Pacaran Settingan Ini Kok Jadi Beneran?

Bab 5: Debut Pacar Sempurna yang Bikin Melongo

Pengaturan Membaca

**Bab 5: Debut Pacar Sempurna yang Bikin Melongo**

Aira mondar-mandir di depan cermin kamarnya untuk yang kesebelas kalinya. Dia menatap penampilannya sendiri dengan cemas. Hari ini adalah hari syukuran rumah baru tantenya—yang artinya, seluruh keluarga besar dari pihak Ibu bakal kumpul. Dan seperti biasa, acara keluarga seperti ini selalu menjadi medan perang mental bagi Aira.

"Aira! Kamu sudah siap belum? Itu sepupu-sepupumu sudah pada datang, lho. Nanti dikira malas-malasan!" suara Ibu berteriak dari lant** bawah, terdengar melengking di sela-sela riuhnya obrolan keluarga yang mulai berdatangan.

"Iya, Bu! Bentar lagi Aira turun!" sahut Aira setengah berteriak.

Aira mengembuskan napas berat. Dia merapikan rok plisket warna pastel dan tunik senada yang dia kenakan. Dandannya sengaja dibuat natural, tapi tetap segar. Namun, yang membuat jantungnya berdegup kencang bukan karena dia takut disindir sepupu-sepupunya seperti biasa. Melainkan karena hari ini, aktor utama dalam rencana penyelamatan harga dirinya akan datang.

Arkan. Si bos dingin yang sekarang berstatus sebagai pacar sewaan—ah, ralat, *pacar settingan*—sesuai dengan kontrak hitam di atas putih yang mereka tanda tangani kemarin lusa.

*Tin! Tin!*

Suara klakson mobil terdengar dari arah depan rumah. Bukan suara klakson cempreng motor matic atau mobil keluarga biasa. Suaranya terdengar berat, khas mobil mewah ber-CC besar.

Aira langsung berlari kecil menuju jendela lant** dua dan menyibak gorden tipis kamarnya. Matanya seketika membelalak.

Di depan pagar rumahnya yang sederhana, terparkir sebuah Porsche Taycan hitam metalik yang berkilau di bawah sinar matahari sore. Kehadiran mobil itu langsung menyedot perhatian para tetangga dan kerabat Aira yang sedang mengobrol di teras. Beberapa paman Aira bahkan langsung berdiri dari kursi plastik mereka, menatap takjub pada mobil sport listrik super mahal tersebut.

Pintu kemudi terbuka. Dan dari sana, turunlah sesosok pria yang membuat Aira hampir lupa cara bernapas.

Arkan mengenakan kemeja linen berwarna *sage green* dengan lengan yang digulung rapi sampai ke siku, dipadukan dengan celana chino krem dan sepatu ka**al kulit yang tampak sangat mahal. Rambut hitamnya ditata rapi dengan sedikit kesan acak-acakan yang justru membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya sebelum akhirnya dia lepas dan diselipkan di kerah kemeja.

*G***... ini mah kelewat ganteng!* batin Aira, mendadak merasa minder dengan penampilannya sendiri.

Arkan berjalan memutari mobil, lalu membuka bagasi belakang. Dia mengeluarkan dua buah bingkisan berukuran sangat besar. Dari kemasannya yang menggunakan pita satin bertuliskan *b**nd* toko kue terkenal di Senopati, Aira tahu harga satu bingkisan itu bisa setara dengan uang kosnya sebulan.

"Eh, eh, itu siapa? Mobilnya bagus bener!" samar-samar Aira mendengar suara Tante Merry, ibu dari Karin—sepupu Aira yang paling suka pamer.

Aira buru-buru menyambar tas selempangnya dan turun ke bawah setengah berlari. Begitu sampai di ruang tamu yang merangkap ruang tengah, semua mata langsung tertuju padanya.

"Aira, itu siapa di luar? Nyariin kamu?" tanya Ibu dengan mata berbinar penasaran.

Sebelum Aira sempat menjawab, pintu depan yang terbuka lebar langsung menampilkan sosok Arkan. Cowok itu melangkah ma**k dengan senyum yang sangat... manis. Sungguh, Aira belum pernah melihat senyum seperti itu di wajah Arkan selama bekerja di kantor. Senyum itu terlihat begitu tulus, hangat, dan sangat bersahabat.

"Permisi... Selamat sore semuanya," sapa Arkan dengan suara baritonnya yang terdengar sangat sopan dan berwibawa.

Seketika, riuh rendah suara keluarga Aira langsung senyap. Sepupu-sepupu perempuan Aira, terma**k Karin yang biasanya sibuk main ponsel sambil pamer kuku *nail art* baru, langsung mendongak dengan mulut sedikit terbuka. Mereka menatap Arkan tanpa berkedip.

Arkan berjalan mendekati Ibu Aira yang berdiri paling depan. Dengan gerakan yang sangat sopan, dia membungkuk sedikit dan mencium punggung tangan Ibu Aira.

