Bab 7: Gala Dinner dan Kecurigaan Sang Ibu
Aroma lilin aromaterapi mahal dan denting halus gelas sampanye langsung menyambut Aira begitu dia melangkahkan kaki ke dalam *grand ballroom* hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan. Malam ini adalah acara *gala dinner* tahunan Pratama Group, gurita bisnis raksasa milik keluarga Arkan.
Jika beberapa hari lalu di Grand I****esia Arkan sudah sukses menjadi penyelamatnya dari sindiran maut Reno dan Siskaβbahkan membuat mantan pacarnya itu kena mental sampai tidak bisa berkata-kataβmaka malam ini adalah giliran Aira untuk membayar utang budi. Tugasnya malam ini berat: menjadi tameng hidup Arkan di hadapan relasi bisnis, dan yang paling mengerikan, di hadapan ibu kandung Arkan sendiri.
Aira menunduk sekilas, menatap gaun yang melekat di tubuhnya. Sebuah gaun malam berbahan satin premium berwarna hijau zamrud dengan potongan *A-line* yang anggun. Gaun itu tidak terlalu terbuka, namun potongannya sangat pas membingkai lekuk tubuhnya, memberikan kesan berkelas tanpa terlihat berlebihan. Rambut hitamnya ditata sanggul modern yang agak longgar, menyisakan beberapa helai anak rambut di sekitar pelipis yang membingkai wajahnya yang dipulas *makeup* natural namun tampak sangat *glowing*.
"Rileks, Ra. Kamu remas tangan saya kencang banget. Bisa-bisa tangan saya biru sebelum kita ma**k ke area utama," bisik Arkan pelan, setengah bercanda.
Aira tersentak. Dia baru sadar kalau jemarinya sejak tadi bertaut sangat erat di lengan jas Arkan. Buru-buru dia melonggarkan pegangannya dengan wajah merona merah.
"Eh, maaf, Pak... eh, Arkan. Duh, aku beneran gemetaran ini. Kamu lihat dong orang-orang yang datang. Semuanya pakai berlian segede gasing! Terus itu, yang di sana, bukannya menteri yang sering ma**k berita, ya? G***, aku merasa salah kostum, rasanya pengin pulang aja ke kosan terus makan mi instan," cerocos Aira dengan suara super pelan, menahan panik.
Arkan terkekeh pelan. Cowok itu kelihatan luar biasa tampan malam ini dengan setelan tuksedo hitam rancangan desainer ternama yang sangat pas di badannya yang tegap. Rambutnya ditata rapi ke belakang, mengekspos dahi dan rahang tegasnya yang sempurna. Penampilannya benar-benar definisi dari *visual* tanpa celah.
Arkan menghentikan langkahnya sejenak, membuat Aira ikut berhenti. Pria itu berbalik menghadap Aira, lalu dengan lembut merapikan helai rambut Aira yang sedikit berantakan di dekat telinga. Sentuhan jemari hangat Arkan di kulit pipinya seketika mengirimkan sengatan listrik mini yang membuat bulu kuduk Aira meremang.
"Dengar aku," ujar Arkan, suaranya terdengar sangat dalam dan menenangkan. "Kamu cantik banget malam ini. Sangat cantik, Aira. Kamu nggak usah minder sama mereka. Di mata aku, malam ini nggak ada satu pun perempuan di ruangan ini yang bisa menandingi kamu. Jadi, tegakkan kepala kamu, senyum, dan genggam lengan aku seolah kamu adalah satu-satunya orang yang paling berhak ada di samping aku. Bisa?"
Aira menelan ludah. Tatapan mata cokelat gelap Arkan begitu intens dan fokus, seolah-olah dunia di sekitar mereka yang bising mendadak senyap. Untuk sesaat, Aira lupa bagaimana cara bernapas. *Duh, ini jantung kenapa jadi konser rock gini sih? Tenang, Aira, ini cuma kerjaan! Ini cuma settingan!* batinnya menyemangati diri sendiri.
"B-bisa," jawab Aira akhirnya, mencoba mengontrol suaranya agar tidak terdengar gugup.
Arkan tersenyum puas, lalu menepuk punggung tangan Aira yang melingkar di lengannya. Mereka kembali melangkah ma**k ke dalam aula utama yang sudah dipadati oleh kalangan sosialita, pengusaha, dan pejabat.
Namun, ketenangan fana itu tidak bertahan lama. Baru saja mereka berjalan beberapa meter, seorang wanita paruh baya dengan aura yang sangat mengintimidasi berjalan ke arah mereka.
Wanita itu mengenakan kebaya modern berwarna emas dengan taburan payet yang sangat mewah. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela, dan seunt** kalung berlian melingkar indah di lehernya. Wajahnya cantik dan awet muda, namun tatapan matanya sangat tajam, dingin, dan penuh selidik.
Sofia Pratama. Ibu kandung Arkan, sekaligus sosok perfeksionis yang paling ditakuti di keluarga besar Pratama.
"Arkan," sapa Sofia dengan suara yang tenang namun berwibawa.
"Mama," jawab Arkan dengan nada formal yang sopan. Dia melangkah mendekat, lalu mencium pipi kanan dan kiri ibunya.
Mata tajam Sofia langsung beralih dan mengunci sosok Aira. Aira merasa seolah-olah dirinya sedang dipindai oleh mesin pemindai paling canggih di dunia. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, tidak ada satu det**l pun dari penampilan Aira yang luput dari penilaian wanita itu.
"Jadi... ini perempuan yang belakangan ini sukses bikin kamu mengabaikan beberapa janji makan malam keluarga, Arkan?" tanya Sofia, nadanya terdengar sant** namun sarat akan sindiran halus.
Aira langsung memasang senyum terbaiknyaβsenyum ramah nan anggun yang sudah dia latih di depan cermin kosannya semalaman. "Selamat malam, Tante Sofia. Saya Aira. Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung dengan Tante." Aira mengulurkan tangannya dengan sopan.
Sofia menatap tangan Aira selama dua detik sebelum akhirnya menyambutnya dengan jabat tangan yang singkat dan formal. "Aira. Nama yang simpel. Tapi seingat saya, Arkan belum pernah sekalipun menceritakan soal kamu kepada Mama. Biasanya, anak ini selalu terbuka mengenai... siapa saja yang sedang dekat dengannya."
Kata "dekat" diucapkan Sofia dengan penekanan yang c**up jelas, menyiratkan bahwa dia tidak menganggap hubungan ini serius.
"Kami memang sengaja menjaga privasi hubungan ini di awal, Tante," jawab Aira, mencoba tetap tenang dan menggunakan intonasi yang santun. "Arkan adalah orang yang sangat sibuk dan fokus dengan pekerjaannya, begitu juga dengan saya. Kami ingin memastikan hubungan kami benar-benar matang sebelum membagikannya dengan keluarga."
Sofia menaikkan sebelah alisnya, tampak terkejut namun sekaligus skeptis dengan jawaban Aira yang c**up taktis. "Oh, benarkah? Hubungan yang matang? Tapi setahu saya, Arkan itu tipe pria yang sangat realistis dan pragmatis. Dia tidak akan membuang-buang waktu untuk hubungan yang tidak jelas arahnya. Omong-omong, kamu sibuk di bidang apa, Aira? Lingkungan sosial kita sepertinya belum pernah mendengar nama keluargamu."
*Boom.* Pertanyaan jebakan pertama keluar. Sofia secara halus sedang mempertanyakan latar belakang sosial dan ekonomi Aira, mencoba memojokkannya agar merasa tidak pantas bersanding dengan Arkan.
Aira menarik napas dalam-dalam secara diam-diam. Dia tidak boleh terlihat minder. "Saya bekerja sebagai *content writer* di sebuah agensi kreatif digital, Tante. Dan sesekali saya juga mengambil proyek penulisan independen. Saya tahu latar belakang saya sangat berbeda dengan keluarga Pratama. Tapi bagi kami, yang terpenting adalah kecocokan, rasa saling menghargai, dan bagaimana kami bisa saling mendukung satu sama lain."
"Saling mendukung?" Sofia tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Arkan sudah memiliki segalanya, Aira. Dia tidak butuh dukungan finansial, apalagi koneksi bisnis dari pasangannya. Yang dia butuhkan adalah wanita yang paham betul bagaimana cara bersikap di dunia kami, wanita yang tahu protokol sosial dan tidak akan mempermalukannya di depan publik. Kamu tahu sendiri, kan, satu kesalahan kecil dari pasangan seorang CEO bisa langsung merusak reputasi perusahaan?"
Pertanyaan Sofia semakin menyudutkan. Aira mulai merasa tenggorokannya kering dan dadanya sesak. Dia tahu dia harus menjawab dengan cerdas, tapi otak kirinya mendadak mogok bekerja di bawah tekanan tatapan tajam Sofia.
Tepat saat Aira hampir kehilangan kata-kata, dia merasakan sebuah lengan yang kokoh dan hangat tiba-tiba merengkuh pinggangnya dengan protektif.
Arkan menarik tubuh Aira hingga merapat tanpa jarak ke sisinya. Sentuhan itu terasa sangat spontan namun begitu alami, seolah tubuh mereka memang sudah terbiasa berdampingan sedekat itu. Arkan menunduk, menatap Aira dengan sepasang mata yang mendadak melunak, memancarkan tatapan penuh cinta dan kekaguman yang begitu dalamβtatapan yang sanggup membuat siapa saja percaya bahwa mereka adalah pasangan yang paling saling mencint** di dunia ini.
"Ma," potong Arkan, suaranya terdengar berat, tegas, namun tetap tenang. "Aira nggak perlu pusing memikirkan soal protokol sosial atau opini publik. Aku yang membawa dia ma**k ke duniaku, jadi aku yang bertanggung jawab penuh untuk melindunginya. Dan jujur saja, hal yang paling membuat aku jatuh cinta pada Aira adalah karena dia selalu menjadi dirinya sendiri. Dia jujur, tulus, dan nggak pernah berusaha pura-pura menjadi orang lain hanya untuk mengesankan siapa pun. Terma**k di depan Mama."
Mendengar ucapan Arkan, Aira merasa jantungnya seperti melompat keluar dari dadanya. *G***, ini orang kalau akting kenapa bisa se-totalitas ini sih?! Tatapannya itu lho, kenapa kelihatan nyata banget?!* teriak Aira dalam hati, berusaha keras menahan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat kaget setengah mati.
Sadar dirinya harus mengimbangi permainan Arkan, Aira langsung mendongak menatap Arkan. Dia memberikan senyuman manis nan hangat, lalu menyentuh dada bidang Arkan dengan telapak tangan kirinya secara lembut.
"Lagipula, Tante," sambung Aira, suaranya kini terdengar jauh lebih percaya diri dan penuh kehangatan, "Arkan selalu ada di samping saya untuk membimbing saya. Selama saya bersama Arkan, saya tidak pernah merasa takut atau cemas, karena saya tahu dia tidak akan pernah membiarkan saya menghadapi kesulitan sendirian. Bagi saya, itu jauh lebih berharga daripada protokol sosial mana pun."
Sofia Pratama terdiam. Matanya beralih dari wajah Arkan ke wajah Aira, lalu turun ke tangan Arkan yang masih melingkar erat dan protektif di pinggang Aira. Sebagai seorang ibu, dia tahu betul sifat anak laki-lakinya. Arkan adalah pria yang sangat menjaga jarak fisik dengan siapa pun, bahkan dengan keluarga sekalipun. Namun malam ini, melihat bagaimana Arkan tidak ragu menunjukkan kemesraan fisik yang begitu natural di depan umum, pertahanan skeptis Sofia mulai goyah.
Keheningan di antara mereka sempat berlangsung selama beberapa detik yang menegangkan, sebelum akhirnya helaan napas halus keluar dari bibir Sofia. Ekspresi wajahnya yang semula dingin perlahan-lahan mencair, digantikan oleh gurat keterkejutan yang coba dia sembunyikan dengan cepat.
"Kamu benar-benar sudah berubah, Arkan," ucap Sofia akhirnya, nada suaranya kini terdengar jauh lebih melunak. "Mama hampir tidak mengenali anak laki-laki Mama yang biasanya sedingin es dan tidak peduli pada sekitar."
Sofia kemudian beralih menatap Aira kembali. Kali ini, tatapannya tidak lagi setajam silet, melainkan dipenuhi dengan rasa penasaran yang besar. "Well, sepertinya kamu memang punya pengaruh yang c**up kuat pada putra saya, Aira. Dan harus saya akui... gaun hijau zamrud itu sangat cocok dengan warna kulitmu yang cerah. Kamu terlihat sangat anggun malam ini."
Aira bernapas lega, rasanya seperti baru saja lolos dari hukuman mati. "Terima kasih banyak atas pujiannya, Tante. Itu sangat berarti bagi saya."
"Mari, sebentar lagi pidato pembukaan akan dimulai. Kita sebaiknya segera menuju ke meja utama," ujar Sofia, memberikan anggukan kepala yang kali ini terasa jauh lebih hangat sebelum dia berbalik dan berjalan dengan anggun membelah kerumunan menuju area VIP.
Begitu sosok Sofia sudah c**up jauh dan menghilang di antara para tamu, Aira langsung mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Bahunya yang tegang seketika merosot lemas.
"G***... itu tadi beneran menegangkan banget. Aku berasa kayak lagi diuji sidang skripsi tapi sama dosen paling *killer* se-alam semesta," bisik Aira dengan nada heboh yang langsung kembali ke mode aslinya.
Arkan terkekeh pelan melihat reaksi Aira. Namun, Aira mendadak menyadari satu hal. Tangan Arkan masih melingkar kokoh di pinggangnya. Bahkan, ibu jari Arkan sempat mengusap lembut pinggangnya secara perlahan di balik bahan satin gaunnya. Sentuhan yang terlalu intim untuk sebuah kepura-puraan.
Aira berdeham pelan, wajahnya mendadak terasa panas. "Anu... Arkan? Tangan kamu... masih di pinggang aku. Tantenya sudah pergi, lho."
Arkan tersentak kecil, seolah baru tersadar dari lamunannya. Perlahan, dia menarik tangannya kembali dan mema**kkannya ke dalam saku celana tuksedonya. Namun, anehnya, tidak ada guratan canggung di wajah tampan pria itu. Dia justru menatap Aira dengan senyum tipis yang sangat menawan di sudut bibirnya.
"Kamu hebat tadi," puji Arkan tulus, suaranya terdengar lembut di sela-sela kebisingan aula. "Jawaban kamu tenang, elegan, dan sama sekali nggak menyinggung. Mama saya itu tipe orang yang sangat sulit dibuat terkesan, tapi malam ini... kamu berhasil bikin dia goyah."
Aira merapikan gaunnya yang sedikit kusut, mencoba mengalihkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya karena pujian langsung dari bosnya itu. "Ya... kan aku harus profesional. Kita kan sudah sepakat untuk saling bantu. Lagian... akting kamu tadi juga juara umum banget, sih. Pas kamu meluk pinggang aku terus natap aku kayak gitu... sumpah, aku hampir percaya kalau kamu beneran naksir sama aku." Aira tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa terlalu intim.
Namun, Arkan tidak ikut tertawa. Langkahnya terhenti, membuat Aira terpaksa ikut berhenti dan menatapnya dengan bingung.
Arkan menatap Aira dalam-dalam. Sepasang mata cokelat gelap itu mengunci manik mata Aira dengan intensitas yang begitu kuat, membuat udara di sekitar mereka seolah mendadak menipis.
"Siapa bilang itu cuma akting?" gumam Arkan dengan suara rendah yang hampir menyerupai bisikan, namun terdengar sangat jelas di telinga Aira.
Aira mematung di tempatnya. Jantungnya berdetak liar dengan ritme yang sama sekali tidak sehat. Dia menatap Arkan dengan mata membelalak, mencari tanda-tanda kebohongan atau candaan di wajah pria itu. Namun, yang dia temukan hanyalah kesungguhan yang begitu pekat.
*Tunggu... pacaran settingan ini... kok rasanya beneran mulai jadi beneran?!*
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!