Pacaran Settingan Ini Kok Jadi Beneran?

Bab 4: Pasal Terlarang: Dilarang Baper!

Pengaturan Membaca

**Bab 4: Pasal Terlarang: Dilarang Baper!**

Aira menatap deretan menu dengan nama-nama berbahasa Jepang yang sulit dieja di hadapannya. Harganya? Jangan ditanya. Angka nol di belakangnya membuat kepala Aira mendadak pening. Untuk satu porsi *sushi roll* saja, harganya setara dengan uang makan mingguannya sebagai anak kos.

"Pesan apa aja yang lo mau. Gue yang bayar," kata Arkan datar. Cowok itu duduk di seberang meja kayu kokoh dalam ruangan VIP sebuah restoran Jepang premium di kawasan Senopati.

Ruangan privat ini sangat sunyi, hanya menyisakan suara instrumental kecapi Jepang yang mengalun lembut dari sudut ruangan. Desain interiornya sangat estetik, didominasi kayu-kayu berwarna hangat dan pencahayaan temaram yang memberikan kesan intimβ€”kontras sekali dengan hawa dingin yang menguar dari tubuh cowok di depan Aira.

"Nggak usah repot-repot, Pak... eh, Kak... eh, Mas?" Aira mendadak bingung harus memanggil cowok ini dengan sebutan apa. Di kantor kemarin rasanya formal banget, tapi di sini situasi mereka agak... berbeda.

"Panggil Arkan aja kalau lagi berdua," potong Arkan cepat, tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Dan pesen makanannya sekarang. Kita nggak punya banyak waktu."

Aira mengerucutkan bibirnya kesal. *Sok sibuk banget,* batinnya. Akhirnya, dia asal menunjuk satu menu random yang gambarnya paling menarik, ditambah segelas *ocha* dingin. Setelah pelayan pergi membawa pesanan mereka, keheningan canggung kembali melingkupi ruangan.

Arkan meletakkan ponselnya ke meja dengan ketukan pelan. Dia membuka tas kerja kulitnya yang tampak sangat mahal, mengeluarkan sebuah map jilid berwarna hitam, lalu menyodorkannya ke hadapan Aira.

"Ini apa?" tanya Aira heran, matanya mengerjap-ngerjap menatap map itu.

"Kontrak pacaran settingan kita," jawab Arkan dengan nada sant**, seolah baru saja menyodorkan menu makanan tambahan. "Silakan dibaca. Kalau ada yang keberatan, lo bisa komplain sekarang sebelum kita tanda tangan."

Aira menelan ludah. Pacaran pakai kontrak? Ini beneran kayak di drama-drama Korea yang sering dia tonton bareng temen kosnya. Dengan tangan sedikit gemetar, Aira membuka lembar pertama. Di bagian atas kertas putih bersih itu, tertulis judul dengan huruf kapital tebal:

**SURAT PERJANJIAN KERJASAMA HUBUNGAN TIMBAL BALIK (KONTRAK PACARAN SETTINGAN)**

Aira hampir saja tersedak air liurnya sendiri membaca judul formal tersebut. "Ini... serius banget namanya? Berasa mau beli tanah tau gak."

"Gue pengusaha, Aira. Segala hal yang melibatkan kesepakatan harus hitam di atas putih. Biar nggak ada yang bisa mengelak di kemudian hari," sahut Arkan, bersedekap dada sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya yang tajam mengawasi setiap ekspresi di wajah Aira.

Aira mulai membaca pasal demi pasal dengan saksama.

**Pasal 1: Durasi dan Kewajiban Publik**

*Hubungan kepasangan palsu ini akan berlangsung selama minimal enam bulan atau sampai tujuan masing-masing pihak tercapai. Kedua belah pihak wajib menampilkan citra sebagai pasangan kekasih yang serasi, harmonis, dan saling menyayangi di depan publik, terutama di hadapan keluarga Pihak Pertama (Arkan).*

"Tunggu," Aira mengangkat jari telunjuknya. "Menampilkan citra kekasih yang serasi itu... batasannya sampai mana? Maksud gue, kita harus ngapain aja?"

"Pegangan tangan di depan keluarga gue, rangkulan kalau lagi jalan bareng di tempat umum, dan panggil pakai nama kesayangan kalau situasi menuntut," jelas Arkan tanpa beban.

Aira bergidik ngeri membayangkan harus memanggil cowok sekaku Arkan dengan sebutan 'Sayang' atau 'Babe'. "Oke, asal nggak ada kontak fisik yang... aneh-aneh."

"Gue nggak tertarik buat ngambil kesempatan dari lo, jadi lo tenang aja," sahut Arkan dingin, sukses membuat Aira merasa sedikit tersinggung, walau dalam hati dia juga lega.

Aira lanjut membaca pasal berikutnya.

**Pasal 2: Batasan Privasi**

*Kedua belah pihak dilarang keras mencampuri urusan pribadi masing-masing di luar kepentingan kontrak ini. Pihak Pertama tidak berhak mengatur kehidupan pribadi Pihak Kedua, begitu pula sebaliknya. Kehidupan di luar publik adalah hak milik masing-masing secara mutlak.*

"Sip, yang ini gue setuju banget. Lo nggak boleh kepo soal kuliah gue, dan gue nggak bakal kepo soal bisnis lo," gumam Aira puas.

**Pasal 3: Kompensasi dan Keuntungan**

*Sebagai timbal balik atas kesediaan Pihak Kedua (Aira) membantu Pihak Pertama, maka hutang ganti rugi atas kerusakan kemeja Pihak Pertama dinyatakan lunas. Selain itu, Pihak Pertama akan memberikan kompensasi bulanan sebesar Rp10.000.000,- (Sepuluh Juta Rupiah) serta menanggung semua biaya kencan, pakaian, dan akomodasi yang diperlukan selama menunjang peran ini.*

Mata Aira seketika membelalak lebar. Sepuluh juta sebulan?! Gratis makan, gratis baju, dan hutang kemeja mahalnya langsung lunas? Ini bukan lagi kesi****, ini namanya ketiban durian runtuh! Aira menyembunyikan senyum lebarnya di balik telapak tangan, berpura-pura batuk kecil untuk menjaga gengsinya.

"Kompensasinya... lumayanlah ya untuk ukuran mahasiswa," ujar Aira, mencoba terdengar sok tenang, padahal dalam hati dia sudah berteriak histeris dan ingin menari lumba-lumba.

"Itu harga yang murah buat ketenangan hidup gue dari perjodohan konyol nyokap gue," balas Arkan datar.

Aira membalik halaman berikutnya. Dan di sana, di tengah kertas, ada satu pasal yang ditulis dengan ukuran huruf lebih besar, dicetak tebal, dan digarisbawahi.

**<u>Pasal 4: PASAL TERLARANG: DILARANG BAPER!</u>**

*Kedua belah pihak dilarang keras melibatkan perasaan asli (jatuh cinta, cemburu, atau baper) selama masa kontrak ini berlangsung. Hubungan ini murni profesional. Jika salah satu pihak terbukti melanggar pasal ini dengan menaruh perasaan pada pihak lain, maka kontrak dinyatakan batal secara sepihak dan pihak yang melanggar wajib membayar denda penalti sebesar Rp50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah).*

Aira melongo membaca angka denda tersebut. Lima puluh juta rupiah?!

"Kenapa? Lo keberatan sama Pasal 4?" tanya Arkan, menaikkan sebelah alisnya saat melihat reaksi Aira.

Aira langsung mendongak, menatap Arkan dengan tatapan remeh yang dipaksakan. Dia menutup map tersebut dengan bunyi *plak* yang c**up keras.

"Keberatan? Hahaha, ya enggaklah!" Aira tertawa renyah, mencoba menutupi kegugupannya. "Gue cuma heran aja. Lo se-pede itu ya mikir gue bakal naksir sama lo?"

"Gue cuma realistis. Banyak cewek yang akhirnya salah paham cuma karena gue bersikap baik, padahal itu cuma tuntutan peran," kata Arkan dengan nada angkuh yang langsung membuat kadar kekaguman Aira pada visual cowok itu merosot tajam ke titik nadir.

Aira memutar bola matanya jengah. *Ganteng sih ganteng, tapi tingkat kepedeannya udah menembus lapisan ozon,* batin Aira gemas.

"Denger ya, Kak Arkan yang terhormat," Aira memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat milik Arkan. "Tipe cowok idaman gue itu yang anget, ramah, humoris, dan yang paling penting: nggak kaku kayak tripleks begini. Jadi, lo tenang aja. Lo bukan tipe gue sama sekali. Bahkan kalau lo cowok terakhir di bumi ini, gue bakal mikir dua kali buat jatuh cinta sama lo."

Bukannya marah, Arkan justru menunjukkan senyum tipisβ€”hampir tak kentaraβ€”di sudut bibirnya. Sebuah senyuman yang terlihat misterius sekaligus menantang.

"Bagus kalau gitu. Pegang ucapan lo," ucap Arkan tenang. Dia mengeluarkan sebuah pulpen hitam elegan dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas map. "Tanda tangan di sini."

Aira menyambar pulpen tersebut tanpa ragu. Pikiran praktisnya langsung bekerja. Masa depannya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang butuh uang jajan tambahan dan kuota internet lancar jauh lebih penting daripada memikirkan keangkuhan cowok di depannya ini. Lagipula, siapa juga yang sudi jatuh cinta pada robot bernyawa berwujud manusia tampan ini? Baper sama Arkan? *Cih, amit-amit cabang bayi,* gumam Aira dalam hati.

Dengan mantap, Aira membubuhkan tanda tangannya di atas materai sepuluh ribu yang sudah ditempel rapi di kolom Pihak Kedua. Setelah selesai, dia menyerahkan kembali pulpen dan map itu kepada Arkan.

Arkan menerima map tersebut, lalu giliran dirinya yang menandatangani dokumen itu dengan gerakan tangan yang tegas dan cepat. Setelah selesai, dia menutup map dan mema**kkannya kembali ke dalam tas kerjanya.

Bersamaan dengan itu, pelayan datang membawa pesanan makanan mereka. Aroma harum dari *sushi roll* dan kuah ramen hangat seketika menggugah selera makan Aira yang sempat tertahan.

"Mulai hari ini, kita resmi pacaran," ujar Arkan sambil merapikan letak sendok dan garpunya.

Aira yang baru saja menyumpit satu buah *sushi* langsung berhenti di udara. Kata-kata "resmi pacaran" dari mulut Arkan terdengar sangat aneh di telinganya. Ada desiran aneh yang mendadak lewat di dadanya, namun dengan cepat Aira menepisnya. Dia menggelengkan kepala pelan. *Inget sepuluh juta sebulan, Aira! Dan inget denda lima puluh juta kalau lo baper!*

"Pacaran settingan," ralat Aira penuh penekanan.

"Sama aja di depan publik," sahut Arkan acuh tak acuh. "Besok malam, lo harus ikut gue ke acara makan malam keluarga. Nyokap gue mau ketemu sama lo."

Aira hampir saja menjatuhkan *sushi*-nya kembali ke piring. "Hah? Besok banget?!"

"Iya. Dan karena lo pacar gue sekarang," Arkan menatap penampilan Aira dari ujung rambut sampai ujung blus rajutnya yang sederhana, "besok sepulang kuliah, asisten gue, Leo, bakal jemput lo buat beli baju yang layak. Jangan pakai baju melar kayak gitu ke rumah keluarga gue."

Aira reflek memeluk tubuhnya sendiri, menatap Arkan dengan cemberut maksimal. "Heh! Baju gue ini masih bagus ya! Ini namanya gaya *grunge-vintage* tahu!"

"Terserah apa sebutannya. Yang jelas, besok lo harus tampil sempurna. Mengerti, Pacar?" Arkan mengucapkan kata terakhir dengan nada yang sedikit menggoda, membuat wajah Aira mendadak terasa hangat tanpa alasan.

Aira mendengus keras, lalu mema**kkan *sushi* berukuran c**up besar itu sekaligus ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan penuh dendam seolah sedang mengunyah wajah tampan nan menyebalkan milik pacar barunyaβ€”pacar pura-puranya.

*Lihat aja nanti, Arkan. Gue bakal buktiin kalau gue adalah orang pertama yang bakal memenangkan permainan kontrak g*** ini tanpa kehilangan hati gue sedikit pun!* batin Aira bertekad kuat di tengah kunyahan makanannya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca