Sore itu, Jakarta sedang tidak terlalu bersahabat. Langit mendung menggantung tebal di atas kawasan SCBD, membuat antrean kendaraan merayap lambat seperti siput. Di dalam mobil SUV hitamnya yang kedap suara, Arkan mencengkeram setir dengan gelisah. Seharusnya dia langsung pulang ke rumah atau kembali ke kantor untuk memeriksa laporan keuangan bulanan Pratama Group. Tapi entah dorongan impulsif dari mana, dia malah berakhir di depan gedung kantor agensi tempat Aira bekerja.
Arkan melirik jam tangan Rolex-nya. Sudah lewat jam pulang kantor sekitar sepuluh menit.
Tepat saat dia berniat menyalakan mesin mobil untuk pergiβmerasa konyol karena menunggu gadis itu tanpa alasan yang jelasβsosok yang ditunggunya muncul dari pintu lobi kaca.
Aira tidak sendiri.
Gadis itu berjalan bersisian dengan seorang cowok jangkung yang mengenakan kemeja flanel longgar dan celana jins belel. Cowok itu membawa tas laptop di satu bahu, sementara tangan satunya sibuk memperagakan sesuatu yang tampaknya sangat lucu.
Arkan menyipitkan mata. Dadanya tiba-tiba berdesir aneh.
Di sana, di bawah gerimis tipis yang mulai turun, Aira tertawa lepas. Bukan senyum formal atau tawa sopan yang biasa gadis itu tunjukkan saat mereka menghadiri *gala dinner* beberapa hari lalu. Ini adalah tawa yang sangat renyah, sangat bebas, hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit yang menggemaskan. Rambutnya yang dikuncir kuda bergoyang seiring bahunya yang terguncang karena tertawa.
Cowok flanel itu tiba-tiba mengacak rambut Aira dengan gemas. Dan yang membuat darah Arkan seketika mendidih adalah: Aira tidak menghindar. Gadis itu justru mengerucutkan bibirnya, lalu membalas dengan memukul lengan cowok itu pelan dengan map kertas yang dipegangnya.
Tak berselang lama, sebuah mobil LCGC putih berhenti di depan mereka. Cowok itu membukakan pintu depan untuk Aira dengan gerakan yang sangat familier, seolah hal ini sudah mereka lakukan ratusan kali. Aira ma**k ke dalam mobil tersebut, disusul si cowok yang memutari kap mobil dan duduk di kursi kemudi. Mobil itu kemudian melesat, membaur dengan kemacetan Jakarta.
Di dalam mobilnya, Arkan terpaku. Tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ada rasa panas yang menjalar cepat dari perutnya, naik ke dada, lalu menyumbat tenggorokannya hingga terasa sesak. Rasanya sangat tidak nyaman. Sangat asing. Selama dua puluh tujuh tahun hidupnya, Arkan hampir tidak pernah merasakan emosi seberantakan ini.
*Siapa cowok itu?*
*Kenapa Aira bisa ketawa lepas banget sama dia?*
*Kenapa dia nggak pernah ketawa kayak gitu kalau lagi sama gue?*
Rentetan pertanyaan itu berputar di kepala Arkan seperti kaset rusak, membakar akal sehatnya perlahan-lahan.
***
Pukul sembilan malam.
Aira baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk ketika bel apartemennya berbunyi nyaring. Dia mengernyit heran. Siapa yang bertamu jam segini? Kamila, sahabat sekaligus teman sekamarnya, malam ini sedang pulang ke rumah orang tuanya di Bogor.
Aira melangkah ke pintu dengan kaus oblong kebesaran bergambar karakter kartun pudar dan celana kulot sant**. Begitu pintu dibuka, kalimat tanya yang sudah di ujung lidahnya langsung tertelan kembali.
Arkan berdiri di ambang pintu.
Cowok itu masih memakai kemeja kerja dari siang tadi, hanya saja dasinya sudah dilonggarkan dan dua kancing teratasnya terbuka. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Wajahnya datar, dingin, dan tatapan matanya terasa sangat menusuk.
"Arkan?" Aira mengerjap, bingung. "Kok... kamu di sini? Ada acara mendadak lagi?"
Tanpa menjawab, Arkan melangkah ma**k melewati Aira begitu saja. Sikapnya yang tidak sopan itu membuat Aira refleks menutup pintu dan berbalik dengan dahi berkerut.
