan lo yang br****** itu."
Arkan menyandarkan tubuhnya lagi, menatap Aira dengan senyum tipis yang kali ini terlihat sangat menawan namun berbahaya. "Pikirin, Aira. Lo bisa dapet uang tambahan, nama baik lo di depan keluarga lo terselamatkan, dan lo bisa bikin mantan lo itu gigit jari karena lo dapet cowok yang levelnya jauh di atas dia. *It's a win-win solution*, kan?"
Aira terdiam. Pikirannya berperang hebat.
Di satu sisi, ini adalah hal paling g*** dan konyol yang pernah dia dengar seumur hidupnya. Pacaran settingan? Memangnya dia sedang main drama di televisi? Bagaimana kalau ketahuan? Bagaimana kalau semuanya jadi berantakan?
Tapi di sisi lain... egonya yang baru saja hancur berkeping-keping berteriak kencang. Bayangan wajah Reno yang tersenyum remeh saat memutuskannya, dan wajah Siska yang bergelayut manja di lengan Reno, kembali berputar di otaknya seperti kaset rusak. Rasa sakit dan terhina itu masih sangat segar. Dan tawaran Arkan ini... adalah tiket emas untuk membalas dendam dengan cara yang paling elegan.
Selain itu, tawaran uangnya sangat menggiurkan untuk mahasiswa dompet tipis seperti dirinya.
"Kenapa harus saya?" tanya Aira akhirnya, menatap Arkan dengan serius. "Maksud saya, Bapak kaya, gantengβya, meskipun agak menyebalkanβtapi Bapak pasti bisa sewa model atau aktris profesional buat melakukan ini. Kenapa harus mahasiswi biasa kayak saya?"
Arkan menatap Aira lurus-lurus. "Karena lo bersih. Lo nggak punya latar belakang yang mencurigakan, lo nggak punya kepentingan politik atau bisnis yang bisa ngerugiin perusahaan gue, dan yang paling penting... lo butuh ini sama besarnya dengan gue butuh ini. Cewek dari kalangan sosialita atau model terkenal bakal lebih susah dikontrol. Mereka bakal nuntut lebih setelah kontrak selesai. Tapi lo? Lo cuma butuh harga diri lo balik dan sedikit bantuan finansial."
Analisis Arkan sangat tajam, dingin, dan... benar. Aira tidak bisa membantahnya.
"Dan satu lagi," tambah Arkan. "Nyokap gue nggak akan curiga kalau gue pacaran sama cewek biasa yang 'tidak sengaja' gue temuin. Itu bakal kelihatan lebih natural daripada gue mendadak gandeng model terkenal."
Aira menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dia menatap kontrak di atas meja, lalu beralih menatap pulpen hitam elegan yang diletakkan Arkan di samping map tersebut.
*G***,* batin Aira. *Gue beneran bakal ngelakuin hal seg*** ini.*
Tapi, demi harga dirinya yang sudah diinjak-injak, demi membungkam mulut Reno dan Siska, dan demi menyelamatkan dirinya dari pertanyaan "kapan nikah" di acara keluarga besar... Aira rasa, menjadi g*** sesekali tidak ada salahnya.
Aira meraih pulpen tersebut. "Tiga bulan, kan? Nggak kurang, nggak lebih?"
"Tiga bulan. Setelah itu, kita pura-pura putus karena ketidakcocokan, dan kita kembali ke kehidupan masing-masing seolah nggak pernah saling kenal," jawab Arkan tegas.
Aira mengangguk. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun mantap, dia membubuhkan tanda tangannya di atas materai yang sudah ditempel di draf kontrak tersebut. Setelah selesai, dia menggeser map itu kembali ke hadapan Arkan.
Arkan mengambil pulpen miliknya, lalu membubuhkan tanda tangannya sendiri dengan gerakan cepat dan tegas. Dia menutup map tersebut, lalu menatap Aira dengan pandangan yang kini sedikit berubah. Lebih ramah? Tidak juga, tapi setidaknya tidak sedingin tadi.
"Selamat bergabung dalam permainan ini, Pihak Kedua," ujar Arkan, mengulurkan tangannya di atas meja.
Aira menatap telapak tangan Arkan yang lebar dan bersih. Dia menyambut uluran tangan itu, merasakan kehangatan kulit Arkan yang kontras dengan dinginnya AC ruangan.
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, Pak Arkan," balas Aira.
"Mulai sekarang, panggil gue Arkan. Tanpa embel-embel 'Pak'," koreksi Arkan sembari melepaskan jabat tangan mereka. "Kita harus kelihatan natural. Dan untuk latihan pertama..." Arkan melirik jam tangannya. "Sore ini lo ikut gue. Kita harus beli beberapa pakaian baru yang lebih... pantas untuk pacar seorang Arkan Adiwinata."
Aira refleks melihat pakaiannya sendiri. "Memangnya baju saya kenapa? Ini kan sopan!"
"Sopan, tapi terlalu biasa," jawab Arkan tanpa perasaan. Dia berdiri dari kursi kerjanya, menyambar kunci mobil dan jasnya yang tersampir di sandaran kursi. "Ayo. Waktu kita nggak banyak. Anggap saja ini sebagai langkah awal transformasi lo buat bikin mantan lo itu menyesal seumur hidup."
Mendengar kata "mantan", semangat Aira yang sempat ciut langsung berkobar kembali. Dia berdiri dengan tegak, menyandang tasnya, lalu tersenyum menantang.
"Oke, Arkan. Tunjukin ke gue seberapa jauh lo bisa bikin mantan gue nyesel."
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!