"Sore, Tante. Saya Arkan, pacarnya Aira," ucap Arkan lembut, lalu menyerahkan salah satu bingkisan besar di tangannya. "Ini ada sedikit hantaran untuk syukuran sore ini. Semoga Tante dan keluarga suka."

Ibu Aira sempat mematung selama beberapa detik, sebelum akhirnya wajahnya berubah menjadi cerah secerah matahari musim panas. Senyumnya melebar hingga matanya menyipit.

"Ya ampun... Nak Arkan! Ganteng sekali! Aduh, repot-repot banget bawa ginian segala. Ini kue dari toko yang terkenal itu, kan? Duh, terima kasih banyak ya," cerocos Ibu dengan nada suara yang naik satu oktav karena saking senangnya.

"Sama-sama, Tante. Tidak repot sama sekali, kok," jawab Arkan manis.

Arkan kemudian berbalik menatap Aira. Detik itu juga, tatapan matanya berubah menjadi sangat lembut—tipe tatapan yang penuh damba yang biasa ada di drama-drama romantis. Dia melangkah mendekati Aira, lalu tanpa ragu, tangan besarnya yang hangat meraih tangan kanan Aira dan menggenggamnya dengan erat.

*Deg!*

Jantung Aira rasanya seperti melompat keluar dari dadanya. Kulit mereka yang bersentuhan mengirimkan gelombang sengatan listrik aneh yang langsung membuat bulu kuduk Aira meremang.

"Maaf ya, Sayang, aku agak telat sedikit. Tadi jalanan agak macet di lampu merah depan," kata Arkan dengan suara yang begitu lembut, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Aira. Pangg***n 'Sayang' itu meluncur begitu mulus dari bibirnya tanpa ada kecanggungan sama sekali.

*Sayang?!* Aira menjerit histeris dalam hati. Akting cowok ini benar-benar level oscar!

"E-eh, iya, nggak apa-apa kok, Kak... eh, Arkan," jawab Aira terbata-bata, wajahnya mendadak terasa sangat panas. Dia yakin pipinya sekarang pasti sudah semerah kepiting rebus.

Karin, yang sejak tadi mengamati dengan muka masam, akhirnya tidak tahan untuk tidak ikut bicara. Dia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat dengan gaya yang sok anggun.

"Aira, kok nggak pernah cerita sih punya pacar? Mana ganteng begini lagi," sindir Karin, matanya tidak lepas dari Arkan, memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Mas Arkan ini kerjanya di mana? Kuliah atau sudah kerja?"

Aira baru saja mau membuka mulut untuk menjawab, tapi Arkan sudah mendahuluinya. Dia merangkul pundak Aira dengan posesif, menarik tubuh gadis itu agar lebih merapat ke tubuhnya yang tegap dan berbau harum maskulin perpaduan *sandalwood* dan *cedarwood* yang sangat mewah.

"Saya mengelola beberapa bisnis keluarga, sekaligus menjabat sebagai Direktur Utama di Arkan Group," jawab Arkan dengan nada sant**, seolah posisi mentereng itu adalah hal yang biasa saja. Dia tersenyum tipis pada Karin. "Aira sengaja tidak mau terlalu banyak cerita, katanya dia mau menjaga privasi hubungan kami sampai benar-benar siap diperkenalkan ke keluarga besar."

Jawaban tenang namun telak itu langsung membuat Karin bungkam. Mukanya langsung berubah agak pucat. Arkan Group adalah salah satu perusahaan properti dan investasi terbesar di kota ini. Siapa pun yang membaca berita bisnis pasti tahu nama besar keluarga itu.

"Wah, Direktur? Hebat sekali! Masih muda sudah jadi Direktur!" puji Tante Merry yang tiba-tiba ikut nimbrung, mencoba bersikap ramah meskipun matanya terlihat sangat iri. "Aira kok bisa dapet pacar sehebat Nak Arkan, ya? Padahal Aira kan cuma staf biasa di kantor."

Aira merasa dadanya agak sesak mendengar sindiran halus dari tantenya itu. Namun, sebelum rasa *insecure*-nya menguasai diri, Arkan mempererat rangkulannya di bahu Aira. Ibu jari Arkan mengusap lembut lengan Aira, memberikan ketenangan yang anehnya langsung menjalar ke seluruh tubuh gadis itu.

"Justru saya yang merasa sangat beruntung bisa mendapatkan Aira, Tante," sahut Arkan, suaranya terdengar tegas namun tetap sopan, membuat Tante Merry langsung terdiam. "Aira itu perempuan yang sangat mandiri, pekerja keras, dan punya kepribadian yang sangat tulus. Sifat-sifat seperti itu sangat langka dan tidak bisa dinilai dengan materi. Makanya, saya sangat menghargai dan menyayangi dia."

Mendengar kalimat itu, napas Aira tercekat. Dia mendongak, menatap profil samping wajah Arkan yang tampak begitu serius mengucapkan kata-kata tersebut. Dada Aira bergemuruh hebat. Meskipun dia tahu semua ini hanya akting demi tuntutan kontrak, tapi mendengar pembelaan sekuat itu di depan keluarganya yang selalu meremehkan dirinya... rasanya ada sesuatu yang hangat yang perlahan meleleh di dalam hatinya.