"Hei, main ma**k aja. Sopan santunnya ke mana, Pak?" sindir Aira kesal.
Arkan berbalik, bersedekap dada di tengah ruang tamu kecil apartemen Aira yang hanya dihias sofa abu-abu dan televisi layar datar. Matanya menatap Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuat Aira mendadak merasa salah tingkah dengan penampilan rumahan-nya yang sangat jauh dari kata estetik.
"Siapa cowok tadi sore?" tanya Arkan langsung pada intinya. Suaranya rendah, dingin, dan tanpa basa-basi.
Aira melongo. "Hah? Cowok apa?"
"Jangan pura-pura nggak tahu, Aira. Cowok yang jemput kamu di kantor tadi sore. Yang pakai kemeja flanel. Yang bikin kamu ketawa sampai lupa daratan di depan lobi," cecar Arkan dengan nada menginterogasi yang sangat kentara.
Otak Aira berputar cepat sebelum akhirnya menyadari sesuatu. "Tunggu... kamu ngintipin aku? Kamu ke kantor aku tadi sore?"
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan," potong Arkan cepat, wajahnya semakin mengeras. "Jawab pertanyaan saya. Siapa dia?"
Aira menghela napas kasar, merasa jengkel dengan nada bicara Arkan yang seolah-olah dia adalah seorang kriminal yang sedang disidang. "Dia Dimas. Sahabat aku dari zaman kuliah, sekaligus rekan satu tim aku di kantor. Puas?"
"Sahabat?" Arkan mendengus remeh, senyum sinis tersungging di bibirnya yang tipis. "Sahabat macam apa yang pakai pegang-pegang rambut segala? Dan kamu diem aja digituin? Kamu sadar nggak sih status kamu sekarang apa?"
Dada Aira mulai ikut naik-turun menahan emosi. Rasa lelah setelah seharian bekerja ditambah dengan kedatangan Arkan yang tiba-tiba marah tanpa alasan jelas membuat sumbunya pendek.
"Status aku? Status aku itu pacar settingan kamu, Arkan! Pacar se-ting-an! Cuma di depan media, di depan keluarga kamu, dan di depan mantan aku yang menyebalkan itu!" Aira menekankan kata 'settingan' dengan penuh penekanan. "Di dunia nyata, kita ini bebas. Kita punya kehidupan pribadi masing-masing!"
"Tapi di luar sana orang-orang tahunya kamu pacar saya!" Arkan melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Aira bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur aroma maskulin khas tubuh Arkan. "Kalau ada wartawan atau orang suruhan saingan bisnis saya yang lihat kamu mesra-mesraan sama cowok lain di tempat umum, kamu tahu apa dampaknya buat saham Pratama Group? Kamu tahu apa dampaknya buat kredibilitas saya?"
Aira tertawa hambar. Dia menatap Arkan dengan pandangan tidak percaya. "Mesra-mesraan? Kamu sebut bercanda sama sahabat sebagai mesra-mesraan? Kamu lebay banget, tahu nggak? Lagian, kita kan udah sepakat di kontrak!"
Aira berjalan cepat ke arah meja televisi, mengambil sebuah map yang dia simpan di laci, lalu membukanya dengan kasar. Dia membolak-balik kertas di dalamnya sebelum menunjuk salah satu poin dengan jarinya yang gemetar.
"Nih! Lihat!" Aira menyodorkan kertas itu tepat di depan dada Arkan. "Pasal 4, poin B. 'Kedua belah pihak dilarang mencampuri urusan pribadi, terma**k hubungan pertemanan, asmara riil, dan kehidupan sosial masing-masing di luar jadwal kerja sama'. Kamu sendiri yang bikin draf kontrak ini, Arkan! Kenapa sekarang kamu yang melanggar?"
Arkan terdiam. Matanya menatap tulisan hitam di atas kertas putih itu, lalu beralih menatap wajah Aira yang memerah karena kesal.
Sial. Gadis ini benar. Secara hukum kontrak yang mereka sepakati, dia sama sekali tidak punya hak untuk mengatur dengan siapa Aira bergaul, tertawa, atau pulang bersama.
Tapi ego dan rasa panas yang masih bergejolak di dadanya menolak untuk mengalah.
"Saya cuma mengingatkan untuk menjaga reputasi," kilih Arkan, suaranya sedikit merendah namun tetap terdengar kaku. "Sebagai tindakan preventif."
"Preventif pala lu peyang!" maki Aira spontan dalam bahasa gaul yang biasa dia gunakan kalau sudah sangat kesal, melupakan formalitas kalau cowok di depannya ini adalah pewaris tahta konglomerat. "Kamu itu bukan preventif, Arkan. Kamu itu aneh! Datang malam-malam, marah-marah gak jelas kayak suami yang mergokin istrinya selingkuh. Logika kamu ke mana, sih?"
Aira maju satu langkah, menatap langsung ke dalam manik mata cokelat gelap Arkan yang tampak goyah.
"Atau jangan-jangan..." Aira menyipitkan matanya, sebuah senyum penuh selidik perlahan muncul di sudut bibirnya. "Kamu cemburu, ya?"
Pertanyaan itu seperti sebuah bom yang menjatuhkan seluruh pertahanan Arkan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
"Cemburu?" Arkan mendengus, berusaha keras menjaga suaranya agar tetap terdengar datar dan dingin, meski dalam hati dia mulai panik. "Jangan mimpi, Aira. Saya? Cemburu sama kamu? Gak logis banget."
"Oh ya? Terus kenapa muka kamu merah kayak kepiting rebus gitu?" tantang Aira, melipat tangan di dada dengan ekspresi kemenangan. Dia sengaja mendekatkan wajahnya, menatap Arkan dengan pandangan menantang yang justru terlihat sangat manis di mata cowok itu.
Arkan menelan ludah. Jarak mereka sekarang sangat dekat. Dia bisa mencium aroma wangi sampo stroberi dari rambut Aira yang masih setengah basah. Matanya tanpa sadar turun menatap bibir Aira yang mengerucut sebal, lalu naik lagi ke mata bulat gadis itu yang berkilau jenaka.
Si****. Dia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri jika berada di dekat gadis ini.
"Saya cuma..." Arkan menggantung kalimatnya. Lidahnya mendadak kelu. Keangkuhannya perlahan menguap, digantikan oleh rasa canggung yang teramat sangat ketika dia menyadari betapa konyolnya tindakannya malam ini. Dia benar-benar bertingkah seperti cowok posesif yang cemburu buta.
"Cuma apa? Kehilangan argumen?" goda Aira lagi. Nada bicaranya kini melunak, tidak lagi penuh amarah, melainkan lebih ke arah meledek.
Arkan berdeham keras, memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar ke telinganya. "Saya mau pulang," ujarnya ketus, berbalik arah menuju pintu.
Aira menahan tawa melihat reaksi salah tingkah sang CEO dingin yang biasanya selalu punya jawaban untuk segala hal. "Lho, kok pulang? Interogasinya belum selesai, Pak Protokoler Saham?"
Arkan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Dia berbalik setengah badan, menatap Aira dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kelembutan yang tersembunyi di balik tatapan dinginnya yang tersisa.
"Batasi interaksi kamu sama cowok itu," ujar Arkan, kali ini tanpa nada marah, melainkan lebih terdengar seperti permintaan yang disamarkan sebagai perintah. "Saya nggak suka lihatnya."
Sebelum Aira sempat membalas, Arkan sudah membuka pintu apartemen dan melangkah keluar, menutupnya dengan pelan namun tegas.
Aira berdiri terpaku di tengah ruangan yang mendadak terasa sepi. Kalimat terakhir Arkan terus bergaung di kepalanya.
*βSaya nggak suka lihatnya.β*
Aira menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang dengan irama yang tidak beraturan. Wajahnya yang tadi memerah karena kesal, kini memerah karena alasan yang sama sekali berbeda. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyuman lebar yang tidak bisa dia tahan.
"Dasar cowok aneh," gumam Aira pelan, memeluk map kontraknya erat-erat ke dada. "Cemburu bilang aja cemburu, pakai bawa-bawa saham segala."
Malam itu, di balik pertengkaran konyol tentang kontrak dan cemburu yang tidak logis, ada sesuatu yang mulai bergeser di antara mereka. Sesuatu yang nyata, yang perlahan-lahan mulai mengikis batasan dari kata 'settingan'.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!