Bab 6: Mantan Auto Kena Mental
Grand I****esia sore itu sangat ramai. Bau harum parfum mewah langsung menyambut indra penciuman Aira begitu dia melangkahkan kaki ke dalam mal. Hari ini, Arkan mengajaknya ke sebuah acara *private viewing* koleksi tas terbaru dari salah satu *b**nd* ternama asal Prancis.
Aira menatap penampilannya sendiri di pantulan kaca etalase toko. Dia mengenakan *dress* selutut berwarna *baby blue* dengan potongan sederhana namun terlihat sangat elegan, dipadukan dengan *high heels* senada. Rambutnya yang biasa dikuncir kuda kini digerai dengan gaya *loose waves* yang cantik. Semua ini berkat asisten pribadi Arkan yang pagi-pagi sekali sudah mengirimkan gaun dan mendatangkan penata rias ke kosannya.
"Kamu kelihatan cantik. Nggak usah gugup gitu," bisik Arkan yang berjalan di sampingnya.
Suara bariton Arkan yang rendah sukses membuat bulu kuduk Aira meremang. Aira melirik pria di sebelahnya. Arkan memakai setelan jas sant** berwarna abu-abu arang tanpa dasi, dengan dua kancing teratas kemeja putihnya yang sengaja dibuka. Penampilan Arkan begitu karismatik sampai-sampai beberapa perempuan yang berpapasan dengan mereka terang-terangan melirik dengan tatapan memuja.
"Gimana nggak gugup? Ini mal mewah, Pak. Terus kita mau ke acara VIP. Kalau aku salah pakai garpu atau salah ngomong gimana?" bisik Aira cemas, tangannya meremas tali tas kecilnya.
Arkan terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar sangat s****. "Tenang aja. Kan ada aku. Lagian, di dalam cuma ada pameran tas dan sedikit *cockt**l party*. Kamu tinggal berdiri di samping aku, senyum, dan kelihatan cantik. Tugas kamu cuma itu."
"Oke, oke. Tarik napas, embuskan..." gumam Aira mencoba menenangkan diri.
Tiba-tiba, langkah Arkan terhenti karena ponsel di saku jasnya bergetar. Dia merogoh ponselnya, menatap layarnya sejenak, lalu menatap Aira. "Aira, sekretaris aku telepon soal dokumen tender penting. Aku harus angkat ini sebentar. Kamu tunggu di dekat kafe depan butik itu ya? Cuma lima menit."
"Oh, iya, silakan, Pak. Aku tunggu di sana," jawab Aira buru-buru, menunjuk sebuah kafe semi-terbuka yang terletak tepat di seberang butik mewah tujuan mereka.
Arkan mengangguk, memberikan senyum tipis yang menenangkan sebelum melangkah agak menjauh untuk menerima teleponnya.
Aira berjalan menuju area tunggu kafe tersebut. Dia memutuskan untuk berdiri di dekat pembatas kaca yang menghadap langsung ke atrium mal, menikmati pemandangan sore. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama.
"Lho? Aira? K-kamu... Aira, kan?"
Sebuah suara familier yang sangat ingin Aira hapus dari memorinya tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Aira menegang. Dia perlahan membalikkan badannya dan seketika itu juga matanya menangkap sosok Reno, mantan pacarnya yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak enam bulan lalu demi perempuan lain.
Dan benar saja, di samping Reno, berdiri Siskaβperempuan yang merebut Reno dari Aira. Siska tampak mengenakan pakaian serba ketat dengan tas tangan bermerek Coach yang sengaja dia pamerkan di depan dadanya.
Reno menatap Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan tidak percaya. "Wah, beneran kamu, Ra! G***, hampir pangling aku. Tumben gaya kamu... agak modal sekarang?"
Aira mengepalkan tangannya di balik lipatan *dress*-nya. Dia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar, meskipun dadanya mulai bergemuruh kencang karena emosi. "Hai, Reno. Hai, Siska."
Siska melirik Aira dengan tatapan meremehkan. Dia merangkul lengan Reno dengan lebih erat, seolah ingin menegaskan kepemilikannya. "Reno, ini mantan kamu yang waktu itu sering kamu cerit**n? Yang katanya cuma suka pakai daster kalau di kosan?" Siska tertawa kecil, bernada mengejek. "Beda banget ya aslinya. Tapi... tumben kamu main ke area butik VIP gini, Ra? Nggak salah tempat? Di sini barangnya mahal-mahal, lho. Nggak ada promo *buy 1 get 1* kayak di pasar malam."
Reno tersenyum pongah, merasa berada di atas angin. Dia membetulkan letak jam tangan *gold-plated* miliknya yang tampak mencolok. "Iya, Ra. Kamu ngapain di sini? Nungguin temen? Atau lagi kerja paruh waktu jadi *usher*? Kalau kamu butuh bantuan keuangan, bilang aja. Kebetulan bulan lalu aku baru aja naik jabatan jadi manajer di kantor baru. Gaji aku sekarang udah naik dua kali lipat."
Aira merasa darahnya mendidih. Kesombongan Reno benar-benar tidak ada habisnya. Pria itu seolah lupa bahwa dulu, saat dia masih menjadi staf biasa yang sering telat bayar kosan, Airalah yang selalu menyisihkan uang makannya untuk membantu Reno. Dan sekarang, setelah mendapatkan posisi yang sedikit lebih baik berkat koneksi ayah Siska, Reno memperlakukannya seperti sampah.
"Aku nggak butuh bantuan uang kamu, Ren. Dan aku di sini bukan karena salah tempat," jawab Aira dengan suara sedatar mungkin, menahan diri agar tidak langsung menjambak rambut Siska yang dicat pirang jagung itu.
Siska mencibir. "Halah, gengsi aja gede. Mana mungkin cewek kayak kamu bisa belanja di butik ini secara sukarela? Ma**k ke dalam aja paling langsung diusir sama satpam karena nggak memenuhi standar minimal penampilan."
Reno terkekeh, menyetujui ucapan pacarnya. "Udahlah, Siska, jangan terlalu jujur gitu. Kasihan Airanya nanti nangis. Tapi serius, Ra, kalau kamu butuh kerjaan yang lebih layak, aku bisa rekomendasiin kamu jadi resepsionis di kantor aku. Lumayan, kan, daripada kamu luntang-lantung nggak jelas gini?"
Aira menggigit bibir bawahnya. Dia merasa sangat terhina. Di tengah rasa frustrasinya yang memuncak, dia berharap bumi tiba-tiba terbelah dan menelannya bulat-bulat.
Namun, sebelum Aira sempat membalas ucapan sampah Reno, sebuah suara berat yang sangat berwibawa menginterupsi dari arah belakang.
"Ada masalah di sini, Sayang?"
Aira tersentak. Dia menoleh dan melihat Arkan sudah berdiri di sampingnya. Arkan dengan sangat natural melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Aira, menarik tubuh Aira mendekat hingga bahu mereka bersentuhan. Kehangatan tubuh Arkan seketika menjalar, meredakan ketegangan yang sempat menguasai Aira.
Reno dan Siska langsung terdiam. Mata mereka membelalak lebar menatap sosok pria yang tiba-tiba muncul di samping Aira.
Bagaimana tidak? Arkan memiliki tinggi badan hampir 185 cm, tubuh atletis yang proporsional, wajah tampan khas blasteran dengan rahang tegas, serta aura dominan yang sangat kuat. Dibandingkan dengan Arkan, Reno yang tadinya merasa sangat tampan dan sukses langsung terlihat seperti butiran debu jalanan.
"S-siapa kamu?" tanya Reno dengan suara yang tiba-tiba mencicit, kehilangan semua kesombongannya yang tadi meluap-luap.
Arkan tidak langsung menjawab. Dia menatap Reno dan Siska bergantian dengan tatapan dingin dan menilai, seolah-olah dia sedang melihat serangga pengganggu yang tidak sengaja lewat di depannya. Tatapan Arkan begitu tajam hingga membuat Reno secara tidak sadar mundur satu langkah.
"Saya Arkan Aditama," jawab Arkan dengan nada suara yang tenang namun sangat menekan. "Dan perempuan yang baru saja kalian rendahkan ini adalah tunangan saya."
*Tunangan?!* batin Aira menjerit. Waduh, Arkan improvisasinya kelewat jauh! Tapi Aira memilih untuk diam dan mengikuti permainan.
Mendengar nama "Arkan Aditama", wajah Reno langsung berubah pucat pasi. Sebagai orang yang bekerja di dunia korporat, siapa yang tidak tahu nama Aditama? Arkan Aditama adalah CEO muda dari Aditama Group, salah satu konglomerat terbesar di I****esia yang menggurui berbagai sektor bisnis, terma**k perusahaan tempat Reno bekerja sekarang.
"Ar... Arkan Aditama? Pemilik Aditama Group?" suara Reno bergetar hebat. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya.
Siska yang menyadari perubahan drastis pada sikap pacarnya langsung ikut panik. "Reno, kamu kenal dia?" bisiknya dengan suara gemetar.
"D-dia... dia bos besar dari perusahaan induk kantor aku, Siska..." bisik Reno dengan wajah yang kini benar-benar pucat pasi seperti kertas.
Arkan mengabaikan kepanikan mereka. Dia menunduk menatap Aira dengan tatapan yang luar biasa lembut, berbanding terbalik dengan tatapan dinginnya pada Reno tadi. Arkan mengusap rambut Aira dengan sangat protektif.
"Sayang, kenapa kamu harus dengerin omongan orang-orang yang bahkan tingkat ekonominya di bawah standar minimal pajak perusahaan aku?" tanya Arkan dengan nada sant**, namun kata-katanya seperti belati yang menusuk langsung ke harga diri Reno.
Aira hampir saja kelepasan tertawa mendengar sindiran super tajam itu. Dia langsung memasang wajah manja yang dibuat-buat. "Habisnya mereka tiba-tiba dateng dan bilang aku nggak level belanja di sini, Mas..."
"Nggak level?" Arkan menaikkan sebelah alisnya. Dia kemudian menatap Reno dengan senyum meremehkan yang sangat tipis. "Menarik sekali. Seseorang yang memakai jam tangan Rolex imitasi berani bicara soal level di depan tunangan saya."
Reno refleks menutupi pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanan, wajahnya merah padam karena malu. Jam tangan yang selama ini dia pamerkan ke semua orang sebagai barang asli ternyata langsung terdeteksi sebagai barang palsu hanya dalam sekali lihat oleh Arkan.
"Dan kamu..." Arkan menatap Siska, membuat perempuan itu langsung menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Arkan yang mengintimidasi. "Tas Coach yang kamu bawa itu... seingat saya, itu koleksi *outlet* musim lalu yang harganya bahkan tidak c**up untuk membeli satu buah gantungan kunci di butik yang ada di belakang saya ini. Jadi, atas dasar apa kalian merasa memiliki hak untuk menilai tunangan saya?"
Kata-kata Arkan begitu tenang, namun setiap kalimatnya disusun dengan sangat cerdas untuk meruntuhkan seluruh harga diri Reno dan Siska hingga ke dasar yang paling dalam.
"M-maaf, Pak Arkan... kami nggak bermaksud... kami cuma bercanda tadi..." Reno terbata-bata, tubuhnya gemetar karena takut jika karirnya yang baru saja dimulai akan hancur dalam sekejap jika Arkan memutuskan untuk mengambil tindakan.
"Bercanda?" Arkan tersenyum dingin. "Saya tidak suka bercanda. Terutama jika menyangkut ketenangan tunangan saya. Di mata saya, kalian berdua bahkan tidak lebih berharga dari debu yang menempel di sepatu Aira hari ini."
Tepat saat itu, manajer butik mewah di seberang jalan keluar bersama dua orang stafnya. Begitu melihat Arkan berdiri di sana, sang manajer langsung setengah berlari menghampiri mereka dengan sikap yang sangat hormat.
"Selamat sore, Pak Arkan, Ibu Aira. Selamat datang kembali," sapa sang manajer dengan membungkuk sopan. "Koleksi khusus yang Pak Arkan pesan sudah kami siapkan di dalam ruangan VIP. Apakah Bapak dan Ibu ingin ma**k sekarang? Kami sudah mengosongkan ruangan tersebut khusus untuk kenyamanan Anda berdua."
Mendengar ucapan sang manajer, Reno dan Siska benar-benar mati kutu. Siska bahkan hampir menjatuhkan tasnya karena syok. Ruangan VIP di butik sekalas ini hanya bisa diakses oleh pelanggan dengan kategori *Ultra High Net Worth*, yang nilai belanjanya mencapai miliaran rupiah per tahun. Dan Aira, perempuan yang baru saja mereka ejek miskin, diperlakukan seperti ratu di sana.
Arkan mengangguk pelan pada sang manajer. "Terima kasih, Pak Herman. Kami akan segera ma**k."
Sebelum melangkah pergi, Arkan menatap Reno kembali. "Oh, satu lagi. Siapa nama kamu tadi? Reno?"
Reno menelan ludah dengan susah payah. "I-iya, Pak... Reno Wijaya..."
"Reno Wijaya dari divisi apa?" tanya Arkan dengan nada datar namun sangat mengancam.
"Divisi... Keuangan di anak perusahaan logistik, Pak..."
Arkan mengeluarkan ponselnya, lalu mengetikkan sesuatu dengan cepat sebelum mema**kkannya kembali ke saku jasnya. "Saya rasa, departemen HRD kami perlu meninjau kembali standar etika dan moral karyawan mereka. Saya tidak ingin Aditama Group menggaji orang yang memiliki tabiat buruk seperti kamu."
Mendengar hal itu, lutut Reno terasa lemas. Dia hampir saja berlutut di lant** mal jika tidak segera berpegangan pada pembatas kaca. Karir impiannya, jabatan manajer yang baru saja dia dapatkan dengan susah payah, kini berada di ujung tanduk hanya karena kesombongan bodohnya sore ini.
"Pak Arkan, tolong... saya mohon maaf... saya khilaf..." ratap Reno dengan wajah yang sudah memelas frustrasi.
Namun, Arkan sama sekali tidak peduli. Dia membalikkan tubuhnya, menuntun Aira dengan sangat lembut menuju pintu ma**k butik. "Ayo ma**k, Sayang. Udara di sini agak kotor karena banyak polusi suara."
Aira berjalan di samping Arkan dengan kepala tegak. Sebelum ma**k melewati pintu kaca butik yang dijaga ketat oleh petugas keamanan, Aira sempat melirik ke belakang. Dia melihat Reno yang sedang memegangi kepalanya dengan frustrasi, sementara Siska tampak marah dan malu hingga langsung melepaskan rangkulannya dari lengan Reno.
Pemandangan itu membuat dada Aira dipenuhi rasa puas yang luar biasa. Semua rasa sakit hati, penolakan, dan penghinaan yang dia rasakan selama enam bulan terakhir ini menguap begitu saja. Mantannya benar-benar otomatis kena mental dalam waktu kurang dari sepuluh menit!
Begitu mereka ma**k ke dalam ruangan VIP yang sangat mewah dan ber-AC dingin, pintu kaca di belakang mereka tertutup rapat, memisahkan mereka dari keramaian mal.
Aira mengembuskan napas panjang yang sejak tadi dia tahan. Dia langsung menoleh ke arah Arkan dengan mata berbinar-binar.
"Pak Arkan! G***, itu tadi keren banget! Sumpah, aku puas banget liat muka Reno langsung pucat kayak mayat!" seru Aira dengan nada gaulnya yang spontan keluar karena terlalu bersemangat. "Bapak beneran mau mecat dia?"
Arkan yang baru saja duduk di sofa kulit yang empuk hanya tersenyum tipis. "Cuma gertakan kecil biar dia tahu diri. Tapi kalau dia masih berani ganggu kamu lagi, aku nggak akan ragu buat bikin gertakan itu jadi kenyataan."
Aira tertegun sejenak. Dia menatap Arkan yang kini sedang menatapnya balik.
Lengan Arkan yang tadi melingkar di pinggangnya kini sudah terlepas, namun kehangatannya seolah masih tertinggal di sana. Aira memperhatikan tatapan mata Arkan. Tatapan tajam yang tadi digunakan untuk mengintimidasi Reno kini telah sepenuhnya hilang, digantikan oleh tatapan hangat yang terasa begitu... protektif.
Tatapan itu terasa sangat intens. Terlalu dalam untuk ukuran seseorang yang hanya sedang menjalankan peran sebagai pacar sewaan dalam sebuah kesepakatan kontrak. Jantung Aira tiba-tiba berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena sisa ketakutan dari pertemuan dengan Reno tadi, melainkan karena getaran aneh yang mendadak muncul di dadanya saat menatap mata hitam pekat milik Arkan.
*Ini... cuma akting, kan?* batin Aira, mencoba memperingatkan dirinya sendiri agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesona sang bos dingin di hadapannya.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!