"Aduh, manis sekali sih Nak Arkan ini!" seru Ibu Aira, menyelamatkan suasana yang sempat agak canggung. "Ayo, ayo, silakan duduk dulu. Kita mau mulai doa syukuran sebentar lagi, setelah itu langsung makan-makan."

Selama acara berlangsung, Arkan benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai "Pacar Sempurna". Dia tidak canggung sama sekali ketika harus duduk bersila di karpet bersama paman-paman Aira. Dia mengobrol dengan sangat nyambung tentang bisnis, olahraga, hingga politik praktis, membuat para pria di keluarga Aira mangut-mangut kagum.

Bahkan ketika waktu makan tiba, Arkan dengan sangat perhatian mengambilkan piring nasi dan lauk-pauk untuk Aira terlebih dahulu, baru kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.

"Ini sayurnya dimakan, Sayang. Kamu kan kurang suka pedas, jadi aku ambilkan yang bumbu gurih aja, ya?" bisik Arkan tepat di telinga Aira, membuat hembusan napas hangatnya menyapu leher sensitif Aira.

Aira meremaj, menahan diri setengah mati agar tidak berteriak karena terlalu baper. "I-iya, makasih ya..." jawabnya pelan sambil menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk dengan makanannya demi menyembunyikan wajahnya yang sudah matang sempurna.

Karin dan beberapa sepupu lainnya yang biasanya selalu menjadi pusat perhatian kini benar-benar terabaikan. Mereka hanya bisa duduk di sudut ruangan sambil berbisik-bisik dengan wajah cemberut, sesekali melemparkan pandangan iri ke arah Aira dan Arkan. Debut Arkan sore ini sukses besar membungkam semua mulut nyinyir yang biasanya menghujani Aira dengan pertanyaan "Kapan nikah?" atau "Kok masih jomblo aja?".

Setelah acara selesai dan para tamu mulai berpamitan, Arkan dan Aira berdiri di teras rumah untuk melepas mereka. Ibu Aira masih sibuk mengobrol di dalam dengan beberapa bibi yang membantu membereskan piring.

Suasana di teras mendadak menjadi hening dan sedikit canggung begitu mereka hanya tinggal berdua.

Arkan melonggarkan kerah kemejanya sedikit, mengembuskan napas panjang. Aura hangat dan bersahabat yang dia tunjukkan sejak tadi langsung menguap, kembali digantikan oleh ekspresi wajahnya yang datar dan tenang seperti biasa. Namun, entah kenapa, kali ini tatapan matanya terasa sedikit berbeda saat menatap Aira.

"Gimana? Akting gue c**up meyakinkan, kan?" tanya Arkan dengan nada suara rendahnya yang biasa, kembali menggunakan pangg***n 'lo-gue' yang formal saat berdua.

Aira mengerjapkan matanya, mencoba mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata. Dia harus mengingatkan dirinya sendiri: *Ini cuma bisnis. Ini cuma kontrak.*

"Lebih dari meyakinkan, Kak. Itu tadi... g*** banget sih. Sepupu-sepupu gue langsung pada kicep," jawab Aira sambil tertawa canggung, berusaha menutupi detak jantungnya yang masih belum kembali normal. "Makasih banyak, ya. Lo bener-bener penyelamat harga diri gue hari ini."

Arkan menatap Aira lurus-lurus. Langkah kakinya maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka hingga Aira bisa kembali mencium aroma parfumnya yang memabukkan.

Arkan mengulurkan tangannya, lalu dengan gerakan lembut yang membuat jantung Aira serasa berhenti berdetak, dia menyelipkan seunt** rambut Aira yang terlepas ke belakang telinganya. Sentuhan jarinya yang hangat di kulit pipi Aira membuat gadis itu menahan napas.

"Sama-sama, Aira," ucap Arkan pelan, matanya menatap bibir Aira sekilas sebelum kembali mengunci tatapan matanya. "Tapi ingat satu hal..."

Arkan mendekatkan wajahnya ke telinga Aira, membisikkan kalimat yang langsung membuat seluruh tubuh Aira membeku.

"...jangan lupa pasal terlarang di kontrak kita. Lo dilarang keras baper sama gue."

Setelah membisikkan kalimat itu dengan nada setengah memperingatkan sekaligus menggoda, Arkan mundur, memberikan senyum tipis yang penuh misteri, lalu berbalik menuju mobilnya yang mewah.

Aira berdiri mematung di teras, memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang seperti sedang ditabuh drum bertalu-talu. Dia menatap kepergian mobil Porsche hitam itu yang perlahan menghilang di ujung jalan.

*Si****,* batin Aira dengan frustrasi, meremas ujung bajunya. *Gimana caranya gue nggak baper kalau lo se-sempurna ini, Arkan?!*

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca